
Aditya membawa Cahya kesisi lain menjauhkannya dari kompor lalu dia melepaskan seluruh pakaian yang menempel ditubuh Cahya dan melemparkannya begitu saja ke lantai. Dengan penuh gaiirah dan keahlian, Aditya me*cumbu Cahya, bibirnya ada di mana-mana, meninggalkan jejak panas dan basah di seluruh tubuh Cahya, di lehernya, pundaknya, payudarranya, perutnya, pinggulnya, dan... Cahya sedikit menjerit ketika bibir Aditya yang panas itu menyentuh kewaniitaannya.
"Sayang, angkat satu kakimu dan tumpukan diatas meja" Pinta Aditya dengan suara serak tidak bisa menagan gaiirahnya lebih lama lagi.
Cahya pun mengikuti perintah Aditya dan menahan badannya dengan sebelah kakinya yang masih dilantai serta kedua tangannya dimeja. Lelaki itu mencumbu kewaniitaannya tanpa ampun, memujanya. Menggunakan bibir dan lidahnya untuk menggoda Cahya. Lidah Aditya mengusap titik paling sensiitif di kewaniitaan Cahya dan kemudian lelaki itu menghisapnya, membuat Cahya memekik atas sensasi yang dirasakannya.
Ketika Aditya memutuskan bahwa istrinya sudah sangat basah dan siap untuknya, lelaki itu melepaskan pakaiannya dari seluruh tubuhnya di depan Cahya. Cahya menatap tubuh Aditya dengan perasaan takjub, pipinya merona, menyebar dengan cepat ke tubuhnya, Aditya tampak sangat tampan... sexy.... dan jantan'.... oh Astaga...
Aditya mengangkat Cahya keatas meja dapur, perempuan itu membuka pahanya lebar menahan badannya dengan tangannya, dan Aditya langsung menyatukan dirinya. Aditya mulai menggerakkan tubuhnya. Semula pelan, lalu dengan ritme yang makin cepat, sesuai dengan gaiirah mereka yang makin cepat dan napas mereka yang makin tersengal, Gerakan Aditya begitu kasar membuat Cahya sedikit menggerutkan keningnya karena sejak ia hamil, suaminya selalu bersikap lembut dan berhati-hati saat berrcinta, tapi tidak untuk kali ini. Percintaan itu keras dan cepat. Aditya tidak lembut lagi, tetapi Cahya sangat menikmati setiap gerakannya lalu lelaki itu membawa Cahya ke puncak keniikmatannya dengan cepat.
Cahya melemas dan langsung melingkarkan kedua tangannya dileher Aditya, beberapa saat kemudian Aditya menurunkannya dari atas meja makan dan mengecup bibirnya dengan lembut. "Membungkuklah" Pinta Aditya padanya, Cahya pun menurutinya, dan menumpukan badannya pada kedua sikunya.
Aditya lalu mengangkat sebelah kaki Cahya dan mulai menenggelamkan dirinya. Aditya mulai bergerak dengan ritme yang cepat, posisi seperti ini membuat Cahya bisa melihat gerakan tubuh Aditya. Cahya menikmatinya sambil terus tersenyum kearah suaminya yang begitu mengagumkan. Gerakan Aditya semakin menimbulkan gelenyar panas ditubuhnya.
"Sayang kau sangat luar biasa dan nikmat" Aditya berucap diantara napasnya yang memburu. "Apakah aku juga terasa nikmat untukmu?"
Cahya mencoba menjawab tetapi sensasi itu sungguh menguasai tubuhnya, membuatnya semakin tersengal dan larut dalam kenikmatannya. "Kau... sangat...." suaranya tertelan oleh napas memburu dan erangan tertahan karena dorongan Aditya yang bergairah, susah payah dia mencoba berkata.
"Kau.... sangat nikmat... untukku..."
Aditya tersenyum menatap Cahya dengan rasa memiliki yang dalam, "Kalau begitu, mari kita saling menikmati" Gerakannya menjadi semakin cepat, semakin bergairrah, semakin tak tertahankan, "Ayo Sayang, nikmati aku... puaskan dirimu..." Aditya berkata parau, membawa Cahya ke dalam pusaran gaiirah. Sehingga dia mencapai puncaknya dengan begitu cepat. Mencengkeram Aditya dalam ledakan kenikmatan, dan merasakan lelaki itu juga meledak bersamanya, di dalamnya.
