
Sambil menikmati makan siang, Aditya ingin bercerita kepada Cahya tentang apa yang terjadi kemarin di kantornya, semalam dia belum sempat bercerita karena dia sibuk menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerjanya dan kembali ke kamar saat tengah malam dimana Cahya tentu saja sudah tidur.
"Sayang, apa kau tahu, kemarin Maysa datang ke kantor bersama dengan Ariel" Ucap Aditya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Cahya.
"Maysa datang bersama Ariel???"
"Ya, mereka datang bersama, jadi kemarin aku memberi tugas Maysa untuk menghadiri pertemuan dengan perusahaan subkontraktor kami karena aku ada janji dengan klien lain dan dia kembali ke kantor siang hari bersamaan dengan itu aku ada janji bertemu dengan Ariel dan Randy, aku memergoki mereka datang bersamaan, kurasa Ariel sengaja menjemput Maysa dan mengajaknya ke kantor bersama"
"Memangnya Ariel mengatakan kepadamu jika dia memiliki kedekatan dengan Maysa?"
"Tidak! Mereka mengatakan jika mobil Maysa sedang mogok di jalan dan kebetulan Ariel lewat jadi mengajaknya berangkat bersama, ah tapi ku pikir itu hanya alasan mereka saja, mungkin hubungan mereka belum sejauh itu tetapi menurutku mereka cocok, Ariel harus bisa melepaskan semua masalalunya agar tidak lagi berpikir untuk mengganggu Elea lagi, mereka harus memiliki kebahagiaannya masing-masing"
Cahya tersenyum. "Kau benar, ya bagaimanapun Ariel sudah mengakui semua kesalahannya tentu ini waktunya dia untuk mencari kebahagiaannya lagi, lagipula Maysa juga perempuan yang baik, sangat jauh berbeda dengan si Viona, jika mengingatnya rasanya aku muak sekali, dia sama memuakkannya dengan Erica, aku tidak tahu bagaimana dulu kau bisa tergila-gila dengan perempuan itu, padahal kau tampan, sempurna, cerdas, dan sukses tapi seleramu? Oh ya Ampun....! Erica cantik tetapi sikapnya buruk sekali, kau sangat payah"
Aditya langsung tersedak mendengar ucapan Cahya. Istrinya itu secara langsung mengejeknya. Istrinya ini benar-benar menyebalkan sekali, membahas siapa tetapi malah mengarah ke masalalunya. Sekali-kali dia harus membalas istrinya itu agar tidak mengatakan hal itu lagi tentang dirinya.
Aditya berdehem. "Ku akui aku memang dulu sangat payah dan dibutakan oleh cintaku pada Erica, aku mengakuinya, tetapi ku rasa ada yang lebih payah dariku, dia adalah wanita yang sangat cantik, cerdas, dan juga manis tetapi dia memiliki selera yang sangat buruk, mencintai lelaki bodoh yang bahkan lelaki itu tidak bisa mengambil keputusan sendiri untuk hiduonya dan lebih menuruti orangtuanya yang masih menganut sistem feodal, tetapi perempuan itu rela bertahun-tahun menjomblo bahkan takut dengan lelaki, ah dia payah sekali" Gumam Aditya sambil menyendokkan makanan ke mulutnya, menyadari bahwa ucapannya ternyata membuat wajah Cahya memerah karena malu.
Aditya menoleh lalu terkekeh melihat ekspresi Cahya kemudian memeluknya mengatakan jika dia hanya bergurau. Keduanya pun tertawa dan melanjutkan lagi makan siang mereka.
Setelah menikmati makan siang, Aditya dan Cahya meninggalkan restoran itu. Aditya berniat mengajak Cahya berkeliling sebentar sebelum pulang, sulit sekali untuk bisa mendapatkan waktu seperti ini, mengingat sekarang mereka kemana-mana harus mengajak kedua bayinya.
******
Setelah keluar dari restoran Cahya dan Aditya memakai haket dan helm lalu melanjutkan perjalanan. Aditya mengendarai motornya dengan kecepatan sedang lagi sambil menikmati suasana jalanan. Sementara itu, Aditya dan Cahya masih diikuti dari belakang.
Aditya mengajak Cahya berkeliling, dari jalanan yang satu ke jalan yang lain dan mencoba fokus dalam mengemudi. Cahya mempererat pelukannya pada Aditya dan benar-benar menikmati. "Sayang, bisa lebih cepet lagi ga??? Seru kayaknya???" Teriak Cahya.
"Udahan kelilingnya kita pulang sekarang...!!!"
