SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 233



Aditya mengendarai mobilnya dan Danist duduk disebelahnya. Danist merasa tidak enak karena dia malah jadi penumpang sedangkan atasannya itu justru yang jadi supirnya. Tetapi Aditya sepertinya tidak terlalu memikirkan hal itu, ini hal yang tidak perlu di permasalahkan. Aditya menoleh ke arah Danist, laki-laki itu banyak diam dan seperti ada yang sedang mengganggu pikirannya, padahal tadi Aditya sudah mengatakan bahwa tidak masalah jika dia yang mengemudikan mobil, tetapi sepertinya Danist masih merasa tidak enak.


"Dan....!!! Are you okay??? Kenapa diam saja, sudahlah jangan terlalu dipikirkan, sekali-kali kau harus merasakan bahwa bosmu bisa juga menjadi supimu hahaha"


"Pak Aditya bisa saja"


"Apa kau sedang ada masalah?? Sepertinya srjak tadi ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Saya hanya tidak menyangka bapak memberikan kepercayaan yang begitu besar kepada saya untuk memimpin teman-teman yang lain di acara pameran nanti, padahal mereka lebih senior dan juga saya merasa takut karena ini pertama kalinya bagi saya harus mengurus pekerjaan dan tanggung jawab yang begitu besar ditempat baru"


"Karena kau yang lebih mengerti tentang seluk beluk produk kita, aku hanya meminta mereka untuk membantumu dan yang pasti kau juga akan dibantu staff kantor lainnya disana jadi jangan khawatir, kenapa kau harus takut, aku yakin kau bisa melakukannya, tempat tinggal juga akan disediakan dengan baik untuk kalian, kalian bisa memilih ingin tinggal di apartemen atau rumah semua ditanggung oleh perusahaan, jadi yang harus kau lakukan hanyalah melakukannya dengan baik, dan aku nanti juga akan menyusul kalian kesana karena proyek pembangunan swalayan juga akan dikerjakan bersamaan dengan pameran itu, aku akan mengawasinya sampai selesai"


******


Setelah dari kantor, Aditya mengantar Danist ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli ponsel baru karena ponsel lelaki itu rusak. Danist sibuk memilih ponsel yang ingin dibelinya dan Aditya dengan sabar menunggunya. Saat Danist sudah menentukan pilihannya, tidak diduga Aditya malah memberikan kartu debitnya kepada kasir dan membayar ponsel yang dibeli Danist. Sempat terjadi perdebatan diantara keduanya karena Danist menolak untuk dibelikan oleh Aditya, tetapi bukan Aditya namanya jika dia tidak bisa meyakinkan orang lain. Pada akhirnya Danist menyerah dan tidak membantah apa yang diinginkan bos nya itu. Danist sendiri merasa menyesal karena memilih ponsel itu yang harganya bisa dibilang cukup mahal, jika tahu Aditya yang akan membayarnya mungkin dia tidak akan memilih ponsel itu dan akan memilih yang lebih murah. Apa yang sudah dilakukan Aditya sangatlah berlebihan hingga membuat Danist merasa tidak enak tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena Aditya memang sulit ditolak jika sudah memutuskan sesuatu.


Aditya juga tidak lupa mengajak Danist mampir ke sebuah restoran dan membeli makan malam untuk makan malam mereka nanti di apartemen Elea karena tadi dia sudah melarang Cahya agar tidak perlu memasak.


Dan sampailah mereka di apartemen Elea, sebelum masuk, Aditya memberikan beberapa lembar uang kepada 2 bodyguard Cahya dan menyuruh mereka untuk pergi membeli makan malam lalu kembali ke rumah dan meninggalkan apartemen ini karena dia sudah datang untuk menjemput Cahya. Kedua lelaki bertubuh besar itupun pergi sesuai perintah dari Aditya.


Kedatangan Cahya hari ini cukup membantu Elea, karena kakinya yang bengkak membuatnya cukup kesulitan untuk berjalan. Dia dan Cahya hanya menghabiskan waktu dikamar dengan mengajak ketiga bayi itu bermain disana saja.


Hingga akhirnya Aditya dan Danist sudah kembali ke kantor dan membawa beberapa kantong makanan untuk mereka. Mereka berempat pun makan malam bersama, setelahnya Aditya mengajak Cahya untuk pulang karena hari sudah malam dan anak-anak juga sudah tidur. Cahya memeluk Elea dan mendoakannya agar cepat sembuh, lalu mencium Gienka yang tertidur dengan pulasnya di box bayinya.


