
"Aku menangkapmu!" Ucap Aditya yang tiba-tiba memeluk Cahya dari belakang, saat istrinya itu hendak memakai pakaian, hingga membuat gaun yang dipegang Cahya jatuh ke lantai.
"Kau ini....!!!! Mengejutkanku saja"
Aditya menciumi leher Cahya dari belakang dan melingkarkan kedua tangannya di perut Cahya. "Sulit sekali untuk sekarang bisa mendapatkan waktu seperti ini, anak-anak selalu ada dimana-mana, bahkan kalaupun kita melakukannya saat malam hari, tidak bisa seperti dulu lagi karena kau takut sekali anak-anak bisa mendengar suara kita, aku benci melihatmu menahan suara seksimu itu saat kita sedang bercinta!"
Cahya membalikkan badan dan mencubit pinggang Aditya, membuat suaminya itu meringis kesakitan.
"Diamlah, dan jangan mengeluarkan kata-kata seperti itu, bagaimana jika nanti anak-anak tiba-tiba masuk, pergilah dan cepat mandi, aku akan segera berganti pakaian lalu melihat anak-anak"
Cahya memundurkan tubuhnya dari Aditya, kemudian berbalik badan lagi dan membungkuk mengambil pakaiannya yang tadi terjatuh. Saat Cahya berdiri, lagi-lagi Aditya memeluknya dari belakang dan menggodanya.
"Blow me please, sebentar saja setelah itu aku akan mandi!" Pinta Aditya sambil berbisik ditelinga Cahya.
"Tidak mau....!!! Sebelum kau meminta itu padaku, kau harus mengabulkan keinginanku dulu!"
"Katakan! Apa yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya!" Aditya menumpuhkan dagunya di pundak Cahya.
"Will you make me a child??" Tanya Cahya mencoba membalas Aditya, karena dia tahu jika dia mengatakan itu Aditya akan langsung menolaknya mentah-mentah.
"Do you want a baby??? No.....!!!"
"Please....!!!" Suara Cahya berubah memelas.
"Tidak akan pernah.....!!! Tapi kalau ini, kau pasti tidak akan menolaknya"
Aditya menelusupkan tangan kanannya ke sutra putih yang membungkus area v Cahya, lalu mengusapnya dengan lembut membuat istrinya itu mengeluarkan erangan lirih sambil memejamkan matanya. Cahya menyandarkan kepalanya di dada Aditya, kemudian menggigit bibir bawahnya, tidak tahan dengan sensasi yang mendera otaknya karena permainan jemari Aditya yang begitu ahli dibawah sana.
Klik.....!!!
Kyra dan Kyros membuka pintu kamar, keduanya melihat ke segala sudut ruangan, dan kamar orangtuanya dalam keadaan sepi.
"Apap......!!!" Kyra berteriak.
"Amam......!!!!" Kyros juga melakukan hal yang sama memanggil Cahya.
Mendengar suara kedua anaknya, Cahya mendorong Aditya kemudian menyuruh suaminya itu agar bergegas keluar dan menemui anak-anaknya, sementara dia akan memakai pakaian lebih dulu. Wajah Aditya terlihat kesal, ini kesekian kalinya anak-anaknya tidak membiarkannya untuk berduaan dengan Cahya. Aditya kemudian meninggalkan Cahya sendirian di ruang ganti dan keluar untuk menemui kedua anaknya.
Kyra dan Kyros terlihat sudah rapi dengan pakaian mereka. Mama Aditya sudah membantu keduanya untuk bersiap-siap pergi ke rumah Gienka. Aditya duduk berjongkok dan memuji kedua bocah itu, mengatakan bahwa mereka cantik dan juga tampan.
"Apa kita jadi ke rumah Gie??" Tanya Kyra.
"Tentu saja, Amam sedang berganti pakaian, kalian duduk diam disini dan Apap akan mandi agar kita tidak terlambat"
Sebelum meninggalkan Kyra dan Kyros ke kamar mandi, Aditya menyuruh kedua anaknya ke kamar mereka kemudian dia mengambil laptopnya dan memutarkan video tentang luar angkasa yang menjadi kesukaan Kyros agar putranya itu diam ditempatnya dan tidak berlarian. Sementara Gienka akan diam saat didepan semua boneka dan mainannya.
Sebenarnya hari ini Ariel akan mengajak Aditya untuk melihat apartemen yang akan ditinggali sementara waktu olehnya dan Cahya saat rumah mereka direnovasi nanti. Jika dirasa tepat dan cocok, dia dan Cahya serta anak-anaknya akan segera pindah kesana setelah pernikahan Adri dan Chika di gelar bulan depan, karena saat ini keluarganya sedang sibuk mempersiapkan acara besar itu.
