
Aditya mencoba menahan kemarahannya pada adiknya, dia membawa Adri masuk ke kamarnya. Aditya melepas jaket Adri dan membaringkannya ditemat tidur lalu melepas sepatunya. Aditya mengunci pintu kamar Adri agar besok adiknya tidak keluar kamar dalam keadaan yang seperti saat ini dan akan membuat Mamanya khawatir. Besok pagi dia harus menemui Adri lebih dulu.
Aditya berjalan keluar rumah untuk mengecek apakah Adri pulang mengendarai motornya dalam keadaan mabuk atau ada yang mengantarnya. Sampai diluar ternyata dia tidak melihat motor Adiknya terparkir disana. Aditya kemudian menghampiri security rumahnya dan menanyakan bagaimana tadi Adri pulang, dan security mengatakan jika Adri pulang dengan taksi.
Aditya kembali masuk dengan perasaan campur aduk, kesal, marah dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya. Aditya masuk ke kamar dan melihat Cahya sudah tertidur. Aditya mengganti pakaiannya dan menyusul Cahya tidur.
****
Keesokan paginya, Aditya memilih untuk tidak berolahraga pagi, dia langsung menuju kamar Adri. Adiknya itu masih belum bangun, Aditya mengambil kursi dan duduk menatap Adri yang masih terbaring. Hari ini Aditya juga tidak akan berangkat ke kantor sebelum berbicara dengan Adiknya jadi dia akan menunggu sampai Adri terbangun.
Cahya bangun dan melihat Aditya sudah tidak ada disampingnya, bergegas dia mandi dan harus membantu menyiapkan serta membuatkan jus untuk suaminya.
Cahya turun untuk membantu menyiapkan sarapan dan tugas wajibnya membawa jus untuk Aditya. Cahya membawa jus ke ruang gym Aditya tetapi tidak menemukan suaminya disana, kini Cahya beralih membawa ke ruang kerja tetapi saat membuka pintu lagi lagi tidak ada Aditya disana.
Akhirnya Adri bangun, kepalanya terasa pusing dan merasa terkejut ketika melihat kakaknya sedang duduk menatapnya. Adri pun mulai mengingat kejadian tadi malam dimana dia pulang dalam keadaan mabuk dan kakaknya yang membawanya ke kamar. Reflek Adri langsung bangun dari tempat tidurnya seraya berjalan ke arah Aditya.
Aditya akhirnya berdiri dan langsung berhadapan dengan Adri. "Pergilah mandi, bersihkan dirimu jangan sampai aku mencium bau alkohol murahan dari tubuh dan mulutmu, dan ingat jangan keluar kamarmu sampai aku kembali kesini, atau aku akan menghajarmu" Aditya mendorong Adri hingga terjatuh diatas ranjang lalu pergi meninggalkannya dengan pintu berdebam dan sekali lagi dia mengunci kamar Adri dari luar.
Cahya sangat terkejut dan hampir menjatuhkan nampan yang dibawanya saat mendengar suara pintu ditutup dengan keras dan Aditya keluar dari kamar Adri dengan wajah seperti orang sedang marah. Bergegas Cahya menghampiri Aditya dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Tetapi Aditya tidak menjawab dan malah mengajak Cahya untuk pergi ke kamar mereka.
Saat sampai dikamar Aditya masih dipenuhi perasaan marah luar biasa, Cahya mencoba menenangkannya dan menyuruhnya untuk minum. "Ada apa? Apa kau bertengkar dengan Adri?"
"Kau tahu, semalam dia pulang dalam keadaan mabuk, aku memergokinya datang saat aku sedang memasukkan es krim ke kulkas, dan entah kemana saat ini motornya dia tidak pulangmembawamu u motornya, jika saja bukan aku yang menemukannya dalam keadaan seperti itu entah apa yang akan terjadi dirumah ini, bisa kau bayangkan bagaimana jika Mama atau Papa yang melihat keadaannya semalam, ingin rasanya aku meneriakinya dan memukulinya"
"Adri mabuk? Lalu apa yang kau lakukan tadi dikamarnya kenapa kau menguncinya?"
