
Ariel tersenyum. "Lupakan tentang hal itu, bagaimana? Kau beneran tidak mau pindah ke rumah Ayah???" Setidaknya untuk sementara sampai kondisimu benar-benar baik..!"
"Tidak Iel, lebih baik kau saja, itu rumah orangtuamu, pasti banyak kenangan kalian disana!"
"Oh iya, aku kemarin sudah menghubungi pengacara untuk mengurus lagi pembagian aset Ayah, aku ingin kita berdua membaginya. Ya seperti awal sebelum Ayah menulis wasiatnya, 50:50, aku sadar betul Ayah melakukan itu untuk kita berdua, jadi aku tidak mau egois, bahkan mungkin kau bisa memiliki lebih besar daripadaku"
Danist meletakkan buku yang di pegangnya ke atas meja dan menoleh ke arah Ariel, menatap adiknya itu dengan tatapan melembut. "Kenapa membaginya lagi? Itu sudah wasiat dari Ayah, urus saja semuanya karena aku yakin kau bisa mengatasinya, kau sangat cerdas dan kompeten, uruslah dengan baik Iel, jangan kecewakan Ayah lagi, kau kebanggaannya, semua itu pasti sudah dia pikirkan matang-matang"
"Tidak kak, kau juga punya hak disana, ayolah bekerja sama denganku, Ayah pasti akan lebih bahagia jika kita berdua melakukannya"
Danist menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Hidupku saat ini sudah lebih dari cukup Iel, impianku sudah terpenuhi, memiliki rumah dari hasil kerja kerasku, bekerja ditempat yang sangat aku sukai dan kerja kerasku juga sudah membuatku mendapatkan semua yang aku inginkan, aku ingin mempertahankan apa yang ada karena itu adalah bagian dari kepuasan hidupku, aku pikir kau lebih mampu untuk menjalankan itu semua, bisnis keluarga kalian begitu besar, dan kecerdasanmu selama ini membuat itu semakin luar biasa di mata orang, semua itu adalah hakmu dan Gienka, aku ingin kau mempersiapkan Gienka dengan baik agar bisa membantumu mengurus perusahaan itu nantinya"
"Tidak.....!!!! Kau harus mengurusnya denganku...! Lusa mungkin berkas sudah beres kau harus menandatanganinya bersamaku"
"Iel....!!!! Aku tidak akan menandatangani apapun karenaaku sudah melakukannya kemarin, tinggal kau saja yang belum tanda tangan di wasiat Ayah, tidak... Aku tidak akan melakukan apapun, karena aku sudah melakukannya di depan Ayah...! Jangan memaksaku, atau aku tidam akan menganggapmu adik lagi, karena kau memaksaku untuk melakukan kehendakmu padahal aku tidak ingin melakukannya!" Danist kemudian beranjak dari sofa dan duduk di kursi rodanya lalu berpamitan untuk beristirahat dikamar. Saat Ariel ingin mengantarnya, Danist menolak dan meminta Ariel duduk saja karena sedang membawa Friddie. Danist memilih berpura-pura pergi dengan wajah sedikit kesal, agar Ariel tidak lagi memaksakan kehendaknya.
Ariel menatap kepergian Danist dalam diam, keinginannya ternyata dtolak oleh Danist. Tetapi jika dia tetap memaksa, sudah pasti Danist akan marah. "Apa yang harus aku lakukan ya???" Gumamnya.
*******
Beberapa hari kemudian.....
Mobil Brianna kembali memasuki kompleks cluster Supernova, ya semalam Ariel menghubunginya agar siang ini bisa datang untuk memeriksa Gienka lagi. Brianna ingin menolaknya karena dia takut kehadirannya akan ditolak oleh keluarga Danist mengingat apa yang terjadi kemarin. Tetapi yang meminta adalah Ariel dan lelaki itu memohon dengan sangat, agar dia bisa datang untuk bertemu dengan Gienka. Hanya sekali saja, itu yang diucapkan oleh Ariel. Dengan keterpaksaan dan merasa Ariel dulu adalah temannya, Brianna pun menyanggupinya untuk datang.
Satu persatu dia melewati rumah disekelilingnya hingga akhirnya sampai di rumah deret terakhir. Disisi kiri jalan adalah rumah Danist, sementara di kanan jalan adalah rumah Ariel. Sejenak Brianna berhenti didepan rumah Danist, menoleh ke arah rumah itu dalam diam dan teringat apa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Setelah kejadian itu dia merasa sangat sedih sekali dan beberapa hari selalu menangis. Baginya hubungannya dengan Danist belum pernah berakhir meskipun dia sudah meninggalkan lelaki itu, serta setiap hari masih selalu berharap bahwasannya Danist akan kembali lagi dengannya. Cintanya begitu besar untuk lelaki itu.