Acara yang seharusnya sudah dilakukan tahun lalu harus tertunda hingga tahun ini, karena Adri terlibat permasalahan yang sangat besar dan sempat gagal. Dimana Adri dituduh sudah menghamili rekan kerjanya, dan diminta untuk bertanggung jawab, tetapi Adri bersikeras mengatakan bahwa dia tidak melakukan hal itu. Suasana di keluarga mereka saat itu sangat buruk, Tuan Harry marah besar terhadap putranya, sementara Nyonya Harry juga dirundung kesedihan mendalam. Hubungan Adri dan Chika berantakan dan mereka memilih berpisah.
Adri terus menolak untuk menikahi perempuan itu karena dia merasa tidak melakukannya. Dan Adri mengancam akan bunuh diri jika dia terus dipaksa menikahi Sheila. Hingga akhirnya permasalahan itu berakhir saat ada sebuah bukti bahwa Adri bukan ayah dari janin yang di kandung Sheila. Keluarga Aditya sepakat bahwa tes DNA harus dilakukan setelah bayi itu lahir untuk kepastian jelasnya, jika terbukti itu memang darah daging Adri, tentu Adri harus siap menikahi Sheila. Tetapi jika tidak, tentu Sheila juga keluarganya harus menerima konsekuensinya karena sudah menuduh dan merusak nama baik keluarga Sahasya. Hingga akhirnya semua tuduhan itu tidak benar, dan Adri mulai lagi memperbaiki hubungannya dengan Chika, dan bulan depan pernikahan mereka.
******
Cahya dan Aditya akhirnya sampai di halaman rumah Elea dan Danist. Aditya menekan klakson mobilnya agar sang pemilik rumah keluar. Cahya membuka pintu dan melepaskan seatbelt Kyros, begitu juga dengan Aditya, melakukan hal yang sama pada Kyra. Bocah perempuan itu turun dari mobil dengan perasaan yang bahagia karena akan bertemu dengan Gienka. Kyra berlari kesisi lain mobil Aditya dan menghampiri Cahya yang sedang menutup pintu mobil setelah menurunkan Kyros.
"Mam, mana kue yang tadi kita beli untuk onty El dan Gie?" Tanya Kyra pada Cahya.
"Sebentar sayang!!!" Ucap Cahya sambil tersenyum.
Aditya membuka bagasi mobilnya dan mengambil kue yang tadi mereka beli. Tak lama Elea keluar dari garasi mobil bersama dengan Danist karena kebetulan mereka sedang berada di ruang keluarga yang ada di lantai satu. Kyra mengambil box berisi kue dari tangan Aditya dan berlari ke mendekati Elea dan Danist.
"Onty El, aku menyuruh Amam untuk membelikan kue untuk tante El, om Dan dan Gie" Kyra mengulurkan box berisi kue itu pada Elea.
Elea mengambil seraya mengucapkan terima kasih, dan mencium kening Kyra. Kyra dan Kyros dengan sopan bergantian menyalami dan mencium tangan Elea dan Danist. Kemudian Kyra menanyakan dimanakah keberadaan Gienka saat ini. Elea memberitahu jika Gienka sedang ada di rumah Ariel, dan akan memanggilnya. Tetapi kemudian Aditya menghentikan Elea, karena dia yang akan mengajak Kyra ke rumah Ariel, sekaligus ada yang ingin dibahasnya dengan Ariel. Sementara itu, Kyros menolak ikut Aditya dan Kyra ke rumah Ariel dengan alasan bahwa dia tidak mau bermain bersama kedua bocah perempuan jtu karena mereka berdua selalu memaksanya untuk ikut bermain boneka, jadi Kyros lebih memilih bersama Cahya di rumah Elea. Alasan Kyros itu, membuat semua orang tertawa mendengarnya, Kyros memang lebih suka menyendiri saat Gienka dan Kyra bermain, kecuali jika ada Louis, dia baru akan memilih bermain dengannya karena mereka sama-sama laki-laki. Aditya menggendong Kyra dan mengajaknya menyebrang jalan untuk ke rumah Ariel.
"Mana Friddie??? Apa dia sedang tidur???" Tanya Cahya pada Elea.
"Itu dia...!!!" Danist menunjuk ke depan ketika melihat Mamanya datang mendorong stroller.
"Pagi tante Sari, habis darimana???"
