SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 247



Birunya danau dipadukan dengan hijaunya keadaan alam sekitar membuat Ariel merasa nyaman dan matanya sangat di manjakan sekaligus menikmati hembusan angin yang begitu segar menerpa dirinya. Sudah cukup lama dirinya menjauh dari semua orang termasuk putrinya yang selalu dia rindukan.


Ariel menyeka airmatanya, ingatannya tentang Gienka selalu membuatnya tidak bisa membendung tangisnya tetapi ini belum waktunya untuk kembali. Masih butuh waktu baginya untuk mencari Ariel yang dulu, Ariel yang disegani banyak orang karena prestasinya, karena kebaikan hatinya dan Ariel yang bisa mendinginkan suasana dengan tawanya. Semua sudah lama hilang dari dirinya. Ariel yang sekarang hanyalah Ariel yang dipenuhi keegoisan dan sudah sering meninggalkan banyak keburukan untuk orang disekitarnya.


Ya, setelah peristiwa di apartemen Elea, Ariel langsing mengemasi barangnya dan pergi ke salah satu resort mewahnya di pulau Dewata. Sebenarnya bukan pergi atau malu dan menjauhi semua orang tetapi lebih tepatnya ada banyak pekerjaan dan proyek pembangunan villa serta hotel miliknya dan memutuskan akan tinggal disana selama beberapa hari atau minggu sekaligus menenangkan diri lalu akan mencari cara lagi untuk memisahkan Elea dan Danist. Tetapi ketika dia sudah menemukan cara, sebuah peristiwa telah mengetuk nurani Ariel yang paling dalam dan membuatnya akhirnya menyadari semua kesalahan yang sudah dilakukannya selama ini.


Di suatu malam Ariel bermimpi di datangi oleh Mamanya yang menangis memeluknya, dan menyuruhnya untuk berubah menjadi lebih baik lagi, menerima semua jalan hidupnya dengan ikhlas semua harus ia lakukan untuk kebaikan Gienka, serta memohon pengampunan dari Tuhan. Saat itu Ariel langsung terbangun dari tidurnya dan langsung menangis.


Tuhan.....


Sudah cukup lama dia melupakan nama itu, bahkan tidak pernah lagi melakukan kewajibannya dengan baik. Ya tentu saja karena dia marah, merasa Tuhan telah mengambil semua yang dia miliki, Elea menolak kembali padanya dan harus berjauhan dengan putrinya sendiri. Ariel merasa Tuhan telah meninggalkannya, sudah memberinya hukuman yang begitu berat hingga membuatnya akhirnya memilih untuk tidak lagi percaya pada Tuhan.


Setelah bermimpi tentang kedatangan Mamanya yang menangis itu, keesokan harinya tiba-tiba sebuah ide muncul dari dalam otaknya. Sebuah ide yang selama ini tidak pernah dia pikirkan sama sekali. Ide untuk datang ke rumah Tuhan dan meminta pengampunan disana serta memasrahkan segala hidupnya dan tentu saja juga menyesali segala apa yang pernah dilakukannya kemarin.


Setelah mengurus semuanya, pergilah dia ke tanah suci selama beberapa minggu. Yang dilakukannya hanya beribadah dan memohon ampunan kepada Tuhan. Ketenangan hati yang luar biasa akhirnya Ariel dapatkan dan kesadarannya bahwa bukan Tuhan yang selama ini meninggalkannya tetapi dirinya sendirilah yang sudah berani meninggalkan Tuhan. Padahal Tuhan telah memberikannya banyak hal selama ini, kesuksesan usaha yang begitu besar, dikelilingi oleh orang-orang yang begitu mendukungnya, sahabatnya yang selalu setia bersamanya walau mereka tahu betapa buruknya dirinya tetapi tetap memilih bersamanya, Ayahnya, ya orang yang selama ini begitu dia benci tetapi masih tetap menyayanginya. Dan mungkin setelah kepergiannya ini, Ariel akan meminta maaf kepadanya, sebesar apapun kesalahan orangtua kewajiban anak adalah harus memaafkan begitu juga sebaliknya.


Setelah kembali dari tanah suci, Ariel memutuskan untuk menenangkan lagi dirinya di Belanda, tinggal beberapa hari disana dan kemudian datanglah kesini. Tempat yang begitu indah yang dulu pernah dia datangi bersama Elea. Tetapi kedatangannya bukan untuk mengingat masa itu tetapi lebih karena hanya ingin mencari ketenangan diri dan menemukan dirinya yang dulu lagi.