Aditya mengangkat Cahya dan membawanya naik ke kamar lalu membaringkannya, dia juga ikut berbaring dan memeluk Cahya. Tidak butuh lama mereka berdua langsung tertidur.
****
Cahya bangun dan melihat Aditya masih tidur. Cahya tidak bergerak dan tetap diam memiringkan badannya dan bertumpu pada sikunya dan mentap Aditya yang masih tertidur disampingnya. Cukup lama sampai akhirnya lelaki itu mengerjapkan matanya dan menemukan Cahya sedang menatapnya. Lelaki itu tampak luar biasa tampan bahkan ketika bangun tidur. Seakan-akan rambut kusut dan penampilan acak-acakannya malah menambah pesonanya bukannya mengurangi. Cahya tersenyum menatap Aditya dengan pandangan berbinar-binar. Sampai akhirnya Aditya menyadari sesuatu, dia tadi terlalu kalut dengan amarahnya setelah melihat berkas-berkas dikantor dan melampiaskannya pada Cahya.
Aditya langsung bangkit dan duduk, memegang jemari Cahya menatap istrinya dengan pandangannya melembut penuh penyesalan. "Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan tadi siang, apa kau dan bayi kita baik-baik saja? Aku benar-benar bodoh" Ucapnya menyesal.
Aditya mengusap kasar rambutnya dengan kedua tangannya seraya tidak berhenti merapalkan kata maaf pada Cahya dan mengatakan jika dia sedang merasa kalut setelah membaca berkas dari kantor perkebunan. "Harusnya aku tidak melampiaskannya padamu, maafkan aku"
"It's okay, tetapi lain kali jangan lakukan itu lagi ya dengan kondisiku seperti ini, itu sangat tidak nyaman untukku setelahnya, jika aku sudah tidak dalam keadaan hamil kau boleh melakukan sesukamu, bahkan saat kita di Maldives seharian penuh kau melakukannya dan aku tidak mempermasalahkannya, sekarang sebagai hukumanmu pijatlah kakiku"
Aditya turun dari tempat tidurnya dan mengambil massage oil yang dibawa nya dari rumah. Lalu kembali ke tempat tidur dan memijat lembut kaki Cahya. Biasanya Aditya melakukannya saat malam sebelum Cahya tidur, tetapi kali ini berbeda karena ulahnya sendiri. Bahkan tadi istrinya itu sednag menyiapkan makan siang untuk mereka dan melupakannya begitu saja didapur, dan dia sekarang merasa sangat lapar.
"Aku lapar sekali" Gumam Aditya, tetapi justru Cahya menertawainya.
"Baiklah, sudah cukup pijatannya, aku akan memanaskan pastanya lagi"
Cahya hendak bangkit tetapi Aditya menahannya. "Tidak usah, biar aku saja yang menghangatkannya, dan aku membawanya kesini"
"Baiklah, hangatkan saja pastanya karena sudah siap, dan saladnya belum aku dressing, kau bisa melakukannya kan???"
"Tentu saja, itu hal yang sangat mudah, oke aku ke bawah dulu, kau beristirahat disini saja, love you" Aditya membungkukkan badannya dan mengecup lembut bibir Cahya.
****
Sekitar 15 Menit kemudian Aditya kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi sepiring penne pasta carbonara yang tadi dia buat, dan semangkuk salad buatan Aditya, dan ada 2 gelas jus stroberi. Cahya beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kursi yang berada didepan jendela.
"Apa kau memasukkan semua pastanya ke satu piring?" Tanya Cahya heran.
"Iya, aku ingin menyuapimu! Ayo buka mulutmu"
Aditya menyuapi Cahya dan mereka berdua sangat menikmati makan siang menjelang sore, karena tadi mereka harus menyelesaikan sesi percintaan panas mereka didapur. Aditya juga memutuskan untuk tidak kembali ke kantor yang akan bisa membuat kepalanya pusing karena ketidak beresan yang terjadi disana. Besok dia harus bisa mengotrol lagi emosinya, agar yang terjadi hari ini tidak terulang lagi. Cahya yang tidak tahu apa-apa justru menjadi korban dari pelampiasan kemarahannya, walaupun tadi istrinya mengatakan tidak apa-apa tetapi Aditya merasa sangat menyesal, lagi-lagi keegoisannya yang berlebihan membuatnya sangat menyesal sesudahnya.