"Bentar lagi deh....!!!" Pinta Cahya, dia masih belum puas.
"Pulang saja, nanti anak-anak keburu bangung...!!"
"Iyaa......!!!" Jawab Aditya kemudian menambah kecepatan motornya.
Setelah menambah kecepatan beberapa saat kemudian Aditya memperlambat laju motornya. Itu dilakukannya beberapa kali dan Cahya pun memprotes aksi suaminya itu. Cahya heran tetapi menyadari mungkin Aditya sengaja melakukannya untuk mengerjainya jadi dia memilih diam dan membiarkan saja ulah suaminya itu.
Sampai akhirnya Aditya melihat ada spbu di depan, dan membelokkan motornya kesana. Dia akan mengisi bahan bakar motornya lebih dulu. Aditya kemudian menyuruh Cahya turun dan mengajak istrinya itu untuk beristirahat sejenak sebelum mengisi bahan bakar. Cahya mengernyit tadi Aditya mengatakan jika mereka harus pulang tetapi sekarang malah mengajaknya berhenti di spbu.
"Kok malah mengajak beristirahat tadi katanya langsung pulang???"
"Sebentar saja, ayo ke sana dulu"
Aditya menarik pergelangan tangan Cahya dan mengajak istrinya itu ke sebuah minimarket yang ada di spbu itu. Aditya kemudian menyuruh Cahya untuk masuk membelikannya minuman dan snack. Cahya pun melakukannya dan masuk ke minimarket itu. Aditya mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.
Cahya akhirnya keluar membawa kantong plastik berisi snack dan minuman untuk suaminya. Aditya tersenyum lalu membuka botol minuman dan snack yang sudah di belikan oleh Cahya. Aditya terlihat sangat menikmati snack dan minumannya.
"Aku baru saja menghubungi ibu, anak-anak masih tertidur pulas ternyata, jadi kita tidak perlu khawatir" Gumam Aditya.
"Kau ini, lagipula kenapa kau malah mengajak berhenti disini, kalau bahan bakar habis ya kita isi saja dan pulang, kenapa malah beristirahat disini, aneh"
"Sayang, tadi aku bilang kalau anak-anak belum bangun jadi kita jangan buru-buru pulang, hehehe, buka mulutmu" Aditya menyuapkan keripik kentang ke mulut Cahya sambil tersenyum.
Mereka pun menikmati camilan ringan di depan minimarket itu hingga akhirnya sebuah mobil berhenti di depan mereka. Cahya mengangkat alisnya karena dia sangat mengenal mobil itu, tentu saja tidak asing baginya karena mobil hitam dan plat nomornya adalah milik Aditya. Marco keluar dari mobil itu kemudian menghampiri Cahya dan Aditya.
"Bawa motor Adri ini kuncinya dan berhati-hatilah" Aditya memberikan kunci motor Adri pada Marco lalu mengajak Cahya untuk segera masuk ke mobil.
Cahya benar-benar dibuat bingung dan heran kenapa suaminya justru menyuruh supirnya untuk menyusul mereka ke spbu dan sekarang malah bergantian kendaraan. Aditya tadi mengajaknya pergi dengan motor tetapi sekarang malah mengajaknya pulang dengan mobil.
Di dalam mobil, Cahya memasang wajah kesal dan hanya diam. Aditya menoleh dan tersenyum tipis mengetahui istrinya sepertinya marah kepadanya. Aditya ternyata menyadari jika ada yang mengikutinya dari belakang sejak dia dan Cahya keluar dari restoran itu tetapi memilih diam dan tidak mengatakannya pada istrinya itu, takut Cahya akan khawatir atau ketakutan.
Awalnya Aditya berpikir bahwa mobil yang ada di belakangnya memang satu arah dengannya, tetapi setelah dia perhatikan lebih seksama dari kaca spion motornya, dia merasa bahwa mobil itu sepertinya mengikutinya. Aditya mencoba memperlambat dan mempercepat laju motornya untuk mengetest apakah mobil itu benar membuntutinya atau tidak, ternyata saat dia mempercepat, mobil itu ikut cepat dan saat ia memperlambat mobil itu juga melaju dengan lambat. Karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan Cahya atau dirinya juga tidak ingin mengambil resiko, Aditya memilih untuk mengajak istrinya itu berhenti di spbu dan menghubungi Marco supir pribadi Cahya agar menjemputnya.
"Biarkan saja dia marah, saat sampai dirumah nanti, aku baru akan mengatakan semuanya" Gumam Aditya dalam hati.