
Semua orang terkejut melihat beberapa anak tikus yang sudah mati terlempar dilantai. Cahya sangat shock dan Elea langsung memeluknya untuk menenangkannya. Sedangkan temannya yang lain segera memanggil OB untuk membersihkannya dan ada juga yang mengambilkan minum untuk Cahya.
" Ca, are you okay??" Tanya Elea setelah memberikan air putih untuk sahabatnya.
" Iya El aku baik-baik saja" Suara Cahya bergetar dan masih sedikit merasa shock.
" Kau yakin??? Apa kau pulang saja, biar aku menelepon Aditya agar menjemputmu, badanmu masih gemetar Ca"
" Tidak El, jangan hubungi Aditya jangan katakan apapun, aku tidak ingin membuatnya khawatir, aku merasa lebih baik, pekerjaanku masih banyak, kemarin aku juga sudah libur tidak mungkin aku meminta untuk pulang, aku baik-baik saja, tadi hanya terkejut saja"
" Kita ke klinik saja agar kau bisa beristirahat dan berbaring, aku takut kau merasa tegang dan perutmu kram lagi seperti kemarin, aku sangat panik saat mendengar kau mengalami kram perut, ayo akan ku antar dan kutemani kau disana"
Elea membawa Cahya ke klinik yang ada dikantornya, karena khawatir dengan kondisi sahabatnya itu dan juga meminta dokter disana untuk melihat keadaan Cahya memastikan kondisinya. Dan dokter mengatakan Cahya tidak apa-apa hanya sedikit shock saja.
" El, ini pesananmu" Salah seorang temannya masuk dan memberikan kresek berisi makanan untuknya dan Cahya, yang tadi dipesannya.
" Ca, makan dulu yuk, tadi aku nitip makanan ke anak-anak"
" Tidak El, aku sedang tidak berselera"
" Apa maksudmu tidak berselera, ingat kau sedang hamil dan jangan biarkan bayimu kelaparan, jika kau tidak makan aku akan menghubungi Aditya dan mengatakan semuanya,ayo makan, aku suapi?"
" Tidak usah aku bisa makan sendiri, dan bisa-bisanya kau mengancamku" Lalu mereka tertawa.
Dalam hati Elea masih diliputi rasa penasaran yang luar biasa, siapa yang mengirim paket itu dan bagaimana bisa Cahya menerima paket itu, tetapi dia mencoba untuk tidak membahasnya dengan Cahya takut dia akan shock lagi, Elea menahannya, dan nanti akan menceritakan semuanya pada Ariel.
****
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.50 sebentar lagi waktunya pulang, Cahya mengambil ponselnya dan menghubungi Aditya, dan bersiap untuk pulang. Elea datang menghampirinya dan menunggunya bersiap. Elea sangat khawatir akan keadaan sahabatnya, membayangkan bagaimana posisinya saat melihat ada beberapa anak tikus mati dan ada darah didalam paket yang dibuka, pasti merasa ketakutan. Bahkan semua orang yang menyaksikan nya saja bergidik ngeri.
" Ca, Adit udah jemput kan???" Tanya Elea
" Udah El, dia akan segera kesini"
" Baiklah, bersiaplah, aku akan menemanimu sambil menunggu Aditya"
***
Mereka sudah sampai lobi, dan duduk di sebuah sofa, Elea menatap Cahya yang ada disampingnya. Sahabatnya itu telah melewati banyak hal menyesakkan dalam hidupnya, bahkan ketika sudah menikah, dia telah banyak kehilangan kebahagiaan dalam hidupnya. Elea mengingat betapa hancurnya Cahya saat mengetahui rumahnya terbakar bahkan hampir saja kehilangan ibunya, dan bersyukur sahabatnya itu mendapatkan seseorang yang begitu mencintainya dan selalu memastikan kebahagiaannya. Entah apa yang akan terjadi jika bukan Aditya yang menjadi suami Cahya, apakah bisa menghadapi sikap dan ulah yang dibuat Theo dan Cyntia.
Elea sangat bahagia saat tahu Aditya telah membongkar kedok dan kebusukan Cyntia, bahkan saat ini Cyntia sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya, tapi kebahagiaannya hilang saat tadi siang melihat seseorang dengan jahat mengirimkan paket itu kepada Cahya, entah siapa lagi yang berniat buruk pada sahabatnya ini, Elea benar-benar kesal dibuatnya.
Elea tersadar dari lamunannya saat melihat Aditya masuk ke lobi, dengan segera dia berdiri begitu juga Cahya, lalu mereka bertiga berjalan keluar, dan Elea membisikkan sesuatu ditelinga Cahya.
