SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 207



Cahya naik ke kamarnya membawa jus nanas untuk Aditya, tadi suaminya itu langsung naik ke kamar karena harus memeriksa pekerjaan penting yang baru saja diterimanya lewat email. Saat masuk, Aditya terlihat begitu fokus dengan laptopnya, Cahya hanya tersenyum melihatnya. Baginya Aditya terlihat sangat tampan saat sedang dia serius dengan sesuatu.


"Ini jus mu, jus nanas dengan sedikit himalayan salt seperti yang kau suka, pekerjaan apa yang membuatmu buru-buru memeriksanya?" Cahya memberikan gelas kepada Aditya.


Aditya menerima gelas itu sambil tersenyum. "Aku memeriksa berkas-berkas dan materi yang dikirim oleh Maysa untuk meeting minggu depan, aku akan membuka swalayan di swiss dimana itu dikhususkan menjual aneka produk dari negara kita"


"Ah benarkah? Berarti kau akan memiliki proyek besar lagi disana?"


"Ya, jika ini berhasil, doakan agar meetingnya sukses dan mereka setuju bekerja sama dengan kita"


"Aku yakin kau bisa melakukan dan meyakinkan mereka dengan baik"


"Jika ini berhasil kita akan tinggal disana lagi untuk beberapa bulan, seperti dulu aku akan mengawal semuanya sampai selesai"


"Tinggal disana lagi? Pasti akan sangat menyenangkan karena ada Kyros dan Kyra yang ikut, aku tidak akan kesepian lagi kalau kamu pergi, hehe"


"Kita membuat mereka disana, jadi kita juga harus membawa mereka kesana"


"Kau ini, dasar, selesaikan pekerjaanmu dan cepat habiskan jus mu, aku akan mengambil anak-anak dibawah" Cahya mencium pipi Aditya dan bergumam lagi sebelum pergi. "Aku mencintaimu"


"Aku tahu...." Sahut Aditya sambil tersenyum.


*****


Ariel duduk termenung dikamarnya, pandangannya mengarah keluar jendela. Perasaannya saat ini sedang hancur, keinginannya sudah tidak bisa terpenuhi.


Ayah Ariel masuk ke kamar putranya itu, tadi dia mendengar dari pelayan bahwa Ariel pulang dalam keadaan marah, dan membanting pintu kamarnya serta berteriak.


"Kau kenapa? Kenapa tadi kau berteriak? Apa ada masalah?"


Ariel hanya diam tidak menjawab pertanyaan Ayahnya. Tetapi karena merasa khawatir, Ayahnya itu terus saja bertanua hingga akhirnya membuat Ariel semakin marah dan langsung berteriak mengusir sang Ayah.


"Pergilah dari kamarku, aku tidak ingin siapapun menggangguku, cepat pergiiiii........!!!!!"


Dengan langkah pelan akhirnya Ayah Ariel pergi meninggalkan kamar putranya itu. Padahal dia ingin sekali membantu jika Ariel butuh bantuan, tetapi keadaan mereka memang sudah memburuk, untuk mengambil hati putranya sekarang pun itu terdengar sangat sulit. Semakin hari hidupnya semakin buruk saja, dia hanya memiliki seorang putra dan putranya itu justru tidak menganggap keberadaannya, dia merasa seperti hidup ditengah hutan sendirian tidak ada yang menerimanya. Mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan untuknya karena dulu dia telah menyakiti hati banyak orang dan sudah bertahun-tahun putranya sendiri membencinya. Sudah berbgai hal dia lakukan agar Ariel mau menerima maafnya tetapi semuanya tidak berhasil dannjustru semakin hari-hari semakin buruk saja.


*****


Malam harinya Aditya menikmati makan malam bersama Cahya juga Sang Mama dan Ibu mertuanya. Mereka akan pulang besok sore, karena paginya Nyonya Harry ingin sekali berkunjung ke kantor perkebunan, karena selama ini dia belum ada kesempatan untuk kesana dan menyerahkan semuanya ke Aditya, tetapi kali ini dia ingin melihat dan memeriksanya sendiri.


