
Danist menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak tahu dan juga tidak mau tahu siapa dan bagaimana dia, aku hanya pernah mendengar namanya saja, lagipula untukku itu juga tidak penting, bagiku dia hanya lelaki pecundang, egois dan tidak bertanggung jawab" Ungkap Danist kesal.
"Sssttt... kak Elea datang"
Elea menghampiri Chika serta Danist dan akhirnya bergabung makan siang dengan mereka.
Disisi lain Randy mengajak Aditya dan Ariel untuk makan siang bersama, karena mereka bertiga juga sudah lama tidak berkumpul karena kesibukan masing-masing. Mereka menikmati makan siangnya sambil mengobrol tentang pekerjaan dan berbagai hal. Randy dan Aditya melihat Ariel saat ini terlihat lebih kurus dan wajahnya sedikit pucat, entah apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.
Aditya dan Randy mulai curiga sepertinya Ariel saat ini sedang sakit. Walaupun Randy dan Aditya merasa sangat kesal dengan Ariel tetapi mereka berdua teringat akan janjinya pada Elea untuk tidak mengatakan apapun dan memusuhi Ariel. Sebenarnya kekesalan Aditya dan Randy kepada Ariel sudah memuncak karena Ariel benar-benar sudah tidak peduli dengan Elea, padahal mereka berdua sangat berharap Ariel bisa menyadari kesalahannya dan mencari Elea tetapi itu tidak terjadi sampai detik ini. Justru Ariel semakin menggila dengan Viona, entah hubungan seperti apa yang mereka jalani, baik Aditya ataupun Randy merasa sangat malas jika membicarakan Viona.
Kekesalan dan kemarahan Aditya semakin bertambah saat Ariel bercerita bahwa dia akan memberikan apartmentnya kepada Viona. Apartment yang pernah ditinggalinya dengan Elea dulu. Ada perasaan khawatir yanb dirasakan Aditya dan Randy melihat gelagat Viona, perempuan itu seperti sedang memiliki misi khusus kepada Ariel.
"Iel, kau sedang sakit ya??? Tubuhmu terlihat lebih kurus dan wajahmu pucat, apa kau tidak merawat dirimu dengan baik??" Tanya Randy.
"Entahlah, sudah berbulan-bulan aku menderita, setiap pagi kepalaku pusing dan aku selalu merasa mual dan muntah, obat dari dokter tidak mampu menyembuhkannya dan mereka juga tidak bisa menentukan apa sakit yang ku derita, aku merasa sangat lelah karena ini"
Aditya dan Randy hanya saling berpandangan bingung.
"Itu artinya kau harus benar-benar menjaga kesehatanmu dengan baik, lagipula ada Viona yang setiap hari datang dia pasti merawatmu dengan baik" Ucap Aditya.
Ariel tidak menjawab dan hanya diam saja sambil menyeruput kopi nya, tidak ada jawaban untuk ucapan Aditya. Bagaimana bisa Viona merawatnya perempuan itu hanya datang sebentar untuk menyenangkannya lalu pergi setelahnya.
Suasana tampak hening, Randy pun membuka obrolan lagi dengan bertanya kepada Aditya. "Hei Dit, jika seandainya Cahya tidak hamil anak kembar, kau ingin anak perempuan atau laki-laki?"
"Aku ingin anak perempuan, itu terlihat sangat menggemaskan, biasanya seorang ayah akan lebih dekat dengan anak perempuannya hahaha tetapi ternyata aku mendapatkan paket komplit" Jawab Aditya seolah mengerti arah pembicaraan Randy. Cahya memberitahunya jika bayi yang dikandung Elea berjenis kelamin perempuan.
"Kau sangat beruntung begitu juga Cahya, kau menjaganya dengan sangat baik, suami siaga, membuatku tersadar bahwa nanti saat aku sudah menikah dan Chitra hamil aku harus selalu ada untuknya, tidak akan pernah aku meninggalkannya, kita berani berbuat kita juga harus bertanggung jawab, jangan sampai diantara kita ada yang menjadi laki-laki brengsek"
Aditya hanya tertawa mendengar ucapan Randy, sahabatnya yang satu ini memang tidak bisa menjaga mulutnya saat berbicara. Sedangkan Ariel hanya melempar sedikit senyumnya mendengar perkataan Randy. Ariel berpikir andai saja Elea dulu hamil pasti dia tidak akan meninggalkannya ataupun menceraikannya, sayangnya Elea tidak bisa menjadi istri yang sempurna untukknya, padahal kalau boleh jujur, sebenarnya dia sangatlah mencintai Elea.
*****
Cahya sedang disibukkan dengan kegiatan merapikan pakaian Aditya dilemari yang baru saja disetrika. Aditya yang baru saja pulang dari kantor, masuk ke kamarnya sambil mengendus. Aditya langsung memeluk Cahya dan membuat perempuan itu terkejut karenanya.
