
"Aku sangat menyukai pribadi Elea yang menyenangkan dan ceria walau terkadang sangat menyebalkan dan cerewet"
"Dia memang seperti itu, tetapi jika kau bisa mendapatkan hatinya, kau akan terkejut menemukan sisi kelembutannya dan ketulusannya, Suamiku sudah kembali, lanjutkan obrolan kalian, aku akan mengurus anak-anak"
Cahya meninggalkan Danist dan langsung menghampiri Elea serta Chika yang sedang sibuk bermain dengan Kyra dan Kyros. Cahya bergabung bersama Elea dan Chika di taman menggoda Kyros dan Kyra.
Hingga tak terasa waktu sudah senja, Danist, Elea dan Chika berpamitan untuk pulang. Cahya sempat menahan Chika agar tidur di Villa tetapi Chika menolak karena besok dia harus bekerja.
****
Cahya sudah menidurkan Kyros dan Kyra didalam 1box bayi yang lebih lebar daripada yang ada dirumah. Aditya ternyata sudah menyuruh pak Mizan menyiapkannya sebelum kedatangan mereka, sehingga kedua bayinya akan tidur dengan nyaman. Tidak butuh lama kedua bayi itu langsung tertidur setelah menyusu. Cahya menghampiri Aditya, duduk disebelah suaminya itu lalu memotong apel yang ada di meja dan menyuapkannya ke mulut Aditya yang sibuk dengan laptopnya.
"Apa yang kau bicarakan dengan Danist tadi, serius sekali, bahkan sempat kulihat dia tampak murung? Kau apakan dia?" Tanya Aditya.
"Tidak, aku hanya menyuruhnya untuk berjuang agar bisa mendapatkan Elea"
"Kau ini benar-benar ya! Apa kau tidak menginginkan Elea kembali bersama Ariel???"
"Tidak....!!!" Sahut Cahya dengan cepat. "Aku tidak peduli oleh persahabatanmu dengan Ariel, dan juga aku tidak peduli jika saat ini Ariel menderita, itu adalah akibat dari keegoisannya, aku sudah sangat kecewa atas semua yang sudah dia lakukan pada Elea, kau tau orang yang sudah pernah berselingkuh kebanyakan dari mereka akan mengulanginya lagi, dan aku tidak mau melihat sahabatku terluka lagi"
Aditya menoleh melihat Cahya dan langsung memeluknya serta mencium kening istrinya itu dengan lembut. "Oke baiklah sayang, jangan naikkan emosimu lebih baik kita tidur, setidaknya kita bisa beristirahat sebentar sebelum anak-anak terbangun karena kelaparan"
Aditya menutup laptopnya dan mengajak Cahya untuk tidur. Cahya berbaring lebih dulu, sedangkan Aditya mencium kedua bayinya sebelum akhirnya menyusul Cahya di tempat tidur.
Aditya membuka lengannya dan menyuruh Cahya agar mendekat kepadanya dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk istrinya itu. Cahya pun mendekatkan kepalanya di dada Aditya.
"Sayang, aku menjadi kepikiran tentang tanah bekas rumahmu yang terbakar" Gumam Aditya.
Cahya pun mendongakkan kepalanya menatap Aditya bingung. "Tanah rumahku? Memangnya kenapa? Kau mau menjualnya?"
"Sembarangan, mana mungkin aku mau menjualnya, aku hanya berpikir kenapa kita tidak memanfaatkannya, daripada dibiarkan kosong?"
"Bukan sayang, ibu akan tetap tinggal disana selamanya, rumah itu juga akan menjadi milik Chika nantinya jika sudah menikah dengan Adri, maksudku bagaimana jika tanah itu kita manfaatkan untuk tempat usaha yang nanti bisa dikelola oleh ibu sendiri"
"Kau benar sekali, ibu terbiasa bekerja dan melakukan banyak aktifitas, tapi karenamu akhirnya ibu diperlakukan seperti ratu membuatnya terkadang merasa tidak nyaman, tapi usaha apa?"
"Aku tidak tahu, kau bisa membahas ini dengan ibu setelah menemukan ide usaha yang bagus, beritahu aku, aku akan mengurus semuanya, baiklah ayo cepat tidur, sebelum aku menggila karena hasratku tak tersalurkan" Ucap Aditya lalu memeluk Cahya.
