SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 232



Aditya sedang asyik bermain bersama Kyra dan Kyros di kamarnya. Pagi ini dia akan menghabiskan waktunya untuk bermain bersama mereka sebelum nanti siang berangkat ke kantor. Sudah beberapa hari dia selalu pulang larut dan kedua bayi itu sudah tidur saat dia sampai dirumah. Membuatnya hanya memiliki sedikit waktu bersama mereka yaitu hanya di pagi hari itupun sangat sempit karena dia harus bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Cahya masuk ke kamar membawa jus untuk Aditya. Cahya merasa sangat senang akhirnya Aditya menyisahkan waktu untuk bersama Kyros dan Kyra. Dia sendiri juga merasa terabaikan karena kesibukan Aditya tetapi tidak masalah, karena apa yang dilakukan suaminya itu juga untuk keluarga, Cahya sangat menyadarinya.


"Minumlah" Cahya menyodorkan gelas beriai jus pada Aditya. "Sayang, tadi Elea meneleponku, dia membatalkan rencananya kesini, dia bilang kakinya bengkak karena tersandung meja, sebaiknya aku yang mendatanginya kesana ya??? Aku sangat rindu padanya dan Gienka, bolehkan??? Dia juga pasti kesulitan beraktifitas"


"Bagaimana bisa dia menabrak meja???"


"Entahlah, hanya itu yang dia katakan tadi, aku boleh kan kesana mengajak anak-anak?"


"Boleh, aku akan mengantarmu kesana dan akan menjemputmu setelah pulang dari kantor, tapi kau harus ingat kau tidak boleh keluar dari apartemen Elea sampai aku menjemputmu, dan tentunya 2 bodyguard akan menunggumu diluar"


Cahya menganggukkan kepalanya dan tersenyum lalu mendaratkan ciuman di pipi Aditya. Cahya sangat merindukan suaminya itu, karna kesibukannya dia juga tidak memiliki waktu untuk mengobrol banyak. Cahya hendaj beranjak meninggalkan Aditya tetapi Aditya menarik tangannya hingga membuat Cahya jatuh diatas pangkuannya.


Aditya menyingkap rambut Cahya dan menyelipkan ke belakang telinga Cahya. "Aku sangat merindukanmu, aku terlalu lelah hingga aku juga tidak ada waktu untukmu, maafkan aku"


"Its okay, aku juga sangat merindukanmu tetapi kau juga harus menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik, aku mengerti itu" Cahya mendongakkan kepala Aditya dan mengusap lembut rambut suaminya itu.


Jemari Cahya bergerak ragu dan menyentuh pipi Aditya, lelaki itu menempelkan pipinya di sana dan memejamkan matanya, jarinya meraih jari Cahya dan mengarahkannya ke bibirnya. Aditya lalu mengecup telapak tangan Cahya dengan lembut. Mereka bertatapan dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh satu sama lain, dan kemudian bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman lembut.


Aditya mellumat bibir Cahya dengan penuh perasaaan, membuatnya terlena. Lidahnya menelusur pelan kemudian, mencecap rasa yang sangat dirindukannya, rasa yang sangat dikenalnya. Kelembutan begitu terasa saat bibir keduanya berpagutan dengan penuh cinta seolah tidak pernah merasa puas. Saat bibir mereka terlepas, napas keduanya pun terengah-engah. Aditya harus bisa menahan diri satu dengan lainnya, karena saat ini waktunya hanya untuk kedua bayinya.


"Jika tidak aku hentikan sekarang, aku bisa lepas kendali dan melupakan waktuku yang harusnya kuhabiskan bersama putri dan pangeranku ini" Gumam Aditya yang diikuti tawa dari Cahya.


*****


Danist membuka pintu apartemen dan dikejutkan dengan kedatangan Aditya bersama Cahya. Danist mempersilahkan keduanya untuk masuk dan akan memanggil Elea di kamar tetapi Cahya menahannya karena dia sendiri yang akan menemui Elea di dalam.


"Kau sudah bersiap untuk berangkat ya Dan?" Aditya bertanya karena melihat Danist sudah terlihat rapi.


"Iya pak, baru saja saya mau berangkat"


"Aku tadi menghubungimu agar kau berangkat bersamaku saja ke kantor karena Cahya memintaku untuk mengantarnya kesini tapi ponselmu tidak aktif"


"Ah iya pak, maaf, ponselku rusak semalam terjatuh dan tidak mau menyala, aku baru mau membeli lagi yang baru"


Cahya langsung memeluk Elea yang sedang duduk di atas tempat tidur. Dia sangat merindukan sahabatnya itu, dan mendengarnya sakit membuat Cahya sangat khawatir. Aditya mendorong stroller yang didalamnya ada Kyra dan Kyros masuk ke kamar Elea bersama Danist. Mereka berpamitan untuk pergi ke kantor sekarang. Tidak lupa Aditya mencium kedua bayinya sebelum pergi.


