
Setelah kepergian Elea, Cahya mendorong stroller bayinya untuk pulang. Baru berjalan beberapa meter, mobil Aditya baru sampai. Aditya juga Danist keluar dari sana dan langsung menghampiri Cahya.
"Elea mana???" Tanya Aditya.
Cahya tidak menjawab tetapi kemudian tangannya menunjuk ke arah jalanan dimana ada sebuah taksi yang berjalan. Taksi itu masih terlihat dari kejauhan mengingat mereka tinggal di daerah perbukitan.
"Ah ya Tuhan kita terlambat, Dan....!!! Cepat ajak Roland mengejar taksi yang ditumpangi Elea, selesaikan permasalahan kalian dan bawa dia kembali, cepat!!!" Teriak Aditya.
Danist berlari kembali masuk ke mobil lalu dengan cepat dia menyusul Elea. Danist menyuruh Roland agar lebih cepat. Dia benar-benar menyesali semua yang sudah dilakukannya pada Elea semalam dan tadi pagi, jika saja dia mau mendengarkannya mungkin Elea tidak akan memutuskan untuk pergi.
Sementara Cahya menangis di pelukan Aditya, sedih karena tidak bisa menahan Elea ditambah dia takut Danist tidak bisa meyakinkan Elea dan membawa sahabatnya itu kembali lagi. Aditya mengusap lembut bahu Cahya dan menenangkan istrinya itu.
"Ayo kita tunggu disana, kasihan anak-anak kalau terlalu lama diluar, Danist pasti bisa membawa Elea kembali" Aditya membawa Cahya dan kedua anaknya kembali ke rumah Danist dan mengajaknya untuk menunggu di dalam saja.
Dengan keahlian mengemudinya, Roland akhirnya bisa menyusul taksi yang dinaiki Elea. Roland juga menyarankan agar mereka menghentikan taksi itu di depan saja agar lebih aman dan tidak memberi efek kejut yang akhirnya justru akan membahayakan. Roland pun menyalip taksi itu hingga jarak sekitar 100 meter lalu menghentikan mobilnya agak ke tengah jalan, mengingat jalanan memang tidak terlalu lebar yang sudah pasti akan membuat mobil yang melihatnya akan berhenti.
Taksi yang ditumpangi Elea semakin mendekat, dan benar saja seperti apa yang dikatakan Roland, taksi itu menghentikan lajunya melihat mobil yang menghalangi jalannya. Danist turun dan berlari menghampiri taksi itu lalu bergegas membuka pintu belakang taksi menemukan Elea sedang menggendong Gienka. Dengan cepat Danist mengambil Gienka dari Elea, membuat perempuan itu terkejut setengah mati. Ya Elea tadi sibuk memberikan susu formula kepada Gienka hingga membuatnya tidak memperhatikan jalanan, dan tiba-tiba pintu dibuka lalu anaknya direbut begitu saja membuatnya terkejut setengah mati. Tetapi kemudian Elea baru menyadari bahwa ternyata Danist lah yang mengambil bayinya.
Danist membawa Gienka di pelukannya menjauhkannya dari Elea yang masih ada di dalam taksi. Dengan perasaan masih sedikit shock Elea pun akhirnya keluar dan menghampiri suaminya itu untuk mengambil Gienka. Danist pun berusaha menghindari Elea. "Kau mau kemana??? Kau mau membawa putriku kemana El???" Tanya Danist.
"Dan!! berikan Gienka padaku, aku akan terlambat nanti!"
"Kau mau kemana?? Kenapa kau mau pergi tetapi tidak memberitahuku? Ayo kita kembali ke rumah!" Ucap danist seraya memegang pergelangan tangan Elea.
"Aku ingin pulang Dan, biarkan aku dan Gienka pulang, daripada aku disini tetapi kau tidak mau berbicara denganku, jadi untuk apa kau mengajakku kembali?"
"Oke aku minta maaf atas sikapku kemarin dan hari ini, aku sangat menyesal karena tidak mendengarkanmu, kumohon sekarang ayo kita kembali, jangan tinggalkan aku disini sendirian, aku mohon El, kita bisa membicarakan semuanya dirumah, please.....!!!" Danist menarik Elea ke pelukannya dan mengecup kepala Elea dengan lembut berharap istrinya itu mau menuruti keinginannya.
"Kita kembali ya? Aku benar-benar menyesal, aku berjanji aku tidak akan lagi mengulangi perbuatanku itu, aku tidak mau jauh dari kalian berdua, aku sangat mencintai kalian, ayo kita kembali" Pinta Danist lembut.
