SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 330



Seketika itu juga, kaki Ariel terasa lemas, dia kembali duduk di kursi putar itu. Ariel terdiam sejenak kemudian teringat bahwa nama itu seperti nama dari suami Elea. Ariel membaca satu persatu berkas-berkas itu dan disana juga tercantum seluruh anak perusahaan dari perusahaan milik Ayahnya. Jelas disana juga tertulis semua pembagian itu untuk dirinya dan juga Danist. Ariel tersadar bahwa ternyata 50% sisa dari semua itu ternyata akan diberikan Ayahnya kepada Danist. Ariel masih tidak bisa mengerti kenapa Ayahnya justru memberikan itu pada Danist dan mengatakan bahwa itu adalah putra sulungnya.


Ariel mulai disibukkan dengan berbagai pemikiran tentang hal itu, apakah ibunya dulu melahirkan Danist lalu kenapa bisa Danist terpisah dari keluarganya, tetapi melihat dari data Danist yang ada di kertas itu, usia lelaki itu hanya terpaut 4 bulan dengan usianya, menandakan bahwa Danist sudah pasti bukan lahir dari rahim almh. Mamanya. Ariel juga mulai berpikir apakah ini terjadi karena Danist saat ini adalah Ayah sambung Gienka dan mungkin saja semua aset itu akan diberikan pada Gienka nanti saat putrinya itu dewasa. Tetapi tentu saja Ariel menganggap pemikirannya itu aneh dan tidak masuk di akal.


Tiba-tiba terdengar suara langkah dari luar. Ariel bergegas menutup berkas itu dan langsung berdiri menghadap rak buku berpura-pura mencati buku. Benar saja pintu ruangan itu terbuka, Ariel menoleh dan menemukan pengawal Ayahnya masuk. Dengan sopan pria bebadan tegap itu membungkukkan tubuhnya dan menyapa Ariel.


"Tuan Ariel selamat siang!!" Ucapnya.


"Siang!!" Jawab Ariel. "Kenapa kau kesini? Mana Ayah?? Apa dia tidak akan pergi ke Bandung"


"Tuan Andi sedang berada di kantor, beliau menyuruh saya untuk mengambil berkasnya yang tertinggal disini karena berkas itu akan beliau bawa ke Bandung, dan beliau akan langsung kesana setelah dari kantor, permisi!" Pria itu kemudian mendekat ke meja kerja Ayah Ariel dan mengambil berkas yang tadi dibaca Ariel kemudian meninggalkan ruangan itu.


Saat itu juga Ariel dibuat terkejut, berkas itu akan dibawa ke Bandung, yang artinya ayahnya itu mungkin akan meminta tanda tangan dari Danist. Sekali lagi Ariel dilingkupi berbagai pertanyaan dibenaknya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ayahnya pasti telah melakukan kebohongan besar lagi kepadanya. Hal sebesar ini .sudah disembunyikan darinya dan dia sendiri tidak mengerti dengan situasi saat ini. Seharusnya Ayahnya itu bisa mendiskusikan semua itu kepadanya dan tidak bermain rahasia seperti ini mengingat hubungan mereka baru saja membaik. Ariel merasa Ayahnya sudah melupakan janjinya padanya, tetapi dia harus segera mendapatkan jawaban dari semua ini. Ariel takut jika mungkin saja Danist telah melakukan ini semua dan sudah mempengaruhi Ayahnya untuk tujuannya sendiri yang bisa saja berujung pada penipuan.


"Bagaimana bisa aset bernilai triliuanan itu bisa dengan mudahnya diatas namakan Danist, pasti telah terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui. Danist pasti sudah menjebak Ayah agar melakukan ini, aku tidak akan tinggal diam, dibalik sikap tenang dan pendiamnya, aku tidak menyangka bahwa Danist bisa melakukan hal serendah ini" Gumam Ariel.


Ariel keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu lalu naik ke kamarnya dengan perasaan marah. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum Ayahnya jatuh ke dalam jebakan Danist yang ingin mengusai kekayaaan Ayahnya.


*****


Acara resepsi pernikahan Elea dan Danist begitu meriah, walaupun tidak mengundang banyak tamu. Ayah terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna hijau muda, dan Danist terlihat sangat tampan dengan tuksedo hitam yang terlihat begitu pas di tubuhnya. Sore tadi Cahya bersama Aditya sudah menghadiri akad nikah Elea dan Danist di sebuah masjid, acara itu berjalan dengan sangat lancar.


Tamu undangan sudah mulai berdatangan, Cahya datang bersama dengan Aditya juga si kembar yang terlihat begitu menggemaskan dengan pakaian mereka. Bersamaan dengan mereka juga ada Randy dan Chitra serta orangtua Chitra. Sementara Chika menggandeng Yongki bak sepasang kekasih, mengingat tidak ada Adri maka dia memutuskan untuk berpasangan dengan kakaknya yang juga sedang tidak bersama kekasihnya.


Mereka naik ke pelaminan dan memberikan ucapan selamat kepada Elea dan Danist. Cahya memuji kecantikan Elea, sahabatnya itu terlihat sangat cantik dan begitu anggun. Setelah berfoto bersama mereka turun dari pelaminan.


Setelah mengantri makanan mereka kemudian duduk bersama menikmati hidangan yang tersedia.


"Apa Ariel akan datang???" Tanya Randy pada Aditya yang ada di sebelahnya.


