
Teriakan Ariel membuat orang-orang berlari mendekat. Ariel menyuruh mereka untuk membantunya mengangkat tembok yang menimpa Danist.
"Dan.....! Bertahanlah.... Astaga.....!!! Kalian... Ayo cepat angkat, jangan sampai terjadi sesuatu padanya...!!"
Ariel dan yang lainnya terus berusaha menyingkirkan tembok itu, sementara seseorang lainnya menghubungi ambulance. Ariel terus memanggil nama Danist, karena dia tidak lagi mendengar suara rintihan lagi. Ariel semakin panik dan berteriak agar orang-orang itu bisa segera mengangkat tembok yang menimpa Danist.
"Papa Dan....!!" Gienka menangis sambil berlari mendekat. Gienka melihat semua yang terjadi pada Danist, ketika tembok itu tiba-tiba runtuh dan Danist tidak terlihat lagi. "Papa Dan...!" Ucap Gienka lagi.
Ariel yang mendengar suara anaknya itu kemudian menghentikan usahanya membantu mengangkat tembok yang menimpa Danist. Ariel dengan cepat menghampiri Gienka dan menggendong putrinya itu menghadap ke belakang agar tidak melihat proses pengangkatan tembok itu sambil terus mengintruksikan agar lebih cepat melakukannya. Beberapa menit kemudian orang-orang itu berhasil mengangkatnya, Danist dalam keadaan terbaring miring menghadap kanan, dan tangan kanannya berada diatas pipi, seolah itu dia gunakan untuk melindungi kepalanya tetapi usaha Danist itu tidak cukup efektif karena kepalanya tetap mengeluarkan banyak darah. Sementara jemari yang dilihat Ariel tadi adalah jemari dari tangan kiri Danist dengan posisi merentang. Ariel menitipkan Gienka pada seseorang yang tak lain adalah salah seorang pekerja kemudian menyuruhnya agar membawa putrinya menjauh dari tempat ini.
Ariel menghampiri Danist dan berjongkok. Dengan pelan Ariel mendorong tubuh Danjst agar dalam posisi terlentang. Tangis Arielmulai pecah melihat keadaan Danist yang tidak bergerak. "Dan....!! Bangun Dan... Buka matamu...!" Ariel menepuk pipi Danist.
"Danist.... Aku mohon buka matamu....!!!" Ucapnya lagi.
Ariel melihat ke belakang dan menanyakan apakah ambulance sudah datang.
"Sebentar lagi pak, saya menghubungi rumah sakit yang ada didekat sini....!" Jawab seorang pekerja yang tadi menghubungi ambulance.
Ariel membungkuk dan memeluk Danist sambil menangis dan terus memanggil namanya. Menyuruh agar Danist bisa menjawab atau sekedar membuka matanya. Tapi Danist sama sekali tidak mau bergerak.
★★★★★★
"Danist kenapa lama sekali....!" Gumam Elea.
Elea membuka pintu mobil dan keluar dari sana bersama dengan Friddie yang sedang tidur. Elea berjalan ke arah yang sama dimana tadi Danist meninggalkannya. Cuaca memang cukup panas, tetapi Elea memutuskan untuk keluar saja. Entah Danist sudah berhasil bertemu Ariel atau tidak, atau mungkin suaminya itu malah tersesat.
Perlahan Elea berjalan memasuki area itu. Sayup-sayup terdengar suara tangisan anak kecil yang sangat dia kenal, sudah jelas itu adalah suara tangisan dari Gienka. Elea mencari suara itu dan menemukan seorang laki-laki sedang menggendong anak kecil. Dari bajunya itu memang baju Gienka, Elea pun mendekatinya.
"Gienka sayang????" Panggil Elea.
Lelaki itupun menoleh ke Elea, sementara Gienka menghentikan tangisannya dan menoleh le Elea. "Mama...!!!" Ucapnya sambil menarik ingusnya. Lelaki itu menurunkan Gienka, dan dengan cepat bocah itu memeluk Elea.
"Mama...!! Papa Dan...!" Ucap Gienka lagi.
Elea mengernyit dan tidak mau basa-basi lagi. "Maaf pak....!! Ini anak saya kenapa menangis...!??" Tanya Elea pada lelaki itu.
"Oh ini bu, disana ada laki-laki yang tertimpa reruntuhan bangunan, dan pak Ariel sedang menolongnya kemudian menyuruh saya membawa putrinya menjauh"
Gienka menarik-narik baju Elea dan terus menangis, membuat Elea duduk berjongkok dan menatap anaknya itu. "Papa Dan...! Temboknya jatuh... Papa Dan ada di bawahnya!"
"Apa.....!!!!!" Seru Elea dengan sangat terkejut
Detik itu juga Elea baru mengerti jangan-jangan yang dimaksud oleh lelaki ini adalah Danist. Elea berdiri, kemudian memberikan Friddie pada lelaki itu, menitipkan kedua anaknya padanya. Dan bergegas berlari untuk melihat keadaan Danist. Bersamaan dengan itu, ada bunyi sirine ambulance yang datang.