Akhirnya Elea setuju untuk kembali, Danist pun membawa istri dan anaknya itu ke mobil. Roland dengan sopan membuka pintu mobil untuk Elea, kemudian Danist menyuruhnya untuk membawa barang-barang Elea yang masih di dalam taksi. Danist membayar taksi itu dan dengan dibantu Roland, supir taksinitu mengeluarkan barang milik Elea dan memindahkannya di mobil.
*****
Mendengar suara mobil di luar, Aditya dan Cahya keluar. Cahya tersenyum melihat Elea akhirnya kembali dengan Danist. Cahya merasa sangat lega, dan berharap kejadian seperti ini tidak akan lagi terjadi, dan kesalahpahaman mereka bisa segera teratasi.
Keduanya pun mengajak si kembar untuk pulang meninggalkan rumah Danist. Cahya memeluk Elea dan membisikkan kepada sahabatnya itu agar bisa segera menyelesaikan permasalahannya dengan kepala dingin, karena jika itu dilakukan semua kesalahpahaman yang terjadi bisa diatasi dengan baik.
Danist mengucapkan terima kasih kepada Aditya sekaligus meminta maaf karena telah banyak merepotkan bosnya itu. Aditya merasa tidak direpotkan karena sudah menganggapnya dan Elea adalah bagian dari keluarga. Cahya dan Aditya pun meninggalkan rumah Danist untuk pulang.
Dalam perjalanan kembali ke rumahnya, ponsel Aditya berdering dan ada nama Papanya disana. "Ya Pa" Jawab Aditya.
"Apa kau di kantor?" Tanya Tuan Harry.
"Adit sebentar lagi sampai di rumah, ada apa?"
"Pimpinan dari Capital Corporate tadi datang ke kantor, mereka mengajukan proposal kerjasama dengan perusahaan kita, setelah membacanya sejujurnya Papa ingin menolaknya karena Papa meragu tetapi Papa tidak enak, kau tahu kan bagaimana mereka, Papa ingin kau mengecek sendiri berkas-berkas mereka, Papa sudah menyuruh Maysa besok mengirimnya ke Emailmu tetapi itu kalau kau tidak keberatan, kalau kau tidak mau ya tidak akan Papa kirim"
"Kenapa harus keberatan, suruh saja Maysa mengirimnya, aku akan mengeceknya"
"Oke baiklah, salam untuk Cahya dan kedua cucu Papa"
"Iya Pa, Papa jaga kesehatan" Aditya kemudian menutup teleponnya dan menyampaikan salam dari papa nya untuk Cahya.
****
Elea membawa Gienka ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Danist menyusul mereka dan langsung berlutut didepan Elea yang sedang duduk di tempat tidur, Danist kemudian menumpukan kepalanya di kedua paha Elea. "Aku sudah membuat kesalahan besar, aku minta maaf, aku hanya terbawa oleh pemikiran burukku sendiri kepadamu, aku juga sudah meragukanmu, aku tidak akan lagi melakukan hal seperti itu" Gumam Danist dengan suara serak.
Elea membungkuk mendorong bahu Danist dengan lembut agar lelaki itu mau bangun dan tidak duduk dilantai.
"Aku hanya ingin kau bisa mengertiku dan memberiku kesempatan untuk menyelesaikan apa yang ingin kukatakan, dan aku juga minta maaf jika aku salah berucap, harusnya aku bisa menjaga ucapanku dan tidak selalu membahas masalaluku denganmu karena itu pasti akan melukai hatimu" Ucap Elea lalu berdiri dan memeluk Danist dengan erat.
"Aku tidak pernah menjadikanmu pelampiasan dari masalaluku, semua murni karena aku ingin menjadikanmu suamiku seutuhnya yang bisa menjagaku dan Gienka selamanya"
"Aku tidak sengaja menemukan hadiah dari Ariel untuk Gienka di lemari, aku semakin marah kepadamu dan menganggapmu sudah membohongiku tetapi pak Aditya sudah menjelaskan semuanya, saat mendengar itu aku ingin sekali meminta maaf kepadamu tetapi kau terlalu marah kepadaku hingga memutuskan akan meninggalkanku, jangan lakukan itu lagi El, aku tidak bisa jauh lagi darimu dan Gienka"
Elea dan Danist berpelukan cukup lama, saling mengakui kesalahan satu sama lain. Danist berjanji kepada dirinya sendiri bahwa tidak akan lagi melakukan kesalahan lagi, serta akan mencoba memahami dan mendengarkan penjelasan Elea lagi nantinya. Begitu juga dengan Elea, dia akan lebih menghargai Danist, dan akan lebih menjaga lagi lisannya agar tidak membuat suaminya itu merasa tersinggung atau berpikir hal buruk tentangnya. Dalam rumah tangga kunci utamanya adalah saling menjaga komunikasi dengan baik dan harus bisa menjaga sikap agar tidak menyakiti satu sama lain.