"Dia mengatakan padaku bahwa dia akan datang, tetapi kenapa belum sampai juga???"


"Aku bertanya malah kau balik bertanya!!"


Cahya tak sengaja mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk dan dia melihat Pak Andi baru saja tiba. Cahya kemudian memberitahu Aditya.


"Om Andi sudah datang tetapi kenapa Ariel belum tiba juga?" Gumam Randy.


"Mungkin sebentar lagi" Sahut Chitra.


Ariel turun dari mobilnya dan membanting dengan keras pintu mobilnya. Selama perjalanan dia masih terus memikirkan berkas-berkas itu dan berbagai pertanyaan muncul dikepalanya. Dengan wajah menahan marah, Ariel masuk ke ballroom hotel tempat resepsi pernikahan Danist dan Elea berlangsung.


Ariel masuk dengan langkah pelan lalu menghentikan langkahnya dan menatap ke arah pelaminan, dimana Elea dan Danist berdiri dan bersalaman dengan para tamu undangannya. Sejenak Ariel teringat akan pernikahannya dulu dengan Elea, dia pernah merasakan berdiri di posisi Danist dan saat itu dia merasa sangat bahagia dan juga merasa sangat beruntung mendapatkan perempuan secantik dan setulus Elea, sayangnya dia telah merusak semua itu dan menghancurkan kehidupan Elea. Dan sekarang Elea kembali bersanding dengan laki-laki lain yang ternyata laki-laki itu justru memanfaatkan kekayaan Ayahnya, karena merasa sudah menjadi ayah sambung dari Gienka, Danist serasa memiliki hak atas aset milik keluarganya. Setelah acara ini, dia akan menemui Danist dan meminta penjelasan dari lelaki itu yang sudah berani mempengaruhi Ayahnya.


Ariel terlonjak saat sebuah tangan menepuk pundaknya. Ariel menoleh dan menemukan Aditya di sebelahnya. "Kau baru datang??? Kemana saja?? Naiklah dan beri selamat kepada mereka, aku dan yang lainnya menunggumu disitu" Aditya menunjuk kearah meja dimana yang lainnya sesnag disana.


"Tidak!!!! Aku akan duduk bersama kalian dan aku akan memberi ucapan nanti saja"


Ariel kemudian berjalan ke arah meja yang tadi ditunjuk oleh Aditya, membuat Aditya mwngikutinya dari belakang merasa heran dengan sikap Ariel. Aditya sangat tahu dan langsung bisa membaca bahasa tubuh Ariel, sahabatnya itu seperti sedang menahan kemarahan.


"Apa jangan-jangan Ariel sangat marah dengan acara ini?? Aku harus mengatakan ini pada Randy supaya kami bisa menahan Ariel jika dia berusaha ingin membuat kekacauan ditempat ini" Gumam Aditya dalam hati.


*****


Ariel hanya duduk diam dan terus mengarahkan pandangannya ke arah pelaminan itu. Tatapannya begitu tajam terutama ke arah Danist berdiri. Aditya dan Randy sejak tadi terus memperhatikan sikap Ariel itu. Mereka merasa bahwa Ariel sangat marah, entah apa yang akan diperbuatnya kepada Danist.


"Iel....!!! Kau diam saja sejak tadi??? Apa semuanya baik-baik saja???" Tanya Randy.


Ariel tersenyum tipis. "Everything its okay Ran" Jawabnya. Ariel kemudian mengarahkan pandangannya ke seluruh sudut dan menemukan Ayahnya sedang duduk sendiri menikmati makanan.


Para tamu undangan satu persatu sudah keluar, Aditya menepuk pundak Ariel menyuruh sahabatnya itu agar segera naik ke pelaminan dan mengucaokan selamat kepada Elea dan Danist tetapi Ariel menolaknya. Aditya mencoba memahami kemudian mengajak Ariel untuk pulang saja, tetapi lagi-lagi Ariel menolak ajakannya, membuat Aditya semakin khawatir.


Tiba-tiba Ariel melihat Ayahnya berdiri, dia mengira Ayahnya akan keluar dari tempat ini, tetapi Ayahnya itu justru berjalan ke arah belakan pelaminan sambil menengok ke kanan kiri seolah sedang memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya. Merasa ada gelagat aneh dari Ayahnya, Ariel langsung memundurkan kursinya dan tanpa permisi ke yang lainnya dia meninggalkan mereka begitu saja. Aditya dan Randy langsung berpandangan, mereka harus segera menyusul Ariel, jika tidak bisa saja Ariel membuat masalah.


"Ki..!!!" Aditya memanggil Yongki yang duduk di depannya.


"Ya"


"Bawa Cahya dan anak-anak pulang lebih dulu, aku ada urusan sebentar" Ucap Aditya.


"Kau mau kemana???" Tanya Cahya.


"Kau tadi lihatkan ada yang aneh dengan Ariel, aku dan Randy akan mengikutinya, aku takut dia membuat masalah"


Cahya mengerti lalu mengajak kakak, serta adik dan ibunya untuk pulang. Begitu juga dengan Randy, dia menyuruh Papa mertuanya agar bisa membawa Chitra dan Mamanya ke hotel lebih dulu dan nanti dia akan bersama Aditya. Bergegas Randy dan Aditya menyusul Ariel secara diam-diam, mereka berdua berharap agar sahabatnya itu tidak melakukan hal yang bisa menimbulkan kekacauan.