
Aditya masuk kekamar dan Cahya sudah tidur dengan posisi kaki menjuntai ke lantai dan belum berganti pakaian. "Dia selalu saja tidur sembarangan" Gumam Aditya lalu melepaskan sepatu yang masih dipakai oleh Cahya dan menggendongnya serta membaringkannya ditempat tidur.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Aditya juga membaringkan badannya ditempat tidur. Memandang nyalang dilangit-langit kamarnya sibuk dengan pikirannya. Cahya benar-benar tidak menyukai kehadiran Olivia padahal sebenarnya Olivia tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Cahya. Kedekatannya dengan Olivia layaknya seorang Kakak dengan Adiknya, mungkin seperti halnya Cahya dan Yongki. Tetapi Aditya tidak ingin berdebat panjang dengan Cahya soal itu, terlihat jelas bahwa istrinya memiliki ketakutan berlebihan mungkin karena efek dari apa yang dulu dilakukannya dengan Cheryl.
Aditya selalu mengutuk dirinya jika mengingat apa yang sudah dia lakukan dengan Cheryl karena efeknya sungguh sangat buruk sampai saat ini. Aditya membayangkan bagaimana jika saja Cahya tidak memaafkan perbuatannya dulu, mungkin saat ini dia sudah kehilangan istrinya yang sangat dia cintai. Kekhawatiran istrinya saat ini sangat dia maklumi, bukan merasa takut dengannya tetapi Aditya lebih ingin menghindari konfrontasi dengan Cahya yang bisa mempengaruhi psikis dan kehamilannya.
Cahya memiringkan badannya dan perlahan membuka matanya, melihat Aditya yang masih belum tidur. Cahya menggeserkan badannya dan memeluk Aditya membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya. "Kamu kok belum tidur" Suara Cahya terdengar serak dan dia menguap.
"Kamu kenapa bangun?"
"Aku kebangun karena kamu ga meluk aku"
"Alasan saja, beberapa hari kemarin kamu pules pules aja tidurnya bahkan membelakangi aku, aku pegang aja ga mau"
Cahya melepaskan pelukannya pada Aditya dan memundurkan badannya lalu memasang wajah cemberut. "Yaudah kalau ga mau meluk aku"
"Setidaknya bangun dan ganti bajumu, serta gosoklah gigimu, pergilah"
"Baiklah" Cahya bangkit dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi.
Cahya kembali berbaring setelah berganti sampai pakaian dan langsung menempel pada Aditya berbantal lengan suaminya. "Apa yang kau bicarakan dengan Olivia, kau cukup lama dibawah, aku sampai ketiduran menunggumu"
"Hanya mengobrol biasa saja membahas pekerjaannya, lagipula disana juga ada Mama dan Papa, kau tidak usah khawatir, sudah ayo tidur ini sudah larut"
"Ah hampir lupa tadi kak Yongki meneleponku besok siang dia akan datang kesini, karena paginya dia datang menemui ibu dan Chika dulu siangnya baru kesini, apa kau bisa pulang siang?"
"Aku ada meeting dipagi hari, akan ku usahakan siang bisa pulang, sekarang tidurlah"
****
Keesokan harinya seperti biasa Cahya membantu membuat sarapan dan jus untuk Aditya yang sedang berolahraga pagi. Cahya membawa jus untuk Aditya dan menemui suaminya diruangan gymnya. Aditya tersenyum dan menghentikan kegiatannya lalu menghampiri Cahya. "Good morning my wife, dan juga kedua anak papa yan ada disini" Aditya berjongkok dan menciun perut istrinya.
"Berdirilah dan minum jusmu"
Aditya duduk dan mengambil jusnya, dari kejauhan Olivia tersenyum melihat keromantisan antara Cahya dan Aditya lalu menghampiri mereka. Kedatangan Olivia membuat Cahya terkejut, dia tidak mengetahui jika Olivia ternyata menginap disini.
"Selamat pagi pasangan romantis, wow kalian luar biasa sekali, ini masih pagi dan kalian sudah membuat suasana dirumah ini menjadi berbunga-bunga"
Aditya melirik Cahya dan terlihat sangat jelas wajah istrinya seketika menjadi berubah. Cahya berdiri dan harus segera menjauh dari Olivia, dia sangat tidak menyukai kehadirannya dan Aditya juga sangat jahat karena tidak memberitahunya jika Olivia masih ada dirumah ini.
"Aku permisi dulu, aku harus menyiapkan pakaian untuk Aditya, jika ka sudah selesai segeralah naik dan bersiap ke kantor"
Cahya langsung pergi meninggalkan Aditya dan Olivia. Sedangkan Olivia mulai merasa ada yang aneh dengan Cahya, perempuan itu selalu pergi jika ada dirinya.