"Adit, kurasa kau harus menemui Ariel saat kita kembali, Mama tadi melihat dia sepertinya sangat hancur"


"Aku sudah menyuruh Randy untuk melihatnya besok, setelah kita pulang aku juga akan datang ke kantornya" Tutur Aditya.


Aditya sendiri merasa sangat kasihan melihat Ariel seperti ini, tetapi dia juga tidak bisa membenarkan apa yang dilakukan sahabatnya itu. Mengancam dan memaksakan kehendaknya itu bukanlah hal yang tepat dilakukan, andai saja Ariel tidak melakukan kedua hal itu pasti ada harapan untuk memperbaiki hubungannya dengan Elea. Ariel masih belum bisa mengontrol dirinya dan selalu melakukan hal sesuka hatinya, sifat bijak Ariel yang dulu sepertinya sudah hilang dari dirinya, padahal Aditya sendiri sebenarnya masih berharap Ariel dan Elea bisa kembali, tetapi memang sangat disayangkan Ariel memilih jalan menyakiti Elea dengan berselingkuh. Andai saja saat itu dia mengetahui lebih awal permasalahn ini, pasti dia akan mencegah Ariel untuk tidak dekat-dekat dengan Viona, mengingat Viona dan Erica adalah dua wanita yang licik, tidak memiliki empati dan juga tidak memiliki etika.


*****


Disisi lain Cahya juga akhirnya bisa menidurkan Kyra dan Kyros, kedua bayi itu telah tumbuh dengan cepat, padahal Cahya merasa bahwa seperti baru kemarin dia melahirkan mereka, tetapi sekarang mereka tumbuh menjadi bayi yang begitu sehat dan sangat menggemaskan.


Aditya kembali ke kamar setelah menerima telepon dari Ayahnya Ariel yang menanyakan padanya apakah dia tahu tentang apa yang terjadi sehingga Ariel pulang dengan keadaan marah, Aditya akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan memilih keluar kamar karena tadi Cahya sedang mencoba menidurkan bayinya. Aditya masuk ke kamarnya dan melihat Cahya sedang berdiri disisi box bayinya menatap kedua bayinya.


Lelaki itu menutup pintu dan menguncinya lalu mengendus dan memluk Cahya dari belakang. "Baumu harum sekali seperti Kyra dan Kyros, aku jadi tidak ingin berhenti menciumimu sama seperti saat aku menciumi mereka" Ucap Aditya sambil menempelkan bibirnya ke leher Cahya, mengecupnya lembut.


Cahya tersenyum dan menikmati apa yang dilakukan Aditya, lelaki itu mencumbu lehernya.


Aditya sekarang sedang menggigit ringan telinga Cahya, lalu membalikkan tubuh Cahya dengan lembut dan memeluknya erat. Pelukan itu begitu erat hingga Cahya bisa merasakan kejanttanan Aditya yang menekan tubuhnya dengan kerasnya. Cahya melingkarkan kedua lengannya dipunggung Aditya sambil memejamkan matanya.


"Seharian ini waktumu menjadi milik nak-anak, dan sekarang mereka sudah tidur, kini waktunya kau menjadi milikku"


Cahya melepaskan pelukan Aditya dan menatap dalam wajah suaminya itu, jemarinya mengelus pipi Aditya membuat lelaki itu memejamkan matanya. Cahya memegang kedua rahang Aditya dan mengecup bibir lelaki itu dengan lembut lalu turun ke lehernya, Cahya mengangkat tshirt yang dipakai Aditya dan melepaskannya. Cahya selalu dibuat takjub oleh tubuh Aditya.


