
Ponsel Aditya berbunyi dan ada nama Ariel disana, dia berdiri dan mengangkatnya. Mereka cukup lama berbicara membahas suatu hal. Senyum Aditya terus mengembang selama pembicaraan itu, karena dia merasa senang sekali akhirnya yang dia tunggu-tunggu sudah tiba juga. Cahya pasti akan senang mendengar kabar ini. Setelah berbicara dengan Ariel, Aditya menutup teleponnya dan keluar dari ruang kerjanya untuk menemui Cahya.
"Sayang, aku punya kabar baik untukmu???" Aditya mendekati Cahya yang sedang menemani Kyra dan Kyros bermain.
"Kabar baik??? Kabar apa??" Tanya Cahya.
"Minggu depan kita akan liburan ke Bali, villa kita sudah siap untuk ditempati"
"Benarkah???"
"Ya, Ariel baru saja memberitahuku, setelah kita dari Bandung kita akan kesana"
*****
Pak Andi sudah kembali dari Singapura setelah tinggal disana hampir satu bulan untuk mengurus bisnisnya. Sudah terlalu lama dia tinggal disini dan tidak pernah kesana lagi, jadi saat ada pekerjaan penting dia pun memutuskan kesana dan baru kembali sekarang. Sebenarnya ada banyak pekerjaan juga yang tertunda disini dan harus segera diselesaikan. Salah satunya adalah urusan pembagian harta miliknya untuk Ariel dan Danist. Serta dia ingin segera mengungkapkan semuanya kepada putra sulungnya itu dan masih mencoba memikirkan bagaimana caranya agar itu bisa segera dia lakukan tanpa halangan dari Sari mantan istrinya karena baginya itu sangat percuma, sekeras apapun dia meminta ijin pada Sari, wanita itu tetap akan pada pendiriannya.
Ini hari minggu masih belum terlalu siang, tetapi rumah tampak sepi sekali, biasanya Ariel masih belum bangun di hari libur seperti ini tetapi mobil putranya itu ternyata tidak berada di garasi ataupun halaman rumah, menandakan bahwa dia sudah pergi.
"Kemana Ariel pergi???" Tanya pak Andi pada pelayan yang mengantarkan minum untuknya.
"Tuan Ariel sudah beberapa minggu tidak pulang kesini pak, dia bilang tinggal di apartemennya, tetapi sempat pulang untuk mengambil pakaiannya sekitar 2minggu yang lalu, dan kebetulan saat itu nona Elea datang bersama suaminya dan membawa cucu anda, mereka berada disini cukup lama dari siang hingga sore hari baru pulang!"
"Mereka datang kesini???"
"Iya pak, mereka datang mencari bapak untuk memberikan undangan tetapi kemudian tuan Ariel datang, mereka bertemu dengannya kemudian seharian itu tuan Ariel bermain bersama dengan cucu anda sementara nona Elea dan suaminya dengan sabar menunggui mereka sampai sore, tuan Ariel menyimpan undangannya di meja kerja anda"
Pak Andi menyesal sekali kenapa saat Elea dan Danist datang kesini dia tidak berada di rumah, padahal itu adalah kesempatan yang sangat bagus untuk berbicara pada Danist dan mengatakan semuanya. Pak Andi berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya untuk mencari undangan dari Elea dan Danist, entah itu undangan apa.
Pak Andi mencoba mencari undangan yang dimaksud dan menemukannya di laci meja kerjanya, dia duduk kemudian membacanya dan ternyata itu adalah undangan resepsi pernikahan Danist dan Elea yang ternyata akan dilakukan lusa nanti. Mereka sudah kesini untuk mengundangnya, pak Andi pun memutuskan akan datang nantinya. Dia termenung dan berpikir bahwa mungkin ini moment yang baik untuk mengungkapkan semua, dia akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara berdua dengan Danist saat nanti Sari sedang sibuk, bagaimanapun kali ini harus berhasil.
Pak Andi memgambil ponselnya dan menghubungi pengacaranya untuk segera menyiapkan surat-surat yang diperlukan, karena setelah berhasil memberitahu Danist dia juga akan memberitahu Ariel sehingga kedua saudara itu akan saling mengetahui dan mereka akan bisa menjadi saudara yang baik dan saling mendukung.