*****


Elea membantu Danist berkemas karena besok Danist harus berangkat ke Swiss untuk pekerjaan dan mengikuti pameran produk disana selama 2 bulan. Aditya mengirim Danist dan beberapa GM dari kantor yang lainnya juga. Walaupun berat harus meninggalkan Elea dan Gienka, tetapi ini adalah tugas penting yang harus dilakukannya. Ketakutan Danist yang terbesar adalah Ariel, ia takut jika lelaki itu akan melakukan hal yang sama seperti beberapa waktu yang lalu. Danist tidak berhenti mengingatkan Elea agar selalu waspada dan tidak menerima apapun dari Ariel terutama makanan atau minuman.


Anehnya sejak kejadian itu Ariel tidak pernah lagi datang untuk menemui Gienka, padahal biasanya dia selalu ritin datang seminggu bisa 3 sampai 4 kali tetapi akhir-akhir ini dia tidak pernah muncul. Danist berpikir mungkin Ariel takut, malu atau bagaimana hingga tidak lagi datang. Tetapi siapa yang bisa menebak apa yang ada di otak lelaki itu, dia penuh dengan cara kotor untuk memenuhi keinginannya walaupun itu harus menyakiti orang lain.


Cahya sedang merapikan tempat tidurnya dan melihat ponsel Aditya yang ada di meja berdering dan ada nama Randy disana. Cahya memanggil Aditya yang sedang berada dikamar Kyra dan Kyros, lalu memberikan ponsel itu. Aditya keluar kamar anaknya dan memilih berbicara dengan Randy di balkon. Cahya kembali melanjutkan aktifitasnya, karena Aditya begitu serius berbicara dengan Randy diluar.


Cukup lama sampai akhirnya Aditya kembali masuk dan duduk disebelah Cahya yang menonton televisi. Wajah Aditya terlihat muram bercampur rasa bingung serta heran. "Entah kemana tuh anak pergi, udah lebih dari 2 minggu dia tidak ada kabar, dikantornya pun tidak ada, ponselnya juga tidak pernah aktif" Aditya tiba-tiba bergumam sendiri.


Cahya menoleh ke arah suaminya itu dengan perasaan bingung siapa yang dimaksud tidak ada kabarnya. "Siapa yang tidak memberimu kabar???"


"Ariel.....!!! Dia menghilang begitu saja, entah kemana perginya, aku 3 kali datang ke kantornya tapi dia tidak ada, dan Randy juga mencarinya, bahkan di apartemen barunya juga tidak ada orang, kemana si brengseek itu pergi"


Cahya terdiam mendengar apa yang baru saja dikatakan Aditya. Ariel tidak ada kabar sudah sekitar 2 minggu, yang artinya itu bersamaan dengan kejadian yang diceritakan Elea. Ya, Elea melarangnya untuk menceritakan tentang apa yang dilakukan Ariel di apartemennya kepada siapapun termasuk Aditya bahkan Elea dan Danist juga tidak bercerita tentang hal itu ke keluarga mereka, hanya untuk menghindari hal-hal yang bisa menambah lagi kekacauan yang terjadi. Dan sekarang bukanjya meminta maaf, Ariel memilih menghilang, entah apa ya ada di pikirannya.


"Sayang...!!! Kok diam??? Apa kau tahu sesuatu??" Aditya membuyarkan lamunan Cahya.


"Ah tidak, mungkin dia pergi liburan ke suatu tempat dan tidak ingin siapapun mengganggu nya"


"Maybe, tapi dia tidak pernah seperti ini sebelumnya"


"Hhhmmm apa kau lupa? Dia kan pernah juga seperti ini dulu, saat proses perceraiannya dengan Elea, mungkin dia lagi have fun dengan kekasihnya, sudahlah, ayo tidur" Cahya mematikan televisinya dan beranjak dari sofa diikuti Aditya.


Aditya berbaring nyalang disisi Cahya, dia masih bertanya-tanya kenapa Ariel tiba-tiba tidak ada kabar sama sekali bahkan sekretarisnya sendiri tidak tahu kemana perginya atasannya itu. Kalaupun pergi liburan tentu Ariel akan bilang padanya atau pada Randy, dan soal dia juga pernah menghilang karena liburan bersama Viona itu tentu berbeda keadaannya. Yang Aditya tahu, Ariel sedang tidak bermasalah dengan siapapun akhir-akhir ini, dan justru saat ini sedang ada banyak proyek yang dikerjakan Ariel, sangat aneh jika tiba-tiba dia pergi tanpa memberi tahu siapapun.