Kini giliran Cahya mulai menciumi leher Aditya, ke dada nya lalu Cahya duduk berjongkok dan mencium perutnya. Cahya mendongakkan wajahnya menatap Aditya dari bawah sambil tersenyum tetapi kedua jemarinya sibuk melepaskan ikat pinggang Aditya dan menurunkan celananya. Kejanttanan Aditya langsung tegak begitu penghalangnya terlepas, segera Cahya meraihnya dan mengusapnya dengan lembut membuat Aditya mengerang.


Cahya menggerakkan jemarinya dengan lembut, dan pelan membuat Aditya tidak berhenti mengerang menikmati setiap gerakannya, membuat Cahya senang mendengarnya. "Entah kenapa aku merasa ini semakin terlihat membesar, apa kau melakukan sesuatu padanya hingga dia tampak lebih besar?" Gumam Cahya sambil mendongak melihat ke arah Aditya.


"Benarkah? Aku tidak melakukan apapun, itu berarti aku akan semakin memuaskanmu, aaarggghhhh sekarang gunakan mulutmu, buka mulutmu dan puaskan aku juga, nanti aku akan bergantian memuaskanmu" Ucap Aditya dengan suara parau karena merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa.


Cahya pun menuruti apa yang diperintahkan Aditya, dia membuka mulutnya dan mulai mengulum kejanttannya Aditya, membuat lelaki itu semakin menggilla. Aditya menggenggam rambut Cahya yang terikat lalu membimbingnya dengan menarik dan mendorong kepala Cahya, begitu seterusnya, membuat Aditya merasa hampir gila karena sensasi yang dirasakannya. Aditya membungkukkan sedikit badannya dan mengangkat Cahya agar berdiri, lalu mendaratkan ciuman dikening istrinya itu.


"Sudah cukup, jika kita teruskan ini, aku bisa meledak lebih cepat, sekarang giliranku yang memuaskannmu" Ucap Aditya.


Lelaki itu membaringkan Cahya ke atas ranjang. Jemarinya menyusup ke balik gaun tidur Cahya dan langsung menyentuh pusat kewaniitaannya. Sentuhan itu membakar sekaligus menyejukkan dan Cahya langsung mengangkat tubuhnya penuh gairah. Aditya menundukkan kepalanya, mengecup leher dan pundak Cahya menikmati betapa perempuan sellau menyerah kepada gaiirahnya.


“Kau semakin Cantik, aku semakin tidak bisa lepas darimu"


Lelaki itu mengangkat gaun yang dipakai Cahya dan mulai menyentuhnya, dimana-mana, meninggalkan gelenyar panas yang membakarnya. Jemari Aditya menyentuh pusat kewaniitaannya dan Cahya merasakan dorongan yang amat sangat untuk memohon agar Aditya mau memasukinya.


Dan Adity sudah siap, Lelaki itu terasa begitu keras dan panas di bawah sana. Cahya mendesak-desakkan tubuhnya dengan frustrasi, permohonan tanpa kata.


“Tenang sayang" Aditya mulai terengah, menahan pinggul Cahya yang bergairah di bawahnya, “Aku akan memuaskanmu sebentar lagi”


Aditya menyentuhkan dirinya, dan langsung menggertakkan giginya, melawan dorongan kuat untuk memasuki Cahya dengan kasar. Cahya sudah sangat siap menerimanya, tetapi Aditya melakukannya dengan lembut, memberikan tubuhnya untuk kenikmatan istrinya itu.


Ketika kehangatan Aditya merasukinya, tenggelam dalam tubuhnya yang panas dan basah, Cahya mengerang dan memejamkan mata. Oh astaga! Rasanya begitu tepat, kenikmatan ini, rasanya selalu luar biasa.


"Ahhhhh sayang... Its nice and tight!!!" Gumam Aditya ketika dia sudah menenggalmkan dirinya ditubuh Cahya.


Mereka bergerak dalam alunan gairah yang keras, berusaha memuaskan gejolaknya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya tubuh Cahya terasa melayang, mencapai puncak kenikmatannya didorong oleh rasa ******* yang begitu dalam. Ketika mendengar erangan, Aditya mengikutinya. Menyerah dalam orrgasme bersamanya.