*****
Baru saja kerabat Danist termasuk Om dan Tantenya juga sampai dirumah bersama anak-anak mereka. Suasana rumah menjadi lebih ramai dan anak-anak dari Om dan Tante Danist sangat menyukai Gienka, sejak datang mereka selalu mengajak bayi itu untuk bermain bersama mereka. Gienka sendiri terlihat senang karena suasana dirumah yang biasa sepi dan dia tidak memiliki teman untuk mengajaknya bermain sekarang disini menjadi ramai. Elea sudah memberitahu kepada Danist bahwa keluarganya sudah datang ke rumah, Danist sendiri akan segera pulang jika urusannya sudah selesai.
"El, Mama dengar dari Mamamu bahwa kau dan suamimu kemarin sempat ke Jakarta ya??? Untuk apa???" Mama Danist menghampiri Elea dan duduk disebelahnya.
"Oh iya Ma, kami datang untuk mengantar undangan ke beberapa teman juga ke rumah kakeknya Gienka, pak Andi"
"Ke rumah kakeknya Gienka???" Tanya Mama Danist, dia sangat terkejut dengan hal itu. Elea kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kalian kesana tidak memberitahu Mama lebih dulu??? Apa yang terjadi disana???"
Elea mengernyit dan heran kenapa wajah mertuanya itu berubah seperti orang ketakutan. "Kami datang karena merasa tidak enak jika harus menitipkan undangan untuknya kepada orang lain dan tidak ada apapun yang terjadi Ma, kami disana menunggui Gienka yang sedang bersama Ariel sampai sore, sayangnya pak Andi tidak ada disana dan kami hanya bertemu dengan Ariel, kenapa Mama terlihat panik???"
Dengan segera Mama Danist menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak apa-apa. Tetapi dia menghela napasnya merasa lega karena ternyata Danist tidak bertemu dengan Andi. Dia sangat takut sekali jika mantan suaminya itu memberitahu kenyataan yang ada pada Danist. Dia merasa hal itu lebuh baik tidak perlu diungkapkan karena hanya akan menimbulkan kekecewaan dan kemarahan saja.
Danist akhirnya pulang, Elea bergegas menyambutnya dan membuatkan suaminya itu teh. Danist menyapa semua kerabatnya dan sudah menyempatkan waktu untuk datang menghadiri acara pernikahannya. Danist menghampiri Om nya sedang duduk di beranda rumah. Ini adalah kesempatan untuk membahas foto yang pernah dia temukan di dalam buku milik ayah Ariel. Ya dia hanya penasaran kenapa saat itu Mamanya mengatakan jika Om nya ini tidak mengenal pak Andi padahal di foto itu jelas terlihat keakraban mereka berdua. Selain itu jika memang mereka memiliki permasalahan saat berteman dulu mungkin nanti jika pak Andi datang ke acara pernikahannya, dia bisa membuat mereka berdua bisa akrab lagi dan tidak ada permusuhan.
"Bagaimana kabar om??" Tanya Danist membuka obrolannya.
"Baik Dan....!! Elea bilang kau tadi mengecek venue untuk acaramu, bagaimana apa sudah siap semuanya??"
"Sudah om, oh iya Dan pengen menanyakan sesuatu kepada om, bolehkan???"
"Tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan?"
Danist kemudian merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Dia mencari foto itu di galerinya lalu menemukannya, kemudian menunjukkannya kepada Om nya itu. Seketika Om mya terlonjak dan wajahnya berubah menjadi begitu terkejut.
"Darimana kau mendapatkan foto itu Dan???"
Danist tersenyum. "Dari rumah pak Andi, Om farhan ingat tidak saat aku memberitahu tentang pak Andi yang datang menemuiku dikantor dan dia mencari Mama? Saat itu aku menanyakan apakah om mengenalnya atau tidak tetapi Mama bilang Om sama sekali tidak mengenalnya tetapi foto ini terlihat jelas sekali bahwa kalian begitu akrab, tapi btw om, kenapa ya pak Andi mencari Mama padahal mereka tidak saling mengenal, dan yang aku tahu Mama hanya pernah sekali bertemu dengannya itupun saat pernikahan dari sahabat atasanku, menurut om kenapa bisa seperti itu???" Danist mulai mencerca om nya dengan berbagai pertanyaan yang ada di otaknya selama ini.i