
"Itu benar Iel, Mamamu telah melakukan kesalahan besar terhadap Danist dan Mamanya"
Ariel tersenyum sinis seraya menggelengkan kepalanya, masih tidak mempercayai semua ucapan sahabat Mamanya itu. "Apa mereka sudah mempengaruhi tante, sehingga tante bisa mengarang semua cerita ini???"
"Apa kau lihat bahwa tante sedang mengarang cerita panjang itu??? Kenapa kau meragukan ucapan tante? Tante berbicara fakta yang sebenarnya Iel, semua cerita itu berasal dari mulut Mamamu sendiri, tante memaklumi jika kau menaruh kemarahan yang begitu besar terhadap Ayahmu akan tetapi sepenuhnya bukan salahnya, tante tidak ingin membuka aib masalalu Mamamu, tetapi tante terpaksa mengatakan ini padamu setelah tante mengetahui semua fakta yang terjadi diantara kalian semuanya, tante merasa tante harus melakukan ini agar tidak semakin membesar"
Ariel hanya bisa terdiam, semua ini terlalu mengejutkan hingga dia tidak bisa lagi berkata-kata. Ariel masih tidak menyangka jika apa yang terjadi saat ini adalah hasil dari perbuatan kedua orangtuanya. Dan hal sebesar ini baru dia ketahui sekarang. Ariel tidak bisa mengungkapkan lagi bagaimana perasaannya saat ini. Ingin marah tetapi dengan siapa, semua sudah berlalu dan lebih menyakitkan adalah kenyataan yang tidak hisa lagi terbantahkan bahwa Danist dan Mamanya tidak bersalah sama sekali. Ariel menjadi teringat lagi tentang perkataan Danist bahwa suatu saat dia akan menyesal jika tahu kebenaran yang sesungguhnya, benar saja saat ini kebenaran itu telah menampar dirinya sendiri.
Nyonya Donna menyentuh pundak Ariel yang tertunduk kemudian mengusapnya pelan. "Mamamu sangat berharap kau selalu bisa menjadi kebanggaannya, kesalahan masalalu orangtuamu tidak bisa lagi diperbaiki, jadikan itu pelajaran agar kau tidak melakukannya, jika kau pernah melakukannya pada Elea, jangan lagi lakukan pada istrimu nanti, kau harus bisa menjaga hati, karena apa yang dilakukan orangtua juga hisa di ikuti oleh anaknya, jangan sampai Gienka menjadi korban selanjutnya, ubahlah cara berpikirmu Iel, tante sangat tahu bahwa kau adalah anak yang sangat baik, sekali lagi kenyataan tidak bisa diubah, Danist bagaimanapun adalah saudaramu"
Karena hari sudah malam, Nyonya Donna pun berpamitan dengan Ariel karena harus segera pulang. Dan berpesan pada Ariel agar bisa lagi menjaga sikap, juga meminta maaf kepada Tuhan atas kesalahan yang sudah dilakukannya. Kemarahan bisa menjadi boomerang untuk diri sendiri, dan kekecawaab hanya akan menjadi penambah luka saja, karena lebih baik memperbaiki diri serta mengakui kesalahan daripada harus larut dalam kesedihan dan penyesalan.
Ariel tidak melanjutkan lagi survei pengunjungnya dan memilih untuk kembali pulang untuk menenangkan diri. Sebenarnya dia sangat lelah setelah dari luar kota tidak langsung pulang tetapi memilih datang kesini, sayangnya kedatangannya justru membuatnya terkejut dengan semua cerita yang tadi di dengarnya. Apa yang dia pikirkan tentang Danist dan Mamanya ternyata salah. Danist bukanlah anak haram yang selama ini dia pikirkan. Ariel juga teringat dengan kata-kata Cahya sesaat setelah dia menghina Maysa, bahwa dia akan menjadi bahan tertawaan orang-orang yang pernah dihinanya. Mungkin selama ini Danist dan Mamanya juga menertawakan dirinya karena sudah menuduh mereka berdua dengan perkataan yang buruk padahal kenyataannya semua kesalahan ada pada mendiang Mamanya sendiri. Haruskah dia meminta maaf kepada kedua orang itu atau harus bagaimana, Ariel masih bingung dan pusing sekali.
