
Cahya duduk di sofa dan menyusui Kyra, hanya diam tidak memperdulikan Aditya sama sekali. Sedangkan Aditya hanya menatap istrinya dengan tatapan sedih berharap agar perempuan itu mau memaafkannya. Melihat Cahya tidak mau berbicara dengannya itu sangat menyebalkan, Aditya lebih suka jika Cahya memarahinya daripada didiamkan seperti ini.
"Sayang, kita pergi keluar untuk jalan-jalan kalau nanti anak-anak sudah bangun, kita belanja baju buat anak-anak dan juga mainan, bagaimana? Kau mau kan??" Aditya sekali lagi membuka pembicaraan dengan Cahya dan tetap tidak mendapat jawaban atau respon apapun.
"Sayang.....!!! Aku mohon berbicaralah kepadaku, jangan seperti ini terus, aku minta maaf aku telah melakukan kesalahan, please maafkan aku, jangan menyiksaku seperti ini terus"
Kyra sudah terlelap, Cahya beranjak dari sofa dan langsung membaringkan putrinya iti ke box bayi nya lalu pergi keluar kamar meninggalkan Aditya. Lagi dan lagi Aditya diabaikan oleh istrinya, kali ini dia benar-benar merasa sangat kesal dengan keadaannya. Hukuman Cahya kali ini sangat menyiksa dirinya.
"Aaarrrggghhhhhh!!!!" Aditya setengah berteriak.
Cahya turun dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Disaat yang bersamaan ternyata mertua nya baru pulang dari liar kota. Cahya langsung menghampiri kedua nya dan mencium tangan mereka.
"Maaf ya sayang, kemarin Mama harus ninggalin kamu sendirian dirumah, apa kamu kerepotan?"
Cahya tersemyum menggelengkan kepalanya. "Tidak Ma, anak-anak sama sekali merepotkan"
"Sedang apa kedua cucu mama sekarang?"
"Mereka ada dikamar bersama Adit, sedang tidur Ma"
"Mama ke kamar bersih-bersih badan dulu"
******
Setelah membuat jus, Cahya membawanya naik ke kamarnya dan duduk di balkon kamarnya. Sementara Aditya tertidur di kamar bayinya, semalam dia tidak tidur sama sekali karena Cahya merah kepadanya membuatnya gelisah sepanjang malam.
Cahya duduk terdiam menikmati jus nya dengan semilir angin yang menerpa nya. Hatinya masih dilingkupi kekecewaan mengingat apa yang terjadi kemarin hingga membuatnya harus melakukan hal yang bisa memberikan efek jera kepada Aditya. Bukan tidak mau memaafkan tetapi Cahya hanya ingin agar suaminya itu bisa merubah kebiasaan buruknya berteriak saat sedang marah, terlebih dirinya sangat benci dengan orang yang berteriak didepannya. Cahya meyakini bahwa setiap masalah itu bisa diselesaikan dengan baik tidak harus dengan berteriak, apalagi yang diteriaki adalah orang yang tidak melakukan kesalahan, bagi Cahya itu sangat fatal dan melukai.
Cahya juga menyesalkan sikap Aditya yang marah hanya karena kamar berantakan, seharusnya lelaki itu mengerti bahwa dirumah nya memang ada bayi, dan harusnya juga mengerti bahwa istrinya ini tidak hanya mengurus seorang bayi tetapi dua bayi sekaligus. Selama ini Cahya juga merasa tidak pernah sekalipun mengeluh atau merasa lelah menggurus bayinya, karena baginya semua adalah tanggung jawab sebagai seorang ibu dengan segala hal yang ada diahadapannya walaupun melelahkan tetapi dia menjalaninya dengan penuh ke ikhlasan. Baginya melihat kedua bayinya yang begitu lucu dan menggemaskan sudah cukup mengobati rasa lelahnya, tetapi kemarin suaminya justru memperlakukannya dengan tidak baik.
*****
Karena Aditya tampak terlelap dikamar bayi mereka, Cahya memilih duduk disofa kamarnya dan menyalakan televisi. Beberapa saat kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya, Cahya beranjak dan membuka nya. Yongki berdiri didepannya sambil tersenyum, Cahya kemudian menyuruh kakak sepupu nya itu untuk masuk.
"Kakak rapi sekali, mau pergi kemana?" Tanya Cahya.
"Aku ingin pergi keluar sebentar, pengen ngopi diluar, Adit mana aku ingin mengajaknya jika dia tidak repot"
"Itu dia, sedang tidur, kakak mau aku membangunkannya?"