Dan saat ini Ariel sudah berjanji dengan dirinya sendiri bahwa dia tidak akan lagi membuat kekacauan yang semakin membuat hubungannya dengan Elea semakin memburuk. Sudah banyak penderitaan yang sudah Elea lalui selama ini, menjaga Gienka selama dikandungannya, bahkan dengan hati yang lapang tetap memberinya kesempatan untuk menemui putrinya itu. Elea tidak egois dan tetap menghormatinya sebagai Ayah biologis Gienka, walaupun kadang perilakunya sangat tidak baik. Elea juga sudah menemukan kebahagiaannya dengan menikahi pria lain yang mungkin baginya itu adalah yang terbaik, mengingat yang Ariel tahu, Danist memang selama ini yang sudah menghabiskan banyak waktu bersama Elea bahkan lelaki itu juga sudah banyak membantu Elea dimasa sulitnya saat hamil. Ariel juga melihat bahwa Danist juga begitu perhatian pada Gienka, jadi mungkin memang Danist sengaja Tuhan kirim untuk menjaga Elea.


Ariel mengambil air minum disebelahnya dan meminumnya seraya menghela napasnya panjang-panjang. Gienka, satu-satunya nama yang kini akan jadi prioritas utama di hidupnya, hanya Gienka. Ariel mengambil ponsel dari saku hoodienya dan membuka galerinya memandang fotonya bersama Gienka lalu mulai menitihkan airmatanya lagi.


"Gienka sayang, maafkan Papa masih belum bisa datang untuk menemuimu, beri Papa sedikit waktu lagi untuk kembali nanti, Papa sangat merindukanmu sayang!!" Gumam Ariel ditengah tangisnya lalu mengusap lembut wajah Gienka di foto itu.


Ariel kembali menyeka airmatanya, matahari sedikit meninggi, membuat Ariel menarik penutup kepala jaket hoodienya dan menutupkan itu di kepalanya lalu meminum lagi air mineral dan menyandarkan kepalanya di bangku lalu melipat kedua tangannya kemudian memejamkan matanya menikmati udara sejuk yang menerpanya.


Cahya dan Elea masih berjalan dan mengobrol berbagai hal meninggalkan Danist dan Aditya di belakang. Elea menengok ke belakang dan menemukan 2 laki-laki itu sedang asyik berbincang sambil mendorong stroller bayi mereka.


"Eh Ca" Tiba-tiba Elea menyenggol pinggang Cahya. "Pasti lagi marahan ya sama Adit??? Dari tadi aku lihat kau tidak banyak bicara padanya, dan ketika berbicara suaramu terdengar ketus, kenapa?"


"Nggapapa El"


"Masa??? Kalian aneh, kalian berdua yang mengajakku kesini agar aku bisa dekat dengan Danist eh sekarang malah kalian berdua yang ribut, Adit bikin salah apa lagi sampai kau marah kepadanya??"


"Sebenarnya aku yang memulai duluan, aku menertawakannya dan dia marah kepadaku lalu membalasku, tetapi aku kesal karena itu berlebihan"


"Aiiisssshhhh.... Kalian ini seperti anak kecil saja saling membalas hahaha sudahlah kau yang memulai jadi kau nanti harus meminta maaf padanya, lagian mereka berdua di belakang lagi ngobrol apaan sih, pelan banget jalannya" Gerutu Elea.


"Mungkin membahas pekerjaan, ah ya ampun aku lelah sekali!!! Bisakah kita beristirahat sebentar?" Gumam Cahya.


"Sama Ca, aku juga lelah, tapi kita beristirahat dimana?" Elea memandang ke kanan dan ke kiri, lalu menemukan sebuah bangku yang sedang di duduki oleh seorang prian. Bangku itu cukup panjang dan bisa di duduki 3 sampai 4 orang, sepertinya akan bagus jika dia dan Cahya duduk disana sambil menunggu Aditya dan Danist yang masih jauh di belakang mereka.


"Eh Ca, itu ada bangku, dudku saja yuk disana sambil menunggu para pria itu menyusul kita" Gumam Elea sambil menunjuk ke depan dimana ada sebuah bangku disana.


"Tapi itu ada orangnya El, duduk di rumput aja deh" Protes Cahya.


"Ah kau ini, di bangku lebih nyaman, mana tepat di pinggir Danau, yukk" Elea menarik Cahya dan berjalan cepat menuju bangku itu berada.