SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 163



Perlahan Ariel membuka kertas itu, terlihat ditulis dengan sangat rapi dan tulisannya begitu indah. Dia pun mulai membacanya.


Dear Ariel Sayang


Jika kau membaca surat ini ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu. Hari ini aku akan pergi meninggalkan tempat ini menuruti keinginanmu tetapi aku harap besok datanglah ke sidang perceraian kita.


Kita Harus mempertahankan rumah tangga kita. Aku akan memaafkan kesalahanmu dan kekhilafanmu, aku ingin mempertahankan rumah tangga kita dan memulai semuanya dari awal karena aku sangat mencintaimu. Besok datanglah dan kita akan bicarakan semuanya dengan baik semua permasalahan kita. Kau selalu mengatakan padaku jika kau ingin memiliki seorang bayi, dan saat ini Tuhan telah menghadiahkannya untuk kita. Aku hamil sayang, aku mengandung bayi kita, kini usianya sudah masuk minggu ke 9. Kita harus tetap bersama membesarkan anak kita dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kita mulai semuanya dari awal lagi lalu berbahagia bersama. Datanglah besok aku akan menunggumu dan didalam amplop ini ada foto hasil USG bayi kita, lihatlah dia tumbuh dengan sangat baik dan sehat, kita harus tetap bersama demi bayi kita hasil buah cinta kita. Besok datanglah aku mohon.


Aku sangat mencintaimu...


^^^Eleanor^^^


Ariel sangat terkejut membaca surat itu, ternyata itu sudat dari Elea yang sengaja ditinggalkannya di apartment itu sebelum dia pergi. "Elea hamil..?? Astaga....!!!" Seru Ariel dan dia kembali mengambil amplop itu dan membaliknya, 2 kertas kecil terjatuh dari amplop itu. Dilihatnya itu adalah foto tentang hasil USG.


Ariel terperanjat mengambil kunci mobilnya dan langsung berlari keluar apartmentnya. Didalam lift Ariel mengambil ponselnya dan mulai membuka block kontak Elea dan langsung menghubunginya. Ariel semakin gusar karena nomor ponsel Elea tidak bisa dihubungi, dia mencoba beberapa kali tetapi tetap saja tidak tersambung.


"Shiiit...... Kenapa tidak bisa dihubungi aaarrggghh..."


Teriakan Ariel itu membuat terkejut orang yang berada satu lift dengannya. Akhirnya pintu lift terbuka Ariel langsung berlari menuju area parkir dan masuk ke dalam mobilnya. Ariel mengendarainya dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju ke apartment Elea, berharap bisa menemukannya disana. Mengingat dia pernah bertemu Elea direstoran sekitar apartmentnya.


"Elea aku telah melakukan kesalahan, aku harap kau mau memaafkanku" Gumamnya sedih dan dipenuhi dengan perasaan bersalah.


****


Sampailah Ariel di apartment Elea dan langsung masuk ke lift menuju lantai 6 dimana Elea tinggal disana. Sekali lagi Ariel berlari hingga sampai di depan apartment Elea, dia mulai mengetuk pintu dan memanggil Elea. Berkali-kali dia mencoba tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Ariel juga terus mencoba menghubungi Elea tetapi sama sekali tidak tersambung.


"Apa jangan-jangan Elea ada didalam tetapi tidak mau membuka pintunya karena mendengar suaraku??" Ucap Ariel.


Ariel teringat akan sesuatu, dia pun meninggalkan apartment Elea dan kembali ke tempat parkir. Ariel membuka pintu mobilnya dan mulai mengorek isi dari laci didasboard mobilnya. Ariel akhirnya menemukan card unlocking apartment Elea, dulu Elea pernah memberikan itu padanya agar memudahkannya untuk masuk ke apartment ini.


Ariel kembali naik ke apartment Elea dan membuka pintunya dengan card unlocking yang dimilikinya. Ariel berhasil membukanya dan terkejut melihat kondisi apartment itu. Hanya ada perabotan besar seperti sofa dan meja, tidak ada barang pernak-pernik yang lainnya. Ariel membuka kamar Elea dan sekali lagi menemukan kamar itu kosong, tidak ada sprei di atas ranjang tidak ada buku-buku koleksi Elea yang biasa tertata rapi disana. Ariel membuka lemari pakaian Elea dan tidak ada apapun yang tersisa disana, Ariel tertunduk lemas.


Ariel mengacak-acak rambutnya merasa sangat frustasi. "Elea, kau dimana sekarang?" Ucapnya sedih.


Ariel keluar dengan perasaan sedih, dan penuh dengan pnyesalan. Dia sangat menyesal karena baru mengetahui jika Elea meninggalkan surat untuknya dan penyesalannya semakin bertambah karena dia dulu memutuskan hal yang sangat bodoh yaitu tidak kembali ke apartmentnya setelah perceraiannya, andai saja dia itu tidak dia lakukan pasti hal ini tidak terjadi.


Ariel keluar dari lift dan berjalan menuju tempat recepsionist berada untuk menanyakan tentang apartment Elea kenapa kosong. Ariel menyebutkan nomor apartment Elea dan menunggu recepsionist itu mencari informasi di komputernya.


"Iya pak apartment itu masih atas nama ibu Eleanor Fransisca, tetapi jika kosong mungkin beliau sudah pindah"


"Pindah..??? Kemana?"