"Dede, kenapa Cahya selalu pergi saat melihatku, padahal aku ingin mengobrol dan lebih dekat dengannya, 3x bertemu dia selalu pergi begitu saja, apa ada yang salah denganku??" Tanya Olivia.
"Kau ini bicara apa, mungkin karena waktumu saat menemuinya sedang tidak pas, dia sedang tidak enak badan saat kau bertemu pertama kali dengannya, kemarin dia sedang lelah karena perjalanan dan sekarang dia sedang sibuk karena memeang itulah kegiatannya setiap pagi sebelum aku berangkat ke kantor" Jawab Aditya asal.
"Jadi bagaimana hubunganmu dengan lelaki pujaanmu itu? Kapan kau akan membawanya menemuiku?"
"Aku sudah bilang padamu, hubungan kami belum sejauh itu, jika memang sudah pasti aku akan membawanya padamu, nanti malam aku akan dinner dengannya, kebetulan dia ada waktu untuk datang kesini sebelum kembali disibukkan dengan kegiatannya"
"Kau harus siap dengan segala konsekuensinya jika berhubungan dengan pria seperti itu, well semoga sukses, dan aku sangat penasaran dengan wajahnya, kau tidak memberitahuku fotonya bahkan namanya juga, oke aku harus segera bersiap ke kantor"
***
Aditya masuk ke kamar dan mendengar Cahya sedang muntah dikamar mandi, bergegas dia menghampirinya. Aditya memijat tengkuk leher istrinya agar merasa lebih baik. "Are you okay?" Tanya Aditya.
"Kepalaku pusing, aku akan berbaring saja nanti kamuu turun sendiri aku tidak selera makan dan cepat mandi, pakaianmu sudah aku siapkan!"
Cahya keluar dari kamar mandi dan langsung berbaring ditempat tidur. Aditya dirundung dilema besar, bingung bagaimana cara menjelaskan tentang Olivia pada istrinya. Tetapi jika tetap memaksa justru hubungannya dengan Cahya akan memburuk lagi.
Saat Aditya selesai mandi, dia melihat Cahya sedang tertidur. Dia bergegas bersiap dan berganti pakaian. Setelah bersiap Aditya turun dengan buru-buru karena hari ini ada meeting penting dan dia tidak boleh terlambat.
"Adit, mana Cahya?" Tanya Mamanya karena melihat Aditya turun sendirian.
"Cahya sedang sakit kepala Ma, tadi juga muntah-muntah, kalian sarapan saja, aku buru-buru dan akan sarapan dikantor, mbak.... Mbak Tina..." Teriak Aditya.
"Iya tuan!"
"Tolong buatkan jus untuk Cahya, dan sekalian bawakan dia buah-buahan agar perutnya terisi sebelum minum obat dan vitaminnya, dan ya jangan lupa bawa juga Cokelat yang semalam aku beli, aku taruh di kulkas, aku permisi dulu Ma, Pa, Olu"
****
Setelah sarapan, Olivia pergi ke dapur dan menghampiri Mbak Tina yang sedang ingin membuatkan jus untuk Cahya. "Hanya jus dan buah saja, dimana susu hamilnya aku akan membuatkannya" Ucap Olivia.
"Non Cahya selalu muntah setiap meminum susu hamil, dia sangat tidak menyukainya" Mbak Tina menjelaskan.
"Wah sayang sekali, ya sudah sini biar aku yang membuatkan jusnya, nanti aku juga yang akan membawa ke kamarnya"
Dengan cekatan Olivia membuat jus stroberinuntuk Cahya, sementara Mbak Tina mengambil buah-buahan dan juga cokelat dikulkas. Setelah siap Olivia membawanya naik ke atas menuju kamar Cahya. Olivia berharap ini moment yang pas untuk berbicara dan mengenal lebih dekat Cahya.
Olivia mengetuk pintu kamar itu tetapi tidak ada jawaban dari dalam dan diapun masuk karena pintu tidak dikunci. Ternyata Cahya masih tertidur dengan sangat pulas. Olivia menaruh nampan yang dipegangnya diatas meja dan berjalan kearah balkon lalu duduk disana sambil menunggu Cahya bangun.
Lebih dari setengah jam dia menunggu tetapi tidak ada tanda-tanda Cahya akan bangun, jadi dia memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Saat hendak keluar dia mendengar Cmsuara orang menguap dan diliriknya ternyata Cahya sudah bangun.
"Hai...... Akhirnya kau bangun juga" Olivia langsung menghampiri Cahya dan duduk diranjangnya.
"Minum dan makanlah ini, aku membuatkan jus ini untukmu, Dede bilang kau belum meminum obat dan vvitaminmu serta kau juga belum memakan apapun, jadi aku membawakan ini untukmu, ayo makanlah"
Cahya hanya diam karena terkejut ada Olivia dikamarnya, disisi lain dia masih mengumpulkan kesadarannya yang belum penuh.