" Ca, lo harus cerita tentang kejadian tadi siang ke suami lo ya??"
" Iya El" Jwab Cahya singkat.
Caha hanya menjawab dengan senyuman lalu melambaikan tangan kepadanya dan masuk ke dalam mobil. Aditya berterima kasih pada Elea karena sudah membantunya menjaga Cahya.
Dalam perjalanan pulang, Cahya tidak banyak bicara, dia bergulat dengan pikirannya, apakah dia harus menceritakan kejadian yang dialaminya pada Aditya atau tidak. Jika bercerita pasti suaminya akan semakin khawatir mungkin saja itu hanya orang iseng yang mengerjai nya jadi Cahya memutuskan untuk tidak menceritakannya.
" Bagaimana harimu??? Apakah semua baik-baik saja?" Tanya Aditya.
" Ahh everything its okay, pekerjaan sangat banyak dan aku menikmatinya"
" Kau jangan terlalu lelah, kau harus menjaga bayi kita, dan jangan banyak memikirkan hal yang tidak penting supaya tidak stres, kau harus ingat pesan dokter"
" Iya aku selalu mengingatnya kau jangan khawatir"
" Mama dan Papa sudah kembali, kita harus memberikan kejutan kepada mereka"
****
Sampailah akhirnya mereka dirumah, dan Aditya juga sudah melihat security sudah bertugas untuk menjaga rumahnya, dan nanti akan memberi tugas padanya selain menjaga rumah. Aditya dan Cahya masuk ke dalam rumah dan melihat Mamanya sedang duduk diruang tamu tersenyum melihat kedatangan mereka. Cahya langsung mencium tangan ibu mertuanya dan memeluknya.
" Mama sangat merindukan putri Mama, ingin segera pulang dan bertemu dengannya" Suara nyonya Harry sangat bahagia.
" Mamaku sudah melupakanku sejak memiliki putri, bahkan kini rasa sayangnya berpindah bukan lagi padaku" Gerutu Aditya dan langsung menarik pelan Cahya dari Mamanya dan berganti memeluk Mamanya membuat Cahya tertawa melihat tingkah konyolnya.
" Baiklah kalian harus bersih-bersih diri dulu, pasti kalian sangat lelah bekerja seharian"
***
Waktu makan malam tiba, Aditya dan Cahya turun untuk bergabung bersama kedua orang tuanya, dan bersiap memberikan kabar bahagia untuk mereka. Aditya dan Cahya berdiri di samping Mamanya yang sedang duduk diruang makan. Terlihat Nyonya Harry bingung kenapa anak dan menantunya tidak langsung duduk padahal makanan sudah siap.
" Aku sangat sedih mengetahui jika cinta Mama dan Papa kepadaku dan juga Cahya akan berkurang" Aditya berucap sedih dan membuat bingung kedua orangtuanya.
" Berkurang? Apa maksudmu, kau tahu mama sangat menyayangimu dan juga Cahya begitu juga ke Adri, Mama dan Papa tidak pernah membeda-bedakan kalian"
" Bohong, aku tidak percaya, ini adalah semua bukti yang bisa membenarkan ucapanku barusan" Aditya memberikan sebuah amplop kepada Mamanya.
Nyonya Harry yang masih bingung sedikit ketakutan saat membuka isi amplop itu, begitu juga Tuan Harry yang mendekatkan badannya untuk melihat isi amplop itu. Amplop itu berisi beberapa kertas foto, dan saat Nyonya Harry membalikknya betapa terkejutnya mereka melihat foto itu.
" Cahya hamil??"
" Mama dan Papa akan segera menjadi Oma dan Opa dan semua cinta kalian akan beralih ke bayi kami"
Nyonya Harry langsung berdiri dan memeluk Cahya bahagia, begitu juga tuan Harry yang langsung memeluk putranya. Kebahagiaan sangat terasa, semua orang dirumah ini sangat bahagia dan tidak sabar menantikan kehadiran bayi yang sudah lama dinantikan oleh Tuan dan Nyonya Harry.
Setelah makan malam, Aditya dan Cahya masuk ke kamar. Aditya pergi ke kamar mandi sedangkan Cahya duduk di sofa dan mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi adiknya, karena terlalu sibuk dengan kegiatannya dia lupa bahwa belum menghubungi Chika. Cahya membuka ponselnya dan menerima pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Dia berteriak dan melemparkan ponselnya hingga ponsel itu jatuh ke lantai. Mendengar teriakan istrinya Aditya bergegas keluar dari kamar mandi untuk melibat apa yang terjadi.
" Ca, kamu kenapa berteriak, ada apa??"