Elea melihat ada banyak orang yang berkumpul, dan yakin bahwa pasti Danist ada disana. Elea mempercepat larinya dan ketika dekat, dia menyingkirkan orang-orang itu. Menemukan Ariel sedang menangis memanggil nama Danist, dan Danist terbaring disana.
"Danist....!!!!" Teriak Elea. "Bagiamana ini bisa terjadi....!???"
Ariel belum sempat menjawab pertanyaan Elea, mobil ambulance sudah mundur bersmaan dengan petugas keluar dari dalam mobil dan menyuruh orang-orang menjauh agar mereka bisa segera memberi pertolongan pada Danist.
Elea dan Ariel berdiri dan memundurkan langkah mereka. Petugas itu segera menolong Danist, mengangkatnya dan lamgsung memasukkan Danist ke ambulance. Elea semakin histeris saat melihat ada banyak darah yang keluar dari tubuh Danist, terutama bagian kepalanya dan tidak ada gerakan dari Danist. Detik itu juga Elea pingsan, beruntungnya Ariel menyadari dan langsung menangkap tubuh Elea.
Danist langsung dibawa masuk ke ambulance. Sementara Ariel setengah berlari membawa Elea yang pingsan ke mobilnya. Ariel memasukkan Elea ke dalam dan langsung tancap gas menyusul ambulance yang membawa Danist. Keadaan sangat panik membuat Ariel tidak berpikir bahwa tadi dia bersama Gienka. Ariel pergi begitu saja bersama dengan Elea yang masih pingsan. Ariel benar-benar tidak menyangka bahwa hal seperti ini akan terjadi dan berharap Danist baik-baik saja.
★★★★★★
Kurang dari sepuluh menit, ambulance sudah sampai di rumah sakit, karena memang tempat itu tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Ariel turun dari mobilnya dan membuka pintu belakang mobil dimana Elea masih belum juga sadarkan diri. Ketika hendak mengangkat Elea, saat itu juga Elea akhirnya tersadar. Perempuan itu kembali menangis menatap Ariel.
"Danist mana Iel...??" Tanya Elea.
"Baru saja dibawa masuk El??? Kau tidak apa-apa???"
Elea terus menangis, membuat Ariel juga bingung dan tidak bisa berkata-kata lagi. Dan Ariel mulai mengingat semua kejadiannya, lalu bagaimana Danist tadi mendorongnya begitu keras hingga membuatnya tersungkur lalu kemudian Danist tertimpa reruntuhan itu. Danist menyelamatkannya, lelaki itu menyelamtkannya dan mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk menyelamatkannya.
"Astaga.....!!!" Ucap Ariel, dia menyadari jika dia sudah meninggalkan Gienka di tempat itu.
Ariel hendak berdiri dan meninggalkan Elea untuk menjemput Gienka tetapi kemudian seorang perawat keluar dari ruangan itu. Ariel dan Elea langsung berdiri.
"Bagaimana keadaan suami saya sus???" Tanya Elea dengan cepat.
"Kondisinya cukup parah dan dia banyak kehilangan darah, tetapi kami sedang berupaya yang terbaik, dan kami ingin memberitahu jika stok golongan darah O hanya sisa dua kantong saja, dan kami rasa kami masih membutuhkan tambahan darah lagi, mungkin ada dari keluarga yang memiliki darah O dan siap untuk di ambil???"
"Darahku O, kalian bisa mengambil sebanyak yang kalian mau, tetapi aku mohon selamatkan kakakku!!" Ucap Ariel.
"Baik pak, mari ikut saya, saya harus melakukan pemeriksaan kepada bapak lebih dulu"
Ariel mengangguk dan menyuruh Elea untuk tetap tenang dan tidak panik. Ariel juga meminta ijin sebentar kepada suster, karena dia harus menghubungi seseorang. Ariel tidak bisa meninggalkan rumah sakit, juga tidak bisa menyuruh orang untuk mengantar Gienka kesini. Dia harus meminta tolong orang lain agar bisa mengurus atau membawa Gienka pulang. Ariel mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
★★★★★★
Aditya dan Cahya sedang tidur siang. Keadaan apartemen yang sepi tanpa anak-anaknya membuat keduanya bisa menghabiskan waktu bersama sejak semalam. Hari libur memang harus dimanfaatkan dengan baik untuk quality time berdua dimana itu sudah jarang terjadi.
Cahya membuka matanya dan mengernyit mendengar suara ponsel Aditya yang ada di meja di sampingnya berbunyi. Cahya meraihnya dan melihat nama Ariel disana. Cahya bangun dan mengangkat telepon Ariel. "Ya Iel??? Ini aku Cahya, maaf Adit sedang tidur!!" Jawab Cahya.
