
Cahya menikmati makanan yang dimasak oleh Aditya, dia memuji masakan buatan suaminya itu, walaupun hanya tumisan daging tetapi rasa dan aromanya sangat nikmat. Aditya hanya melempar senyum dan berkata jika pujian Cahya padanya terlalu berlebihan.
"Kenapa aku harus bertemu Theo lagi saat disini? Bagaimana jika dia berniat buruk lagi kepada kita?"
Aditya menghentikan makannya dan menatap Cahya sambil mengelus pundaknya. "Sayang, aku minta maaf aku benar-benar lupa jika si brengsek itu sudah bebas dari penjara 2 bulan yang lalu, andai saja aku ingat aku pasti akan berbuat sesuatu agar dia tidak bisa mengganggumu lagi"
"Memang apa yang ingin kau lakukan?? Apa kau akan menyakitinya atau kau akan merusak wajahnya lagi?"
"Bukan sayang, aku hanya akan memastikan bagaimana kehidupannya setelah keluar dari penjara, apakah dia punya niat buruk padamu lagi atau bagaimanalah, aku hanya ingin memastikannya saja"
Cahya menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya lewat mulutnya dan menatap Aditya tajam.
"Kenapa kau harus melukai wajahnya? Padahal kau pernah berjanji padaku bahwa kau tidak akan menyakiti seseorang walaupun kau dalam keadaan marah besar? Bagaimana jika itu justru membuatnya semakin dendam padamu, pada kita, bagaimana Adit? Dia bisa saja akan menyakiti kita untuk kesekian kalinya, dia hampir melenyapkan nyawamu tetapi justru bayi kita yang jadi korbannya, aku takut dia akan melakukannya lagi aku sangat takut" Cahya mulai menangis dan suaranya bergetar.
Aditya bangkit dari tempat duduknya dan berdiri meraih Cahya lalu memeluknya sambil mengusap punggungnya lembut. "Semua akan baik-baik saja, aku yang akan selalu melindungimu, tidak akan kubiarkan siapapun melukaimu dan bayi kita lagi, tenanglah" Ucapnya menenangkan istrinya.
Setelah istrinya merasa tenang, Aditya menyuruhnya untuk duduk dan menghabiskan makanannya.
"Habiskan makananmu, setelah itu kita pindah ke ruang baca, kau bisa membaca atau melihat televisi, ada beberapa pekerjaan lagi yang harus kubereskan"
Cahya segera menyelesaikan makannya dan mencuci piring sementara Aditya membuat jus semangka untuknya dan Cahya lalu membawanya ke ruang baca.
Cahya menyusul Aditya ke ruang baca, suaminya itu sedang duduk di sofa, menghadap laptopnya dan tampak serius, dia melihat sekilas pada Cahya lalu tersenyum.
"Duduklah, minum jusnya, ada banyak buku disini pilih dan bacalah kau pasti akan menyukainya", gumamnya, lalu kembali serius lagi menghadap laptopnya.
Cahya mengambil sebuah buku dan meminum jusnya, lalu duduk di sofa di seberang Aditya, membacanya sambil menenggelamkan tubuhnya di sofa.
Bacaan itu menarik, dan keheningan itu membuatnya merasa nyaman. Aditya melirik Cahya lalu tersenyum menyadari jika istrinya itu selalu tampak serius jika sudah memegang buku ditangannya.
****
Aditya sudah menyelesaikan pekerjaannya sedangkan Cahya masih diam karena serius membaca buku yang dipegangnya. Aditya memandangi Cahya yang ada disebelahnya cukup lama, karena Cahya terlalu serius sampai dia tidak menyadari jika Aditya sudah cukup lama menyelesaikan pekerjaannya.
Saat Cahya mengarahkan pandangannya kearah Aditya, Cahya dibuat terkejut karena suaminya juga memandang kearahnya sambil tersenyum. "Kau membuatku terkejut saja" Seru Cahya yang justru mendapat respon tawa dari Aditya.
