
Akhirnya semua kembali ke rumah setelah liburan selama 3 hari 2 malam. Sesampainya dikamar Aditya langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Cahya menyiapkan pakaian untuknya. Sambil menunggu Aditya mandi, Cahya merasa sangat lapar tetapi malas untuk makan lalu mengambil cokelat yang ada laci, dia masih menyimpan banyak cokelat faforitnya yang dia beli di Swiss. Dengan lahap Cahya memakan cokelat itu diatas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Tak terasa 3 bungkus Cokelat itu habis menyisakan seperempat dan dia tertidur dengan posisi berbaring sambil memegang cokelat dan ponsel dikedua tangannya.
Aditya keluar dari kamar mandi, melihat Cahya tertidur membuatnya hanya tersenyum memaklumi kebiasaan istrinya. Setelah berganti pakaian, Aditya menghampiri Cahya untuk membenarkan posisi tidur istrinya. Dia dibuat terkejut ketika melihat bungkus cokelat ada disamping Cahya dan ditangannya juga masih ada sisa cokelat yang belum habis.
"Astaga, dia makan cokelat dikasur dan ditangannya juga masih tersisa, ini bisa mengundang semut, ceroboh sekali tuan putri ini"
Aditya mengambil bungkus cokelat, ponsel dan sisa cokelat yanga da ditangan Cahya. Aditya memakan sisa cokelat milik Cahya lalu menata posisi tidur istrinya itu dan menyelimutinya.
***
Aditya pergi ke halaman belakang untuk mencari udara segar disana dan melihat Adri sedang duduk sendiri di gazebo. "Ku kira kau sedang beristirahat, ternyata malah melamun disini " Aditya mendekati adiknya dan membuatnya sedikit terkejut.
"Kau mengagetkanku saja kak"
"Apa yang sedang kau pikirkan?? Apa kau sedang bertengkar dengan Chika?"
"Tidak kak, kami baik baik saja"
"Lalu apa yang mengganggu pikiranmu? Kau tidak seperti biasanya seperti ini, kulihat kemarin kau sangat bahagia menikmati liburan, kenapa sekarang kau seperti sedang memikirkan sesuatu, katakan padaku mungkin aku bisa membantumu"
"Bisakah nanti setelah makan malam kita bicara, aku ingin bicara denganmu dan juga papa" Adri berdiri dan meninggalkan Aditya.
Aditya bingung dengan Adiknya, apa yang sebenarnya ingin dibicarakan dengannya dan Papanya, tidak biasanya dia bersikap seperti itu. Tetapi Aditya mencoba untuk berpikir positif mungkin saja Adiknya nanti akan membicarakan tentang wisudanya minggu depan.
****
Setelah makan malam, Aditya, Adri dan Papanya masuk ke ruang kerja untuk membicarakan perihal Adri. Cahya menunggu Aditya yang belum juga kembali ke kamar padahal sudah jam 9, entah apa yang sedang dibicarakan oleh para lelaki dirumah ini.
Aditya akhirnya kembali ke kamarnya, Cahya ternyata sudah tertidur. Aditya mengganti pakaiannya dan menyusul Cahya untuk tidur. Dia merasa sangat kesal dengan sikap adiknya, dan bingung kenapa dia bisa memikirkan hal seperti itu. Terlalu kalut memikirkan Adri, Aditya akhirnya tertidur juga.
Cahya lagi lagi terbangun ditengah malam, kali ini dia merasa lapar dan ingin memakan es krim. Cahya turun ke bawah dan berjalan menuju dapur untuk mencari es krim. Saat membuka kulkas ternyata dia tidak menemukannya padahal dia sangat menginginkannya.
Cahya kembali ke kamarnya dengan raut wajah sedih, bagaimanapun dia harus mendapatkan es krim saat ini juga. "Adit, bangun.... Dit.... Bangun sayang" Ucapnya seraya menggoyangkan badan suaminya agar bangun, tetapi Aditya terlalu pulas hingga tidak membuka matanya sama sekali.
"Aaaaarrrggghhhh" Aditya berteriak dan bangun dengan perasaan terkejut. Cahya sedang berjongkok disisi tempat tidur dan melepaskan tangan Aditya.
"Sejak tadi aku membangunkanmu tapi kau tidak mau bangun"
"Ada apa, kenapa membangunkanku ini masih jam 1, apa kau sedang ingin??? Ayo sini" Aditya menarik tangan Cahya dan membawanya ke pangkuannya.
