
Elea membuka matanya dan menemukan Danist masih tidur disebelahnya, Gienka juga masih tenang di box bayinya. Elea bangun dengan perasaan berbunga-bunga, akhirnya dia telah melakukan kewajibannya kepada Danist. Setelah ini dia akan memulai untuk menerima lelaki itu walaupun dia masih belum nencintai Danist tetapi Elea yakin suatu saat dia pasti akan bisa mencintainya, semua masih butuh waktu. Elea mendekatkan badannya ke Danist, berbaring miring menatap dalam lelaki yang masih terlelap itu sambil tersenyum.
Elea mengamati wajah kokoh Danist. Wajah Danist yang tampan dan memiliki mata yang dalam serta bibir tipis yang tampak menggaiirahkan. Lelaki yang tulus dan baik, lembut serta penyayang, Elea masih merasa bersalah karena terlambat menyadari ketilusan Danist selama ini.
Elea selama ini memang merasa hangat saat berada di dekat Danist, tapi mungkin karena dia menyimpan sedikit kebodohan hingga tidak sadar bahwa Danist mencintainya.
"Suamiku" Gumam Elea dalam hati.
Elea menelusurkan jemarinya di alis Danist, membuat alis itu sedikit berkedut. Beberapa detik kemudian, Danist membuka matanya dan menemukan Elea tersenyum tepat dihadapannya. Sedikit demi sedikit Danist mengumpulkan kesadarannya dan akhirnya menyadari jika saat ini dirinya sedang tidak mengenakan apapun di balik selimut setelah tadi melakukan penyatuann pertamanya dengan Elea. Danist juga menyadari bahwa Elea juga sedang tidak memakai apapun dibalik selimut itu selain hanya bbraa yang tertinggal di tubuhnya.
Elea masih tersenyum memandang Danist membuat laki-laki itu sedikit salah tingkah, tetapi tampaknya Elea tidak peduli.
"Dan.... Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu??"
"Bertanya tentang apa???" Tanya Danist.
"Aku sudah tahu semuanya tentangmu, aku heran padamu kenapa kau bisa menyimpan rahasia sebesar itu padaku selama ini???"
Danist mengernyit masih tidak mengerti dengan apa yang di maksud Elea. "Rahasia apa???"
"Sejak kapan kau suka padaku dan kenapa kau bisa mencintaiku, kau tahu kan bahwa aku seorang janda yang ditinggalkan oleh suamiku saat aku sedang hamil. Apa kau menyukaiku karena kasihan kepadaku?"
Danist terkejut tetapi kemudian dia menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Tidak seperti itu, aku menyukaimu bukan karena aku kasihan kepadamu,hanya saja aku tidak tahu tepatnya kapan! Mungkin karena kita sering bersama atau mungkin aku sudah menyukaimu saat pertama kali kita bertemu di villa pak Aditya, kau terpeleset dan aku menolongmu"
"Lalu kenapa selama ini kau tidak mengatakan semuanya padaku?"
"Karena kau sendiri sering mengatakan padaku bahwa kau sudah menutup hatimu untuk laki-laki, jadi setiap aku ingin mengungkapkannya aku meragu dan berpikir ulang lebih baik aku diam saja, aku hanya tidak ingin kecewa saja jika kau menolakku, bagiku bersahabat denganmu dan setiap hari bisa denganmu itu sudah cukup, tapi pada akhirnya kau menerimaku, terima kasih"
"Kenapa berterima kasih? Aku yang harusnya berterima kasih, kau sejak awal sudah banyak membantuku, bahkan mungkin kau mengalami kesulitan memendam semua ini sendirian, harusnya kau mengatakannya saja sejak dulu, bukannya mengertimu atau membaca apa yang ada di hatimu selama ini, aku justru membuatmu tersiksa karena aku tidak segera menyadarinya, tapi untunglah Cahya mengatakan semuanya padaku dan membuka pikiranku" Ucap Elea lalu mendekatkan tubuhnya ke Danist dan memeluk lelaki itu.
"Maafkan aku Dan, aku terlambat menyadari ini, mulai sekarang aku akan menerima semua cintamu, melakukan kewajibanku sebagai istrimu, apa yang aku alami dulu terlalu sulit untukku hingga aku butuh waktu untuk membuka hatiku, beri aku waktu untuk bisa mencintaimu, kau sudah menghujaniku dengan begitu banyak cinta, aku juga akan melakukannya padamu, terima kasih atas cintamu Dan...." Tutur Elea lagi lalu melepaskan pelukannya pada Danist.
Lelaki itu mendongakkan wajah Elea dan tersenyum seraya mengucapkan terima kasih karena Elea menerima cintanya. Danist akan bersabar menunggu Elea pada akhirnya akan mencintainya, pasti waktu itu akan tiba suatu hari nanti.
Danist dan Elea saling berpelukan, lalu Elea mendongakkan wajahnya dan meraih kepala Danist agar lebih dekat dengannya lalu mulai berciuman. Ciuman itu semula hanyalah ciuman lembut penuh kasih sayang, tetapi lama-kelamaan berubah menjadi hangat. Danist mulai menggoda Elea dengan kecupan-kecupan kecil, membuat Elea menggeliat karena geli.