"Kami tidak tahu tentang hal itu, karena memang apartmentnya masih atas nama beliau dan tidak ada konfirmasi apapun dari yang bersangkutan kepada kami, karena memang itu sudah lunas dan menjadi milik beliau"


Ariel berjalan gontai menuju tempat parkir, perasaannya kali ini benar-benar hancur berkeping-keping. Elea pergi dengan kondisi sedang hamil dan Ariel tidak berhenti mengutuk dirinya. Ariel mengendarai mobilnya, kali ini dia akan mendatangi Cahya karena pasti Cahya tahu tentang Elea mengingat Elea adalah sahabatnya.


*****


Cahya bersama Aditya sedang menghabiskan waktu bersama Kyros dan Kyra di gazebo halaman belakang rumah mereka. Aditya menggoda putrinya yang sedang ada dipangkuan Cahya dengan mainan bebek yang jika dipencet bisa mengeluarkan bunyi, Kyra sangat menyukainya dan selalu tertawa jika mendengar suara mainan itu. Sementara Kyros terbaring didepan Cahya dan Aditya sedang asyik terlelap.


"Kau tertawa dengan sangat keras tetapi kakakmu justru tertidur dengan lelapnya, seolah tidak peduli dengan apa yang ada disini" Ucap Aditya pada Kyra.


Aditya tertawa membenarkan ucapan Cahya, memang dia tidak ahli dalam menenangkan Kyros, entah kenapa putranya itu setiap menangis sangat susah didiamkan, berbeda dengan Kyra yang justru lebih mudah diam saat menangis. Aditya mengambil Kyra dark Cahya dan menimangnya sambil tetap memainkan bebek karet itu.


"Sayang, apa kau tahu, Chika sering bercerita padaku tentang Danist dan Elea"


"Bercerita tentang apa??" Tanya Aditya.


"Chika bilang jika Danist memiliki perasaan terhadap Elea"


"Apa??"


"Ya begitulah, Chika sering menemukan Danist diam-diam suka memandangi Elea, Chika juga pernah menanyakannya langsung pada Danist tetapi Danist tidak mengiyakan pertanyaan Chika, justru Danist mengatakan jika dia takut jika memasuki hati Elea takut Elea akan menolaknya, bahkan Danist juga meminta pendapat Chika bagaimana jika dia menyatakan perasaannya pada Elea"


"Well itu kembali lagi tergantung pada mereka berdua nantinya, kita lihat saja"


"Apa kau setuju jika seandainya mereka bersatu?"


"Siapa lah aku sayang, jika mereka saling menyukai itu hak mereka, sejak dulu aku tidak pernah melarang anak buahku untuk tidak berhubungan dengan sesama teman kantor yang pasti jangan sampai mengganggu pekerjaan, sekarang semua tergantung pada Elea jika dia mau membuka hatinya ku rasa Danist adalah pria yang baik" Pungkas Aditya.


Aditya merasa jika popok yang dipakai oleh Kyra sudah penuh, dia mengatakannya pada Cahya. Cahya mengambil Kyra dan menyuruh Aditya untuk naik ke kamar dan mengambilkan popok baru untuk putrinya.


Beberapa saat kemudian, Ariel datang dan menanyakan keberadaan Cahya pada ART dirumah Aditya. Ariel lalu diantar menemui Cahya yang sedang berada di halaman belakang. Ariel melihat Cahya sedang duduk sendirian membuai bayinya.


"Non Cahya, ini ada Tuan Ariel datang mencari Non"


Cahya membalikkan badannya dan tersenyum melihat Ariel yang sudah tampak sehat saat ini.


"Iel, kau..??? Apa kabar..?" Sapa Cahya.


"Aku baik Ca....!"


"Maaf ya Kyros sedang tidur dan Adit sedang ke kamar, jadi bisakah kau duduk disini?"


Cahya mempersilahkan Ariel duduk di gazebo, karena dia juga harus mengawasi Kyros yang sedang tidur. Ariel pun duduk dan menatap Cahya sedih.


"Ca, aku ingin bertanya padamu" Ucap Ariel.


"Bertanya tentang apa Iel?"


"Aku baru saja datang ke apartment Elea tetapi aku tidak menemukannya disana, kau pasti tahu dimana Elea berada sekarang"


Seketika langit seolah runtuh menimpa Cahya saat ini, ketakutannya selama ini akhirnya datang juga dimana Ariel pasti akan menanyakan keberadaan Elea padanya. "Kau datang ke apartment Elea? Untuk apa??"


"Ca aku bertanya padamu kenapa kau justru bertanya balik padaku? Jawab Ca, Elea pindah kemana?"


Cahya tampak terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan Ariel tetapi kemudian dia mencoba menjawabnya dengan sedikit terbata. "Elea pindah?? Kenapa ... aku tidak mengetahuinya?"


Ariel menatap Cahya dengan tatapan tajam, seolah merasa jika ada yang disembunyikan oleh Cahya.


"Kau bohong Ca.....! Kau pasti mengetahui sesuatu, aku sendiri kemarin melihat Elea datang menjengukmu dirumah sakit menandakan kalian pasti sering berkomunikasi, ayo Ca katakan padaku dimana Elea sekarang, katakan Ca....." Suara Ariel terdengar meninggi, membuat Cahya sedikit takut.