"Ih bukan itu, aku lapar dan ingin makan es krim tetapi aku tidak menemukannya dikulkas, ayo antar aku membelinya"
"Astaga, ini sudah malam sayang, besok saja ya, ayo tidur"
Aditya akhirnya membawa Cahya pergi untuk mencari es krim, karena istrinya itu tidak berhenti berbicara dan terus memaksanya untuk dibelikan es krim. Beruntungnya minimarket didekat tempat tinggalnya buka 24jam jadi dia dan Cahya tidak perlu pergi jauh untuk membelinya.
****
Cahya mengambil aneka Es krim berbagai rasa, selain itu juga mengambil aneka makanan ringan. Dan lagi lagi Aditya hanya diam serta keheranan melihat tingkah istrinya. Setelah mendapatkan semua yang diinginkannya, Cahya terlihat sangat senang. Aditya membayar semua belanjaan istrinya dan mereka kembali ke mobil.
Sekali lagi Cahya meminta hal yang aneh pada Aditya. Kali ini dia tidak ingin langsung pulang tetapi mengajak Aditya untuk berhenti ditepi jalan karena dia ingin makan es krim didalam mobil. Aditya hanya pasrah menuruti keinginan istrinya walaupun saat ini dia sangat mengantuk.
Cahya memberikan sebuah es krim pada Aditya. "Makan ini dan jangan menggerutu terus-terusan, apa kau mau nanti membiarkan anak kita ileran karena kau tidak menuruti keinginanku, dan aku juga penasaran dengan apa yang kau obrolkan dengan papa dan Adri tadi, lama sekali kau tidak kembali"
"Adri, entah ada apa dengannya, kemarin dia baik-baik saja, tapi tadi dia banyak mengatakan hal yang menurutku tidak masuk akal dan aneh"
"Maksudmu apa??"
"Aku juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, dia berbicara harga diri, dia berbicara tentang membalas budi padahal tidak pernah sekalipun terbesit dipikiranku untuk menuntut balas budi darinya kuyakin Mama dan Papa juga tidak pernah membedakan kami berdua, rasa sayang mereka terbagi dengan rata, bahkan Mama sangat menyayangi Adri lebih dari sayangnya padaku, kurasa Papa pasti sangat sedih mendengar semua yang dikatakannya tadi, bahkan dia mengatakan akan pergi meninggalkan kami dan mencari pekerjaan diluar negeri agar tidak merepotkan kami lagi"
"Bebarkah Adri berbicara seperti itu?"
Aditya kemudian menceritakan semuanya, bagaimana Adri mengatakan ingin membalas semua kebaikan yang diterimanya selama ini dari orangtua Aditya,karena takut jika suatu saat nanti Aditya akan menuntutnya karena yang lebih berhak atas semuanya adalah Aditya bukan dirinya. Bahkan Adri juga mengatakan jika selama ini sikap semua orang padanya hanya dilandasi rasa kasihan bukan cinta atau kasih sayang.
"Aku tidak tahu Ca, kenapa adikku berbicara melantur seperti itu, kami tumbuh bersama dia mendapatkan kasih sayang yang sama dari Papa dan Mama, aku masih ingat saat pertama kali mereka membawanya pulang ke rumah serta mengatakan jika Adri adalah adikku aku sangat bahagia, aku memeluknya dan berusaha menjadi kakak yang baik untuknya sampai saat ini, bagaimana bisa dia meninggalkan kami semua, perusahaan itu Papa dirikan untukku dan untukknya, aku membantu papa dan suatu saat nanti Adri juga akan ikut serta membantu diperusahaan itu, kenapa bisa dia berpikir mencari pekerjaan ditempat lain?"
Tangis Aditya pecah, perasaannya hancur melihat sikap Adri yang entah kenapa bisa seperti itu. Cahya memeluk suaminya dan mencoba menenangkannya. Besok dia harus bertanya pada Chika tentang Adri, kenapa bisa bersikap seperti itu. Cahya juga memikirkan bagaimana perasaan Papa mertuanya saat ini pasti tidak kalah hancurnya dengan perasaan Adri, lalu bagaimana juga dengan Mama mertuanya jika mendengar ada permasalahan seperti ini yang terjadi pada Adri pasti dia akan sangat sedih.