"Aku tidak mau saat dia bangun dia malah mengacau dan keluar kamar dalam keadaan seperti itu, jadi aku menunggunya sampai dia bangun, setelah itu kusuruh dia untuk mandi dan melarangnya keluar kamar jadi aku menguncinya"
"Aku meminta padamu tahan amarahmu, bicaralah pada Adri dengan baik baik, kau tahu kan bagaimana kondisinya sekarang, kita harus mencoba mengertinya dan tanyakan baik baik apa yang diinginkannya atau apa yang sedang menggangunya sekarang, dan setelah itu kita akan mencari solusinya"
Aditya membenarkan ucapan Cahya, dia harus bersikap tenang dan tidak emosi, agar bisa mengerti apa yang saat ini sedang dialami Adri. Dia sangat tahu betul bagaimana adiknya selama ini, jika ada hal seperti ini terjadi pasti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
***
"Adit, kau tidak ke kantor? Kenapa masih berpakaian seperti ini?" Tanya Mamanya.
"Aku akan ke kantor agak siangan Ma, nanti ada meeting diluar dengan Client"
Lagi lagi Aditya terpaksa berbohong kepada Mamanya, padahal dia akan berbicara dengan Adri sebelum berangkat ke kantor dan mencari penyelesaian dari permasalahan Adiknya.
Setelah sarapan Aditya langsung bergegas pergi ke kamar Adri. Aditya membuka pintu kamar itu dan Adri sudah terlihat lebih segar dan sedang duduk diatas tempat tidur.
"Well, kenapa kau melakukan hal bodoh itu, dan apa maumu sekarang?"
Adri hanya diam tidak menjawab pertanyaan kakaknya dan juga tidak berani menatapnya.
"Baiklah kalau kau tidak mau menjawab pertanyaanku, lakukan apapun yang kau inginkan, kalau kemarin kau bilang kau menolak untuk bergabung di Hs Enterprise silahkan aku tidak akan memaksamu, dan aku juga akan memberitahu papa agar dia mengerti, tetapi aku memohon padamu Dri, jangan lagi kau pulang dalam keadaan seperti tadi malam, ingat Mama baru sembuh, apa kau ingin melihat Mama sakit lagi, setidaknya kau mengerti tentang hal ini, kau sudah dewasa kau bisa menentukan apa yang kau mau tetapi sekali lagi aku ingatkan jangan pernah merusak dirimu dengan mabuk-mabukan seperti tadi malam, itu saja yang ku minta"
Aditya hendak pergi dari kamar Adri tetapi kemudian Cahya datang membawa nampan beris makanan untuk Adri. "Adri, Mama menyuruhku membawakan sarapan untukmu, makanlah" Cahya lalu menaruh nampan itu diatas meja.
"Habiskan sarapanmu, setelah itu ikutlah denganku untuk mengurus motormu" Aditya lalu keluar dari kamar Adri diikuti oleh Cahya.
Adri hanya diam, dia membenarkan perkataan kakaknya, kesehatan Mamanya sangat penting, dia tidak boleh menyakiti hati Mamanya. Adri mengambil sarapan yang dibawa Cahya dan memakannya. Dia harus menuruti ucapan Aditya untuk mengurus motornya, semalam dia meninggalkan motornya karena terlalu mabuk dan pulang naik taksi.
Cahya menyiapkan pakaian untuk Aditya, sedangkan suaminya itu berdiri dibelakangnya. "Pakailah kemeja ini, ingat nanti kau jangan memarahi Adri, bersikaplah biasa saja padanya dan berusahalah membhat semuanya membaik" Ucap Cahya.
"Baiklah tuan putriku, kamu juga jangan terlalu lelah, kasian bayi kita" Aditya memeluk Cahya dari belakang dan mengusap perut Cahya lembut.
Setelah siap, Aditya memanggil Adri dikamarnya dan mengajaknya untuk segera berangkat. Didalam mobil Adri hanya diam, walaupun masih kesal Aditya harus bisa membuat suasana membaik seperti yang Cahya katakan padanya tadi.
"Dri, aku minta maaf kalau sikapku tadi berlebihan"