SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Kesal...!!!



Elea sangat cantik dengan balutan gaun putih dengan make up simple tetapi terlihat sangat elegan bersanding dengan Ariel yang juga sangat tampan. Semua yang hadir juga ikut berbahagia. Pertemuan yang tak terduga dengan Ariel saat makan siang dengan Cahya menyimpan kisah tersendiri. Ketidaksengajaan itu membuat keduanya akhirnya bersatu.


Cahya merasa sangat bahagia melihat sahabatnya akhirmya berlabuh juga dan menyusulnya, apalagi yang dia tahu Ariel adalah pria yang sangat baik, dan sahabat Aditya juga.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Aditya mengajak Cahya untuk makan malam dihotel saja. Mereka menikmati makan malamnya dengan perasaan bahagia setelah melihat kebahagiaan Ariel dan Elea hari ini, juga karena Cahya sangat merindukan sahabatnya itu. Sebentar lagi mereka akan bertemu membuat Cahya semakin tidak sabar.


Ditengah tengah lamunannya tentang Elea, Cahya tiba-tiba ingat dengan Cheryl, apakah Cheryl masih datang ke rumahnya atau tidak, dan apakah Cheryl masih berhubungan dengan Aditya dan bagaimana hubungan mereka dulu saat kuliah. Perasaan keingintahuan Cahya membuatnya ingin mengulik lebih dalam tentang Cheryl.


" Adit, bagaimana dulu persahabatanmu dengan Cheryl?" Tanya Cahya penasaran.


" Cheryl? Ya biasa saja kami berteman seperti pada umumnya, tidak ada yang istimewa"


" Bagaimana awal pertemuan kalian?"


" Sayang, kau ini kenapa menanyakan hal itu" Aditya mulai tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan oleh istrinya.


" Tinggal jawab aja apa susahnya sih, aku penasaran?"


" Oke, dulu kami bertemu secara tidak sengaja dikampus, karena mungkin kita berdua berasal dari negara yang sama jadi kami sangat akrab dan sering bertemu"


" Karena sering bersama lalu kau jatuh cinta padanya?"


Aditya hanya mengangguk dan tetap memakan makanannya, dia sebenarnya sangat malas membahas hal itu tetapi Cahya seolah tidak mau berhenti bertanya.


" Kenapa dia menolakmu, kau tampan dan kata Mama sejak dulu kau adalah anak yang pandai, kenapa ada perempuan yang menolak cintamu?"


Aditya menarik napasnya panjang dan menghembuskannya dengan cepat, menandakan bahwa dia sangat tidak menyukai pertanyaan istrinya.


" Itu haknya dia mau menolakku atau tidak, kau sudah tahu kan bahwa dia menolakku karena sudah memiliki kekasih, lalu kau pikir aku akan terus mengejarnya begitu dan menghancurkan hubungan orang lain, lagipula aku ini 1 tingkat dibawahnya jadi aku rasa perbedaan umur yang membuatnya mungkin berpikir lagi, sudahlah jangan rusak makan malam kita dengan membahas hal yang telah lalu" Gumam Aditya kesal.


Cahya melihat kekesalan Aditya padanya, tetapi dia hanya bertanya kenapa suaminya harus marah. Cahya masih terganjal dengan 1pertanyaan lagi tentang Cheryl dan Aditya


" Hmmm apa kamu masih berhubungan dengan Cheryl? Apa pergi makan siang lagi dengannya? Kurasa dia sekarang yang bergantian mengejarmu" Tanya Cahya, seketika Aditya menghentikan kunyahannya dan menelan makanannya lalu mengambil minum.


" Tentu saja tidak Ca, nomornya sudah ku block, dan untuk apa lagi aku pergi makan siang dengannya, aku sudah mendapatkan istriku"


Wajah Cahya berubah menjadi marah mendengar ucapan Aditya. " Jadi kau hanya memanfaatkan Cheryl untuk menemani rasa kesepianmu, setelah aku kembali kau baru ingat padaku? Dan jika ada kesempatan kau akan mengulanginya lagi? Begitu maksudmu?" Cahya berdiri dari kursinya lalu meninggalkan Aditya dengan marah sekaligus kecewa.


Cahya masuk ke kamar dengan amarah yang memuncak, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Aditya padanya. Kenapa bisa dia berucap seperti itu, Cahya tidak memungkiri memang masalah yang kemarin itu juga karena kesalahannya dan dia sudah mencoba memaklumi kekhilafan suaminya. Tetapi jawaban Aditya tadi seolah dia ingin melakukan hal yang sama lagi jika suatu saat mereka menemui permasalahan rumah tangga, suaminya seolah menegaskan jika dia bisa dengan mudahnya mencari wanita lain saat rumah tangganya mengalami permasalahan.


