
"Sayang...! Siapa yang datang?" Elea muncul dari dalam kamarnya menenteng boneka milik Gienka, yang tidak lain adalah boneka pemberian Ariel.
Danist memundurkan langkahnya, membalikkan badannya dan menoleh ke arah Elea. Pandangan Elea langsung tertuju pada Gienka yang berada di gendongan Ariel.
"Bolehkah aku masuk? Tidak mungkin aku menggendong Gienka di luar seperti ini" Ariel berucap meminta ijin sambil tersenyum kepada Elea dan Danist yang sama-sama masih berdiri terpaku tanpa ekspresi.
"Apa aku boleh masuk???" Tanya Ariel lagi karena baik Elea maupun Danist tidak mengatakan apapun.
"Masuklah!" Ucap Danist kemudian.
"Thanks!" Ariel kemudian masuk ke dalam apartemen Elea.
Danist mempersilahkan Ariel untuk duduk, dan menyuruh Elea membuatkan minum untuk tamunya itu. Ariel tidak berhenti menciumi Gienka dan terus mengajak putrinya itu berbicara walaupun dia tahu Gienka masih belum mengerti apapun. Ariel fokus ke Gienka sambil menunggu Elea kembali, dan mereka bisa duduk bersama membahas permasalahan yang pernah terjadi sebelumnya. Sementara Danist hanya diam memperhatikan Ariel, dia tidak bisa memungkiri bahwa Gienka pasti punya ikatan kuat dengan Ariel dan membiarkan mereka menikmati kebersamaannya.
Elea datang membawa nampan berisi air dan menaruhnya di depan Ariel. "Maaf, hanya ada air, kami baru datang dari Swiss siang tadi jadi tidak ada yang bisa kami berikan selain ini" Ucap Elea yang kemudian duduk di sebelah Danist.
"Thanks El" Ucap Ariel dan meminum air itu. "Jadi kalian baru datang siang ini? Maaf saat kalian disana aku tidak sempat menemui kalian dan hanya menitipkan hadiah kecil untuk Gienka pada Adit dan Cahya, aku buru-buru karena harus ke airport"
Danist dan Elea tidak menanggapi apapun, mereka hanya saling berpandangan dalam diam. Ariel tidak terlalu memikirkan, dia hanya kembali fokus dengan putrinya, dan memuji bayi itu karena tumbuh dengan sangat sehat dan semakin cantik. Gienka selalu tertawa saat Ariel menggodanya dengan menggesek-gesekkan wajahnya di leher bayi itu. Gienka terlihat sangat senang saat bersama Ariel, bayi itu seolah mengerti bahwa Ariel adalah Ayahnya yang selama ini dia rindukan.
Ariel hanya fokus terhadap Gienka, tidak lagi mengatakan atau mengajak bicara Elea ataupun Danist. Melihat sikap Ariel, Danist berpikir bahwa lelaki ini datang hanya untuk menemui Gienka dan tidak ada niat untuk meminta maaf kepada istrinya.
Ariel mengangkat Gienka dan senyumnya tidak hilang dari wajahnya sejak datang. "Gienka sayang, apa kau menyukai hadiah dari Papa??? Kalau kau menyukainya, Papa akan memberimu hadiah yang lainnya lagi, kemarin Papa sudah membeli banyak sekali boneka dan mainan untukmu saat Papa berada di luar negeri tapi Papa minta maaf, Papa tidak tahu bahwa kau sudah kembali hari ini, jika tahu mungkin Papa akan membawanya, tapi Papa dengar kau sudah pernah datang ke rumah Opa ya?? Kau harus datang lagi kapan-kapan, oke???" Gumam Ariel lagi dan mendekatkan wajah putrinya itu lalu menciumnya lagi.
Elea berdehem, dan membuat Danist juga Ariel mengarahkan pandangan mereka ke Elea. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk membahas tentang tunjangan bulanan yang diberikan Ariel untuk Gienka.
"Iel, aku berharap mulai sekarang kau harus berhenti mentransfer uang ke rekeningku!"
Ariel langsung mengernyit dan merasa heran kenapa Elea melarangnya, itu adalah kewajibannya. "Kenapa El? Itukan untuk kebutuhan Gienka, kenapa melarangku? Kurasa jangan libatkan anak kita dalam permasalahan diantara kita?"
