
Cheryl terus mengikuti mobil Aditya, sampai akhirnya Aditya berhenti disebuah perkantoran mewah dan turun dari mobilnya dia memberikan kuncinya pada petugas dan lansung masuk ke kantor itu. Senyum Cheryl pun tampak tersungging dibibirnya karena sekali lagi jalannya mulus sesuai yang diharapkannya. Cheryl pun kembali untuk pulang karena dia sudah mendapatkan apa yang diinginnya dan besok dia akan melakukannya lagi.
Sudah seminggu, setiap pagi Cheryl selalu datang dan memantau rumah Aditya secara rutin. Pernah sekali dia melihat mobil berwarna putih juga yang sedang keluar dari sana. Cheryl merasa sangat kesal karena rumah itu benar-benar tertutup untuk dunia luar sehingga dia sangat kesulitan untuk melihat siapa saja yang keluar masuk dari sana.
Hari ini Cheryl masih tetap menunggu disana walaupun hari sudah menjelang siang. Benar saja penantiannya lagi-lagi tidak sia-sia, gerbang itu terbuka dan sebuah mobil putih keluar. Tidak mau dilanda rasa penasaran, kali ini dia akan mencoba mencari tahu. Cheryl memakai maskernya dan turun dari mobilnya lalu menghampiri gerbang rumah Aditya dan berucap permisi. Seorang security membuka sedikit gerbangnya dan berdiri ditengah sisi yang sedikit terbuka itu.
"Cari siapa mbak?" Tanyanya.
"Apa ini rumah Armand Aditya?"
"Iya ini rumah pak Aditya, mbak ada keperluan apa?"
"Ah saya temannya, apa Aditya ada dirumah?" Tanya Cheryl lagi.
"Pak Aditya tidak ada dirumah beliau sedang berada dikantor"
"Oh sedang dikantor ya, apa yang tadi barusan keluar itu Aditya, maaf tadi saat dibelokan saya sempat melihat sebuah mobil keluar dari sini" Ujar Cheryl berbohong.
"Bukan, itu mobil milik bu Cahya istrinya pak Aditya tetapi sedang digunakan oleh Nyonya untuk pergi"
Seolah mendapat angin segar Cheryl tersenyum dibalik maskernya, karena sepertinya Cahya berada dirumah. "Berarti Cahya ada dirumah? Bolehkah saya masuk? Saya ingin bertemu dengan Cahya?"
"Maaf mbak, kalau mau masuk saya harus lapor pak Aditya dulu, diijinkan atau tidak, Mbak namanya siapa? Saya akan menghubungi pak Aditya untuk meminta ijinnya" Security itupun mengambil ponsel dikantong celananya hendak menelepon Aditya.
Merasa terancam, Cheryl pun langsung berucap "Ah tidak usah pak, kapan-kapan saya akan kesini lagi dan mengatur janji dengan Aditya, saya permisi dulu"
Dengan keadaan marah bercampur kesal, Cheryl pun langsung kembali ke mobilnya dan berteriak didalam sana. Dia kesal karena Aditya benar-benar menutup rapat-rapat semuanya, bahkan dirumahnya sendiri pun dia juga bersikap waspada, seolah orang luar tidak bisa menemukan celah untuk mengusiknya. Cheryl pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana. Dia oergi dengan kekesalan yang luar biasa, amarah dna emosinya memuncak. Bagaimanapun dia harus menemukan cara lain agar semua misinya berjalan dengan mulus.
****
Sore harinya Aditya pulang ke rumah dan rumah terlihat sepi dan tidak ada mobil Cahya yang terparkir. Security nya menghampiri Aditya dan mengatakan jika tadi ada seorang perempuan datang yang mengatakan jika dia adalah teman Aditya. Aditya pun menggerutkan keningnya "Siapa? Kenapa tidak menghubungiku?" Tanya Aditya penasaran.
"Maaf pak saya lupa menanyakan namanya tetapi saat saya ingin menghubungi bapak, dia bilang akan kembali kesini lagi, saya juga tidak lihat wajahna karena dia memakai masker"
"Ya sudah, lain kali kau harus menanyakan namanya lebih dulu, dan ingat selalu meminta ijinku sebelum menerima tamu jangan sembarangan"
Aditya pun langsung masuk ke rumah dan benar saja rumahnya terlihat lengang. Saat membuka kamarnya dia melihat Cahya sedang tidur diatas ranjang. Aditya oun membungkuk dan mencium kening istrinya lembut dan langsung pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih badan.
Aditya keluar dari kamar mandi dan sudah tidak melihat Cahya, pintu kamar terbuka dan Cahya masuk membawa nampan berisi jus dan camilan untuknya. Aditya memakai pakaiannya terlebih dulu sebelum menghampiri Cahya yang duduk menunggunya di sofa.
"Mama pergi kemana kok belum pulang??" Tanya Aditya dan mengambil gelas berisi jus lalu meminumnya.
"Apa kau merasa bosan dirumah? Sudah beberapa hari kau tidak kemana-mana?"
