
Ariel keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobilnya. Ariel menyalakan mobilnya keluar dari parkiran dan hendak masuk ke jalan tetapi kemudian pandangan tertuju kepada dua orang yang baru saja keluar dari coffee shop yang ada di sebrang jalan. Ariel menghentikan mobilnya dan menatap kedua orang itu yang tampak sedang asyik berjalan menikmati minumannya dengan prianya yang tampak memegang pinggang wanitanya.
"Itukan Elea .... Mereka ada disini???" Gumamnya tetapi mencoba memperhatikan lagi dan memang benar itu adalah Danist dan Elea.
Ariel hanya terdiam dan terus memperhatikan keduanya sedang asyik mengobrol sambil berjalan. Tangan Danist seolah tidak melepaskan pegangannya pada pinggang Elea. Bahkan kali ini tampak mereka sedang bercanda dan Danist memindahkan pegangannya yang semula di pinggang Elea kini beralih menggenggam jemari Elea lalu menyebrang jalan.
Tidak ada Gienka bersama mereka, Ariel mulai berpikir bahwa sepertinya mereka ada disini untuk berbulan madu. Dalam diam Ariel terus saja memperhatikan mereka sampai akhirnya mereka berhenti disisi sebuah mobil. Lalu seorang pria membukakan pintu untuk keduanya. Ariel menggerutkan dahinya karena dia mengenal pria itu, itu tidak lain adalah Roland supir pribadi Aditya disini.
Ariel sangat ingat dengan Roland, karena pria itu dulu pernah mengantarnya dan Elea jalan-jalan disini saat bulan madunya.
Mobil yang ditumpangi Elea dan Danist akhirnya meninggalkan kawasan itu. Sementara Ariel mencoba mengikuti mereka.
Dalam perjalanan membuntuti Elea dan Danist, Ariel dilingkupi berbagai pertanyaan tentang keduanya. Tetapi kemudian dia merasa seperti orang bodoh karena mengikuti mobil itu, tetapi dia merasa harus mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya itu apakah keduanya sedang berbulan madu, dan apakah Aditya yang mensponsori keduanya karena ada Roland bersama mereka.
*****
Kyra dan Kyros baru saja tidur, Cahya membaringkan kedua bayi itu di box bayinya lalu kembali membaringkan tubuhnya di sisi Gienka yang juga terlelap sejak tadi. Dan tiba-tiba perlahan Gienka membuka matanya tetapi tidak menangis.
"Ahhh Gienka cantik sudah bangun ya???" Gumam Cahya dan langsung menimang bayi itu dengan lembut. "Anak pintar, bangun tidur tetapi tidak menangis, sebentar ya Mama sedang pergi keluar membeli sesuatu dan akan segera kembali" Gumam Cahya lagi dan mengajak Gienka keluar kamar.
Aditya sedang sibuk dengan laptopnya di meja makan, Cahya pun menyuruh suaminya itu untuk pergi ke kamar dan menjaga kedua bayinya. Sementara dia akan mengajak Gienka ke halaman belakang agar bayi itu tidak menangis, karena Elea sudah memberitahunya jika saat ini sedang dalam perjalanan pulang.
Cahya menggendong dan menimang Gienka sambil bersenandung juga menunjuk kearah kawanan sapi yang sedang memakan rumput di kejauhan.
"Kau lihat sayang, disana ada.... Satu dua tiga empat lima enam, hhhmmm ada enak ekor sapi yang begitu gemuk sedang asyik memakan rumput disana, lihatlah, bagaimana kalau kita kejar mereka" Gumam Cahya sambil lari di tempat dan membuat Gienka tertawa.
Danist dan Elea akhirnya sampai di rumah Aditya, mereka langsung turun. Elea sejak tadi merasa tidak tenang karena meninggalkan Gienka, juga takut putrinya itu rewel dan menyusahkan Cahya. Saat pintu dibuka oleh Aditya, Ele dan Danist dipersilahkan masuk dan dia akan memanggil Cahya di belakang karena Gienka sudah bangun dan sedang di ajak bermain agar tidak menangis.
"Apakah dia merepotkanmu Ca???" Tanya Elea. saat Cahya muncul dari dalam membawa Gienka yang sudah bangun.
