
Hari ini Cahya sudah diijinkan dokter untuk pulang, sebelum pulang dia meminta kepada Aditya untuk melihat kondisi Adri. Aditya mengantar Cahya masuk ke ruangan dimana Adri sedang dirawat disana. Pagi tadi Adri baru saja dipindahkan dari ICU ke ruang rawat inap setelah kondisinya membaik.
Melihat kedatangan Cahya, Adri yang terbaring lemah itu memberikan senyumnya kepada Cahya. Adri sangat bersyukur dia bisa melindungi kakak iparnya dan calon keponakannya dari bahaya yang mengancam mereka.Cahya menghampiri Adri dan mengusap kening adik iparnya tersebut dengan lembut sambil tersenyum. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya nya.
"Aku baik kak, bagaimana keadaan kakak dan keponakanku?" Suara Adri terdengar pelan tetapi cukup jelas.
"Mereka baik-baik saja, uncle nya telah membahayakan nyawa nya hanya untuk melindungi mereka, terima kasih Adri tapi kau jangan membahayakan dirimu lagi, maaf aku tidak bisa menjengukmu kemarin"
"Tidak apa-apa kak, aku sangat senang kakak dan bayi kakak baik-baik saja"
"Maaf Adri aku tidak bisa menemanimu disini, kau harus cepat sembuh dan aku akan menunggumu dirumah, kau cepat sehat ya?"
Adri menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kepada Cahya. Cahya lalu berpamitan kepada Adri dan kedua mertuanya untuk pulang. Aditya mengantar Cahya dan ibu mertuanya serta Elea untuk pulang.
*****
Akhirnya mereka sampai dirumah, Elea dan Ibu Cahya memutuskan untuk tinggal bersama Cahya sementara waktu agar bisa menemani Cahya selama Aditya dan keluarganya mengurus Adri dirumah sakit. Untuk hari ini Aditya juga akan beristirahat dirumah dan akan kembali esok hari ke rumah sakit. Sudah 2 hari dia tidak tidur karena harus bolak-balik mengurus Cahya dan Adri. Aditya benar-benar butuh istirahat apalagi besok pagi dia harus pergi ke kantor untuk meeting dan akan ke rumah sakit lagi setelahnya.
Aditya membawa Cahya masuk ke kamar dan menyuruh istrinya itu berbaring dan beristirahat sedangkan dia akan mandi terlebih dulu. Cahya memutar lagu dari ponselnya, tidak butuh lama dia pun tertidur.
Aditya yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum melihat Cahya tertidur dengan begitu cepat. Aditya mengambil pakaian dilemari dan memakainya lalu ikut berbaring diatas tempat tidur. Aditya merasa sangat lelah dan butuh tidur, 2 hari ini tidurnya tidak nyenyak bahkan bisa dibilang dia tidak tidur sama sekali. Aditya memejamkan matanya dan langsung tertidur dengan lelapnya.
****
Elea membuat jus untuk Cahya dan Aditya mengetahui bahwa pasangan itu sangat menyukai jus buah. Disisi lain Cahya akhirnya terbangun dan mendapatkan pemandangan luar biasa dihadapannya. Aditya tertidur miring menghadap kearahnya dengan sangat pulas. Cahya tidak mau mengganggu tidur Aditya karena sepertinya suaminya itu sangat kelelahan beberapa hari ini. Cahya bangkit dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka nya.
Cahya sudah terlihat lebih segar, dia merasa sangat haus dan perutnya keroncongan karena lapar, dia akan pergi ke dapur dan membuat sesuatu. Cahya membuka pintu kamarnya dan sedikit terkejut karena Elea tiba-tiba muncul dihadapannya membawa nampan berisi jus dan buah. Elea tertawa karena dia juga ternyata sama terkejutnya.
"Astaga El, kau membuatku terkejut saja"
"Aku juga, ini aku membuatnya untukmu dan Aditya, btw kemana dia sejak tadi tidak keluar kamar"
"Dia tidur, sepertinya dia sangat lelah, aku tidak mau mengganggunya"
"Ibumu akan pulang sekarang untuk mengambil pakaiannya dan juga pakaian Chika agar besok bisa dibawa Adit ke rumah sakit, aku nanti akan ikut dengannya, kau tidak apa-apa kan??? Malam ini biar Adit yang menemanimu dan besok pagi-pagi kami akan kesini lagi membawa pakain Chika"
"Baiklah, dan terima kasih untuk jusnya"
Cahya membawa masuk nampan berisi jus dan buah dari Elea ke kamarnya. Cahya meminum jus itu lalu kembali keluar. Ibunya dan Elea sudah bersiap untuk pergi, mereka akan diantar oleh supir. Cahy hendak membangunkan Aditya tetapi ibunya melarangnya karena merasa kasihan kepada menantunya itu, akhirnya mereka hanya berpamitan pada Cahya. Ibunya juga berpesan agar Cahya tidak luoa untuk menyiapkan pakaian untuk mertuanya dan besok Aditya bisa membawanya ke rumah sakit.
****
Cahya membangunkan Aditya karena sebentar lagi hari sudah mulai gelap. Perlahan dia menggerakkan tubuh Aditya sambil memanggil namanya dan menyuruhnya untuk bangun. "Sayang, bangunlah"
"Sebentar lagi, aku masih mengantuk" Suara Aditya terdengar berat dan dia masih tidak mau membuka matanya.
