
Gienka menangis dengan keras membuat Elea dan Danist panik.
"Kita kembali ke apartemen saja, Gienka tidak mau berhenti menangis!" Ujar Danist.
"Kau beli makanan saja, biar aku yang membawanya kembali"
"Baiklah!"
Saat Elea membalikkan badannya untuk membawa Gienka kembali, tiba-tiba putrinya itu menghentikan tangisannya. Elea merasa lega, ini sudah ketiga kalinya Gienka menangis dengan begitu kencangnya tanpa sebab yang jelas. Karena biasanya Gienka hanya akan menangis jika dia merasa lapar atau sedang tidak nyaman, itupun tidak akan sekencang ini suaranya.
Melihat Gienka sudah tenang, Elea memanggil Danist yang baru akan melangkah masuk restoran. Danist menoleh ke arahnya dan Elea menghampiri suaminya itu. Kemudian mereka mengajak Gienka masuk ke restoran itu. Mereka memutuskan untuk membatalkan makan di tempat dan memilih untuk membawa pulang karena takut Gienka akan menangis lagi.
Danist sudah memesan makanan dan mereka duduk sembari menunggu pesanan mereka tiba lalu pulang. Gienka terlihat masih rewel dan merengek walaupun tidak menangis lagi seperti tadi. Danist mneggendong bayi itu dan berdiri untuk menenangkannya, dia mengajak Gienka keluar sementara Elea yang akan menunggu pesanan mereka di dalam.
Setelah selesai makan, Ariel membayar dan beranjak dari kursi yang dia duduki dan melangkah keluar restoran untuk langsung pulang. Terlalu sibuk dengan ponselnya, membuat Ariel tidak menyadari jika dia melewati kursi Elea, dan berlalu begitu saja.
Ariel kekuar dari restoran dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir, saat itu juga ponselnya berdering dan sekretarisnya menghubunginya. Ariel berjalan pelan sambil sesekali menanggapi pembicaraannya dengan sekretarisnya, saat dia sudah mendekati mobilnya, langkahnya terhenti dan dia terdiam mendengarkan lawan bicaranya di telepon. Kemudian pandangannya teralihkan kepada seorang bayi yang kepalanya bersandar di pundak seorang laki-laki. Bayi itu melempar senyum ke arahnya, Ariel mengernyit tetapi sedetik kemudian menyadari jika itu seperti Gienka putrinya. Ariel selangkah lebih dekat untuk memastikannya apa benar itu putrinya mengingat yang dia tahu saat ini Elea dan Gienka berada di Swiss.
Dengan polosnya, bayi itu terus tersenyum kepada Ariel sambil menggigit jemarinya. Tetapi tiba-tiba bayi itu tertawa memekik membuat pria yang menggendongnya, memundurkan bayi itu dan mengangkatnya dari pundaknya. "Wah Gienka sudah tertawa lagi ya? Anak Papa Dan memang pintar" Gumam laki-laki itu dan seketika membuat Ariel memundurkan lagi langkahnya.
Bayi itu memang putrinya, itu Gienka yang sangat dia rindukan, dan ternyata mereka sudah berada disini. Ariel ingin sekali menghampiri putrinya itu, tetapi dia tidak memiliki nyali, dia masih dilingkupi perasaan bersalah kepada Elea. Mata Gienka masih memandang ke arahnya dan Ariel mencoba membalas senyum putrinya itu. Ariel terperanjat saat melihat dari kaca spion mobilnya, Elea menuruni tangga dan keluar restoran, bergegas Ariel membuka pintu mobilnya dan masuk untuk menghindari Elea.
Elea mendekati Danist dan putrinya seraya menenteng makanan yang baru saja di belinya. Saat mereka hendak kembali ke apartemen tiba-tiba Gienka menangis lagi dengan kencangnya. "Hei kenapa menangis lagi sayang?" Tanya Elea.
"Padahal tadi dia baru saja tertawa, ayo kita segera pulang saja" Gumam Danist.
Danist dan Elea pun menyebrang jalan, dan Gienka terus menangis. Sementara Ariel masih terdiam di dalam mobilnya, dia penasaran kenapa putrinya menangis padahal tadi dia terlihat senyum dan tertawa. Tetapi Ariel masih belum memiliki keberanian untuk menemui Elea, walaupun dia sangat merindukan dan ingin sekali mencium Gienka. Ariel pun menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan restoran itu dengan perasaan sedih karena masih belum berani menunjukkan wajahnya di depan putrinya.
*****
Cahya terbangun dari tidurnya dan mengumpulkan ingatannya, lalu matanya berkeliling memandang seluruh sudut kamarnya mencari dimana suaminya. Pintu kamar Kyra dan Kyros juga terbuka dan tidak ada siapapun disana. Cahya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu turun dari tempat tidurnya untuk keluar mencari suami dan kedua bayinya.
Cahya membalikkan tubuhnya untuk menutup pintu kamar tetapi dia terhenyuk dan melempar senyumnya karena menemukan Aditya dan kedua bayinya sedang terlelap dibawah sofa. "Bagaimana bisa dia mengajak anak-anak tidur di bawah" Gumam Cahya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali masuk ke kamar.
