
Aditya melihat seorang pria cukup tampan berkemeja putih dan celana oanjang warna khakhi serta berkacamata hitam, berbadan tegak dan lebih tinggi darinya sedang tersenyum menatap Cahya. Aditya berpikir bahwa pria itu ingin mengganggu istrinya, dia hendak melindungi istrinya tetapi sedetik kemudian Cahya justru memeluk pria itu dengan erat dan pria itu juga membalas pelukan Cahya. Sontak Aditya tertegun sejenak melihat apa yang ada dihadapannya. Lebih terkejut lagi saat mereka melepaskan pelukannya, pria itu justru mendaratkan ciuman dikening Cahya.
Amarah Aditya mulai memuncak, berani-beraninya pria itu mencium istrinya didepannya dan Cahya juga benar-benar kelewatan membiarkan seorang pria menciumnya. Dengan penuh amarah Aditya mulai mengepalkan tangannya dan ingin sekali memukul pria itu tetapi langkahnya terhenti saat mendengar Cahya bersuara.
"Kakak datang kesini dan tidak mengabariku? Kau jahat sekali"
"Jika aku mengabarimu tidak akan surprise, kau semakin cantik setelah menikah, itu pasti suamimu?"
Pria itu menghampiri Aditya dan mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya dan Aditya juga menerima uluran tangan pria itu.
"Aku Yongki, aku sepupunya Cahya"
"Aku Aditya"
"Aditya, aku telah mendengar banyak hal baik tentangmu, senang akhirnya bisa bertemu denganmu, kau benar-benar luar biasa ternyata, maafkan aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian, karena aku harus bertugas menjaga perbatasan di Kalimantan"
"Dia seorang Tentara" Ucap Cahya.
"Wow, pantas saja itu terlihat dari postur tubuhmu"
"Apa aku terlalu mencolok? Ah disini mulai panas, acara juga sepertinya masih lama, lebih baik kita mencari tempat untuk mengobrol, tadi aku melihat didepan sana ada Cafe bagaimana kalau kita kesana?" Ucap Yongki yang langsung disetujui oleh Cahya.
Yongki pun mengajak Aditya dan Cahya berjalan menuju Cafe yang terletak tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Yongki berjalan sambil memeluk Cahya dan mereka mengobrol sambil bercanda.
"Suamimu sangat tampan, dia juga terlihat baik, kau sangat pandai memilih suami, aku bangga padamu" Bisik Yongki pada Cahya.
"Kakak dulu pernah bilang padaku bahwa aku harus bisa memiliki suami yang tampan, dan aku memenuhi keinginanmu"
"Tentu saja kau harus melakukannya, selain tampan dia juga seorang CEO perusahaan besar, kudengar dia sangat mencintaimu ternyata itu memang benar setelah aku bertemu dengannya, kau sangat beruntung dan aku bangga denganmu"
Mereka berdua tertawa bahagia dan Yongki tetap tidak melepaskan pelukannya pada Cahya. Sedangkan Aditya berjalan dibelakang mereka dengan wajah kesal karena bisa-bisanya Yongki memeluk istrinya dihadapannya dan tidak memperdulikan kehadirannya. "Walau dia seorang Kakak sepupu tapi harusnya mereka tidak berlaku seperti itu padanya, memeluk Cahya itu sangat berlebihan" Gerutu Aditya dalam hati.
***
Akhirnya mereka bertiga sampai di Cafe, Yongki memilih Sofa sebagai tempat untuk mereka duduk agar Cahya merasa lebih nyaman karena dia tahu bahwa Cahya sedang hamil. Yongki memanggil pelayan dan memesan makanan serta minuman. Sedangkan Aditya masih diliputi kekesalan karena sejak tadi Cahya tidak bisa jauh dari Yongki, bahkan duduk saja mereka bersebelahan.
"Well, aku sudah mendengar semua yang sudah terjadi pada kalian, aku sangat sedih menerima kenyataan bahwa rumah tempat dimana saat kecil aku menghabiskan waktuku bermain dengan Cahya habis terbakar, dan aku harus menerima kabar juga bahwa kalian juga telah kehilangan calon bayi kalian bahkan Cahya sampai mengalami trauma yang mempengaruhi kesehatan mentalnya, ini benar-benar terdengar sangat buruk tetapi luar biasa kalian berdua bisa melewati semua ini"
"Menghabiskan waktu bersama Cahya saat kecil?" Tanya Aditya.
Saat Yongki belum selesai berbicara, Cahya langsung menyela. "Dan juga kami pastinya saling menyayangi, dan kau tahu Dit, dia selalu menggendongku saat kecil dan menenangkanku saat aku menangis, dia seperti seorang superhero yang selalu menjagaku setiap waktu bahkan dulu aku pernah memintanya untuk menjadi kekasihku dan suamiku, sayangnya saat dewasa dia mendapat tugas yang jauh jadi terpaksa kita berpisah dan aku tidak bisa menjadi kekasihnya, aku mencari pelarian bersama Theo dan sekarang aku terjebak menikah denganmu, sayang sekali padahal kau lihatlah, kakakku ini sangatlah tampan, gagah dan mempesona sangat sesuai dengan kriteriaku"
Wajah Aditya langsung berubah seketika mendengar semua perkataan Cahya, sedangkan Yongki merasa bingung kenapa bisa Cahya berbicara seperti itu pada suaminya. Yongki mencoba untuk meralat ucapan Cahya takut Aditya akan salah paham dengannya tetapi Cahya menyikut perutnya dan mengisyaratkan sesuatu padanya agar tidak mengatakan apapun pada Aditya.
