
"Membantu??? Membantu apa om?"
"Bantu berbicara pada Ariel, kau tahu kan bagaimana sikapnya terhadap om, om khawatir jika dia terus seperti itu dia akan jatuh sakit, mengingat dia juga masih dalam proses pemulihan"
"Baik om, aku dan Randy akan mencoba berbicara dengannya"
"Terima kasih Dit, maafkan om sudah sering merepotkanmu, baiklah om permisi dulu ya, salam untuk papamu"
Ayah Ariel lalu pergi meninggalkan kantor Aditya. Aditya langsung menghubungi Randy untuk membahas permasalahan ini dengan sahabatnya itu. Bagaimanapun juga Ariel adalah sahabat mereka, mungkin memang mereka butuh berbicara dengan Ariel agar tidak larut dalam kesedihannya mencari Elea sampai lupa akan kesehatan dan pekerjaannya.
*****
Aditya pulang dan langsung menceritakan tentang kedatangan Ayah Ariel ke kantornya membahas keadaan Ariel saat ini. Ada perasaan sedih dan kasihan dihati Cahya mendengar cerita dari Aditya tentang kondisi Ariel tetapi apa yang Ariel rasakan saat ini tidak seberapa dengan keadaan Elea. Mungkin saat ini Tuhan sedang bekerja untuk mengingatkan Ariel agar bisa berhati-hati dalam bersikap dan tidak egois. Cahya menyuruh Aditya untuk segera pergi mandi sebelum hari semakin senja.
Aditya sudah selesai mandi dan berganti baju, menghampiri Cahya yang sedang duduk merapikan pakaian Kyros dan Kyra di tempat tidur. Tampak kedua bayinya juga sedang terlelap dengan nyenyaknya didepan Cahya.
"Kamis kita berangkat ke puncak" Aditya membuka obrolan.
"Kamis?? Emangnya pekerjaan kamu udah beres?" Cahya menatapnya tampak tak percaya.
"Sudah kok, rabu tinggal meeting untuk finalnya"
Cahya langsung memeluk Aditya dan mendaratkan ciumannya di pipi suaminya itu. "Thanks ya sayang, akhirnya liburan juga, kangen banget sama suasana Villa"
"Kamu gapapa ngurus anak-anak sendirian, Mama sama Papa weekend nanti mau pergi ke Singapura untuk satu minggu?"
"Gapapa aku bisa kok, pas kita ke puncak kan ada kamu yang bantuin aku, nanti senin dan selanjutnya ada ibu yang bantuin aku jaga anak-anak selama Mama Papa pergi"
"Kau senang kita akan pergi??" Tanya Aditya, dan Cahya langsung menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat. "Baiklah, sebentar lagi maghrib anak-anak harus di bangunkan"
Aditya mengambil Kyra dan mulai menciumi putrinya itu agar mau bangun, sedangkan Cahya mentoel-toel pipi Kyros yang masih terbaring ditempat tidur. Seperti biasa Kyros selalu menangis dengan sangat kencang ketika ada yang mengganggu tidurnya, berbeda dengan Kyra yang terlihat lebih tenang dan nyaman bersama Aditya. Cahya mengangkat Kyros lalu menenangkannya dengan nyanyiannya dan Kyros pun langsung tenang.
Kedua bayi itu memang terlihat sangat berbeda, entah kenapa Kyra terlihat lebih senang dan nyaman dengan Aditya, sedangkan Aditya sangat kesulitan menenangkan Kyros saat dia menangis. Tetapi ketika bersama Cahya, Kyros sangat mudah ditenangkan walaupun hanya dengan suara ibunya. Tetapi walaupun begiti, Aditya sangat menyayangi kedua bayi nya itu, dan selalu siaga setiap malam membantu serta menemani Cahya begadang jika mereka menangis.
*****
"Ini untukku??? Lalu mobil yang sebelumnya? Apa ini tidak berlebihan?"
"Mobilmu yang sebelumnya akan digunakan oleh Mama, ini untukmu dan juga untuk Kyros dan Kyra, didalamnya sudah dirubah sedemikian rupa untuk membuatmu dan bayi kita nyaman"
Cahya menitihkan airmatanya dan memeluk Aditya, merasa sangat bahagia dengan hadiah yang diberikan untuknya walaupun sebenarnya dia tidak terlalu membutuhkannya karena mobil yang selama ini yang dipakainya untuk bepergian juga masih terhitung baru.
Setelah sarapan, Aditya mengajak Randy untuk berbicara diruang kerja nya membahas tentang Ariel dan pertemuannya dengan Ayah Ariel. Mendengar semua cerita Aditya, Randy pun mengajaknya untuk bertemu dengan Ariel dan langsung berbicara kepadanya. Aditya memutuskan untuk pergi ke kantor setelah makan siang, jadi pagi ini dia akan pergi bersama Randy untuk menemui Ariel. Randy mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Ariel menanyakan keberadaannya.