"Mengajak Friddie jalan-jalan, tadi dia sedikit rewel, sedangkan Elea sedang sibuk menjemur pakaian dan Danist sedang sibuk mengecek pekerjaannya, jadi tante membawa Friddie untuk keluar sebentar"
Cahya melangkah pelan mendekati stroller yang berisi Friddie. "Hallo Friddie sayang, habis jalan-jalan ya???" Cahya duduk berjongkok dan menatap bayi laki-laki yang menggemaskan itu. Friddie tersenyum dengan manisnya ke arah Cahya membuat Cahya mentoel pipi tembemnya. Setiap melihat Friddie, ingin sekali rasanya dia memiliki seorang bayi lagi, tetapi Aditya tetap menolak keinginannya itu.
Elea kemudian mengajak Cahya dan Kyros untuk masuk ke dalam rumah.
******
Aditya memanggil nama Ariel tetapi tidak ada jawaban. Aditya kemudian mengajak Kyra masuk ke rumah Ariel lewat garasi mobil yang terbuka. Sampai di dalam rumah tampak sepi tetapi sayup-sayup terdengar suara di bagian belakang. Aditya menemukan Ariel sedang duduk di kursi di tepi kolam renang sedang memegang cangkir plastik berwarna pink dan di depan Ariel ada Gienka yang sedang memegang teko berwarna sama dan menuang ke cangkir yang lainnya.
"Wah sedang ada pesta teh disini, bolehkan uncle Adit dan Kyra bergabung di pesta teh kalian???"
Ariel dan Gienka menoleh bersamaan ke arah sumber suara itu. Aditya sedang menggendong Kyra. Gienka berteriak saat melihat Kyra, sedangkan Kyra tersenyum sambil melambaikan tangannya. Aditya menurunkan Kyra dan dengan cepat putrinya itu berlari menghampiri Gienka.
"Apa kau hanya datang bersama Kyra???" Tanya Ariel.
"Tidak!!! Kami datang berempat, Cahya dan Ky sedang ada di rumah Elea, kurasa Ky takut bertemu denganmu, itu sebabnya dia menolak ketika ku ajak kesini"
Dahi Ariel berkerut. "Ky takut padaku??? Kenapa??? Memangnya apa yang sudah aku lakukan padanya?? Sebelumnya dia biasa saja"
"Ky memang takut sama uncle Yel, karena.....! Apap berkata pada Ky bahwa... Gie sudah melaporkan Ky pada uncle Yel kalau dia suka mencium pipi Gie, jadi Ky takut uncle Yel akan menggigitnya"
"Hahahaha ada ada saja! Lagipula ini salahmu Dit, lain kali jaga sikapmu saat didepan anak-anakmu, hadeuhhh ada-ada saja"
Ariel mempersilahkan Aditya untuk duduk di kursi dan membiarkan putri mereka bermain. Kemudian dia masuk untuk mengambilkan Aditya minum. Ariel membawa sekotak besar jus mangga instan dan menuangkannya di gelas, meminta pemakluman dari Aditya karena hanya itu yang ada di kulkasnya, dia belum sempat pergi untuk membeli wine, bir atau champagne. Tak ingin dilingkupi berbagai pertanyaan tentang alasan kenapa Aditya dan yang lainnya selama ini memilih diam dan tidak mengatakan yang sebenarnya pada dirinya, Ariel harus segera mendapatkan jawabannya sekarang dari Aditya.
"Dit....! Kenapa selama ini kalian menyembunyikan tentang kebenaran permasalahan masalalu Ayahku dan Ibunya Danist padaku??? Jika kalian sudah tahu dari awal kenapa tidak berusaha menjelaskannya padaku??"
Aditya melirik ke arah Ariel dengan terkejut, dia meletakkan gelas yang berisi jus dan membatalkan niatnya untuk meminumnya. Tetapi Aditya tidak mengatakan apapun.
Ariel tersenyum tipis dengan hanya menarik keatas satu sisi bibinya. "Dari ekspresimu terlihat jelas jika kau sudah mengetahui itu sejak lama, bahkan mungkin sebelum permasalahan malam itu! Benarkan perkataanku ini???"
"Jadi kau sudah mengetahuinya??? Semuanya???"