Brianna menitihkan airmatanya, lalu menyekanya dengan cepat dan membelokkan mobilnya ke arah rumah Ariel. Kenyataan bahwa Danist sudah memiliki istri dan anak itu tidak akan pernah merubah cintanya untuk lelaki itu. Mobil Brianna masuk ke halaman rumah Ariel, kemudian dia turun disana. Dan terdengar suara dari atas yang menyapanya. Ariel berdiri disana sambil tersenyum ke arahnya dan bergegas turun.
"Hai Ann, syukurlah kau benar-benar mau datang, apa kabarmu???" Tanya Ariel.
Ariel tersenyum. "Masuklah dulu, dia sudah menunggumu di belakang, kau bisa menanyakan langsung kepadanya nanti"
Ariel kemudian mengajak Brianna masuk ke dalam rumahnya lewat garasi agar lebih cepat sampai ke halaman belakang. Sampai diruang keluarga, Ariel menyuruh Brianna ke kolam renang karena disana dia sudah ditunggu, dan akan memberi waktu untuk mereka bisa berbicara berdua. Ariel pun meninggalkan Brianna di ruang keluarga dan naik ke lantai dua. Perlahan Brianna melangkah ke arah kolam renang yang tampak sepi, saat berada di tengah pintu antara ruang keluarga dan halaman belakang dia tidak melihat Gienka atau siapapun ada disana, tetapi kemudian di pojokan ada ada kursi serta meja juga seseorang yang sedang duduk di kursi roda memandang ke arahnya dan tersenyum.
Ya, itu adalah Danist. Lelaki itu melempar senyum ke arah Brianna dan meminta Brianna agar bisa duduk di kursi yang ada disebelahnya. Danist memang sengaja meminta bantuan Ariel agar menghubungi Brianna dan meminta agar perempuan itu bisa datang dengan alasan Gienka, karena tentu saja niatnya untuk bertemu Brianna adalah menyelesaikan apa yang belum mereka selesaikan dulu.
"Dimana Gienka??? Ariel bilang padaku untuk membantu Gienka lagi!!" Tanya Brianna.
"Gienka tidak ada disini, dia ada dirumah pak Aditya, sedang bermain dengan anaknya disana, kemarilah Ann, duduk disini"
Perlahan Brianna melangkah mendekati Danist, dan ketika
sampai, Danist mempersilahkannya untuk duduk. "Sudah lama kita tidak bertemu ya Ann??? Aku senang kau dalam keadaan baik-baik saja. Kemarin kita belum sempat berbicara karena kau buru-buru pergi, duduklah...." Ucap Danist.
Brianna duduk dengan mata berkaca-kaca menatap Danist, tetapi sebuah senyum tipis mengembang di bibirnya. "Aku juga senang melihatmu sudah dalam keadaan baik..!" Ujar Brianna.
"Aku minta maaf jika kemarin Mama sempat mengatakan hal buruk padamu, maaf ya Ann??" Danist kembali tersenyum, kemudian menghela napasnya. "Well.. Aku mengerti kenapa kau melakukan itu saat di rumah sakit, tapi lupakan saja hal itu, jadi pergi kemana kau selama ini???" Tanya Danist.
Brianna diam, tetapi airmatanya kembali menetes. "Aku pergi agar kau mencariku, tapi kau tidak pernah datang mencariku, aku menunggumu selama bertahun-tahun dan saat bertemu denganmu, kau sudah...!" Brianna mulai terisak.
"Bagaimana bisa aku mencarimu, kau hilang begitu saja tanpa ada kabar sama sekali, kau pergi dalam keadaan begitu marah kepadaku hanya karena aku menolak keinginanmu, ya awalnya aku pikir kau akan marah sebentar saja seperti biasanya, aku berpikir mungkin kau memang butuh waktu untuk menenangkan dirimu, tetapi sampai satu minggu kau benar-benar tidak ada kabar, aku mulai panik, bertanya kesana kemari tetapi tidak ada seorangpun yang tahu keberadaanmu" Ucap Danist kemudian memutar kursi rodanya dan menjalankannya mendekati ke tepi kolam renang, menatap nyalang ke langit.
"Berbulan-bulan aku mencarimu, menanyakan ke semua orang yang kita kenal, tapi jawaban mereka sama, mereka tidak tahu kau ada dimana, dunia ini begitu luas Ann, lalu dimana aku bisa mencarimu, disudut mana??? Lagipula saat itu aku juga harus disibukkan mencari pekerjaan setelah lulus, ditengah usahaku mencarimu, tiba-tiba suatu hari saat aku tengah makan siang bersama Mama, rumahku diketuk, dan ketika aku membukanya aku melihat beberapa polisi berdiri di depan dan kedua orangtuamu ada dibelakang mereka, para polisi itu menunjukkan surat penangkapan terhadapku lalu membawaku bersama mereka"
"Apa...???!!!?" Seru Brianna terkejut.