Tiba-tiba Ariel juga mulai menyadari jika Cahya berbicara seperti itu dulu padanya, itu artinya Cahya sudah mengetahui kebenaran tentang hal ini. Ariel yakin bahwa bukan Cahya saja yang sudah mengetahui ini, mungkin yang lainnya juga sudah tahu, tetapi kenapa tidak ada satupun dari mereka yang memberitahunya. Hal seperti ini terjadi lagi, orang-orang disekitarnya sudah tahu tentang hal ini dan mereka memilih diam dan tidak mengatakan apapun kepadanya.
******
Elea menutup garasi rumahnya, tetapi kemudian pandangannya tertuju pada mobil Ariel yang masuk ke halaman rumah. Tak lama Ariel keluar dari mobilnya dan membuka garasi mobilnya. Ariel kembali ke mobilnya lagi dengan terburu-buru dan membawanya masuk ke garasi lalu menutupnya. Elea kembali melanjutkan kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Nyonya Donna untuk memberitahu jika Ariel sudah kembali dari luar kota.
Setelah berbicara dengan Nyonya Donna, Elea mendapatkan informasi yang mengejutkan jika ternyata wanita itu tidak sengaja bertemu dengan Ariel dan sudah mengatakan semuanya. Elea menghela napasnya, merasa lega dan berharap semoga Ariel bisa menyadari kesalahannya selama ini dan tidak lagi berpikir buruk tentang Danist dan Mamanya. Tetapi jika bisa, Elea akan senang sekali jika Ariel dan Danist bisa berbaikan dan menjadi saudara seperti pada umumnya, bersama-sama memberikan yang terbaik untuk Gienka.
Setelah menutup garasi dan menghubungi Tante Donna, Elea kembali menuju ruang keluarga dimana Danist ada disana sedang menjaga Gienka dan Friddie yang tertidur. Elea kemudian duduk disebelah Danist dan menceritakan bahwa tante Donna sudah memberitahu Ariel tentang segalanya.
"Lalu apa yang terjadi dengan Ariel???" Tanya Danist.
"Ariel shock dan masih tidak mempercayainya, perasaanmu sendiri bagaimana???"
Danist tersenyum. "Biasa saja! Ya sejak dulu aku yakin suatu saat Ariel pasti akan mengetahui ini, entah bagaimana cara Tuhan melakukannya karena sifat keras kepala Ariel yang tidak mau mendengarkan siapapun, tetapi ternyata Tuhan mengirimkan tante Donna yang hanya dalam sekejap bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan oleh Ayah selama ini, semoga dengan ini Ariel tidak lagi bersikap seperti kemarin, sudah hampir larut lebih baik kita bawa anak-anak ke kamar lalu beristirahat"
Elea mengangguk dan mengangkat Friddie, sementara Danist membawa Gienka. Elea juga masih tidak menyangka jika Tahte Donna bisa begitu mudahnya menjelaskan itu semua pada Ariel. Danist benar bahwa selama ini itu sudah dilakukan oleh mendiang Ayah mertuanya tetapi tidak pernah berhasil bahkan sampai beliau meninggal pun itu masih gagal. Tetapi sekarang semuanya sudah di ungkap dan Elea berharap kedepannya semua akan membaik dan lebih baik dari sebelumnya.
******
Ariel membuka pintu rumahnya dan menuruni tangga, dia bisa melihat Elea sedang menyapu di halaman depan. Ini hari libur, tentu saja di rumah itu ada Elea.
"Pagi El....!!!" Sapa Ariel.
"Pagi Iel, kau sudah pulang???" Tanya Elea.
"Iya, aku ingin mengajak Gienka ke rumah, dimana dia sekarang???"