"Ya, aku sudah mengetahui semua kebenarannya. Kenapa kalian selalu melakukan itu padaku??? Kalian terlalu sering menyembunyikan banyak hal besar dariku! Apakah aku terlalu hina hingga kalian melakukan ini semua padaku" Ariel menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Bukan begitu Iel, aku dan Randy sudah berusaha ingin menjelaskan padamu setelah kejadian malam itu, tetapi kau menolak dan tidak mau mendengarkan apapun dari kami"
"Ya aku akui itu, aku tidak mau mendengarkan apapun dari kalian, tetapi itu artinya kalian sudah mengetahui itu jauh-jauh hari sebelum kejadian malam itu, lalu kenapa kalian tidak memberitahuku sebelumnya!"
"Bagaimana bisa kami memberitahumu jika kami sendiri belum tahu kebenarannya dengan pasti"
Aditya kemudian menceritakan bagaimana awal mula mereka mulai mengetahui kisah itu, dimana saat itu tidak sengaja Mama Danist bertemu dengan Mama Chitra di rumah Elea. Mama Chitra menceritakan tentang kisah masalalu Mama Danist saat Danist masih kecil, dia bercerita itu karena dulu sempat bertetangga dengan Danist dan Mamanya. Saat mendengar cerita itu, mereka sama sekali tidak menyangka jika laki-laki yang dimaksud adalah Ayah Ariel. Itu baru terungkap saat di pernikahan Randy dan Chitra, dimana pak Andi datang kesana dan setelahnya Mama Chitra mengatakan bahwa pak Andi adalah mantan suami dari Mama Danist.
"Saat aku mendengar itu dari Randy, aku benar-benar terkejut Iel, tetapi kami pikir itu bukanlah urusan dari kami, dan itu juga sudah berlalu, kalian semua sudah memiliki kehidupan yang bahagia, kau dan Ayahmu, Danist dan Mamanya, tetapi yang lebih mengejutkan adalah kejadian malam itu, dimana kita bertiga memergoki Ayahmu berbicara tentang kebenarannya pada Danist, kau terlalu marah hingga membuat kau tidak ingin mendengar apapun dari kami"
"Harusnya kau bisa menjelaskan lewat pesan, aku pasti membacanya, ini sudah berlalu selama bertahun-tahun tetapi bisa-bisanya kalian tidak memberitahuku"
"Maafkan aku Iel! Tetapi jika kau sudah mengetahui semuanya, apa kau sudah meminta maaf pada Danist dan Mamanya???"
Ariel menggelengkan kepalanya dan mengatakan pada Aditya jika dia masih belum siap untuk melakukan itu. Ariel bergumam didalam hatinya bahwa dia merasa sangat malu untuk melakukannya, juga takut jika Danist dan Mamanya tidak mau memaafkannya. Dan saat ini hatinya masih hancur sekali, masib belum bisa menerima semua kenyataan itu.
Aditya menatap kebungkaman Ariel, dan sahabatnya itu menundukkan kepalanya. Aditya tahu Ariel pasti saat ini masih butuh waktu untuk bisa mengatakan permintaan maaf kepada Danist dan Mamanya. Tetapi Aditya yakin bahwa suatu saat Ariel pasti akan melakukannya jika dia merasa sudah siap. Ariel tampak murung, Aditya harus bisa mengalihkannya dan membuat Ariel tersenyum lagi.
"Iel....!!! Kau bahagia sekali saat Gienka menuangkan teh ke cangkir yang kau pegang, apa kau tidak ingin ada yang benar-benar menuangkan teh sungguhan untukmu???"
"Tidak Dit, jika dia tidak bisa menerima kehadiran putriku, aku lebih rela jika harus sendiri seumur hidupku, sumber kebahagiaanku adalah Gienka, mungkin semua kegagalan yang ada dihidupku selama ini adalah buah dari semua kesalahan serta sikapku yang buruk selama ini, ya kasarnya ini adalah karma dari Tuhan untukku, aku sudah ikhlas menjalaninya, dulu aku sudah meninggalkan Elea yang begitu mencintaiku, aku menyakitinya begitu dalam dan sekarang lihatlah diriku, aku selalu gagal menjalani hubungan dengan perempuan dengan berbagai alasan, sedangkan Elea sudah berbahagia dengan laki-laki lain, dan setelah kupikir-pikir itu memang balasan dari Tuhan untukku, aku dibuat menderita karena cinta"
"Tapi apa selamanya kau akan hidup sendiri seperti ini terus Iel???"
"Aku tidak pernah takut Dit, ada Gienka bersamaku"
"Segeralah meminta maaf pada Danist jika kau sudah siap, hubungan kalian pasti bisa diperbaiki, kau tidak akan sendiri lagi, Danist bisa menjadi kakak yang baik, mungkin juga tante Sari bisa menerimamu!"