
"Mobil Ariel sudah tidak ada diluar??? Padahal tadi ada? Apa dia mengajak Gienka keluar ya???" Elea menghampiri Danist yang sedang memakaikan Friddie pakaian.
"Tidak ada??? Lalu bagaimana?? Apa kita akan meninggalkan Gienka? Papa kan juga ingin bertemu dengan Gienka??"
"Itu dia....! Mana tadi aku lupa memberitahunya kalau kita akan mengajak Gienka ke Bandung hari ini"
"Ya sudah kau hubungi saja dia, suruh membawa Gienka pulang" Gumam Danist.
Hari ini Elea dan Danist memang akan pergi ke Bandung untuk bertemu dengan orangtua Elea, terutama Papa Elea yang saat ini memang sedang pulang setelah bekerja di luar kota. Mereka akan membawa Gienka dan Friddie kesana, sebelum besok Papa Elea kembali lagi ke luar kota. Sayangnya Elea lupa memberitahu Ariel jika dia akan membawa Gienka, tetapi sekarang Ariel sepertinya sedang mengajak Gienka pergi ke luar.
Elea mengambil ponselnya untuk menghubungi Ariel agar segera bisa membawa Gienka kembali. Karena dia dan Danist juga sudah bersiap, tinggal berangkat saja. Saat membuka ponselnya ternyata ada pesan dari Ariel sekitar sejam yang lalu, Ariel meminta ijinnya membawa Gienka pergi ke tempat proyeknya. Sejak tadi memang Elea tidak memegang ponselnya sama sekali jadi dia baru tahu jika Ariel sudah mengiriminya pesan. Setelah membaca pesan itu, Elea memberitahu kepada Danist.
"Kita jemput saja Gienka disana, lagipula jika harus menunggu Ariel membawanya pulang akan memakan waktu lebih lama" Ujar Danist.
"Ya, kita jemput saja kalau begitu, Gienka tadi juga sudah rapi"
Elea kemudian meminta Danist agar menjaga Friddie lebih dulu, sementara dia akan berganti pakaian dan nanti mereka bisa langsung berangkat menjemput Gienka. Elea sendiri merasa tidak tenang karena Ariel membawa putrinya ke tempat proyek pembangunan. Tempat seperti itu pasti tidaklah nyaman untuk anak kecil dan cukup berbahaya. Jika saja tadi dia membaca pesan itu lebih awal mungkin dia tidak akan mengijinkan Ariel pergi membawa Gienka.
★★★★★★
Ariel membawa Gienka untuk mengunjungi proyeknya. Dia lupa bahwa hari ini dia memiliki pekerjaan untuk mengawasi dan mengecek pembongkaran bangunan yang akan dia jadikan restoran. Berhubung ini hari sabtu, dan waktunya Ariel menghabiskan waktu dengan Gienka, maka dia harus mengambil keputusan untuk mengajak putrinya itu. Dan berjanji pada Gienka bahwa itu hanya akan sebentar saja, setelah itu akan mengajaknya jalan-jalan dan makan es krim. Gienka pun mau.
Ariel memarkir mobilnya, lalu membuka seluruh kaca yang ada di pintu mobil. Ariel melepaskan seatbelt putrinya, kemudian mengusap kepalanya dengan lembut sambil tersenyum. "Gienka sayang, jangan keluar dari mobil karena erbahaya dan banyak debu, jadi bermainlah disini saja, Papa Yel hanya sebentar saja, nanti akan kembali"
"Ya....!!! Aku tidak akan kelual, jangan lama-lama!"
"Oke...!!! Anak Papa Yel memang sangat pintar...!" Ucap Ariel kemudian dia keluar dari mobil dan memindahkan Gienka ke kursi belakang agar putrinya itu bisa bermain lebih leluasa.
Ariel menutup pintu mobil dan membiarkan kaca jendelanya terbuka sehingga Gienka bisa mendapat sirkulasi udara. Ariel menemui mandor dari proyek yang akan dikerjakan. Ariel memakai helm serta rompi. Kemudian mandor itu mengajaknya untuk berkeliling serta menjelaskan semuanya kepada Ariel, dan saat ini sedang dipersiapkan untuk merubuhkan beberapa bangunan.
Sesekali ditengah obrolannya, Ariel mengarahkan pandangannya ke mobilnya memastikan bahwa putrinya masih berada disana. Gienka adalah anak yang tidak pernah rewel dan selalu tenang ketika dia sedang sibuk bekerja. Bahkan saat dia sedang meeting dengan klien, Gienka sangat mengerti saat dia memberitahunya bahwa dia akan meeting dan putrinya itu tidak boleh bersuara. Sampai saat ini Gienka dengan baik melakukannya, bahkan sering sekali klien-klien Ariel memuji sikap Gienka yang mereka bilang bahwa bocah itu sangat cerdas. Ariel percaya apa yang selama ini sudah dia ajarkan pada Gienka, akan dibawa putrinya itu sampai dewasa kelak. Hal yang sangat bagus bahwa jika nanti Gienka mau menggantikannya memimpin seluruh perusahaan miliknya dan meneruskan bisnisnya.
Satu persatu bangunan kosong itu mulai dirobohkan dengan alat berat. Ariel berdiri dari kejauhan melihatnya sambil mendengarkan mandor berbicara menjelaskan sesuatu kepadanya. Ariel tersenyum ketika melihat masih ada 2 tembok yang berdekatan masih berdiri dan seperti membentuk sebuah gapura dengan lebar sekitar 1 sampai 1,5meter tetapi alat beratnya sudah sedikit menjauh untuk merobohkan bangunan lainnya. Ariel menunjukkan keada mandor yang berada disampingnya agar nanti tembok itu bisa diberi sedikit dorongan lagi sehingga bisa runtuh.
