SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 341



Setelah kejadian malam itu, Ariel sekali lagi tidak pernah datang untuk menemui Gienka, begitu juga dengan pak Andi. Mungkin mereka berdua masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Serta sudah pasti Danist tidak akan pernah menerima sepeserpun apa yang akan diberikan oleh Ayahnya. Permasalahan itu saja sudah membuat runyam dan malah menimbulkan salah paham sehingga Ariel semakin membenci Danist, apalagi jika Danist menerimanya pasti akan semakin buruk. Lagipula Danist sama sekali tidak tertarik dengan hal itu, pekerjaannya saat ini sudah bagus dan sangat dia nikmati lalu untuk apa menerima warisan panas itu, yang ada hanya akan semakin memperpanas hubungan dengan Ariel dan juga tidak akan baik untuk perkembangan Gienka nantinya.


Mengenai pertemuan Danist dengan Ariel beberapa waktu yang lalu disebuah kantor pemasaran perumahan, Danist juga menceritakannya pada Elea. Tetapi Danist hanya bercerita bahwa dia bertemu dengan Ariel saja kemudian elaki itu berceloteh seperti biasa tetapi dia tidak terlalu menanggapinya dan mengenai penghinaan Ariel tentang Elea tentu Danist tidak bisa menceritakannya karena istrinya itu pasti akan merasa sedih.


Dengan bercerita itu pada Elea, tentu itu akan membuat Danist bisa berdiskusi dengan Elea tentang perusahaan properti mana yang bukan milik Ariel, karena dia sama sekali tidak ingin berurusan dengan Ariel sehingga bisa menimbulkan perkataan pedas Ariel yang berujung penghinaan. Pada akhirnya mereka berdua menemukan agen properti yang cocok, dan Danist sudah memilih 2 rumah untuk dijadikan pilihan mana yang bagus untuk ditinggali.


"Bagaimana menurutmu rumah yang itu?" Tanya Danist kepada Elea yang ada disampingnya.


Mereka baru melihat-lihat rumah yang akan Danist beli untuk dia tinggali bersama Elea dan Gienka. Rumah itu bergaya mediterania memiliki halaman yang sangat luas baik di depan ataupun di belakang. Di halaman belakang begitu luas serta memiliki kolam renang. Terlihat sangat mewah meskipun hanya memiliki sati lantai dengan ornamen-ornamen klasik dan ukiran yang sangat elegan.


"Bagus, halamannya begitu luas begitu juga rumahnya, tapi itu pasti mahal sekali, berapa harganya???" Elea kembali bertanya.


"5 M, tetapi kita bisa membayar setengahnya dan setengahnya lagi bisa kita angsur"


"Apa??? 5 M?? Rumah itu masih kosong, belum lagi mengisinya dengan berbagai furniturnya, apa kau tidak bisa mencari yang lebih rendah lagi, tidak memiliki halaman luas pun tidak apa, setidaknya uang kita cukup untuk membayarnya tanpa harus memikirkan bulanan" Gumam Elea.


Danist dan Elea sepakat untuk membeli rumah dengan uang mereka berdua, karena sebelumnya Danist memaksa ingin membeli rumah dengan uangnya sendiri. Dan tentu saja Elea tidak setuju, rumah itu akan mereka tempati berdua jadi bagaimanapun mereka harus membelinya bersama. Tetapi Danist hanya meminta Elea untuk memberinya seperempat dari harga rumah itu karena sisanya tentu dia yang akan menanggungnya. Akhirnya setelah perdebatan cukup alot Elea menyetujuinya.


"Yang akan kita datangi ini tidak seluas yang tadi, ini cluster, memiliki 3 lantai, dimana lantai satu untuk bersantai, sedangkan aktifitas tentu nanti ada dilantai 2 dan 3, aku masih memilih yang memiliki kolam renang dalam, kurasa kau juga akan menyukainya, harganya juga dibawah yang tadi, dan sudah ada perabotnya, kita tinggal menempatinya" Ujar Danist.


"Apa uang kita cukup, atau kita masih memikirkan bulanannya?"


Danist menoleh dan tersenyum. "Cukup! Tinggal menambahi sedikit saja, kau pasti suka"


Danist mengambil ponselnya dan memberikannya pada Elea menyuruh istrinya itu agar melihat rumah itu yang beberapa waktu yang lalu sempat dia potret bagian depannya saja, sedangkan bagaimana kondisi didalamnya biar Elea sendiri yang nanti melihatnya. Elea membuka galeri ponsel Danist dan mencari foto yang dimaksud.