"Tidak! Di baru saja bangun dan tidak menangis sama sekali" Ucap Cahya dan memberikan bayi itu pada ibunya. "Kau sudah dapatkan semua yang kau butuhkan???"
"Sudah Ca, hanya diapers dan beberapa kebutuhan Gienka saja" Gumam Elea.
Cahya hendak beranjak untuk membuatkan Elea dan Danist minum tetapi keduanya menolak dengan alasan akan langsung pulang saja. Aditya dan Cahya mengantar Elea dan Danist sampai di depan rumah lalu menyuruh Roland agar mengantar keduanya pulang.
Dari kejauhan Ariel masih diam di dalam mobil memandang kearah rumah Aditya. Dia sendiri bingung dengan apa yang sebenarnya dia tunggu, karna bisa jadi Elea dan Danist memang tinggal disana selama bulan madu mereka dan mungkin Aditya yang menyuruh mereka.
"Ya Tuhan, aku seperti penguntit bodoh yang tidak memiliki pekerjaan, lebih baik aku pergi dari tempat ini dan membiarkan mereka menikmati kebahagiaannya, mungkin mereka sengaja meninggalkan putriku di rumah agar bisa bersenang-senang disini" Gumam Ariel lalu menyalakan mobilnya.
Tetapi kemudian yang tidak di duganya adalah Elea dan Danist keluar dari rumah itu, dibelakang mereka ada Aditya juga Cahya. Elea menggendong Gienka di pundaknya.
"Apa yang ada di gendongan Elea adalah Gienka?? Dan ternyata Aditya dan Cahya juga ada disini" Gumam Ariel lagi.
Elea dan Danist pun masuk mobil dan meninggalkan rumah Aditya. Bagi Ariel ini sudah cukup, dia tidak ingin lagi terlihat bodoh dengan terus mengikuti kedua pasangan yang sedang berbahagia itu. Dengan perasaan sedih dan campur aduk, Ariel menyalakan mobilnya dan memilih untuk pulang saja.
****
Bukannya pulang, Ariel justru menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di dekat Danau. Ariel menundukkan wajahnya di setir mobil dengan sedih. Menyadari semuanya memang sudah berakhir, Elea sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Tadi dia melihat Elea tertawa bahagia bersama Danist.
Melihat Gienka di gendongan Elea, Ariel ingin sekali berlari dan memeluk putrinya itu tetapi dia harus menahannya. Ini belum saatnya dia untuk menemui putrinya itu. Ariel kembali menitihkan airmatanya mengingat Gienka. Seburuk apapun perilakunya tetapi dia tetap seorang Ayah yang sedang merindukan putrinya. Gienka pasti akan bahagia hidup bersama Elea, dan tugasnya sebagai seorang ayah adalah tetap harus memastikan kebutuhan putrinya terpenuhi dengan baik. Dan yang paling penting harus menghargai keputusan Elea tentang bagaimana dia akan merawat Gienka. Ariel benar-benar sangat merindukan bayi itu, setiap mengingatnya dia selalu menitikah airmatanya dan tetap berusaha menahan dirinya sampai waktu yang dia rasa pas akan tiba.
Sudah berakhir memang semuanya sudah berakhir saat dia melakukan kesalahan besar mengkhianati Elea. Sudah mengatakan banyak hal buruk kepada perempuan itu, meninggalkannya dengan begitu kejam. Elea pasti sangat menderita dengan semua luka yang sudah dia tinggalkan dulu. Dan bahkan dulu dia tidak berusaha untuk mencari tahu keberadaan Elea. Semua sangat terlambat saat mengetahui kenyataannya, Elea sudah tidak lagi mau kembali kepadanya, menolaknya dengan tegas sampai Gienka lahir pun Elea tetap tidak mau kembali dan justru memilih laki-laki lain sebagai suaminya. Laki-laki yang selama ini dia dengar telah banyak melakukan kebaikan dan membantu Elea.
Ariel merasa kini dirinya lah yang bergantian mengalami penderitaan yang begitu dalam, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi kepada Elea. Seolah memang benar apa yang sering dikatakan orang bahwa hukum karma itu memang ada.
Ariel memukul keras setir mobilnya dan berteriak karena kesal dengan dirinya sendiri.