SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 152



Selesai makan, Aditya dan Cahya pergi ke dapur lagi untuk membersihkan peralatan masak yang mereka gunakan. Setelahnya mereka kembali lagi ke kamar. Aditya naik ke atas ranjang dan duduk bersandar disana sambil menunggu Cahya yang masih ada dikamar mandi untuk menggosok giginya.


Cahya tersenyum melihat Aditya menunggunya, dia pun naik ke ranjang dan berbaring miring sambil memeluk perut Aditya. Aditya mengusap lembut rambut Cahya dengan penuh kasih sayang agar istrinya itu merasa lebih nyaman.


"Aku dulu sempat frustasi dan menggila saat kau sibuk mempersiapkan pernikahan kita" Gumam Cahya membuka obrolan dengan Aditya.


"Kenapa?"


Cahya bangun dan ikut duduk bersandar disamping Aditya. "Siapa yang tidak frustasi, tiba-tiba dia dipaksakan menikah dalam satu minggu, aku tidak mengenalmu lalu dengan pongkahnya kau mengatakan itu, hanya untuk menjaga harga diri keluargaku, aku menggila dan ketakutan karena kau berasal dari keluarga terpandang dan memiliki perusahaan besar dengan puluhan cabang sedangkan aku hanya pegawai biasa yang gajinya hanya cukup untuk menghidupi keluargaku dan berusaha mati-matian untuk menabung untuk biaya kuliah adikku, aku ketakutan jika saat menjadi istrimu kau akan memperlakukanku dengan kejam dan buruk"


"Kenapa kau bisa berpikir seburuk itu terhadapku, memangnya wajahku terlihat seperti laki-laki yang jahat dan kejam?" Aditya menggerutkan keningnya merasa heran kenapa Cahya bisa berpikir seperti itu.


"Hahaha itu karena aku sering membaca novel yang dimana menceritakan tentang kekejaman para lelaki kaya itu saat mereka menikahi perempuan-perempuan biasa, memperlakukan mereka dengan sangat buruk itu yang kebanyakan ku baca, bahkan ada yang berdarah dingin dan suka membunuh"


"Ya Tuhan Cahya, bagaimana bisa itu ada dalam pikiranmu? Kau ini konyol sekali, tidak semua orang kaya memperlakukan orang lain buruk"


"Aku memang konyol tetapi aku tahu ternyata kau sangat baik dan sangat mencintaiku, selalu ada untuk menjagaku bahkan disaat aku dalam kondisi yang sangat sulit dicintai kau selalu ada bersamaku, kriteria suami yang aku inginkan dulu semua ada padamu, terima kasih kau telah menjadi bagian dari hidupku, menjadikanku wanita yang paling bahagia didunia ini" Cahya memeluk erat Aditya dan Aditya juga membalas pelukannya.


"Ayo tidurlah, ini sudah larut" Aditya melepqskan pelukannya dan membantu Cahya untuk kembali berbaring agar istrinya itu segera bisa beristirahat dengan nyaman.


****


3 Minggu kemudian.....


Pagi hari saat Cahya sedang menyiapkan pakaian untuk Aditya, tiba-tiba dia merasakan kram diperutnya dan nyeri dipunggungnya. Sambil menahan rasa sakit Cahya berjalan perlahan ke tempat tidur dan duduk disana. Dia mencoba mengatur napasnya dan mengusap perutnya dan mencoba tidak panik.


Lama setelahnya Aditya keluar dari kamar mandi dan melihat Cahya sedang meringis seperti sedang menahan sesuatu. "Sayang, kau kenapa?"


"Perutku kram dan punggungku sakit sekali, aduuhhh.." Keluh Cahya sambil terus mendesis menahan sakitnya.


"Minum dulu" Aditya meraih gelas diatas meja dan memberikan Cahya air. "Atur napasmu, tarik perlahan dan keluarkan lewat mulutmu"


Cahya mengikuti arahan Aditya, beberapa saat kemudian Cahya merasakan sakit yang luar biasa diperutnya, bergegas Aditya memakai pakaiannya dan lari keluar kamar memanggil Mamanya.


Suara teriakan Aditya membuat semua orang yang ada dirumah berlarian ke arahnya dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Aditya mengajak Mamanya untuk segera ke kamarnya melihat keadaan Cahya.


"Aaarrrgggghhhh sakit sekali..... Adiiiitttt....."