"Kenapa kau terkejut, apa senyumku begitu menyeramkan sehingga kau hampir terlonjak, sudah sore aku ingin mandi, ayo naik keatas"
Cahya berdiri didepan jendela kamarnya melihat pemandangan diluar dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Lagi-lagi kebahagiaan dan ketentraman rumah tangganya diusik oleh kehadiran Theo, ketakutannya menjadi cukup beralasan mengingat dia telah melewati fase terberat di hidupnya akibat kecerobohannya dan keegoisan Theo yang hampir menghancurkan hidupnya. Walaupun Aditya terus meyakinkannya bahwa dia akan melindunginya tetap saja Cahya dilanda ketakutan yang luar biasa, apalagi amarah suaminya telah meninggalkan bekas yang tidak bisa dihilangkan diwajah Theo. Mengingat sifat Theo yang nekat dan suka bertindak semaunya tanpa memperdulikan orang lain membuat Cahya menjadi takut jika berurusan dengannya.
Saat Cahya sibuk melamun, Aditya yang baru saja selesai mandi memeluknya dari belakang. "Ada apa? Kenapa melamun?" Tanya Aditya.
"Ah tidak, aku hanya sedang melihat pemandangan saja, apa kau ingin aku menyiapkan makan malam?"
"Tidak perlu sayang, aku masih sangat kenyang, sekarang giliranmu mandi, pergilah"
"Oh iya barusan Randy menelepon, tetapi dia tidak mau mengatakannya padaku jadi dia memintamu untuk menelepon kembali"
Setelah Cahya masuk kedalam kamar mandi, Aditya langsung menghubungi Randy untuk menanyakan persiapannya mencari informasi tentang Theo. Setelah berbicara cukup lama, Aditya menyerahkan semuanya pada Randy dan anak buahnya untuk mengurus Theo.
*****
Keesokan harinya Aditya membantu Cahya membuat sarapan, dia tidak tega dengan istrinya jika harus memasak sendirian. Cahya sedang membuat sandwich kesukaan Aditya, sedangkan Aditya sendiri membantu membuat jus.
Semua sudah siap dan mereka berdua pun menikmati sarapannya. Hari ini Cahya tidak mau sendirian di Villa dia ingin ikut Aditya ke kantor dan perkebunan. Aditya masih melihat ketakutan diwajah Cahya dan tidak tega jika harus menolak permintaannya.
Saat sampai di perkebunan, Cahya merasa sangat senang melihat hijaunya hamparan kebun Teh. Cahya meminta ijin kepada Aditya untuk berkeliling tetapi Aditya hanya mengizinkannya berkeliling diluar kebun karena takut Cahya terpeleset jika memaksa masuk ke area perkebunan. Setelah dirasa cukup mengecek kodisi perkebunan, Aditya mengajak Cahya untuk pergi ke kantor yang letaknya tidak jauh dari sana.
Aditya tampak serius memeriksa berkas-berkas dihadapannya, Cahya tidak mau mengganggunya dan memilih duduk manis disofa sambil memainkan ponselnya. Terlalu fokus dengan pekerjaannya Aditya tidak begitu memperdulikan Cahya. Sampai akhirnya waktu makan siang tiba, Aditya baru sadar jika dia mengabaikan istrinya, diliriknya kearah Cahya berada ternyata istrinya itu tertidur disofa dengan posisi duduk. Segera Aditya menghampirinya dan membangunkannya lalu mengajaknya kembali ke Villa untuk makan siang.
*****
Dalam perjalanan kembali ke Villa, Aditya hanya diam tidak mengajak Cahya berbicara atau membahas apapun membuat Cahya sedikit menaruh curiga dengan apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya mereka sampai di villa, bergegas Cahya menyiapkan bahan untuk membuat makan siang, sedangkan Aditya langsung duduk di ruang tamu dengan wajah masam. Sepertinya suaminya sedang dalam keadaan yang tidak baik setelah dari kantor, jadi Cahya memutuskan untuk tidak mengganggunya.
Cahya membuat Pasta untuk makan siangnya dan juga akan membuat salad sebagai pelengkapnya, berharap itu bisa membuat mood Aditya lebih baik. Aditya mengendus ke dapur dan langsung memeluk Cahya dari belakang membuat perempuan itu mendongakkan kepalanya keatas menatap Aditya sambil tersenyum.
"Aku menginginkanmu" Bisik Aditya dengan suara parau.
Cahya mematikan kompornya lalu membalikkan badannya dan berhadapan dengan Aditya. "Ada apa denganmu?" Tanya Cahya penasaran.
Aditya tidak menjawab pertanyaan Cahya tetapi dia mendongakkan kepala Cahya dan langsung mellumat bibir Cahya, mencecap dan merasakan manisnya bibir itu. Cahya langsung merespon ciuman Aditya dan membalasnya, membuat keduanya saling berpadu menikmati satu sama lain.