
Danist tersenyum "Kenapa diam El?" Ucapnya. "Aku hanya bercanda jangan kau masukkan dalam hati, sudah siap, kau mau aku antar ke rumah pak Adit sekarang?"
"Tidak perlu, kan ada Papa dan juga Mama, kau beristirahat saja serta temani Mama mu, oke aku pergi dulu ya? See you tomorrow"
Disisi lain saat ini Ariel sedang mengunjungi Aditya dikantornya. Ariel datang bukan untuk membahas pekerjaan tetapi hanya datang untuk menemui sahabatnya itu, mengingat hubungan mereka yang sempat tidak baik beberapa waktu yang lalu. Melihat kedatangan Ariel, Aditya langsung membuka lemari pendiingin diruangannya dan menawarkan minum kepada Ariel.
"Berikan aku air mineral saja Dit"
Aditya mengambil 2 botol hijau berisi air mineral dan juga mengambil gelas untuknya dan Ariel. Ariel menuang air ke dalam gelas dan meminumnya.
"Ahhh segarnya......!!! Hei Dit, aku ada beberapa tempat yang sangat luar biasa di Bali, aku ingin membangun Villa disana, kau bilang ingin punya satu tempat disana."
"Memangnya kau sudah ada?"
"Ada beberapa rekomendasi yang aku miliki, jika kau mau salah satu disana aku bisa membantumu"
"Aku ingin private villa, kurasa akan bagus jika memiliki infinity pool menghadap laut, Cahya sangat akan sangat menyukainya"
"Coba lihat ini, dan putuskan kau ingin yang mana" Ariel memberikan berkas kepada Aditya.
Aditya terlihat serius melihat semua berkas berisi gambar lokasi-lokasi milik Ariel yang akan dibangun Villa disana. Aditya meminta pada Ariel agar bisa membawa berkas itu untuk ditunjukkan pada Cahya dan Ariel pun mengijinkannya.
"Hei Iel? Kudengar si Viona ditangkap polisi, selain penggrebekan itu ternyata dia juga menipu beberapa orang, apakah itu termasuk dirimu?"
"Aku tidak peduli lagi dengannya jadi jangan membahasnya, perempuan itu telah menghancurkan kehidupanku"
"Hahaha kau dulu begitu memuja nya dan meninggalkan semuanya sekarang kau membencinya, kau sangat lucu"
"Diamlah!!!"
Aditya melempar senyumnya melihat kekesalan di wajah Ariel. "Bagaimana hubunganmu dengan Ayahmu? Kau masih tidak mau berbicara dengannya? " Tanya Aditya.
"Kenapa pula aku harus berbicara dengannya?"
"Aiiiihhhhsss kau ini Iel Iel, kau tinggal memiliki Ayahmu dan kau masih juga tidak mau memaafkan kesalahannya, sudahlah Iel dengan kau berbuat seperti ini terus apa kau pikir Mama mu disana juga akan senang melihatmu seperti ini? Kasihan Ayahmu, dia pasti sangat membutuhkanmu, setidaknya dia sudah meminta maaf berulang kali padamu atas semua kesalahannya, harusnya kau memaafkannya Iel, ya minimal kau berbicaralah dengannya sesekali jangan terus seperti ini"
"Setiap melihat wajahnya rasanya aku ingin menghajarnya, aku selalu terngiang-ngiang dengan luka yang dia tinggalkan dulu"
"Iel, bukannya aku bermaksud apa-apa, tapi apa kau masih mau menutup matamu padahal Tuhan sepertinya telah memperingatkanmu agar tidak bersikap seperti ini"
"Apa maksudmu?"
"Well kau juga sudah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ayahmu dulu, yaitu berselingkuh tepat dihadapan istri kalian, dia menderita karena sikap egoisnya yang akhirnya membuat dia kehilangan istrinya dan anak yang dicintainya, dan sekali lagi itu juga menimpa dirimu saat ini, kau menderita karena kehilangan Elea dan anak kalian yang harusnya kau bisa menjaga mereka, setidaknya dari sini kau harus belajar dan flashback tentang semua yang sudah terjadi dihidupmu, kau telah menabur benih egois dan membutakan mata serta hatimu, dan inilah hasil yang kau tuai, lupakan yang sudah terjadi dan mulailah perbaiki semuanya, kau pasti akan mendapat hasil yang baik nantinya"
Ariel terdiam mendengar nasehat dari Aditya, membenarkan ucaoan sahabatnya itu bahwa sepertinya dia telah menuai karma atas semua perbuatannya, dia selalu berkata kasar saat Ayahnya mengajaknya berbicara dan sikap ayahnya dulu justru seolah diwariskan kepadanya.
*****
Pernikahan Randy dan Chitra terlihat begitu mewah dan sangat ramai. Aditya datang bersama Cahya dan kedua bayinya, dibelakangnya ada kedua orangtua Aditya juga Adri dan Chika. Sedangkan ibu Cahya juga Mama Danist juga datang bersama kedua orangtua Elea, disusul Danist dan Elea.