"Tidak perlu, dia sepertinya lelap srkali aku tdak ingin mengganggunya, aku akan pergi sendiri, oh ya aku ingin ke Sunshine cafe, aku tahu kau menyukai minuman disana, itu sebabnya aku ingin menawarimu apa kau ingin menitip sesuatu dari tempat itu?"
"Kakak sangat pengertian haha, hmmm aku menyukai Soy Matcha Latte mereka, belikan itu saja"
Cahya menutup pintu dan kembali melanjutkan menonton televisi sambil menunggu bayinya bangun.
*****
Aditya bangun dari tidurnya dan melihat ke arah kedua bayinya yang ternyata masih terlelap di box bayi masing-masing. Pandangannya kemudian teralihkan ke kamarnya setelah mendengar suara telivisi yang menyala. Lelaki itupun langsung beranjak keluar dan menemukan istrinya sedang duduk menonton televisi. Melihat Aditya sudah bangun Cahya langsung mematikan televisi itu dan berniat untuk pergi. Aditya mengejar Cahya dan langsung menarik tangannya membuat langkah Cahya terhenti.
"Sayang, sudah cukup! Berhentilah bersikap seperti ini? Kenapa kau masih tidak mau memaafkanku?"
"Lepaskan Adit" Seru Cahya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mau memaafkanku, please sayang maafkan aku, aku janji aku tidak akan melakukannya lagi"
"Itu yang selalu kau ucapkan, tapi kau selalu mengulanginya lagi, sudahlah aku tidak mau berdebat denganmu, sekarang lepaskan aku"
"Tidak aku tidak akan melepeaskanmu" Aditya tiba-tiba berjongkok dan memeluk kaki kiri Cahya.
"Adit, apa yang kau lakukan, cepat berdiri" Cahya membungkukkan badannya dan mencoba melepaskan pegangan Aditya di kakinya.
"Aku minta maaf sayang, tolong maafkan aku, aku benar-benar menyesal sudah membentakmu aku sangat menyesal, tolong sekali ini saja beri aku maaf ya? Please?"
"Adit, lepaskan jangan seperti ini, cepat berdiri"
"Maafkan aku sayang? Aku mohon maafkan aku"
Cahya pun akhirnya ikut berjongkok dan kini saling berhadapan dengan suaminya. "Aku memaafkanmu tetapi aku tidak akan menolerir lagi jika kau melakukan hal seperti itu lagi, bukan karena aku malas tidak merapikan kamar ini tapi kau harusnya mengerti keadaanku, dan rubahlah sifat dan sikap burukmu itu, jika kau marah kepada orang lain jangan bawa kemarahanmu ke rumah, sekarang kau seorang Ayah, Kyros dan Kyra akan tumbuh semakin besar jika kau selalu berteriak demi melampiaskan amarahmu tentu itu bukan hal yang baik ketika anak-anak mendengarnya atau melihatnya, sekarang berdiri dan pergi mandi"
Aditya melepaskan kaki Cahya lalu berdiri, begitu juga dengan Cahya dia juga berdiri. Saat itu juga Aditya langsung memeluk erat istrinya sambil mengecup pucuk kepalanya. "Terima kasih kau mau memaafkanku, aku memang bodoh karena selalu tidak bisa menahan kemarahanku dan kau selalu jadi korbannya, aku akan merubah sikap burukku itu"
*****
Cahya mengajak Kyros dan Kyra menikmati sore di halaman depan rumah bersama Mama mertuanya dan Ibunya Yongki, sementara Aditya sedang bercakap-cakap dengan Ayah Yongki di ruang tamu. Halaman depan memang lebih luas dengan di hiasi aneka tanaman dan bunga yang terlihat sangat asri. Keceriaan terlihat diwajah kedua bayi itu saat Cahya menggoda mereka dengan mainan.
Suara klakson terdengar diluar gerbang, security membuka sedikit gerbang untuk melihat siapa yang datang dan ternyata itu adalah mobil Yongki. Security langsung membuka gerbang agar Mobil Yongki bisa masuk. Saat gerbang terbuka, masuklah mobil Yongki ke halaman, tetapi saat security ingin menutup kembali gerbang itu tiba-tiba disaat bersamaan sebuah mobil dari arah yang lain langsung masuk tanpa permisi.
Yongki keluar dari mobilnya dan langsung berjalan ke arah Cahya yang sedang duduk bersama ibunya serta Mama Aditya. Pandangan Cahya mengarah ke mobil yang datang setelah mobil kakaknya, mobil itu berhenti. Tetapi kemudian dia melihat security rumahnya tampak berlari menghampiri mobil itu.
Cahya sangat terkejut mengetahui siapa pemilik mobil yang baru saja masuk itu.
"Erica????" Gumam Cahya pelan dengan nada terkejut.