"Kau mengagetkanku saja"
Aditya menghujani Cahya dengaan ciuman-ciuman lembut di leher dan pipi Cahya. "Baumu harum dan aku sangat merindukanmu"
"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah, aku harus belajar mengatur waktuku juga untuk istri dan anakku, semakin hari kau semakin kesusahan membawa perutmu, bahkan aku juga kesusahan saat akan menciummu jika kita bercinta karena terhalang perutmu yang besar itu"
"Adit, kau ini, sudah cepat sana mandi, aku akan membuatkan jus untukmu" Cahya melepaskan pelukannya dan mengambil handuk untuk Aditya.
"Aku sangat rindu bercinta denganmu dikamar mandi tapi dikamar ini tidak ada bathup" Ucap Aditya dan dia langsung mendapat pelototan dari Cahya. Perempuan itu langsung melempar handuk ke wajah Aditya karena kesal dengan godaan Aditya padanya.
Aditya tertawa terbahak-bahak lalu meninggalkan Cahya dengan wajah merah padam karena godaannya dan pergi ke kamar mandi.
****
Seperti biasa, setiap malam Aditya selalu memijat kaki Cahya, terlebih lagi saat ini kaki istrinya itu sudah mulai membengkak. Aditya terkadang merasa sangat sedih melihat Cahya harus bersusah payah membawa perutnya kemana-mana. Cahya juga mulai tidak nyaman dan kesusahan dengan posisinya saat tidur. Aditya terkadang harus terjaga dan waspada setiap malam memastikan kenyamanan Cahya saat tidur.
Pijatan Aditya ternyata membuat Cahya merasa sangat nyaman sehingga dia tertidur dengan cepat. Melihat Cahya sudah tertidur, Aditya beranjak dari ranjang dan mencuci tangannya untuk menghilangkan minyak yang menempel. Aditya kembali lalu duduk menyandarkan tubuhnya di ranjang sambil membuka laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya sampai akhirnya semua sudah dia selesaikan lalu menutup laptopnya dan menaruhnya dimeja. Aditya mengusap lembut kening Cahya lalu tertidur dengan posisi yang sama yaitu tetap duduk bersandar diranjang.
Cahya terbangun ditengah malam karena merasa sangat lapar dan dia melihat Aditya tidur dengan posisi duduk bersandar diranjang. Tidak ingin mengganggu suaminya, Cahya beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar menuju dapur.
Tangan Aditya bergerak mencari Cahya tetapi sepertinya tidak menemukan yang dicarinya. Aditya pun membuka matanya perlahan mencari Cahya, dia tidak melihatnya ditempat tidur. Sekali lagi Aditya mengernyapkan matanya dan memang benar Cahya tidak ada. Bergegas dia melompat dari tempat tidur menuju kamar mandi, lagi-lagi Aditya tidak menemukan Cahya.
Cahya memotong bawang untuk membuat nasi goreng, karena didapur dia hanya menemukan nasi karena memang semua makanan sudah habis saat makan malam tadi. Aditya keluar dari kamar dan melihat lampu didapur menyala bergegas dia kesana.
"Astaga sayang, aku panik kau tidak ada di kamar dan ternyata kau disini, apa yang kau lakukan?"
"Aku lapar sekali jadi aku ke dapur untuk mencari makanan tetapi sepertinya semuanya habis tinggal nasi saja, jadi aku akan membuat nasi goreng"
"Kenapa tidak membangunkanku?? Aku bisa membuatkan makanan untukmu"
"Aku tidak mau mengganggu tidurmu, tapi karena kau sudah bangun, bisakah kau mengambil sosis dan telur serta sayuran di kulkas?"
Sambil tersenyum Aditya membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan yang dibutuhkan lalu membantu Cahya memotongnya. Aditya menyuruh Cahya untuk duduk dan menunggu dimeja makan, karena dia yang akan memasak nasi goreng untuknya.
Akhirnya selesai, Aditya membawa hasil masakannya ke meja makan dan menyuapi Cahya begitu juga Cahya, dia bergantian menyuapi Aditya. Keduanya tampak menikmati nasi goreng buatan Aditya. Cahya tidak berhenti bersyukur karena Tuhan telah menganugrahinya seorang suami yang begitu mencintainya dan selalu ada untuknya untuk menjaganya.
Cahya juga sudah sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengan kedua bayinya yang tinggal beberapa minggu lagi akan lahir ke dunia. Dia dan Aditya juga sudah menyiapkan nama untuk kedua bayinya. Besok kamarnya juga akan direnovasi untuk disambungkan ke ruangan yang nantinya akan jadi kamar untuk bayinya. Cahya sangat yakin kebahagiaan keluarganya akan semakin bertambah dan menjadi berwarna dengan kelahiran bayi kembarnya.