SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 246



"Jadi begini Dan, saat kemarin aku ingin membayar pengurusan dokumen Gienka untuk kesini, aku pergi ke Atm untuk melakukan pembayaran karena aku mengurusnya via online, dan aku tidak ingin menggunakan kartu darimu karena ku pikir ini adalah keperluan diluar rumah tangga, jadi aku berniat memakai tabunganku sendiri, kau tahu kan aku menyimpan uang hasil penjualan mobilku di tabunganku yang lain"


Danist mengangguk. "Ya, kau pernah bercerita tentang hal itu kepadaku, and then????" Tanya Danist.


"Aku menemukan saldoku bertambah 2X lipat dari sebelumnya, kau juga tahu kan bahwa disana juga ada uang yang Ariel pernah berikan saat aku masih hamil, karena aku terkejut dan takut ada yang salah aku mendatangi bank dan menanyakan tentang uang itu, ternyata 2 bulan ini Ariel mentransfer lagi ke rekeningku, nominalnya 200juta, aku pikir aku harus memberitahumu tentang hal ini agar tidak terjadi kesalah pahaman diantara kita nanti"


Danist meraih gelas berisi air di hadapannya dan meminumnya lalu menghela napasnya. "Lalu bagaimana dengan dia? Apa dia sering datang untuk menjenguk Gienka?"


"Tidak, dia tidak pernah datang lagi setelah kejadian itu, itu sebabnya aku sangat terkejut saat mengetahui saldoku bertambah ternyata dia yang mengirimnya, Dan...! Apa menurutmu aku harus mengembalikannya? Ku rasa itu terlalu banyak, lagipula tanpa uang darinya kita bisa kan menghidupi Gienka?" Gumam Elea.


Danist terdiam dan tampak sedang memikirkan sesuatu. Menolak uang Ariel, Danist rasa itu bukan sebuah solusi karena Ariel pasti akan merasa tersinggung, mengingat dia adalah Ayah dari Gienka dan sudah pasti memiliki hak untuk memberi kepada putrinya. Lelaki itu walaupun sikapnya tidak baik tetapi dia masih ingat dengan tanggung jawabnya kepada Gienka, mungkin dia saat ini masih merasa malu hingga tidak berani untuk datang menemui Gienka.


"Tidak El, kita tidak bisa melarang atau menolaknya, dia pasti akan merasa tersinggung dan akan marah-marah kepada kita berdua, biarkan saja itu adalah bagian dari tanggung jawabnya kepada Gienka, ku rasa aku punya ide yang bagus agar kau tidak lagi harus memikul beban berat tentang hal ini"


"Ide bagus??? Apa maksudmu??"


"Setelah kita kembali dari sini, aku akan menemanimu untuk membuatkan tabungan khusus untuk Gienka, kita bisa menyimpan semua uang dari Ariel disana, Ariel juga bisa langsung mengirimnya kesana dan saat Gienka sudah besar uang itu bisa dia gunakan untuk biaya pendidikannya, Gienka berhak mendapatkan haknya dari Ariel, kita juga tidak bisa menjadi orangtua yang egois, dan sekali lagi Gienka berhak mendapatkan kasih sayang yang sama dari kita bertiga agar dia tidak merasa bahwa hubungan orangtuanya tidak baik" Ujar Danist.


Elea terdiam sesaat sambil memikirkan apa yang baru saja di ucapkan Danist. Kemudian dia menganggukkan kepalanya menyetujui usulan itu. Memang seharusnya seperti itu saja, jadi agar semuanya transparan karena tentu Elea tidak ingin jika suatu saat nanti Ariel akan mempertanyakan digunakan untuk apa uang darinya selama ini. Elea merasa dia masih sanggup untuk membiayai semua kebutuhan Gienka saat ini. Dan lebih baik uang pemberian Ariel dipergunakan nanti saja ketika memang Gienka membutuhkan itu untuk pendidikannya.


*****


Cahya kembali dari kamar mandi dan terlihat lebih segar setelah mandi. Cahya masih kesal dengan Aditya, suaminya itu memang keterlaluan melakukan hal seperti itu padanya. Cahya merasa sepertinya Aditya dengan sengaja melakukannya untuk memberi pelajaran padanya karena tadi sudah menertawakannya, tetapi harusnya jangan seperti itu.


Aditya yang masih berbaring di tempat tidur melirik ke arah Cahya yang sedang membuka lemari pakaian. Cahya mengambil pakaiannya dan menutup kembali pintu lemari itu lalu melepaskan jubah mandi dari tubuhnya dan memakai pakaiannya disana. Aditya hanya melihatnya seraya tersenyum tetapi tampaknya istrinya itu sedang tidak dalam keadaan baik, karena jelas terlihat dari wajahnya yang sedang kesal. Tetapi Aditya tidak mau terlalu memusingkannya, biarkan saja Cahya mau marah atau kesal kepadanya, yang penting dia sudah bisa membalas istrinya itu agar tidak lagi bisa sesukanya menertawakannya.