"Ini rumahnya???" Tanya Elea sambil menunjukkan foto itu pada Danist.



"Iya! Bagaimana kau suka??"


"Simple dan cantik" Ucap Elea.


"Kau juga pasti akan langsung suka saat melihat di dalamnya!"


Hingga akhirnya mereka memasuki gerbang perumahan yang besar. Elea menyimpulkan bahwa ini bukan townhouse seperti tadi melainkan cluster. Entah kenapa Elea langsung menyukai suasanya padahal belum memasuki rumah yang dimaksud oleh suaminya tadi. Dan mobil mereka berhenti di bagian paling ujung tempat itu, rupanya Danist memang sengaja memilih lokasi yang paling ujung agar.





Mereka kembali melanjutkan naik ke lantai 2 yang dimana disana ada dapur dan ruang makan yang terlihat sangat cozy. Bahkan Elea bisa masak atau sekedar duduk diam berlama-lama disana.




Selain dapur dan ruang makan juga ada ruang tamu yang cukup luas dengan sofa panjang semakin menambah kesan penuh kenyamanan, juga kamarada tamu. Benar kata Danist bahwa setelah melihat rumah ini Elea pasti akan menyukainya, dan terbukti Elea benar-benar menyukainya.


Mereka kemudian melanjutkan berkeliling di lantai tiga dimana disana adalah kamar utama, serta 2 kamar kosong yang bisa digunakan untuk kamar anak atau kamar lainnya, juga ada ruang kerja, serta spot-spot yang nyaman untuk bersantai atau sekedar membaca buku.





Setelah puas berkeliling, Danist mengatakan akan berdiskusi lebih dulu, jika sudah fix dia akan menghubungi mereka untuk proses pembayarannya.


Danist dan Elea kembali ke mobilnya dan mulai membahas tentang rumah itu. Elea mengatakan bahwa dia sangat menyukai rumah itu, selain tempatnya yang nyaman juga karena suasana yang menyenangkan. Dan itu juga salah satu keinginan Elea bisa memiliki rumah seperti itu. Dengan kondisi selengkap itu harga rumah itu juga cukup rendah dibanding yang sebelumnya, dan ternyata rumah itu dijual dengan harga miring karena sudah disita oleh bank dari pemilik sebelumnya. Itu sebabnya rumah itu tinggal ditempati saja. Dan bisa dibilang mereka bisa mengaksesnya dengan mudah ke kantor, tidak begitu jauh tetapi tetap bisa mengatur waktu saat berangkat.


Elea merasa sangat bahagia sekali memiliki suami pekerja keras seperti Danist yang sangat bertanggung jawab dan selalu berusaha membahagiakannya serta Gienka. Danist pernah bercerita bagaimana usaha kerasnya untuk menabung agar suatu saat dia bisa memberikan tempat tinggal yang layak untuk istri dan anaknya kelak dan tentu saja untuk Mamanya. Bahkan ternyata uang itu sudah mulai dia kumpulkan saat masih kuliah dengan bekerja sambilan diberbagai tempat. Hingga bagaimana setelah lulus dan bekerja, dia menyisihkan 50% dari gajinya untuk ditabung dan di investasikan sehingga hasilnya bisa berkali-kali lipat, sedangkan sisanya dia gunakan untuk keperluan sehari-hari dan juga diberikan kepada sang Mama.


Karir Danist semakin bagus karena keuletannya dan kecerdasannya dalam menangani setiap permasalahan yang ada ditempat kerjanya membuat jabatan selalu naik dan tentu penghasilannya saat ini bisa berkali-kali lipat dibanding dengan dulu. Bukan 50% lagi Danist menyisahkan penghasilannya, tetapi naik menjadi 60% dan sisanya dia berikan pada Mamanya dan sekarang juga pada Elea serta sedikit untuk kebutuhan Danist sendiri. Itupun tentu atas persetujuan dengan Elea. Hingga akhirnya sekarang impian mereka memiliki rumah sendiri bisa terwujud.


"Baiklah jika kau suka, aku nanti akan menghubunginya dan langsung melakukan pembayaran, lalu kapan kau mulai mau pindah kesana???" Tanya Danist.


"Masih banyak waktu dan tidak perlu terburu-buru, pekerjaan kita di kantor juga sangat banyak terlebih kau, lebih baik fokus dulu dalam pekerjaan dan selesaikan pembayaran serta administrasi lainnya, tentu nanti kita pasti akan bisa pindah dengan tenang" Gumam Elea.