Cahya berjongkok dan membangunkan Aditya untuk segera memandikan kedua bayinya karena hari sudah akan gelap. Cahya pergi ke kamar bayinya dan mengambil pakaian mereka serta menyiapkan hal lainnya sebelum membangunkannya. Aditya pun akhirnya bangun untuk membantu Cahya memandikan kedua bayinya.
"Aku ketiduran dan membiarkan mereka bermain sendirian, mungkin karena lelah mereka juga ikut tertidur"
"Kau ini!!! Ayo bangunkan mereka, dan kita mandikan, sebelum hari mulai menggelap" Ucap Cahya.
Cahya dan Aditya mengangkat bayi mereka dan mencoba membangunkannya. Walaupun mereka sebenarnya masih merasa sangat lelah karena perjalanan tetapi mungkin setelah bersih-bersih diri, mereka akan merasa lebih baik sebelum beristirahat lagi.
******
Saat di jalan, Ariel sibuk memikirkan tentang Gienka dan Elea. Mau sampai kapan dia akan terus menghindari putrinya dan Elea, dia sangat ingin mencium Gienka sangat ingin memeluk putrinya itu. Tetapi kenapa dia terus saja menghindarinya, kenapa selalu ada ketakutan dalam dirinya. Sampai kapan hal seperti ini akan berlanjut, bagaimanapun dia harus segera menemui Gienka, karena jika tidak, putrinya itu pasti akan semakin jauh darinya dan tidak mengenalnya. Dia harus memberanikan diri datang menemui Gienka dan yang pastj harus meminta maaf kepada Elea juga.
Ariel tiba-tiba membelokkan mobilnya lagi, dan mengemudikannya dengan cepat. Ariel memutuskan untuk datang ke apartemen Elea.
Di tempat lain, Elea tengah sibuk membongkar kopernya mengambil mainan Gienka sedangkan Danist bersama Gienka, lelaki itu masih mencoba menenangkan bayi itu yang cukup rewel dan tidak mau menghentikan tangisannya. Entah apa yang terjadi dengan bayi itu, ini tidak pernah terjadi sampai selama ini. Elea dan Danist benar-benar kesulitan serta bingung apa yang ahrus mereka lakukan untuk menenangkan Gienka.
Ariel memarkir mobilnya dan turun, lalu setengah berlari masuk ke apartemen itu. Dia harus mengabaikan semua ketakutannya untuk bertemu Elea, karena yang terpenting adalah dia bisa memeluk lagi putrinya. Ariel juga sudah menyiapkan mentalnya untuk meminta maaf kepada Elea, juga menghadapi Danist.
Ariel keluar dari lift dan melangkah pelan menuju apartemen Elea. Jantungnya berdegup dengan cepat, ada berbagai perasaan yang dia rasakan sekarang. Langkah Ariel terhenti, dan dia membalikkan badannya untuk kembali lagi ke lift, dia takut Elea akan menolak kedatangannya dan tidak mengijinkannya menemui Gienka.
"Tidak, aku tidak boleh terus menghindar, apapun yang terjadi aku harus bertemu dengan Gienka, kalaupun Elea akan melarangku, setidaknya aku bisa mencium putriku walau hanya sekali" Gumam Ariel.
Ariel pun melanjutkan langkahnya dan sampailah dia di apartemen Elea. Ariel melihat ada yang berbeda, ya gagang pintu apartemen itu sudah di ganti dengan yang baru, itu pasti dilakukan setelah kejadian itu. Ariel menundukkan kepalanya merasa bersalah, lalu perlahan jari telunjuknya menekan tombol interkom apartemen itu.
Danist yang berdiri menggendong Gienka di depan jendela mendengar suara interkom berbunyi. Dia mengangkat alisnya dan bergumam dalam hatinya siapa yang datang, karena dia baru saja sampai tadi siang dan sore ini sudah ada yang datang berkunjung, keluarganya atau keluarga Elea juga tidak mungkin karena mereka saat ini berada di rumah. Danist mengajak Gienka untuk membuka pintu itu.
Pintu pun terbuka, Danist menatap lelaki yang ada di depannya, tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Ariel berdiri disana dan tersenyum kepadanya. Ariel mengulurkan tangannya untuk menyalami Danist tapi Danist hanya diam menatap Ariel. Ariel melihat putrinya sedang menangis, dan dengan suara lembut, Ariel memanggil nama putrinya itu. "Gienka sayang!!" Ucapnya.
Danist terus menatap tajam ke arah Ariel, berbagai pertanyaan melingkupinya bagaimana lelaki ini bisa tahu bahwa di dan Elea sekarang ada disini.
"Bolehkah aku menggendong putriku? Kulihat sejak tadi dia menangis, tolong berikan padaku" Ujar Ariel dan mengulurkan kedua tangannya mengambil Gienka dari gendongan Danist. Ajaibnya saat tangan Ariel menyentuh Gienka, tangisan bayi itu langsung terhenti.
Ariel menggendongnya, membuainya juga menciumi Gienka. Dia benar-benar merindukan bayi ini, sudah berbulan-bulan dia tidak melihatnnya, dan putrinya langsung diam saat di gendongannya. "Papa sangat merindukanmu sayang" Ucap Ariel lagi dan tidak berhenti menciumi bayi itu. Sementara Danist hanya diam terpaku melihat Gienka dalam pelukan Ariel.