*****
Aditya dan Randy akhirnya sampai di kediaman Ariel setelah Ariel mengatakan jika saat ini dia ada dirumah. Ariel sedang duduk sendirian taman belakang rumahnya dengan memandang kosong kearah tanaman yang ada dihadapannya. Aditya dan Randy menghampirinya, sangat terlihat Ariel seperti orang yang kurang tidur dengan lingkaran hitam di matanya. Rambutnya acak-acakan dan sudah sedikit panjang, sangat jauh berbeda dari penampilannya yang biasanya sellau rapi.
Aditya dan Randy duduk di kursi kayu dan mulai menanyakan kabar Ariel. Ariel menjawab dengan suara pelan dan tatapannya tidak fokus.
"Iel, aku sudah mendengar semua dari Ayahmu, sudahlah Iel, kau boleh saja mencari Elea, tetapi jangan lupakan tanggung jawabmu terhadap pekerjaanmu, kau harus tetap mengurusnya dengan baik dan seperti biasa" Ucap Aditya sambil mengusap bahu Ariel.
"Adit benar Iel, kau juga harus makan, mengkonsumsi obatmu dengan benar, kau masih dalam proses kesembuhan, tenangkan pikiranmu"
"Bagaimana aku bisa tenang, bagaimana aku bisa makan, demi Tuhan Elea sedang hamil, dan aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar padanya, aku harus menemukannya dan meminta maaf kepadanya"
Aditya dan Randy saling berpandangan, mereka tidak tahu harus berbuat apa, melihat kondisi Ariel seperti ini juga sangat membuat mereka sedih. Tetapi mereka juga tidak bisa egois begitu saja dengan mengatakan jika mereka mengetahui dimana keberadaan Elea sekarang, mengingat kehancuran Elea akibat ulah Ariel juga sangat membuat mereka ikut merasakan kesakitan yang di alami Elea. Perbuatan yang sudah Ariel lakukan kepada Elea sangat tidak bisa dimaafkan begitu saja, trauma dan beban yang dialami Elea pasti akan selalu dibawa perempuan itu selama hidupnya.
"Iel, kau tahu darimana kalau Elea hamil?" Tanya Randy penasaran.
"Aku menemukan surat dari Elea di apartment lamaku, disana dia mengatakan jika dia hamil dan ingin aku datang ke persidangan perceraian kami, tapi aku sangat bodoh dan egois aku menceraikannya tanpa mau bertemu lagi dengannya bahkan aku juga mengusirnya dari apartment iti tetapi setelahnya aku tidak pernah lagi kembali kesana, sampai akhirnya malam sebelum kekacauan itu terjadi aku datang kesana dan menemukan surat itu tetapi belum sempat ku baca dan aku baru membacanya setelah aku kembali ke apartmentku untuk mengemasi barang-barangku"
Randy dan Aditya hanya bisa saling berpandangan, ternyata Elea sempat meninggalkan surat untuk Ariel, pantas saja Ariel seperti orang gila karena rasa penyesalannya. "Iel, aku tahu kau berniat meminta maaf pada Elea, tetapi bagaimana dengan Viona? Apa kau tidak ingin menjaga perasaannya?" Aditya bertanya mencoba mencari jawaban lagi tentang hubungan Ariel dengan Viona, mengingat tentang rekaman Cctv itu Viona dibawa perginoleh orang-orang yang memukuli Ariel setelah itu saat Ariel sakit tidak pernah ada tanda-tanda Viona datang menjenguknya.
"Perempuan jal*ng itu telah membohongiku selama ini, aku sudah termakan rayuannya dan aku hampir mati karena dipukuli oleh para preman brengs*k suruhan suaminya itu, Viona telah menghancurkan hidupku merusak rumah tanggaku dengan Elea, dan sekarang aku seperti orang bodoh akibat ulahku sendiri" Ungkap Ariel sedih sambil mengacak-acak rambutnya.
"Jadi dia sudah menikah??? Astaga Iel, bagaimana kau bisa melakukan kesalahan sebesar ini, kau menghancurkan rumah tanggamu dan memacari perempuan bersuami"
Ariel menatap Randy dan memegang bahu Randy. "Ran, kau harus membantuku, aku mohon kirimkan beberapa anak buahmu untuk mencari Elea, aku mohon Ran bantulah aku??? Kau bisa kan membantuku???" Pinta Ariel.
Aditya dibuat terkejut dengan permintaan Ariel itu. Aditya mengarahkan pandangannya ke arah Randy yang juga terlihat bingung dengan permintaan Ariel.