"Tidak sama sekali, aku hanya ingin beristirahat saja, perutku besar sekali sudah seperti sedang hamil 9bulan, berjalan sedikit membuatku mudah lelah" Ungkap Cahya. Diusia kandungannya yang semakin besar Cahya memang merasa paling nyaman saat dirumah daripda harus keluar rumah itu hanya membuatnya lelah saja, bahkan kakinya juga sudah mulai membengkak membuatnya semakin malas kemana-mana. Lagipula suasana dirumah sangat mendukung, rumah dikelilingi berbagai tumbuhan hijau yang membuatnya lebih rilex, sesekali dia mengisi waktunya untuk menyiram berbagai tanaman bersama Mama mertuanya dan itu kegiatan yang cukup bisa membuatnya betah berada dirumah.
Suara ketukan pintu kamarnya membuat Cahya dan Aditya menghentikan obrolan mereka. Cahya berdiri dan membuka pintu kamarnya, menemukan Adri yang sepertinya baru saja kembali dari kantor dan berdiri didepan pintu. "Apa aku mengganggu kalian?" Tanya Adri meragu.
"Tidak Adri, apa kau perlu sesuatu? Masuklah"
""Iya kak, tapi tunggu sebentar ya?" Bukannya masuk Adri malah berbalik arah dan berlari ke ruang tamu. Cahya pun sempat bingung dengan tingkah adik iparnya itu, dia hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali ke Aditya dan membiarkan pintu kamarnya tetap terbuka.
Belum sempat Cahya duduk, Adri masuk ke kamarnya sambil membawa boneka berwarna putih dengan berbagai ukuran mulai dari yang terbesar hingga yang kecil terbungkus indah bertali pita merah. Sontak Cahya dan Aditya pun terkejut dengan apa yang dibawa oleh Adri.
Sambil menggaruk-garuk kepalanya, Adri tersenyum malu dan memberikan sepaket boneka itu pada Cahya.
"Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba mengambil ini saat masuk ke toko mainan itu, tadi saat makan siang aku melihat ini terpajang di etalase toko mainan yang ada disamping cafe jadi setelah makan aku langsung ke toko itu dan langsung menentengnya lalu membayarnya, ini hadiah pertama dariku atau mungkin yang terakhir untuk 2 keponakanku nanti kak, mengingat aku tidak ahli dalam memilih hadiah" Gumam Adri malu.
Sambil tersenyum Cahya menerima hadiah itu dengan senang hati lalu memuji Adik iparnya. "Terima kasih Adri, kau manis sekali seperti boneka sapi ini, aku yakin nanti keponakanmu akan menyukai hadiah dari pamannya yang manis ini, boneka sapinya sangat lucu dan banyak, sekali lagi terima kasih"
"Hahahaha tak ku sangka Adikku yang gagah ini ternyata bisa bersikap semanis ini memberikan boneka untuk calon keponakannya hahahaha" Gelak tawa Aditya terdengar diruangan itu, membuat Cahya menyikut pinggangnya agar tidak menertawakan Adri.
"Terima kasih adikku sayang atas hadiahnya, ku yakin kau akan jadi paman yang luar biasa untuk keponakanmu nanti" Ujar Aditya lalu memeluk Adri dan mengucapkan terima kasih padanya. Adri pun ijin untuk ke kamarnya dan mandi.
****
Disisi lain, Elea pulang dengan penampilan barunya, membuat Mama dan Papanya serta Chika terkejut. Ternyata sepulang kantor tadi Elea pergi ke salon dan merubah penampilannya agar lebih fresh dengan memotong rambutnya. Rambut Elea yang awalnya hitam dan panjang kini sudah dipotong sebahu dan diwarnai dengan warna pastel peach yang membuatnya terlihat lebih fresh dan imut.
"Wah kak Elea, kau cantik sekali" Puji Chika.
"Apa ini cocok untukku??"
"Tentu saja, kakak terlihat lebuh fresh dan sangat manis, hidup baru dan semua juga harus dimulai dengan hal baru, seperti penampilan juga, aku sangat menyukainya"
Elea pun memeluk Chika karena merasa senang, semoga dengan ini kehidupannya juga menjadi lebih baru lagi.
****
Cheryl sedang makan malam dengan keluarga Chitra, dia mulai tidak fokus selma makan saat orangtua Chitra mengatakan bahwa besok mereka dan juga Chitra akan pergi keluar kota untuk menengok saudara mereka yang sedang sakit dan akan kembali lusa. Cheryl harus bisa memanfaatkan situasi ini dengan baik untuk bisa melancarkan semua rencananya.
Dia harus bisa mendapatkan kontak Cahya dari ponsel Chitra. Dia sudah mencari kesempatan tetapi Chitra selalu membawa ponselnya kemana-mana. Bagaimanapun caranya, Cheryl harus bisa mendapatkannya, dia harus memikirkan cara agar bisa mendapatkannya karena dia tidak memiliki waktu yang lama lagi.