"Hari sebentar lagi gelap kau tidak boleh tidur, ayo bangun"
Aditya mengambil gelas itu dan meminumnya sampai habis.
"Elea ikut ibu pulang, mereka akan kembali besok pagi dan akan membawa pakaian untuk Chika, aku juga sudah menyuruh mbak Tina mengemasi pakaian untuk Mama dan Papa jadi besok kau harus membawanya ke rumah sakit" Gumam Cahya.
"Baiklah tuan putri, sudah ya aku ke kamar mandi dulu, atau kau mau ikut bersamaku?" Aditya mengedipkan sebelah matanya menggoda Cahya.
Cahya memukul paha Aditya dengan keras dan mengusir suaminya ke kamar mandi. Aditya bangkit dari tempat tidur dan pergi meninggalkan Cahya sambil tertawa.
****
Tadi setelah makan malam, Aditya pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang sudah dia tinggalkan kemarin. Aditya merasa sangat lega dan cukup tenang setelah tadi Papanya menghubungi dirinya dan mengatakan kondisi Adri baik-baik saja. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Aditya menutup laptopnya dan pergi ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya lagi.
Cahya sedang berdiri di depan meja rias dan menyisir rambutnya setelah mencuci muka, Dia mengganti bajunya dengan gaun tidur. Saat itulah Aditya masuk, tampak begitu tampan dan mempesona, dengan Tshirt putihnya. "Hmmmm, aromamu sangat menyenangkan,” Aditya memeluk Cahya dari belakang dan menempelkan bibirnya ke leher Cahya, mengecupnya lembut.
Cahya tersenyum menatap rambut hitam Aditya yang terpantul di cermin sementara lelaki itu mencumbuu lehernya.
Aditya sekarang sedang menggigit ringan telinga Cahya, dan memeluk Cahya erat dari belakang. Pelukan itu begitu erat hingga Cahya bisa merasakan kejantanan Aditya yang menekan tubuhnya dengan kerasnya. Kedua jemari Aditya mengusap lembut payudarra Cahya, dan merremasnya membuat Cahya mendessah pelan.
"Aku tidak akan bisa lagi melakukan ini setelah bayi kita lahir, karena ini akan menjadi milik mereka nanti, tapi ini akan menjadi milikku untuk 2 bulan kedepan" Bisik Aditya ditelinga Cahya.
Aditya membawa Cahya untuk duduk diatas ranjang lalu menurunkan gaun tidur Cahya dan melepaskan braa nya. Aditya mengecup ujung payudarra Cahya, lalu mamainkannya dengan lidahnya lembut, membuat Cahya tidak berhenti meracau menikmatinya. Kemudian Aditya membaringkan Cahya perlahan, dia berdiri ditepi ranjang, tangannya menelusur menyentuh pusat kewanitaan Cahya, menemukan bahwa istrinya sudah sangat siap dan bergaiirah untuknya.
Aditya menyentuhkan dirinya, dan langsung menggertakkan giginya, melawan dorongan kuat untuk memasuki Cahya. Aditya bergerak dengan lembut, memberikan tubuhnya untuk kenikmatan Cahya.
Ketika kehangatan Aditya merasukinya, tenggelam dalam tubuhnya yang panas dan basah, Cahya mengerang dan memejamkan matanya. Oh astaga! Rasanya begitu tepat, kenikmatan ini, rasanya selalu luar biasa tepatnya!
Mereka bergerak dalam alunan gairah yang keras, berusaha memuaskan gejolaknya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya tubuh Cahya terasa melayang, mencapai puncak kenikmatannya didorong oleh rasa kliimaks yang begitu dalam. Ketika mendengar errangan Cahya, Aditya mengikutinya. Menyerah dalam oorgasme bersamanya.
Aditya langsung naik ke atas ranjang dan berbaring memeluk Cahya dan mereka tertidur bersama.
*****
Keesokan pagi nya Aditya sudah bersiap, Cahya memasangkan dasi dileher Aditya. Aditya menatap wajah Cahya dalam-dalam menyadari sebentar lagi mereka akan menjadi orangtua. Aditya tidak berhenti mengucap syukur karena Tuhan telah melindungi istri dan bayi mereka serta adiknya. Mereka semua dalam keadaan baik-baik saja sekarang walaupun Adri sempat kritis tetapi akhirnya dia berhasil melewatinya.
"Kenapa kau senyum-senyum?" Tanya Cahya.
"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh tersenyum kepada istriku?"
"Kau ini, oh iya kemarin lusa Chika bercerita padaku jika dia mendengar Elea sedang menangis sambil mengusap perutnya dan berbicara sendiri saat dihotel, kurasa Ariel sangat keterlaluan, semua perlakuan buruknya keoada Elea sangat kejam, kalau dia bukan temanmu mungkin aku akan memakinya karena telah menghancurkan sahabatku" Gumam Cahya kesal.
"Lalu menurutmu apa yang akan terjadi jika suatu saat dia tahu tentang kehamilan Elea?" Tanya Aditya.
"Mungkin dia akan gila karena termakan ucapannya sendiri, aku sangat tidak sabar melihat saat itu dan ingat kau harus tetap diam dan pura-pura tidak tahu jika dia bertanya tentang Elea atau aku akan mendampratmu" Ucap Cahya mengancam Aditya.