Aditya masuk ke kamar bersama yang lainnya langsung mengerubungi Cahya. Cahya terlihat sangat kesakitan dan keringatnya mulai mengucur.


"Cahya sayang, apa yang terjadi?" Tanya Nyonya Harry dengan suara yang tidak kalah paniknya.


"Mama, perutku sakit sekali aarrggghhh....."


"Adri, keluarkan mobil, ayo bawa Cahya ke rumah sakit, sepertinya ini sudah waktunya dia melahirkan"


"Tapi Ma, dokter bilang masih beberapa hari lagi" Ucap Aditya.


"Adit kau ini, perempuan bisa melahirkan kapan saja tidak harus sesuai dengan prediksii dokter, bisa lebih cepat atau lebih lama, ayo bawa Cahya keluar, lihatlah istrimu sedang kesakitan"


Adri berlari keluar rumah untukengeluarkan mobil dari garasi. Aditya merangkul Cahya dan mengajaknya berjalan keluar dari rumah dibantu oleh Mamanya. Adri sudah siap dengan mobilnya, perlahan Aditya membawa Cahya keluar dari rumah dan membantunya masuk ke mobil. Selama perjalanan Cahya terus merintih kesakitan membuat Aditya tidak tega melihatnya, tetapi dia harus bisa menahan dirinya dan menguatkan Cahya.


*****


Sampailah mereka dirumah sakit, dan dokter serta perawat langsung menangani Cahya. Aditya berjalan mondar-mandir berharap dokter segera keluar dan memberitahukan kondisi Cahya saat ini. Lama setelahnya dokter akhirnya keluar.


"Bagaimana kondisi istri saya dok, apakah dia baik-baik saja?"


"Tenang pak, istri anda dalam keadaan baik-baik saja, nyonya Cahya sedang mengalami kontraksi, tetapi masih belum ada tanda-tanda pembukaan yang terjadi, kita semua harus bersabar dan nyonya Cahya akan kami bawa ke ruang rawat inap, dibutuhkan kesabaran dan dukungan dari keluarga, dan kami akan mengecek kondisinya setiap jam" Dokter menepuk punggung Aditya lalu mengucapkan permisi.


Cahya sudah dibawa ke ruang rawat inap, kondisinya sedikit lebih baik dari sebelumnya walaupun dia masih merasakan tidak nyaman diperutnya. Aditya memegang jemari Cahya mencoba menguatkan istrinya walaupun perasaannya sendiri tidak baik karena harus melihat istrinya kesakitan.


Cahya membelai lembut pipi Aditya sambil tersenyum mencoba menenangkan suaminya itu yang terlihat sangat ketakutan. "Tenanglah, kenapa justru kau yang seperti akan melahirkan? Ini sudah biasa terjadi, tanya saja pada Mama? Jadi kau tidak perlu khawatir" Ucap Cahya dengan nada pelan.


Dokter menyuruh Cahya untuk berjalan-jalan diruang rawat inapnya dan perawat juga membantunya untuk melakukan terapi dan senam kecil agar bisa membuka jalan lahirnya.


****


Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, sudah hampir 12 jam Cahya disiksa dengan rasa sakit yang luar biasa, tetapi dokter mengatakan jika pembukaannya baru pembukaan dua. Aditya semakin frustasi melihat Cahya yang semakin kepayahan dan tidak ada perkembangan apapun.


Dokter kembali masuk dan memeriksa kondisi Cahya, dan hasilnya tetap sama, Cahya baru mengalami pembukaan dua.


"Dokter, kenapa lama sekali, lihatlah kondisi istriku, dia sudah kelelahan, lakukan sesuatu dok, aku tidak tega melihatnya seperti ini, ini sudah hampir 12 jam" Teriak Aditya pada Dokter itu.


Mamanya dan ibu mertuanya pun mencoba menenangkan Aditya. Mereka memahami apa yang dirasakan Aditya saat ini tetapi tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dan bersabar.


Hingga akhirnya pembukaan terakhir Cahya sudah terjadi, tetapi jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Selama itu pula Aditya tersiksa harus melihat Cahya kesakitan.


"Pak, kita akan membawa nyonya Cahya ke ruang bersalin sekarang, apa bapak ingin menemaninya?" Tanya Dokter.


Aditya menggelengkan kepalanya, baginya ini sudah cukup dia tidak bisa lagi melihat Cahya kesakitan. Aditya meminta ibu mertuanya atau Mamanya saja yang menemani Cahya.