Aditya masuk ke dalam kamar dan menemukan Cahya sedang menangis diatas tempat tidur. Dia langsung menghampirinya dan meminta maaf tidak bermaksud seperti itu.


" Sayang, maaf aku ga bermaksud berkata seperti itu, sekali lagi maaf" Aditya memegang pundak Cahya tetapi justru Cahya menepisnya dan langsung menarik selimutnya. Berbaring membelakangi Aditya tanpa berkata apapun.


****


Keesokan harinya, Cahya terbangun dan Aditya masih tertidur disampingnya dan tangan suaminya itu melingkar diperutnya. Cahya melepaskannya dan langsung beranjak dari tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi. Aditya terbangun saat istrinya melepaskan tangannya, dia merasa sangat kesal karena Cahya masih marah dengannya. Aditya harus membuat istrinya mau memaafkannya, tetapi bingung bagaimana caranya.


Cahya keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian dengan wajah yang masih tidak enak untuk dipandang. Aditya mencoba mendekatinya dan meminta maaf lagi tetapi Cahya mundur beberapa langkah untuk menghindari suaminya


" Aku ingin pulang sekarang!" Ucap Cahya dengan nada ketus.


" Oke kita pulang, tapi kita sarapan dulu ya?"


" Aku ingin pulang sekarang juga"


Aditya tidak ingin membantah apapun, sekarang bukan saatnya untuk berdebat lebih lama lagi dengan istrinya. Aditya ke kamar mandi untuk mandi dan menyuruh Cahya untuk bersiap jika ingin pulang sekarang.


Suasana didalam mobil sangat hening, tidak ada obrolan apapun. Aditya sibuk dengan pikirannya sendiri bagaimana bisa membuat cahya mau memaafkannya. Sedangkan Cahya masih diliputi kemarahan akibat ucapan Aditya padanya, membuatnya berpikir suaminya itu seolah ilah mempermainkan pernikahan mereka.


Sampai akhirnya mereka sampai dirumah, Cahya langsung membuka pintu dan masuk. Aditya mencoba mengejarnya. " Jangan ganggu aku, aku banyak pekerjaan kita sudah meninggalkan rumah 2hari jadi aku akan melakukan pekerjaanku" Ucap Cahya dan meninggalkan Aditya.


Aditya mengusap-usap kepalanya merasa sangat frustasi tetapi mencoba memahami mungkin istrinya butuh waktu beberapa saat agar bisa merasa lebih baik. Aditya merasa sangat lapar, tadi Cahya menolaknya saat dia mengajaknnya sarapan, tentu bukan hal yang baik jika dia tidak makan apapun, disaat seperti ini Cahya pasti tidak akan memikirkan hal itu.


Aditya pergi ke dapur dan membuka kulkas, karena beberapa hari yang lalu mereka pergi berbelanja dan belum sempat memasaknya jadi pasti bahan-bahan masih utuh. Aditya menemukan berbagai macam sayuran, dan ada sosis, daging dan yang lainnya. Dia tahu apa yang harus dibuatnya.


Aditya mulai memotong wortel dan sosis menjadi potongan kecil lalu mengocok telur, dia ingin membuat omelete sosis sayur faforitnya, dia juga akan membuat saus dan salad sebagai pelengkapnya. Cahya yang kebetulan lewat melihat suaminya sedang sibuk didapur dan dia mencium aroma harum dari masakan yang dibuat Aditya. Dia menelan air liurnya membayangkan pasti sangat enak rasa dari masakan buatan Aditya tetapi dia mencoba mengacuhkannya dia masih sangat marah kepada suaminya itu.


Aditya telah selesai membuat sarapannya, dia tidak egois dia tetap membuatkan untuk Cahya, entah istrinya itu mau atau tidak tetapi Aditya tetap menyiapkan 2 porsi. Saat dia memotong omelete nya dia melihat Cahya sedang berjalan dan memanggilnya.


" Sayang, ayo sarapan dulu, lanjutkan nanti bersih bersihnya aku sudah menyiapkan juga untukmu"


" Tidak, kau makan saja sendiri, aku tidak lapar" Ucap Cahya ketus. Dan kemudian hendak berlalu meninggalkan Aditya tetapi justru perutnya berbunyi, dan Aditya sangat jelas mendengarnya. Sontak Aditya tertawa dibuatnya.