"Aku mengatakan bahwa berhentilah mentrasfer uang ke rekeningku, karena aku berniat membuatkan Gienka rekening tabungan sendiri agar kau bisa langsung mentransfernya kesana, agar tidak bercampur dengan milikku, dan itu akan berguna untuk tabungan masa depan Gienka"
Elea terdiam, tadi dia sempat berpikir bahwa Ariel akan meledak-ledak dengan keputusan yang dia buat, tapi ternyata Ariel langsung menyetujuinya. Sejak tadi dia melihat ada yang berbeda dengan Ariel, lelaki ini terlihat lebih tenang dan senyumnya juga tidak menghilang sejak kedatangannya, apa itu karena dia bertemu dengan Gienka atau karena yang lainnya. Elea sebenarnya menunggu Ariel untuk mengatakan maaf kepadanya tetapi sepertinya lelaki itu datang hanya untuk menemui putrinya bukan untuk meminta maaf. Melihat ekpresi Danist membuat Elea berpikir bahwa suaminya itu juga sedang menunggu moment Ariel meminta maaf akan tetapi dari sikap Ariel, lalki-laki itu seolah sudah melupakan semua kejadian kemarin.
"Sayang, aku lapar sekali, siapkan makanan yang kita beli tadi, aku lapar sekali, dan kita ajak sekalian tamu kita untuk makan bersama" Ujar Danist.
"Ah tidak perlu, kalian kalau mau makan silakan saja, tadi kulihat kalian baru saja membeli makanan di restoran seafood di depan, kebetulan tadi aku juga baru makan dari sana dan melihat kalian itu sebabnya aku memutuskan untuk datang kesini, silakan!"
Kini Elea dan Danist mengerti kenapa Ariel bisa datang kesini dan tahu mereka pulang, ternyata lelaki itu tadi melihatnya di restoran.
"Baiklah akan aku siapkan" Ucap Elea lalu berdiri dan pergi ke dapur.
Danist juga berdiri tetapi dia tidak menyusul Elea ke dapur, melainkan ke pintu dan mengunci pintu itu. Bukan apa, Danist hanya berjaga, takut Ariel akan melakukan sesuatu disaat dia dan Elea sedang makan. Danist takut Gienka akan di bawa pergi oleh Ariel. Setelah kejadian dulu, dia tidak bisa begitu saja kepada lelaki itu, walaupun apa yang dilakukannya sedikit berlebihan tapi siapa yang tahu isi otak Ariel, dia bisa melakukan banyak cara licik untuk bisa memuaskan egonya.
Ternyata Ariel melihat apa yang dilakukan Danist di depan pintu dan dia hanya tersenyum, sepertinya Ayah sambung bayinya itu masih menyimpan kecurigaan terhadapnya. Tetapi bagi Ariel itu tidak masalah, karena dia datang memang karena ingin bertemu dengan Gienka, dan sama sekali tidak ada niat membawa kabur atau menjauhkan putrinya dari Elea.
Elea memindahkan makanan yang tadi dia beli ke mangkuk dan piring. Danist menarik kursi makan dan duduk, Elea bergegas menyiapkan makanan untuknya.
"Kau ingin udang atau lobster?" Tanya Elea.
"Berikan saja semuanya padaku, lalu besok bisa saja aku terkena kolesterol haha" Gumam Danist.
Elea ikut tertawa mendengarkan candaan Danist, dan mereka pun makan bersama sambil sesekali melontarkan candaan dan tawa mereka tentu saja terdengar ke seluruh ruangan. Sudah tentu Ariel mendengar semua percakapan mereka, apartemen itu tidak terlalu besar, dan tidak ada sekat antara dapur dan ruang tamu, kecuali kamar. Ini adalah resiko yang harus Ariel ambil jika berada di dalam sebuah tempat tinggal dimana ada pasangan yang tinggal di dalamnya. Walaupun ada perasaan sedih dan sesak di dada nya, tetapi Ariel memilih bertahan dan memfokuskan dirinya pada Gienka daripada mendengarkan pasangan suami istri yang sedang makan itu.
Sampai akhirnya, Gienka tidur begitu saja di gendongan Ariel. "Dan dengan mudahnya putriku tidur di pelukanku" Gumam Ariel lalu tersenyum dan membungkukkan punggungnya lalu mencium Gienka.
Danist dan Elea kembali menemui Ariel di ruang tamu. Ariel mengangkat kepalanya dan tersenyum lagi untuk kesekian kalinya. "Gienka sudah tidur" Gumamnya lalu menarik napasnya dalam-dalam dan menghelanya.
"Aku ingin berbicara dengan kalian berdua??" Ucal Ariel lagi.