****
Aditya berpamitan untuk ke toilet, amarahnya sudah memuncak, Cahya jahat sekali padanya mengatakan hal seperti itu dihadapannya dan terus saja bercerita tentang kebersamaannya dengan Yongki saat mereka kecil. Sedangkan Cahya tertawa melihat kepergian Aditya membuat Yongki semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan Cahya. "Cahya, apa kau sudah tidak waras, apa kau tidak lihat wajahnya memerah menahan marah, suamimu bisa membunuhku, kenapa kau sembarangan saja merangkai cerita seperti itu padanya?"
Cahya akhirnya menceritakan pada Yongki bahwa dia sedang kesal karena ulah Aditya yang bertemu dengan sahabat lamanya berakibat dia diabaikan oleh suaminya. Yang akhirnya membuatnya merasa kesal dan marah pada suaminya itu dan ini kesempatan yang bagus untuk membalas Aditya.
"Ya Tuhan Cahya, kau ini, iya kau senang dan aku yang dalam masalah bagaimana jika Aditya menjadi marah kepadaku?"
"Tenanglah kakak, itu tidak akan terjadi, dan bantu saja aku, oke?"
"Terserah kau saja, tapi ingat kau jangan berlarut-larut dalam kekesalanmu itu akan memperburuk keadaanmu dan Aditya, dan kau kesal karena kau cemburu dan cemburu adalah tanda cinta, kau sangat mencintainya bukan?"
"Tentu saja kak, aku sangat mencintainya, dia adalah superhero ku yang sebenarnya"
"Dia juga terlihat sangat mencintaimu, cepat selesaikan permasalahn kalian jangan berlarut-larut, kau juga sedang hamil jaga dengan baik" Yongki memberikan Cahya pelukan penuh kasih sayang sebagai seorang kakak untuk adiknya.
Aditya kembali dari toilet dan sekali lagi dia melihat Yongki memeluk Cahya. Aditya tidak berhenti mengumpat dalam hatinya tetapi tetap mencoba untuk tenang. Dia lalu mengajak mereka berdua untuk kembali karena sepertinya sebentar lagi acara selesai. Lagi dan lagi, saat mereka bertiga berjalan, Yongki tetap memeluk Cahya dan mengabaikan Aditya.
Acara sudah selesai dan mereka bertiga sedang menunggu adik dan orang tuanya keluar dari gedung. Aditya dan Cahya sudah menyiapkan hadiah untuk Adri dan Chika, begitu juga dengan Yongki dia sedang mengambil hadiahnya dimobil.
Yang ditunggu akhirnya tiba, kebahagiaan terlihat diwajah Chika dan Adri. Cahya dan Aditya memberikan selamat kepada adiknya. Yongki juga akhirnya datang memeluk Chika dan Adri memberikan mereka selamat. Mereka mengobrol sambil menunggu Adri dan Chika yang sibuk berfoto dengan teman-temannya. Sampai akhirnya ketika dirasa cukup dan juga sudah selesai berfoto bersama, Aditya memutuskan pergi untuk makan siang.
***
Setelah makan siang, Paman Cahya mengajak Yongki untuk segera pulang lebih dulu karena khawatir jika terlalu lama meninggalkan ibu Yongki dirumah yang sedang sakit. Sedangkan Aditya dan keluarganya juga akan kembali ke hotel karena tidak memungkinkan jika langsung pulang mengingat Cahya sedang hamil dan seharian ini dia belum beristirahat. Aditya juga mengatakan pada Paman Cahya bahwa besok sebelum kembali, ia dan keluarganya akan mampir. Setelah berpamitan, lagi-lagi Yongki memeluk Cahya dan mencium kepalanya, hari ini Aditya benar-benar merasa jika emosinya dikuras habis-habisan karena Yongki.
Dalam perjalanan menuju hotel, Cahya masih saja tidak mau berbicara pada Aditya membuat laki-laki itu merasa sangat sedih. Dan sampailah akhirnya mereka dihotel, Cahya langsung membaringkan tubuhnya diranjang merasa sangat lelah dan Aditya duduk disamping Cahya yang membelakanginya.
"Sayang, kamu itu istriku kenapa kau tidak menjaga dirimu, walaupun Yongki itu sepupumu tapi sangat tidak pantas kalau kalian terus berpelukan seperti itu, kenapa kau tidak memperdulikanku padahal aku ada dihadapanmu, kau sibuk dengannya dan harusnya kau menjaga ucapanmu, simpanlah cerita masa kecil kalian sendiri kenapa kau menceritakannya padaku? Kau sangat tidak menghargai perasaanku sebagai suamimu"
Cahya membalikkan badannya dan menatap tajam kearah Aditya. Cahya menggerakkan matanya seolah menelusuri tubuh Aditya dari perut sampai kepalanya dengan pandangan sinis dan menuduh.
"Adit, apa kau saat ini sedang sakit kepala?"