
Akhirnya hari ini Cahya dan Kedua bayinya sudah diijinkan untuk pulang. Aditya membantu Cahya menaiki tangga, sedangkan kedua bayinya dibawa oleh Mama dan ibu mertuanya ke kamar yang sudah disiapkan untuk mereka. Kamar untuk Kyros dan Kyra terlihat begitu cantik dan indah dengan nuansa abu-abu dengan 2 ranjang berwarna putih.
Cahya baru pertama kali melihat kamar ini karena setelah direnovasi Aditya tidak mengizinkannya untuk naik ke atas dan melihat secara langsung kamar bayi mereka dan hanya melihat lewat foto diponsel Aditya. Ternyata saat memasukinya kamar ini justru terlihat lebih indah dibandingkan dari foto. Cahya membayangkan jika Kyros dan Kyra akan tampak seperti boneka kecil jika terlelap disana.
"Kamar ini sangat indah" Ucap Cahya lalu memeluk Aditya.
"Itu dia, putri dan pangenmran kita sudah datang"
Akhirnya Kyra dan Kyros pun dibawa masuk ke kamarnya oleh nenek mereka lalu dibaringkan ditempat tidur mereka. Kedua bayi kecil itu terlihat sangat menggemaskan saat terlelap diranjang mereka.
"Adit, kau juga jangan mengganggu bayimu dan juga istrimu, biarkan mereka bertiga beristirahat" Ucap Mamanya. Dia mengingatkan Aditya karena beberapa hari ini Aditya selalu mengusik bayinya saat mereka tidur dengan cara memainkan pipi nya, terkadang menciuminya tanpa henti, membuat kedua bayi itu tidak bisa istirahat dengan tenang. Ulah Aditya itu selalu membuat Kyra dan Kyros menangis karena kesal, yang akhirnya mereka hanya bisa tenang saat Cahya menyusui nya.
"Iya Ma" Aditya menjawab sambil menggaruk kepalanya karena malu dan Cahya hanya tertawa melihatnya. Aditya memang konyol, ulahnya mengusik bayinya selalu membuat Cahya akhirnya sedikit kerepotan jika mereka menangis.
"Ca, ibu pulang dulu ya, nanti sore ibu akan kembali kesini lagi, sekarang kau beristirahatlah"
Mama mertuanya dan Ibunya akhirnya meninggalkan kamar cucunya. Cahya mencium kedua bayinya dengan penuh cinta lalu mengajak Aditya untuk keluar dari sana. Kamar Kyros dan Kyra langsung terhubung dengan kamar Cahya dan Aditya, sengaja Aditya membuatnya seperti itu agar jika bayinya menangis, dia dan Cahya akan langsung bisa menghampirinya dengan cepat.
Cahya menyandarkan badannya diatas tempat tidur sedangkan Aditya pergi untuk mengambilkan Cahya jus dan buah-buahan. Aditya kembali beberapa saat kemudian dan menyuruh Cahya untuk menghabiskan jusnya.
"Ahhhh akhirnya aku bisa berbaring lagi diranjang ini dan menikmati suasana kamar ini, aku sangat tersiksa dikamar tamu itu, sempit dan pengap, kegiatanku jadi terbatas" Ucapnya lalu berbaring disamping Cahya.
"Sempit dan pengap katamu? Lalu bagaimana dengan penilaianmu terhadap kamarku dulu? Kau pernah tinggal dan tidur disana kan? Ayo katakan dengan jujur?"
"Itu neraka bagiku" Jawab Aditya singkat. Saat itu juga Aditya mendapat pelototan mata Cahya.
"Ahh tidak tidak, bukan begitu maksudku sayang, maksudku itu neraka bagiku karena waktu itu pertama kalinya aku harus tidur seranjang denganmu, aku tersiksa karena ranjang itu kecil dan kita harus berbagi tempat tidur, kau bisa bayangkan jika ada seorang laki-laki dewasa harus tidur bersama wanita cantik diranjang yang sama apalagi kita suami istri, kau tahu selama kita tinggal disana aku seperti hidup dineraka bukan karena kamarmu atau rumahmu tetapi karena kau tidak mengijinkanku menyentuhmu, setiap malam aku tersiksa dan bangun dengan perasaan gila karena hasratku tidak tersalurkan, kau dulu jahat sekali padaku"
Cahya menggeser badannya dan memeluk Aditya "Maafkan kekonyolanku dulu" bisiknya.
"Tidak perlu meminta maaf, karena dari sana aku bisa belajar untuk tidak menyentuhmu lagi dalam waktu yang lama seperti dulu" Gumam Aditya.
Cahya mencubit pinggang Aditya seraya tertawa "Kau ini, ada-ada saja, oh iya nanti tolong kau ambilkan boneka yang Adri berikan dulu, ada dikamar bawah, bawalah kesini, aku akan menaruhnya dikamar bayi kita"
****
Keesokan harinya setelah tadi dibantu oleh ibu dan Mama mertuanya memandikan Kyros dan Kyra. Cahya lalu membuai mereka secara bergantian. Kyra sudah tertidur lebih dulu setelah kenyang menyusu, dan Cahya menaruhnya diatas ranjang lalu meminta Aditya untuk memberikan Kyros padanya agar bisa dia susui. Dalam beberapa hari kemarin, Aditya sudah membuktikan bahwa dia sudah belajar cara mengurus bayinya dengan baik, semalam dia juga ikut terjaga dan menemani Cahya menenangkan bayi mereka yang terbangun dan menangis. Aditya duduk diatas ranjang sambil memandang Kyra penuh cinta lalu mengalihkan pandangannya pada Cahya yang sedang duduk bersandar di ranjang sambil menyusui Kyros.
