SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 323



Beberapa hari kemudian, Danist dan Elea mendatangi kediaman Ariel dan Ayahnya. Sudah lama juga mereka tidak kesini, dan Ayah Ariel juga entah kemana sudah beberapa minggu tidak datang untuk menemui Gienka. Selain untuk mengantarkan undangan, mereka datang juga untuk bersilaturahmi. Elea dan Danist berdiri di depan pintu dan menekan bel rumah itu, tak lama seorang pelayan membuka pintu. Pelayan itu tersenyum melihat kedatangan Elea karena sudah pernah bertemu sebelumnya disini. Sayangnya yang sedang dicari Elea tidak berada dirumah, Ayah Ariel saat ini berada di Singapura sejak seminggu yang lalu, sementara Ariel sudah 3 hari tidak pulang kesini dan sepertinya tinggal di apartemennya.


Elea mengarahkan pandangannya ke Danist, mereka menyesal harusnya sebelum datang mereka memberitahu lebih dulu. Karena sudah berada disini, Danist menyuruh Elea untuk menitipkan undangannya saja kepada pelayan itu. Tetapi saat hendak mengambil undangan dari dalam tasnya, sebuah mobil masuk ke halaman rumah itu. Ternyata itu adalah mobil milik Ariel.


Ariel langsung menyadari kedatangan Elea, dan ada Gienka disana, bergegas dia turun dari mobilnya dan menghampiri mereka. "Kalian ada disini??? Ayo masuk, sorry sorry aku baru kembali" Ucap Ariel kemudian meminta agar Elea memberikan Gienka padanya.


Ariel sangat senang sekali Gienka ada disini, dia tidak berhenti menciuminya kemudian menyuruh Elea dan Danist masuk lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Harusnya kalian memberitahu lebih dulu jika ingin kesini jika tidak, kalian pasti tidak akan bertemu dengan siapapun disini, Ayah sedang tidak ada di rumah itu sebabnya aku juga lebih memilih tinggal di apartemen"


"Ini hari libur, kami pikir kalian akan ada dirumah" Ucap Elea.


"Tidak pasti juga El, kalian jangan buru-buru pergi oke? Beri aku waktu bersama dengan Gienka lebih lama, setidaknya sore nanti saja pulangnya atau nanti malam, kalian pasti pulang ke apartemen kalian kan?" Tanya Ariel.


Elea dan Danist saling berpandangan, mereka sebenarnya ada keperluan lainnya yang harus diselesaikan, dan tidak mungkin juga meninggalkan Gienka disini. Dan jika menolak permintaan Ariel juga kasihan, karena Ariel pasti sangat merindukan Gienka. Danist menganggukkan kepalanya pada Elea, menandakan bahwa dia menyetujui untuk disini lebih lama sampai sore hari. Karena masih ada besok untuk menyelesaikan semuanya.


"Baiklah, kami akan disini sampai sore nanti, kau bisa sepuasnya bermain bersama Gienka"


"Thanks El" Ucap Ariel, lalu pandangannya beralih ke Gienka yang tampak serius menatapnya. "Kenapa kau menatap Papa seperti itu??? Kau merindukanku ya??? Anak manis!!" Gumam Ariel pada Gienka dan kembali menciumnya.


Ariel sangat senang akhirnya Gienka datang kesini, padahal dia sudah berniat untuk mengunjunginya nanti. Setelah tadi pagi dia berolahraga bersama dengan Maysa dan mengajak perempuan itu jalan-jalan sebentar setelah itu dia pun mengantarnya ke apartemen, lalu kembali ke rumah ini sebentar mengambil mainan yang beberapa waktu lalu dibelinya untuk Gienka serta mengambil pakaian dan beberapa berkas penting pekerjaannya. Kebetulan yang sangat luar biasa, ternyata kepulangannya justru mengejutkannya karena Elea membawa Gienka kesini.


