SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 346



Elea membawa Gienka keluar dari kamar setelah suasana diluar terdengar senyap, tadi dia bergegas ke kamar saat mendengar Ariel berteriak dan membuat keributan di luar. Entah apa yang terjadi tetapi sepertinya tidak berlangsung lama. Sayangnya saat hendak keluar, Gienka mulai menangis.


Saat itu juga pak Andi berpamitan pada Danist untuk mengejar Ariel. Danist masuk ke rumah menemukan Gienka menangis dengan sangat kerasnya. Dia pun langsung menggendong putrinya itu dan mencoba menenangkannya. Danist merasa mungkin Gienka sedang merindukan Ariel, sayangnya Ariel tidak datang untuk menemui putrinya melainkan datang hanya untuk meluapkan kemarahannya pada Ayahnya lalu pergi begitu saja.


"Apa yang terjadi??? Apa Ariel mengatakan sesuatu padamu sampai suaranya terdengar begitu marah???" Tanya Elea.


Danist menggelengkan kepalanya. Danist tadi bisa melihat kemarahan, kekecewaan serta kesedihan di wajah Ariel, itu pertama kalinya dia melihat itu terjadi pada Ariel. Karena biasanya lelaki itu hanya menunjukkan kemarahannya saja atau kesedihan seperti saat dulu datang ke apartemen meminta maaf padanya dan Elea. Tetapi kali ini semua seolah berkumpul menjadi satu, bahkan tadi mata Ariel juga terlihat berkaca-kaca seolah menahan tangisannya.


"Bukannya menjawab, kau malah diam??" Elea memprotes.


"Aku baru pertama kali melihat Ariel seperti ini, dia marah kepada Ayahnya karena hubungannya dengan sekretaris pak Aditya harus berakhir"


"Berakhir??? Memang apa hubungannya dengan Ayahnya???"


"Aku sendiri tidak mengerti permasalahan apa diantara mereka, aku hanya melihat Ariel dipenuhi kemarahan, kesedihan serta kekecewaan yang mendalam, dan Ariel mengatakan bahwa dia harus mengakhiri hubungannya karena Maysa adalah putri dari mantan sekretaris Ayahnya dulu yang pernah dibawa pulang ke rumah mereka dan setelah itu Mama Ariel meninggal, I don't know, pelik sekali sepertinya kehidupan keluarga mereka"


"Apa.......!!!!??" Seru Elea. "Jadi Maysa anak dari mantan sekretaris Ayahnya Ariel??? Ya Tuhan....!!!"


"Itulah yang ku dengar!!! Gienka sudah diam dan aku akan mandi sekarang" Danist memberikan Gienka pada Elea lalu melangkah masuk ke dalam.


Elea masih tidak percaya dengan hal itu, hidup seolah sedang mempermainkan Ariel selama ini. Masalalu Ayah Ariel saat ini sedang berputar mengelilingi Ariel. Elea sangat ingat bagaimana bencinya Ariel dengan semua itu, dengan wanita yang menjadi selingkuhan Ayahnya dulu yang membuat Mamanya juga harus meninggal dan sekarang Ariel malah menjalin hubungan dengan Anak dari wanita itu. Wajar saja tadi suara Ariel begitu marah. Belum selesai masalah dengan Danist dan Mamanya, sekarang timbul lagi permsalahan baru. Ariel saat ini pasti hancur sekali.


Pak Andi menemukan mobil Ariel berhenti di bahu jalan kemudian menyuruh supirnya untuk berhenti. Dia turun dari mobil dan berjalan menuju pintu mobil Ariel lalu mengetuknya. Ariel yang terisak di dalam mengangkat kepalanya dan melihat di jendela mobilnya dan menemuka Ayahnya disana. Tanpa pikir panjang, Ariel menyalakan mobilnya dan meninggalkan Ayahnya begitu saja.


******


"Elea baru saja menelepon, dia bilang Ariel datang kesana dan membuat sedikit keributan!" Cahya memberikan pakaian pada Aditya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Keributan??? Keributan apa??"


"Aku akan menemuinya nanti dan melihat keadaannya, dia pasti hancur sekali, jangan halangi aku untuk melakukannya" Gumam Aditya.


"Terserah kau saja!" Cahya kemudian keluar kamar untuk kembali menemui Kyra dan Kyros yang ada diruang tengah bersama Chika dan Ibunya.


Aditya bergegas berganti pakaian lalu menghubungi Randy dan mengajaknya untuk melihat keadaan Ariel. Bagaimanapun Ariel adalah sahabat mereka dan sudah banyak membantu, tentu saat ada permasalahan yang berat seperti ini dia dan Randy harus tetap memberikan supportnya pada Ariel.