****


Seperti biasa jika Cahya dan Elea sudah bertemu mereka akan menghabiskan waktunya untuk mengobrol dan bercanda, terlebih saat ini bayi mereka sedang tertidur. Tetapi ada yang berbeda dari Elea, dia tampak tidak seperti biasanya, Cahya berpikir mungkin karena sahabatnya itu sedang sakit.


"El, bagaimana bisa kau menabrak meja? Apa yang sedang kau lakukan saat itu?"


"Gelap Ca, aku tidak fokus karena ingin ke kamar mandi jadi aku menabrak meja"


"Gelap??? Bagaimana bisa gelap?? Apa listrik disini padam, tapi tidak mungkin dong El!"


Elea tiba-tiba menangis dan memeluk Cahya. Cahya heran kenapa sahabatnya itu menangis saat membahas tentang listrik padam, apa yang sebenarnya terjadi. Cahya melepaskan pelukan Elea, dan memegang kedua bahu sahabatnya itu lalu menatapnya seraya menanyakan kenapa dia menangis.


Sambil terisak cerita itupun mengalir dari mulut Elea, bagaimana pertemuannya dengan Ariel hingga permasalahan obat yang diberikan Ariel padanya. Serta usaha Ariel untuk memanfaatkan dirinya yang kacau karena efek obat itu dengan masuk diam-diam ke aoartemennya menggunakan access card yang oernah dia berikan pada Ariel dulu. Juga kedatangan Danist di saat yang tepat dan menyelamatkannya dan pertengkaran Danist dengan Ariel yang tidak terkendali.


Cahya hanya bisa ternga-nga mendengar semua itu, tidak percaya jika Ariel tega melakukan hal serendah itu kepada Elea. "Astaga, apa yang ada di otak Ariel, kenapa dia jahat sekali, lalu bagaimana denganmu setelah Danist menyeret Ariel keluar?"


"Aku sendiri sudah seperti orang gila Ca, kesakitan yang aku rasakan ditubuhku membuatku tidak berhenti meronta kepanasan"


"Apa pada akhirnya Danist yang melakukannya untuk menghentikan rasa sakitmu???"


Elea menggelengkan kepalanya. "Danist tidak melakukannya, dia memilih membiarkanku tersiksa semalaman"


"Apa??? Jadi dia membiarkanmu kesakitan semalaman, kenapa dia tidak melakukannya jika itu bisa membantumu?? Jahat sekali, apa susahnya sih melakukannya"


"Bukan begitu Ca" Protes Elea, karena tidak mau Cahya menaruh prasangka buruk kepada Danist, Elea pun terpaksa menjelaskan hubungannya dengan Danist yang sebenarnya bahwa Danist sudah berjanji kepadamya untuk tidak menyentuhnya dalam konteks berhubungan layaknya suami istri. Semua karena dia masih belum bisa menerima Danist sepenuhnya, hatimya masih dilingkupi ketakutan dan trauma tentang permasalahan rumah tangganya dulu. Elea belum bisa mencintai Danist, walaupun lelaki itu sudah melakukan banyak hal untukmya dan juga Gienka.


Seolah mengerti apa yang dirasakan Elea, Cahya memeluk sahabatnya itu. Cahya pernah merasakan ada di posisi Elea saat ini, dulu dia juga tidak bisa langsung menerima Aditya sebagai suaminya, tetapi karena kebaikan hati Aditya, cinta dan kelembutan hati Aditya serta kesabaran lelaki itu menghadapi sikapnya, pada akhirnya lama-lama hatinya bisa luluh dengan sendirinya dan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Aditya. Cahya yakin suatu saat Elea juga akan melakukannya pada Danist, mengingat lelaki itu begitu tulus dan baik hati serta sangat mencintai Elea sejak lama. Cahya percaya kekuatan cinta itu ada, dan Elea pasti akan menyadarinya nanti bahwa Danist sangat mencintainya.


"El, aku pernah ada di posisimu, apa kau pikir aku dulu juga tidak melakukannya pada Aditya? Aku juga melakukannya tetapi aku sadar bahwa kita tidak boleh terus terkungkung pada masalalu, dan harus berani membuka hati lagi, jika tidak sekarang pasti nanti, semua kembali padamu El"


Cahya bersyukur, Elea bertemu dengan Danist, lelaki itu memang baik, dan dia tidak memanfaatkan keadaan Elea saat itu. Danist mengesampingkan seluruh egonya dan lebih memilih membuat Elea tersiksa daripada membantu menghilangkan sakit Elea dengan melakukan hal seperti itu disaat Elea sendiri tidak atau belum menginginkan itu darinya.