Saat Ariel sedang asyik mengajak Gienka berbicara, seorang pelayan datang membawa nampan berisi minuman dan camilan untuknya, Elea dan juga Danist.


"Bolehkan aku membawa Gienka ke kamarku???" Tanya Ariel lagi.


"Kau bisa membawanya" Jawab Elea.


Ariel tersenyum dan berterima kasih kemudian mengucap permisi untuk membawa Gienka ke kamarnya.


Elea mengajak Danist untuk pergi ke perpustakaan yang tadi disebutkan oleh Ariel. Elea tahu bahwa Ariel adalah pecinta buku, sudah tentu diperpustakaan itu pasti banyak sekali koleksi buku-bukunya. Benar saja saat masuk disana, ada ratusan buku bahkan mungkin mencapai ribuan tertata rapi di rak besar yang mengelilingi ruangan itu. Selain buku, ada juga beberapa frame foto dari mulai yang besar hingga frame-frame kecil di beberapa sudut serta meja dan di lemari, foto itu kebanyakan adalah foto Ariel saat kecil, remaja hingga dewasa, ada juga foto keluarga ukuran besar, juga foto berukuran sedang dimana disana ada seorang wanita tertempel di dinding dengan senyum indahnya dan wajahnya yang cantik, wanita itu adalah Mama Ariel. Elea tersenyum karena ternyata jika diperhatikan lebih detail lagi, mata Mama Ariel, sekilas sangatlah mirip dengan mata Gienka.


Elea berkeliling menelusuri ruangan itu begitu juga Danist. Elea menemukan berbagai buku, mulai dari buku sastra lama, puluhan buku-buku literatur bisnis, novel hingga buku-buku berbahasa asing yang merupakan versi asli dan banyak lagi aneka koleksi buku yang dia temukan disana. Danist mengambil sebuah buku sastra lama versi asli yang sekarang pasti akan sangat sulit ditemukan. Well kapan lagi bisa membaca buku gratis versi aslinya, yang pasti harganya akan sangat mahal sekali untuk saat ini dan sulit untuk ditemukan. Sementara Elea tertarik dengan sebuah novel. Kemudian Danist duduk di kursi kayu sedangkan Elea memilih duduk di sofa dan keduanya mulai menikmati bacaannya masing-masing.


Setelah membaca hampir seperempat halaman buku itu, Danist mengangkat kepalanya dan memandang lagi sekelilingnya, buku disini banyak sekali. Tetapi mata Danist teralihkan kesebuah buku tebal bersampul warna maroon, itu adalah buku bisnis yang selama ini dia cari dan dia baca tetapi dia masih belum menemukannya karena sudah sangat sulit ditemukan. Selagi ada disini dia harus bisa membacanya. Danist beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke buku itu berada. Buku itu berada di atas, Danist mencoba meraihnya dengan menjinjitkan kakinya karena terletak di rak yang cukup tinggi itu. Danist berhasil menggapainya, lalu perlahan buku itu keluar, sayangnya bersamaan dengan itu Danist juga menjatuhkan buku lainnya, membuat Elea yang sedang asyik membaca terlonjak kaget karena suara buku terjatuh itu.


"Ada apa??" Tanya Elea.


Danist terkekeh. "Aku ingin mengambil buku ini tetapi malah buku yang lainnya terjatuh, aku akan mengembalikannya lagi"


"Kau ini, ambil dan kembalikan"


Danist membungkukkan tubuhnya dan memungut buku yang terjatuh itu. Posisi buku itu tertelungkup dengan terbuka setengah halamannya. Saat Danist mengambilnya, dia menemukan sebuah kertas yang sepertinya itu adalah sebuah kertas foto, mungkin foto itu di gunakan sebagai pembatas buku. Danist kemudian mengambil foto itu dan membaliknya. Dahinya berkerut ketika menatap foto hitam putih itu, dia melihat Ayah Ariel yang tampak masih muda dan orang yang disebelahnya. Danist tentu tidak asing lagi dengan wajahnya, dia sangat mengenalnya.