Keadaan semalam memang sangat disayangkan, Ariel juga tidak bisa mengontrol emosinya karena terlanjut ingat akan semua peristiwa buruk yang dulu pernah terjadi di kehidupannya. Kekesalan Cahya pada Ariel juga wajar, sebagai seorang perempuan, Cahya tentu tidak bisa melihat perempuan lainnya direndahkan didepan orang banyak. Dan saat Cahya menarik dirinya untuk pulang meninggalkan Ariel, Aditya juga tidak bisa menolaknya, dengan terpaksa dia meninggalkan Ariel. Tetapi sebagai sahabat, Aditya merasa bahwa Ariel tetap membutuhkan dukungan darinya atau Randy untuk permasalahan dengan Ayahnya.


"Aku akan pergi sebentar, sore nanti aku akan menjemputmu dan anak-anak" Ucap Aditya pada Cahya yang sedang bermain bersama si kembar.


"Pergi saja, aku juga bisa diantar supir, lagipula ada pengawal disini" Jawab Cahya dengan ketus.


"Tidak...!!! Aku tetap akan menjemputmu, jangan membantahku untuk hal sepele, aku tidak mau keselamatanmu dan anak-anak terabaikan, aku hanya pergi sebentar saja, oh iya Ibu jangan sampai ibu biarkan dia pergi sampai aku kembali"


"Iya Dit, pergi saja, abaikan saja ucapan istrimu ini, Ibu tidak akan membiarkannya pergi tanpamu" Ujar Ibu Cahya pada menantunya itu.


Aditya kemudian pergi menuju apartemen Ariel, dan dia juga mengatur janji bersama Randy untuk datang kesana.


*****


Ariel mengemasi seluruh pakaian dan barang-barangnya dari apartemennya, dia memutuskan akan pindah lagi. Tidak mungkin dia tetap berada di tempat ini sementara Maysa juga tinggal disini dan pasti disini meninggalkan cukup banyak kenangan bersama perempuan itu. Ariel menyuruh sekretarisnya agar memanggil beberapa orang yang tak lain adalah Ob dari kantornya untuk membantunya pindahan. Tidak terlalu banyak barang yang ada di tempat ini selain pakaian, sepatu dan berkas-berkas pentingnya karena memang baru beberapa bulan saja dia pindah kesini. Sebenarnya Ariel bisa membereskannya sendiri seperti yang dia lakukuan kemarin saat akan pindah kesini danhanya butuh beberapa hari untuk membawanya. Tetapi karena dia ingin pindah lebih cepat jadi dia membutuhkan beberapa orang untuk membantunya.


Kehidupannya perlahan sudah dihancurkan oleh Ayahnya sendiri, membuatnya harus kembali lagi menata ulang seperti halnya saat dulu dia kehilangan Mamanya. Ariel akan memulai lagi kehidupan barunya tanpa harus memikirkan Ayahnya. Dia juga akan menenangkan dirinya lebih dulu, melupakan semua permasalahan ini.


Semalam Ariel sudah merenungkan semuanya, dia tidak boleh melakukan apa yang sudah Ayahnya lakukan dulu, karena semua itu pasti suatu saat akan berdampak pada kehidupan selanjutnya. Semua perbuatan Ayahnya dulu kini seolah menyerang dirinya bertubi-tubi. Ariel tidak ingin nanti Gienka akan mengalami hal yang sama seperti dirinya, bagaimanapun putrinya itu harus selalu bahagia. Sejenak dia melupakan komitmennya pada Gienka aat kemarin terjadi masalah dengan Danist, tetapi nanti dia tetap akan menjaga hubungan dengan Elea agar Gienka tidak merasa terabaikan. Dan akan membiarkan permasalahan itu menjadi masalahanya dengan Danist saja. Lagipula jika Ayahnya memberikan semua aset itu pada Danist, Ariel tidak akan peduli lagi karena dia sudah memutuskan semua hubungannya dengan Ayahnya itu. Seperti keinginanya dari awal bahwa dia kedepannya hanya akan fokus pada perkembangan Gienka, itu saja. Karena marah, dia tadi bahkan tidak melihat Gienka dan Elea, dan Ariel sangat menyesal. Dan mungkin karena dia berteriak dengan keras membuat Elea tidak membawa Gienka keluar rumah. Setelah cukup tenang, nanti Ariel memutuskan akan tetap datang menemui putrinya itu, dan mengabaikan permasalahannya dengan Danist.