"Cahya....!!! Maaf aku mengganggu kalian, tetapi aku harus mengatakan sesuatu padamu dan jika bisa tolonglah aku...!" Sahut Ariel.
"Minta tolong??? Apa terjadi sesuatu???" Cahya mengernyit.
"Danist mengalami kecelakaan, aku dan Elea ada disini, tetapi masalahnya aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit, sementara karena panik aku meninggalkan Gienka, bisakah kau menjemput dan membawa Gienka ke rumahmu"
"Kecelakaan???? Dimana??? Dan bagaimana bisa..!!!"
"Ceritanya panjang Ca, aku mohon kau bisa menjemput Gienka lebih dulu di...!"
Belum selesai berbicara, pundak Ariel disentuh oleh seseorang. Ariel menoleh dan menemukan Elea. "Aku juga meninggalkan Friddie disana" Gumam Elea.
"Apa..!??? Jadi kau juga membawa Friddie, astaga...!" Ariel terkejut mendengar pernyataan Elea. "Ca... Cahya, ternyata disana juga ada Friddie, jika bisa cepatlah jemput anak-anak"
"Astaga.... Oke oke aku akan menjemput mereka, dimana tempatnya???"
Ariel kemudian memberi tahu alamat proyeknya dan sebelum menutup teleponnya dia meminta agar Cahya bisa datang cepat dan segera menjemput kedua anak itu. Setelah menghubungi Cahya, Ariel berganti menghubungi mandor proyeknya agar memastikan keamanan Gienka dan Friddie, karena nanti akan ada yang menjemput mereka berdua disana.
"Sayang..... Bangun.....!" Cahya menggoyangkan tubuh Aditya dengan panik.
"Biarkan aku tidur sebentar....! Jangan bangunkan aku....!!!" Suara Aditya serak kemudian menutup wajahnya dengan selimut.
"Kau ini.... Cepat bangun....! Danist kecelakaan....!!"
Mendengar itu Aditya langsung bangun dan memandang Cahya. Cahya menjelaskan semua yang tadi dikatakan oleh Ariel dan Ariel memintanya agar bisa menjemput Gienka dan Friddie. Aditya beranjak dari tempat tidur dan menyuruh agar Cahya segera bersiap.
Sementara itu, dokter sedang berusaha melakukan penanganan yang terbaik untuk Danist. Luka Danist cukup parah baik itu dikepala, tangan serta ada beberapa tulangnya yang mengalami keretakan. Dan yang paling parah adalah bagian kepalanya, menandakan bahwa sesuatu yang begitu berat telah menimpanya dengan keras. Keadaan ini cukup sulit, tetapi mereka akan berusaha semaksimal mungkin.
Sementara diluar ruangan, Elea terus menangis dan tidak berhenti berdoa berharap agar suaminya bisa diselamatkan. Elea sangat takut sekali begitu tadi melihat ada banyak darah yang keluar dari kepala suaminya itu dan dia masib tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa bisa Danist mengalami hal itu. Mungkin saat Ariel kembali nanti, dia akan menanyakannya. Saat ini yang paling penting adalah keselamatan Danist. Elea juga tidak bisa menghubungi siapapun saat ini, mengingat ponselnya tadi tertinggal di dalam mobil.
"Please God.....!!! Selamatkan suamiku.... Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya...." Gumam Elea dengan wajah bercucuran oleh airmatnya.
Ariel terdiam diatas tempat tidur, lengannya sudah ditancapkan jarum dan darahnya mulai tersedot. Ariel memandang nyalang ke depan dalam diam. Perasaan bersalah mulai menggelayuti dirinya. Laki-laki yang selama ini dia benci ternyata justru mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkannya. Keadaan Danist yang dia lihat tadi cukup parah, membuatnya bergidik ngeri. Ariel mulai ketakutan tentang hal buruk yang bisa saja terjadi pada Danist mengingat bagaimana keadaannya tadi.
Ariel tidak mengerti kenapa Danist melakukan semua itu dan bagaimana bisa Danist juga ada disana. Tiba-tiba mata Ariel mengeluarkan airmata yang langsung menetes di kedua pipinya. Ariel memejamkan matanya, menyadari semua kesalahannya pada Danist. Dia juga teringat bahwa Aditya pernah mengatakan kepadanya agar dia mau sekali saja memeluk Danist dan meminta maaf tetapi selama ini dia mengabaikan ucapan orang-orang untuk melakukan itu. Ariel juga mulai menyadari bahwa saat ini dia memang tidak memiliki siapapun lagi selain Gienka dan Danist, tetapi dia selalu saja mengabaikan lelaki itu, menumpahkan seluruh kemarahannya pada Danist, padahal sudah jelas bahwa Danist tidak melakukan kesalahan apapun.
"Maafkan aku Dan!" Gumamnya dengan sedih.