
Cahya benar-benar tidak kembali ke kamar itu, semalam suntuk Aditya menunggunya hingga dia tertidur. Keesokan harinya saat dia berolahraga dia berharap seperti biasa Cahya akan membawakan minum untuknya tetapi justru mbak Tina yang datang membawakan jus dan air untuknya lalu menanyakan keberadaan istrinya dan ARTnya itu mengatakan bahwa Cahya sedang mandi dan sarapan juga sudah disiapkan. Bergegas Aditya pergi dari ruang gym nya dan menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap berangkat ke kantor, dia akan mencoba menjelaskan pada Cahya saat nanti dimobil.
Aditya turun dan menuju ruang makan, ingin segera bertemu dengan Cahya karena sejak perselisihannya kemarin dia sama sekali belum melihat istrinya itu, tetapi ternyata diruang makan dia tidak menemukan siapa-siap selain mbak Tina yang sedangsibuk didapur.
“ Mbak, apakah istriku belum selesai bersiap-siap ke kantor?? Bisakah kau panggilkan dan menyuruhnya untuk segera sarapan!”
“ Loh tuan muda tidak tahu ya?? Non Cahya sudah berangkat sekitar 15 menit yang lalu dan meminta pak Udin untuk mengantarnya, non juga tidak sempat sarapan karena sedang buru-buru”
Mendengar perkataan ARTnya seketika Aditya merasa murung, istrinya benar-benar masih marah bahkan tidak mau bertemu dengannya.
2 hari berlalu Cahya masih sama tidak mau berbicara atau bertemu dengan Aditya karena setiap kali mencoba untuk berbicara dengannya, Cahya selalu menolak dan meninggalkannya, sikap kekanak-kanakan istrinya itu sebenarnya membuat jengkel Aditya, karena setiap kali marah Cahya tidak pernah mau memberinya kesempatan untuk menjelaskan, sampai akhirnya dia memutuskan untuk membiarkan Cahya berbuat semaunya. Aditya harus memikirkan suatu cara agar Cahya mau berbicara dengannya.
Dini hari ponsel Cahya terus berdering seolah tidak memperdulikan jika pemiliknya sedang tertidur dengan nyenyak. Dengan mata yang masih tertutup Cahya mencoba meraih ponselnya diatas meja, tidak melihat siapa yang meneleponnya dan langsung mengangkatnya dengan nada sedikit jengkel.
“ Halo, ini siapa? Seperti tidak ada besok saja?” Suara Cahya serak tertelan kantuk dengan nada jengkel karena terganggu dengan orang yang meneleponnya itu.
“ Cahya!!! Rumah ibumu sekarang terbakar, kami sedang berusaha memadamkan api nya”
Mata Cahya langsung terbelalak mendengar ucapan si penelepon itu, dan melihat nama yang tertera ternyata itu adalah tetangganya, tanpa pikir panjang dia melompat dari tempat tidur dan mengambil sweaternya, rumah dalam keadaan lengang karena semua orang sudah tertidur, supirnya juga sudah pulang, tidak punya pilihan lain Cahya harus membangunkan Aditya, segera dia berlari menuju kamar suaminya dan menggedor pintunya sambil memanggil Aditya. Butuh waktu lama hingga akhirnya pintu itu dibuka.
“ Ada apa Ca, kenapa kau menggedor pintu dengan keras, kalau kau menginginkanku kenapa tidak bilang dari tadi?” Suara Aditya terdengar ketus dan sedikit menggoda Cahya tetapi kemudian melihat istrinya seperti panik dan menangis, Aditya langsung memegang kedua pundak Cahya.
“ Ada apa kenapa kau menangis?? Apa kau mimpi buruk atau apa?”
“ Ibu.....” Suara Cahya tertelan dan menangis sesenggukkan membuat Aditya panik dan menggoyangkan bahunya.
“ Ibu?? Ibu kenapa???”
“ Rumah... rumah ibu terbakar”
****
Mereka berdua tertegun ketika melihat kobaran api yang begitu besar melahap rumah ibunya, Cahya segera berlari keluar mobil untuk mencari ibunya, Aditya langsung mengikutinya dan menahan Cahya agar tidak mendekati rumah yang terbakar.