Cahya mendongakkan wajahnya dan tersenyum menatap Aditya, dia merasa sangat kasihan kepada suaminya itu, karena harus menahan dirinya untuk waktu yang cukup lama. Tetapi memang tidak ada pilihan lain selain harus menahannya.
****
Keesokan harinya, Cahya harus bergantian memandikan kedua bayinya, karena biasanya memang dia selalu dibantu oleh Mama mertuanya. Dan saat ini dia harus belajar mengurus kedua bayinya itu karena berada jauh dari mertuanya, tetapi untungnya Aditya selalu siaga membantunya menjaga Kyros dan Kyra.
Aditya akan berangkat ke kantor perkebunan dan juga akan mengecek pabrik pengolahan Teh yang ada disana. Cahya memilih untuk tinggal di villa bersama Kyros dan Kyra serta akan ditemani oleh istri pak Mizan. Setelah menyelesaikan sarapannya Aditya langsung berangkat.
Aditya ditemani oleh Danist untuk mengecek proses produksi Teh yang dihasilkan dari perkebunan. Danist juga tampak menjelaskan semuanya secara detail kepada Aditya, karena memang Aditya tidak begitu tahu tentang detail proses yang ada, mengingat dia hanya ditugaskan Papa nya untuk menyelesaikan permasalahan yang sebelumnya ada. Tetapi sepertinya Danist telah belajar dengan sangat baik dan cepat dapat mengendalikan situasi yang ada, hingga hanya dalam hitungan bulan dia sudah membuat gebrakan baru yang menghasilkan kualitas produksi yang sangat baik. Dulu pabrik ini hanya mengolah 1 jenis teh saja, tetapi kini sudah menghasilkan berbagai jenis teh, yang ke semuanya ternyata mendapat pasar sendiri di masyarakat.
Perkembangan yang sangat baik itu disambut baik oleh Mama Aditya, dia sangat senang melihat kondisi perkebunan serta pabrik Teh miliknya saat ini. Bahkan juga sudah menyuruh putranya itu memberikan Danist penghargaan atas hasil kerjanya. Dan Aditya masih memikirkan hal itu, hadiah apakah yang akan diberikan untuk Danist.
Setelah puas melihat seluruh proses produksi, Danist dan Aditya kembali ke kantor. Mereka membahas tentang rencana-rencana yang akan dilakukan selanjutnya untuk perkembangan yang lebih baik lagi, dengan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk pemasaran Teh produksi perusahaan mereka.
****
Disisi lain, Ariel saat ini disibukkan dengan meeting dengan para staff nya membahas tentang persiapan pembangunan cafe terbarunya. Salah satu staffnya memperkenalkan desaigner interior yang akan mengurusnya, lalu menyampaikan dan menunjukkan berbagai desain untuk Cafe itu. Tampak Ariel mengamatinya dengan sangat serius mengingat ini adalah cafe pertama nya dengan suasana yang berbeda dengan cafe atau restoran miliknya yang sebelumnya.
Berbagai desain ditunjukkan dan akhirnya Ariel menemukan yang sangat cocok, dimana di Cafe itu juga akan ada stand untuk menjual produk special yang ada di cafe itu. Proyek ini sempat tertunda karena Ariel sakit dan tidak ke kantor selama beberapa minggu. Dan baru kemarin dia kembali ke kantor setelah merasa dirinya cukup tenang dan lebih baik.
"Oke, aku suka yang ini, segera hubungi arsitek untuk pembangunannya, aku harap semua persiapan ini beres dalam waktu kurang dari dua bulan, dan aku juga minta kalian cari, serta kumpulkan data-data perusahaan pengolahan teh yang sudah memiliki nilai pasar yang bagus, kita akan mengajak mereka bekerja sama dengan menyetok Teh nya untuk cafe terbaru kita, kita harus mendapatkannya lebih awal sebelum cafe selesai dibangun, agar tidak menghambat rencana pembukaannya nanti, oke cukup sampai disini meeting kita hari ini, selamat siang" Ucap Ariel lalu pergi meninggalkan ruang meeting.
Ariel merasa sangat antusias dengan proyeknya ini, mengingat dia juga cukup sukses membuka banyak coffee shop, kini giliran dia membuka cafe bertema Teh yang akan menyajikan berbagai olahan Teh baik itu minuman ataupun makanan yang berbahan dasar Teh.