Cahya tampak begitu cantik dan gaun nya berwarna biru laut senada dengan kemeja Aditya, begitu juga Kyros dan Kyra yang tidak kalah menggemaskan memakai baju warna senada. Dengan perutnya yang besar, Elea terlihat begitu elegan dan manis dengan gaun berwarna putihnya, berdiri cantik disebelah Danist. Mereka berbincang-bincang dengan tamu undangan yang lainnya dan sesekali tertawa menggoda 2 bayi kembar itu.
Ariel keluar dari mobilnya dan datang sendirian ke pernikahan sahabatnya ini, dia sangat tampan dengan setelan jas yang dipakai nya. Ariel masuk dan matanya langsung dihadapkan dengan pernikahan yang begitu mewah dengan ratusan orang yang datang. Dari kejauhan dia melihat Randy dan Chitra sedang duduk dipelaminan yang terlihat sangat serasi. Beberap orang menyapa Ariel yang tak lain adalah temannya dan beberapa rekan bisnisnya.
"Lihatlah kedua bayi gemay ini, mereka tampak sangat senang melihat ada banyak orang disini dan sepertinya tidak terganggu dengan keramaian ini" Elea mencubit pipi Kyra gemas.
Obrolan Cahya dan Elea terhenti saat tiba-tiba Ariel datang menghampiri mereka. Aditya yang sedang asik mengobrol dengan Danist pun mengarahkan pandangan mereka ke Ariel. Ariel menyalami Aditya dan menyapa sahabatnya itu, tetapi Ariel tidak menyalami Danist tapi justru tersenyum mengejeknya.
"Sejak tadi aku mencarimu tapi ternyata kau ada disini" Ucap Ariel.
"Kau baru datang? Dimana om Andi kau tidak bersamanya?"
"Dia akan datang nanti, aku datang sendiri, hai Ca apa kabar dan apa kabar keponakanku yang tampan dan cantik ini?" Tanya Ariel sambil mencium Kyros yang ada digendongan Cahya lalu berganti mengusap kepala Kyra yang ada digendongan Elea. Ariel menyalami Elea. "Hai El, bagaimana kabarmu dan bayi kita?"
Elea tidak membalas jabatan tangan Ariel. "Aku baik" Jawab Elea singkat. Elea membalikkan badannya melihat ke arah Danist. "Sayang, aku haus bisakah kita pergi untuk mengambil minum disana, aku juga ingin duduk" Pinta Elea pada Danist lalu memberikan Kyra pada Aditya.
"Baiklah, kita akan mengambil minuman disana"
Ariel memasang wajah kesal mendengar ucapan Elea memanggil Danist dengan panggilan Sayang. Aditya dan Cahya hanya diam dan saling berpandangan. melihat kepergian Danist dan juga Elea. Elea menggenggam jemari Danist saat mereka berjalan, dan tentu saja Ariel melihatnya.
Hingga akhirnya Aditya mengajak semuanya untuk memberi selamat kepada Randy dan Chitra yang ada diatas pelaminan sebelum mereka kembali pulang.
Aditya menyalami Randy lalu memeluk sahabatnya itu. "Congrats Ran, nanti malam kau jangan berbuat kasar pada Chitra harus hati-hati" bisik Aditya.
"Sialan, but thanks sudah datang, eh kita berfoto dulu" Ucap Randy.
Setelah memberi selamat dan berpamitan pulang, Aditya dan yang lainnya pun berjalan untuk meninggalkan gedung itu. Danist berjalan bersama Aditya di depan yang lainnya, sambil mengobrol tetapi karena serius mengobrol, Danist tidak melihat ke depan dan membuatnya menabrak seseorang yang akan masuk ke gedung itu.
"Astaga, maaf pak maaf saya tidak melihat, apa bapak baik-baik saja?" Danist berjongkok membantu pria itu untuk berdiri.
"Tidak apa-apa, saya juga salah karena terburu-buru" Pria itu mengangkat wajahnya dan menemukan wajah seorang yang pernah dia temui.
"Kau kan yang di kantor perkebunan itu?"
"Anda?" Seru Danist.
Danist berdiri dan pria itu juga berdiri.
"Om Andi?? Om baru datang? " Aditya terkejut melihat Ayah Ariel.
"Iya Dit, kalian sudah mau pulang ya?"
"Iya om, acara masih berlangsung jangan buru-buru om"
"Oke baiklah, kalian hati-hati dijalan, om masuk dulu ya?"
Ayah Ariel berjalan masuk sedangkan Danist menyuruh yang lainnya untuk lebih dulu ke mobil karena dia akan menunggu Mama nya dan Elea yang tadi pergi ke toliet.
Hingga akhirnya Elea dan juga Mama Danist keluar dari toilet dan kembali ke gedung tempat acara berlangsung untuk menuju pintu keluar.
"Elea sayang, kita langsung keluar saja, Danist dan yang lainnya sudah menunggu kita diluar" Ujar Mama Danist dan Elea menganggukkan kepala nya.
Saat Ayah Ariel berjalan pelan dan tiba-tiba pandangannya teralihkan ketika mendengar suara wanita yang sangat dikenalnya. Dia langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara tersebut. Benar saja dia melihat wanita yang sangat dikenalnya. "Sari!!!" Teriak Ayah Ariel.
Saat itu juga Elea dan Mama Danist menghentikan langkahnya dan menoleh. Mama Danist terkejut melihat siapa yang ada didepannya.
"Sari??? Kau ada disini? Bagaimana kabarmu?"