Dengan lembut Danist mengecup biibir Elea dan menciumnya lembut, mencicipinya dengan penuh perasaan, seakan bibir Elea adalah buah yang sangat berharga yang harus disesap pelan-pelan agar semakin nikmat terasa. Ketika Danist mengangkat bibirnya, napas mereka berpadu.
"Bibirmu sangat manis dan nikmat" Lelaki itu bergumam sambil mengecupi bibir Elea lagi, "Aku bisa terus dan terus menciumu, dan tidak akan pernah merasa bosan"
Elea terkekeh, tampaknya Danist sudah mulai bisa menggodanya, tidak kaku dan ketakutan lagi seperti tadi. "Kau sudah berani sekarang? Tidak bersikap tegang seperti tadi lagi??" Gumam Elea.
"Tadi aku hanya takut saja, tapi aku sudah mendapat ijinmu, mana mungkin aku bisa menolak, selama ini aku berusaha keras untuk tidak menyentuhmu tanpa ijin darimu, tapi kurasa itu sudah berakhir sekarang"
Mereka tenggelam lagi dalam ciuman yang manis. Mereka berhadap-hadapan saling berciuman berpelukan, menikmati rasa kulit masing-masing yang berpadu, hangat bertemu dengan hangat yang menggetarkan. Setiap sentuhan kulit mereka terasa begitu nikmat.
Lalu bibir Danist beralih mengecupi leher Elea, menghirup aroma manis di sana yang akhirnya memancing miliknya semakin menegang. Elea merasakan itu sejak tadi. Tangannya pun meraih milik Danist, menggenggamkannya disana yang terasa semakin menonjol dan mengeras. Elea menggenggamnya, merasakan hangats yang berdenyut disana dan melihat Danist memejamkan matanya akibat sentuhannya itu. Elea menggerakkan jemarinya secara perlahan membuat Danist meracau merasakan kenikmatan.
Danist merasa dirinya sedang melayang entah kemana, sentuhan lembut dari Elea begitu membakar dirinya. Bagi Danist ini adalah pengalaman pertamanya, ya dia tahu Elea pasti sudah tahu bagaimana cara memuaskan suaminya mengingat perempuan itu sudah pernah merasakan pernikahan jadi Danist sekarang memilih untuk menikmatinya saja. Akan ada banyak waktu untuknya belajar agar bisa memuaskan Elea.
Danist meraih tangan Elea dan menghentikannya agar tidak bergerak lagi. "Sudah cukup, aku tidak mau menunggu lebih lama lagi!!" Gumam Danist dengan suara parau.
Danist kemudian membuka selimut yang menutupi mereka dengan kasar lalu mulai menindi Elea. Elea menekukkan kedua lututnya agar mendapat posisi lebih nyaman dan Danist bisa bergerak lebih leluasa.
Danist kembali mencium bibir Elea dan mereka berdua saling berpaguttan merasa manis satu sama lain. Sementara dibawah sana milik Danist mulai memasuki Elea, membuat Elea mendessah merasakan hangat, keras dan berdenyut mulai menyatu ke dalam dirinya. Elea mengerang dan melingkarkan kedua tungkainya ke pinggang Danist. Dorongan itu membuat Danist menenggelamkan dirinya dalam-dalam di pusat diri Elea yang hangat dan basah.
Danist memejamkan mata, menikmati hangat dan basah yang mencengkeramnya erat, membuatnya harus berjuang agar tidak meledak seketika itu juga. Elea terasa begitu nikmat, begitu pas dan begitu menggoda. Perempuan yang sekarang berbaring di bawahnya dengan mata berkabut, bibir sedikit membuka, napas tersengal, tubuh yang pasrah menerimanya, dan juga terus mendesa kenikmatan atas gerakan yang dia buat.
"Astaga Dan, ahh ini rasanya begitu nikmat" Elea menggerakkan pinggulnya, merespon dorongan Danist, membuat lelaki itu meracau.
"Ya El, sama kau juga begitu nikmat, seluruhmu begitu nikmat"
Danist menggerakkan badannya makin intens, menyentuh seluruh titik kenikmatan di dalam tubuh Elea, dan juga memuaskan dirinya sendiri. Lelaki itu menahan diri, menunggu Elea mencapai kepuasannya. Dan ketika Elea melengkungkan punggungnya dan mengeran pelan, Danist pun mengikutinya. Kenikmatan ini tiada duanya. Bercinta dengan orang yang dicintai memang memberikan getaran yang berbeda. Mereka meledak bersama dalam uforia yang luar biasa nikmat.
Danist menarik tubuhnya dari Elea dan berbaring nyalang di sisi Elea lalu mengecup kening istrinya itu dengan lembut. Ini hal paling luar biasa di hidupnya, ternyata begini rasanya melakukan penyatuan dengan orang yang selama ini dia cintai tetapi Danist akan mulai belajar bagaimana cara memuaskan seorang istri. Dia tidak boleh kalah dengan Elea, karena Elea sudah memiliki pengalaman, dia akan merasa sangat malu jika hanya melakukan seperti ini saja.