"Baik pak....! Tentu saja nanti itu akan diruntuhkan" Jawab Mandor itu.
★★★★★★
Gienka bermain sendirian di mobil, dia sangat tenang dan memainkan bonekanya. Dia melihat Ariel tengah berjalan menjauh darinya, tetapi Gienka sudah sangat mengerti jika Ariel memberinya penjelasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.
Gienka mencoba melirik ke arah Ariel yang masih berdiri jauh darinya. Dia mulai merasa bosan sebenarnya tetapi Ariel tidak kunjung kembali. Gienka menekan tombol smartwatch nya dan menghubungi Ariel.
"Papa Yel, panas sekali, ayo kita pelgi membeli es klim" Ucapnya.
Setelah menghubungi Ariel, Gienka meletakkan bonekanya kemudian mengambil bola karet dan bergantian memainkannya.
Danist dan Elea akhirnya sampai juga. Danist menyuruh Elea agar di dalam saja dan dia akan mencari Ariel serta Gienka, mengingat di tempat ini sangat panas juga berdebu, yang bisa membuat Friddie akan merasa tidak nyaman nantinya. Danist keluar dari mobil dan mencoba melihat sekitar untuk mencari keberadaan Ariel dan Gienka.
Gienka tersenyum saat melihat Ariel sepertinya akan kembali, tetapi Ariel masih sibuk berbincang. Dengan polosnya Gienka mengeluarkan kepalanya ke jendela dan hendak memanggil Ariel tetapi dia justru menjatuhkan bola yang di pegangnya. Bola itu terpental keluar. Wajah ceria Gienka berubah menjadi sedih dan dia menangis, ingin mengambilnya tetapi dia ingat ucapan Ariel bahwa dia tidak boleh keluar dari mobil.
Beberapa saat kemudian, Ariel sampai di mobilnya dan melihat putrinya sedang menangis. "Sayang...! Kenapa menangis, maaf papa Yel lama ya??? Ayo sekarang kita pergi membeli es krim ya???" Ariel membuka pintu mobilnya dan menyeka airmata putrinya seraya menenangkannya.
"Bolaku jatuh" Ucap Gienka sambil terisak.
"Bola mu jatuh??? Dimana??" Ariel mencoba mengarahkan pandangannya ke dalam mobil mencari bola yang dimaksud oleh putrinya.
"Disana....!!" Jawab Gienka sambil menunjuk dimana letak bolanya berada.
Ariel tersenyum kemudian mengecup kepala Gienka. "Sudah, Gie diam ya? Jangan menangis lagi, Papa Yel akan mengambilnya"
Ariel turun dari mobilnya untuk mengambil bola milik putrinya itu yang ternyata terpental cukup jauh dan berhenti di tengah tembok bangunan yang membentuk seperti gapura itu. Dan saat itu juga Danist melihat Ariel keluar dari mobil, bergegas dia mempercepat langkahnya.
Sampai di mobil Ariel, ternyata dia melihat Gienka ada disana. "Gienka sayang...!!!" Danist memasukkan kepalanya di jendela mobil Ariel yang terbuka memanggil Gienka yang tengah duduk di dalamnya.
Gienka menoleh lalu tersenyum. "Papa Dan...!!"
Danist membuka pintu dan Gienka keluar dari dalam mobil. "Papa Dan mau menjemput Gienka, Mama dan adik Friddie sedang menunggu di mobil, itu Papa Iel mau kemana???" Tanya Danist.
"Papa Iel mau mengambil bolaku disana"
Danist melihat bola berwarna merah milik Gienka memang ada disana. Tidak terlalu jauh hanya berjarak kurang dari 10meter saja. Ariel tampak santai berjalan sambil memainkan ponselnya hingga sampailah dia disana. Tetapi kemudian pandangan Danist fokus ke bangunan yang ada diantara Ariel yang sedang membungkuk mengambil bola Gienka. Bangunan itu akan runtuh dan bisa menimpa Ariel. Danist melepaskan genggaman tangannya pada tangan Gienka, dan berlari cepat untuk memberitahu Ariel agar segera pergi.
"Iel......!!! Awas.....!!!!" Teriak Danist sambil berlari.
Ariel berdiri dan menengok ke belakang ke arah sumber suara yang memanggilnya. Ariel masih belum ngeh, dan dahinya berkerut melihat Danist berlari kearahnya, tetapi Ariel justru kembali lagi membungkukkan badannya untuk mengambil bola Gienka. Beberapa detik kemudian, tubuh Ariel didorong dengan kasar ke depan, membuat Ariel maju tetapi langsung tersungkur ke tanah.
Brruuuuukkk........!!!! Tembok itu runtuh dan langsung menimpa Danist.
"Aaarrrgghhh....!!!"
Suara teriakan dan gemuruh itu membuat Ariel langsung bangun dan menengok ke belakang. Matanya terbelalak melihat apa yang terjadi di depannya. Tembok itu runtuh tetapi sedetik kemudian dia menyadari jika tadi ada Danist. Ariel melihat sekeliling dan tidak menemukan Danist, hingga kemudian dia mendengar suara rintihan dari bawah. Ariel melihat ada jemari seseorang dibalik reruntuhan itu.
"Danist....!!!??? Astaga......!!!" Ariel dengan cepat berusaha mengangkat reruntuhan tembok itu dengan panik. Ariel berteriak meminta pertolongan, dan dia mulai melihat ada darah.