“ Aditya lepaskan aku, aku mau mencari ibu” Cahya menangis dan berusaha melepaskan pelukan Aditya, ibunya pasti berada di dalam rumah.
“ Tidak sayang, itu berbahaya”
Aditya mencoba menenangkan istrinya dengan tetap memeluknya agar dia tidak lari masuk ke dalam rumah yang sedang terbakar kemudian seseorang mendekati nya dan mengatakan bahwa tadi saat api mulai membesar ada yang melihat ada sebuah mobil hitam yang terparkir didepan rumah kemudian mobil itu langsung pergi meninggalkan rumah yang sedang terbakar, dan warga mulai berdatangan untuk memadamkannya, terlalu besar hingga warga tidak ada yang berani masuk untuk melihat keadaan didalam rumah tetapi sudah ada yang menghubungi pemadam kebakaran. Mendengar itu seketika Cahya lemas dan tidak sadarkan diri, Aditya langsung membawanya ke dalam mobil, tak berapa lama mobil pemadam kebakaran sampai disana dan langsung memadamkan kobaran apinya.
Aditya meminta bantuan kepada seorang tetangga untuk mencarikan minyak kayu putih untuk istrinya, beberapa saat kemudian seorang ibu-ibu datang membawa minyak kayu putih dan membantunya untuk menyadarkan Cahya dari pingsannya. Aditya meninggalkan Cahya dimobil bersama ibu tersebut karena dia harus mencari tahu kabar ibu mertuanya, dia mendekati salah satu anggota pemadam untuk mencari ibu mertuanya yang sepertinya terjebak didalam rumah, tetapi mengatakan bahwa dalam kondisi rumah yang hancur seperti ini kemungkinanya sangat kecil selamat jika ada yang terjebak didalamnya, karena rumah benar-benar terbakar habis.
Perasaan Aditya hancur melihat apa yang terjadi didepan matanya, bagaimana dia akan menjelaskan pada istrinya, dan bertanya-tanya kenapa ini bisa terjadi padahal dia sudah menugaskan Beno dan anak buahnya untuk 24 jam mengawasi rumah mertuanya, dengan segera dia bergegas mengambil ponselnya di mobil, dan melihat ternyata Cahya masih belum sadarkan diri.
“ Sayang, bangunlah, ayo buka matamu” Aditya berusaha membangunkan Cahya dengan menepuk-nepuk pipinya.
“ Pak, lebih baik anda bawa Cahya ke rumah sakit saja, takutnya dia mengalami shock yang berlebihan, anda bawa mobilnya, saya akan temani sampai rumah sakit” Ujar ibu tetangga yang dari tadi membantu menyadarkan Cahya.
“ Baik bu, trima kasih atas bantuannya” Aditya keluar sebentar untuk meminta bantuan warga terutama pak RT untuk mengurus semuanya sementara, karena dia akan membawa Cahya ke rumah sakit dan dia akan menyuruh orangnya untuk datang kesini.
Aditya kembali ke mobilnya untuk menghubungi Beno dan Ariel dan sadar ternyata ponselnya mati, tadi sebelum tidur dia lupa mencharge ponselnya, lalu segera mencari charger dan mengisi daya ponselnya, menunggu terisi dia menjalankan mobilnya untuk ke rumah sakit.
*****
Sesampainya dirumah sakit Cahya langsung dibawa ke UGD untk diperiksa, Aditya menyalakan ponselnya dan langsung menghubungi Ariel, butuh beberapa menit hingga Ariel mengangkat teleponnya, mungkin karena ini masih terlalu pagi. Aditya menceritakan kejadian yang terjadi dan meminta Ariel untuk membantu mengurus semuanya karena sepertinya ada unsur kesengajaan.
Setelah menghubungi Ariel, Aditya berencana menghubungi Adri tetapi melihat ternyata ada puluhan panggilan dari Beno, bergegas Aditya langsung menghubungi Beno untuk menanyakan kenapa hal ini bisa terjadi, padahal dia sudah menyuruhnya untuk menjaga keamanan dari mertuanya, dia ingin meluapkan amarahnya kepada Beno karena sudah teledor dalam menjalankan tugasnya.