Keesokan harinya ternyata Cahya masih tidak mengajak Aditya berbicara. Bahkan semalam setelah Kyros dan Kyra tidur, Cahya langsung ikut membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan meninggalkan Aditya begitu saja. Saat makan malam juga Cahya hanya berucap "Makan malam siap" pada Aditya dan mereka berdua makan malam dalam keheningan tidak bicara satu sama lain. Aditya pun membiarkannya saja, dan tidak mau mengemis maaf dari Cahya. Aditya juga sebenarnya menahan tawanya ketika melihat kemarahan istrinya itu, dia berpikir memang apa yang dilakukannya itu sangat keterlaluan, itu pertama kalinya Aditya mengeluarkan tepat diwajah Cahya, jadi sangat wajar Cahya marah akan hal itu kepadanya.


Suasana sarapan juga terasa hening, hanya bunyi sendok beradu dengan piring. Cahya merasa heran kenapa Aditya tidak meminta maaf kepadanya dan kenapa juga semalam lelaki itu tidur dengan tenangnya tanpa mengganggi dirinya padahal dia sudah bersiap untuk beradu argumen dan menolak Aditya karena kelakuannya sore itu tetapi ternyata prediksinya salah. Aditya semalam tidur dengan tenang tanpa ada kegelisahan sama sekali, harusnya efek permen itu masih terasa. Cahya mengernyit, dan curiga pasti ada sesuatu yang sudah dilakukan suaminya itu padanya. "Jika kau masih belum meminta maaf padaku, jangan harap aku akan bersedia melayanimu, memangnya seberapa lama kau akan bertahan tanpa menyentuhku" Gerutu Cahya dalam hati.


Cahya memundurkan kursinya dan mengambil piring serta gelas yang baru saja dipakai lalu membawanya ke wastafel. Aditya juga langsung pergi meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar membawa kedua bayinya yang ada di stroller.


Terdengar suara ketukan pintu di luar, Cahya bergegas ke depan dan membukanya. Ada Elea, Danist dan Gienka berdiri di depan pintu tersenyum ke arahnya.


"Kami sibuk berkemas dan kemarin juga pergi berbelanja, kemana Adit dan si kembar? Kok sepi?"


"Ada di kamar, ayo ikut aku ke dalam, biarkan para lelaki mengobrol disini, Dan...! Tunggu sebentar ya, aku akan memanggil Adit"


Cahya mengajak Elea masuk ke dalam membawa Gienka, lalu menyuruh Aditya agar keluar dan menemui Danist. Elea mengernyit saat mendengar suara ketus Cahya saat berbicara dengan Aditya, lalu menaruh kecurigaan bahwa sepertinya mereka sedang tidak baik.


Cahya dan Elea duduk di lantai bersama dengan Kyra dan Kyros yang sedang berbaring disana. Cahya melirik ke arah Elea dan melihat sepertinya ada yang berbeda dari raut wajah sahabatnya itu, seperti ada binar-binar kebahagiaan yang terpancar dari wajah Elea.


Cahya pun berdehem untuk menggoda Elea. "Ehem....Well sepertinya aku mencium bau-bau kebahagiaan disini, aku rasa ada yang baru saja pecah telur nih??" Gumam Cahya menggoda.


Elea menoleh dan mendapati Cahya mengedipkan sebelah mata kepadanya, membuat wajah Elea seketika merona malu. "Pecah telur apaan woe..." Sahut Elea untuk menutupi rasa malunya.


"Cieee Elea .... Akhirnya dapat perjaka ting-ting...!!!"


"Husss.... Kau ini Ca...."


"Lancar dong hahaha.... Syukurlah ternyata rencanaku berhasil, mulai sekarang kau harus bisa membuka hati untuk Danist, aku yakin kau pasti bisa...!"


"Iya amin, makasih loh sudah menyadarkanku, eh jalan-jalan yuk, aku belum jalan-jalan nie, kemarin masih jetlag jadi cuma pergi belanja doang dan langsung pulang, Lungern lake memang tidak ada matinya, dari sudut mana saja best banget, kesana yuk!" Ucap Elea.


"Kau benar, tidak akan pernah bosan kalau pergi kesana, aku siap-siap dulu"


Cahya dan Elea keluar kamar membawa bayi mereka lalu mengajak Aditya dan Danist untuk pergi jalan-jalan ke Danau yang ada di dekat sini. Tidak ada penolakan dari 2 pria itu, dan mereka pun ikut pergi. Cahya dan Elea berjalan di depan dan sibuk bercanda meninggalkan suami mereka di belakang yang sedang mendorong stroller berisi bayi mereka. Hari masih pagi, dan suasana juga masih dingin dengan matahari yang perlahan mulai sedikit meninggi. Ini sangat cocok untuk jalan-jalan santai atau sekedar jogging.


*****


Dengan memakai hoodie hitam Ariel keluar dari rumah yang di sewanya, sudah seminggu berada disini dan akan tinggal untuk beberapa waktu. Setiap pagi dia isi dengan jogging disekitar danau, pemandangan disini memang sangat luar biasa dan bisa menyihir siapapun yang datang. Suasana alam yang tenang mampu membuat Ariel merasa nyaman dan perlahan bisa melepaskan segala kesusahan dan kedukaan hatinya.


Setelah berlari cukup jauh, Ariel menemukan sebuah bangku dan duduk disana untuk melepas penatnya sambil mengagumi keindahan Lungern lake yang ada di depan matanya. Ariel mengatur napasnya lebih dulu dan meminum air yang dibawanya lalu menyandarkan tubuhnya di bangku itu.