"Lihatlah putramu, dia menyusu dengan sangat lahap seolah ingin mengejekku dan menunjukkan kepadaku bahwa saat ini dia dan adiknya lah pemilik dari susu ibunya, dan aku hanyalah penonton yang merasa kecewa menyaksikan mereka" Gumam Aditya dengan wajah sedikit kesal.
"Aditya diamlah, kau ini konyol sekali"
Aditya lalu tertawa saat melihat kekesalan diwajah Cahya karena ucapannya tadi. Sampai beberapa saat kemudian, Kyros sudah terlelap dan melepaskan putiing Cahya. Cahya pun langsung membaringkan putranya itu disebelah Kyra.
*****
Pandangan Elea langsung tertuju pada 2 bayi kecil yang sedang asyik terlelap diatas tempat tidur, dia pun langsung menghampirinya dengan perasaan bahagia.
"Ya Tuhan, 2 keponakanku ini sangat manis sekali, mereka tertidur saling berhadapan seolah tidak mau dipisahkan, aku harus mengambil fotonya"
Elea membuka tasnya dan mengambil ponselnya lalu mengambil foto Kyros dan Kyra.
Elea mengambil Kyra dan menggendingnya sementara Mamanya menggendong Kyros. Elea tidak berhenti bergumam memuji kedua bayi itu, perasaanya tidak dapat dia gambarkan karena dia merasa sangat bahagia atas kelahiran kedua bayi itu.
"Kyra sayang, sebentar lagi kau akan memiliki teman bermain, tetapi dia masih bersembunyi diperut auntie, kalian akan bertemu dalam beberapa bulan lagi dan bisa bermain boneka bersama" Elea berucap sambil menimang Kyra. Semua yang ada dikamar itu tersenyum mendengar perkataan Elea.
Beberapa saat kemudian Mama Elea memberikan Kyros pada Cahya, dan keluar dari kamar bersama dengan yang lainnya dan hanya meninggalkan Cahya dan Elea beserta Kyros dan Kyra. Cahya mengajak Elea untuk asuk ke kamar bayinya, Elea menaruh Kyra di box bayinya dan kini bergantian menggendong Kyros.
"El, kau jadi kan menginap disini dan kembali besok sore?" Tanya Cahya.
"Iya Ca, aku akan menginap disini sambil belajar melihatmu mengurus keponakanku ini"
"Aku senang kau menginap, berarti Danist juga akan menginap disini?"
"Oh kalau Danist tidak, dia akan mengunjungi rumah saudaranya, tetapi besok dia akan kembali kesini lagi, oh iya Mama dan Papa nanti malam ada janji untuk makan malam bersama sahabat SMA nya dulu jadi kebetulan sekali kita semua datang kesini"
Elea menaruh Kyros di box bayinya dan duduk disebelah Cahya. Mereka berdua berbagi cerita dan membicarakan berbagai hal.
*****
Ariel keluar dari apartmentnya dan pergi menuju salah satu restoran miliknya untuk kunjungan rutin yang baisa dilakukan. Walaupun terlihat dingin, Ariel adalah tipikal orang yang tetap memperhatikan kualitas dari usaha miliknya. Dia selalu menyempatkan waktu mengunjungi restoran dan hotel miliknya lalu bercakap-cakap dengan pengunjung untuk menanyakan tentang pelayanan yang mereka terima, memuaskan atau tidak karena dengan itu dia akan bisa mengetahui serta mengambil tindakan jika ada yang tidak sesuai.
Sudah beberapa hari ini, Ariel tidak menyadari jika dia selalu dibuntuti oleh mobil disetiap aktifitasnya. Orang-orang itu bahkan bermalam di parkiran apartment Ariel dan mengikuti Ariel lagi keesokan harinya termasuk malam ini saat Ariel keluar untuk mengunjungi restoran miliknya.
Orangtua Elea masuk ke sebuah restoran mewah yang sudah ditentukan oleh temannya. Mereka diantar oleh Danist yang kebetulan memang searah dengan tempat tinggal saudaranya, dan nanti mereka akan kembali ke rumah Aditya dengan taksi.
Orangtua Elea dan teman SMA nya dulu menikmati makan malam mereka dengan obrolan yang hangat. Mereka juga bernostalgia tentang masa muda nya dulu.
Sesampainya di restoran, Ariel langsung disambut oleh pegawainya. Ariel ditemani oleh manager restoran itu untuk berkeliling menyapa para pengunjung satu persatu.
Tak terasa hidangan penutup sudah dinikmati oleh orangtua Elea dan temannya, tetapi mereka masih melanjutkan obrolan mereka. Sampai akhirnya ada laki-laki menghampiri meja mereka.
"Permisi Bapak Ibu, saya manager restoran ini, saya datang bersama pemilik restoran ini untuk menanyakan tentang pelayanan kami kepada anda sebagai pengunjung restoran ini, tetapi maaf tunggu sebentar, atasan saya sedang menerima telepon" Ucap Manager itu.
Bebera detik kemudian, Ariel menghampiri Manager restorannya dan mengucap permisi pada pengunjung dimeja itu. Orangtua Elea merasa sangat terkejut saat melihat siapa yang ada dihadapan mereka. Hal itu juga yang terjadi dengan Ariel, dia sangat tidak menyangka jika ada mantan mertuanya ada direstoran miliknya.
"Mama, Papa kalian ada disini??" Ucap Ariel.
Papa Elea langsung berdiri dari kursinya dan menatap tajam ke arah Ariel. Tangannya mengepal menahan amarahnya saat melihat Ariel ada didepannya, pria yang telah menghancurkan hati putrinya dan meninggalkannya dengan sangat kejam.