"Dia sedang sarapan dengan Danist, tunggulah aku akan memanggilnya" Elea meletakkan sapu lidi yang dipegangnya kemudian membalikkan badannya untuk naik ke atas dan memanggil Gienka.
Tetapi belum sempat melangkah, Gienka sudah berteriak dari atas memanggil Ariel. Dia berlari menuruni tangga, membuat Danist berteriak agar Gienka berhati-hati. Perlahan Gienka menuruni satu persatu anak tangga itu, dan saat sudah sampai dia langsung berlari memeluk Ariel. Gienka meluapkan kerinduannya kepada Ariel dengan menciumi seluruh wajah Ariel. Tidak diragukan bahwa Gienka memang begitu dekat dengan Ariel, terkadang Ariel juga merasa menyesal karena sikapnya dulu pada Elea saat perempuan itu hamil, dan sering berangan bahwa andai saja dia tidak melakukan kesalahan itu, mungkin kehidupan rumah tangganya bersama Elea akan bahagia, dan bisa sangat sempurna dengan kehadiran Gienka.
"Apa Papa Yel akan mengajakku jalan-jalan??" Tanya Gienka.
"Tentu saja, Gie mau jalan-jalan kemana??"
"Ummmmm di lumah papa Yel saja, aku akan membuatkan papa Yel teh dan telul mata sapi"
Ariel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Gienka sangat suka sekali mengajaknya untuk melakukan pesta teh berdua saja. Gienka akan memaksanya memegang cangkir plastik mainannya dan berpura-pura meminum teh buatan putrinya itu. Terkadang Ariel merasa malu dengan dirinya sendiri, setiap bersama Gienka, dia seolah menanggalkan semua kekuasaannya, kegagahannya, dan rasa gentleman nya, dalam sedetik Gienka bisa merubah dirinya. Bahkan sering juga melakukan itu saat mereka ada di kantor, membuatnya merasa malu saat tiba-tiba ada stafnya yang masuk ke ruangannya dan memergoki dirinya sedang bermain bersama Gienka. Tetapi seiring berjalannya waktu, Ariel sudah terbiasa dengan itu.
"Baiklah, kita akan pesta teh, tetapi Papa Yel tidak hanya ingin makan telur, Gie harus membuatkan Papa Yel pizza, oke???" Ariel mengangkat telapak tangannya mengajak Gienka untuk tos.
"Oke!" Gienka menepukkan telapak tangannya di telapak tangan Ariel.
Ariel berdiri dan meraih tangan Gienka, tetapi kemudian pandangannya tertuju pada Danist yang baru saja turun dari tangga dan menatap ke arahnya dalam diam. Ariel melangkah pelan mendekati Danist yang berada di sebelah Elea. Danist dan Elea saling berpandangan, dan memikirkan apakah Ariel akan meminta maaf dan memeluk Danist, atau mungkin Ariel ingin mengatakan sesuatu kepada Danist. Ariel pun semakin dekat lalu mengulurkan tangannya.
"Ini untuk Friddie, aku membelinya saat lusa kemarin membelikan untuk Gienka" Ariel memberikan beberapa mainan yang ada di paper bag yang dipegangnya kepada Elea.
"Terima kasih Iel" Ucap Elea. Ini adalah pertama kalinya Ariel memberikan sesuatu untuk Friddie, karena sejak Friddie lahir, sekalipun Ariel tidak pernah memperdulikannya.
Setelah memberikan itu, Ariel langsung mengajak Gienka ke rumahnya, tanpa mengatakan apapun pada Danist dan sikapnya masih dingin, sama seperti sebelum-sebelumnya. Elea sudah sangat berharap bahwa Ariel akan meminta maaf pada suami dan mertuanya, tetapi ternyata itu tidak terjadi. Elea sangat kecewa, ternyata fakta itu tidak membuat Ariel mau merubah cara berpikirnya. "Percuma saja....!!!! Dia sangat batu!!" Gerutu Elea dengan kesal.