"Sayang, aku ingin kau yang menemaniku, apa kau tega melihatku berjuang sendirian melahirkan bayi kita? Pergilah bersamaku dan genggamlah tanganku" Ucap Cahya dengan suara lirih.


Sambil menangis Aditya menggelengkan kepalanya, tetapi Mamanya mencoba meyakinkannya agar dia mau menemani Cahya. "Cepat pergilah, istrimu memintamu untuk menemaninya, jangan siksa dia lebih lama, pergilah"


"Tapi Ma??"


"Pergilah, genggam tangannya, kuatkan dia dan jangan lupa berdoa agar semuanya diberi kelancaran oleh Allah"


Akhirnya Aditya menuruti permintaan Cahya untuk menemaninya diruang bersalin. Bagaimanapun Aditya harus kuat untuk Cahya dan bayi mereka.


****


Alat-alat dipasang. Dan alat pemindai detak jantung bayi disambungkan. Suara keras langsung terdengar, suara degup jantung si bayi yang mengencang ketika Cahya mengalami kontraksi.


Aditya terus menggenggam tangannya ketika team dokter dan perawat mempersiapkan proses kelahiran bayi mereka. Dengan lembut digenggamnya tangan Cahya, memberikan semangat untuk istrinya itu dan dirinya sendiri.


"Ayo sayang, kau harus kuat, kita lahirkan bayi kita ke dunia" Ucap Aditya lalu mencium kening Cahya.


Cahya melempar senyum kearahnya sampai akhirnya Cahya mulai berteriak. Aditya terus menggenggam tangan istrinya itu dan merapalkan doa serta semangat untuknya.


Sampai akhirnya 30 menit kemudian bayi pertamanya lahir dengan jenis kelamin laki-laki. Tangisannya terdengar sangat keras, perawat langsung membawanya dan membersihkannya. Tangis Aditya pecah dan terus menciumi kening Cahya mengucapkan terima kasih padanya. Tetapi perjuangan Cahya masih belum berakhir, bayi kedua mereka belum lahir.


Dokter terus membimbing Cahya untuk melahirkan, hingga akhirnya 9 menit kemudian bayi kedua mereka lahir. Tangisan bayi perempuan itu sangat keras lebih keras dari tangisan kakaknya. Kedua bayinya sangat sehat, cantik dan tampan, dengan kulit kemerahan dan rambutnya yang tebal.


Tangisan Aditya pecah dan memeluk Cahya yang masih terbaring lemah. Sampai akhirnya dokter memanggil Aditya untuk melakukan kewajiban Aditya pada bayinya. Setelah melakukannya, perawat menanyakan pada Aditya siapa nama untuk bayinya.


"Untuk Putraku aku memberinya nama Kyros Aditya Sahasya dan nama putriku adalah Kyra Aditya Sahasya" Ucap Aditya sedikit terbata.


"Baiklah pak, kami akan mengurus bayi dan istri anda, nanti anda dan keluarga Anda bisa menunggu diruang rawat inap, kami akan membawa mereka kesana.


Aditya keluar dari ruang bersalin sambil berjalan terhuyung dan tidak bisa menahan tangisnya karena rasa haru yang dia rasakan. Aditya melihat semua orang sudah menunggunya, selain keluarganya ternyata ada Chitra, Randy dan juga Ariel bahkan Chika juga ada disana. Aditya langsung memeluk Mamanya sambil menangis.


"Ma, bayiku sudah lahir dengan sehat, mereka sangat tampan dan cantik, perjuangan istriku tidak sia-sia Ma, mulai detik ini aku tidak akan pernah membuatnya menangis ataupun kesakitan lagi, bagiku kesakitannya kemarin dan hari ini sudah cukup, aku sangat menderita melihat istriku berjuang sendiri untuk melahirkan bayi kami, sekarang aku mengerti bagaimana perjuangan seorang ibu untuk melahirkan bayinya, aku sudah menjadi seorang Ayah Ma"


Aditya memeluk erat mamanya, sedangkan semua orang terlihat menitihkan airmatanya karena terharu.


*****


Cahya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, dan Aditya selalu ada disampingnya. Hingga akhirnya perawat membawa masuk kedua bayinya, mereka terlihat menggemaskan dan sedang tertidur pulas. Aditya bangkit dari duduknya dan mencium kedua bayinya yang ada di box bayi. Perasaannya saat ini tidak bisa dia gambarkan, semua orang juga bergantian menengok 2 malaikat kecil itu, dan tidak berhenti memujinya.