
Ariel menggandeng Gienka memasuki rumah Aditya yang pintunya terbuka. Tampak semua anggota keluarganya sedang berkumpul membahas sesuatu.
"Kyla....!!!!" Teriak Gienka yang masih belum bisa berucap huruf R dengan baik sambil melepaskan pegangan Ariel, gadis kecil itu berlari menghampiri Kyra yang tengah bermain.
Semua orang menoleh kemudian tersenyum melihat kedatangan Ariel dan Gienka. "Sepertinya kedatangan kami mengganggu family time kalian... Maaf maaf" Ucap Ariel.
"Tidak sama sekali, masuklah Iel" Cahya beranjak dari duduknya.
Ariel memanggil Gienka agar menyalami semua orang sebelum bermain bersama Kyra dan Kyros. Gienka menurut, dia berjalan pelan dan menyalami satu persatu keluarga Aditya setelahnya dia kembali menyusul Kyra yang sedang bermain boneka. Aditya mengajak Ariel masuk ke ruang kerjanya dan membiarkan anak-anak bermain di depan.
Ariel dan Aditya akan membahas tentang rencana renovasi rumah Aditya sekaligus mencari tempat tinggal sementara untuk keluarganya. Ariel sudah sangat jarang sekali datang ke kantor Aditya sejak kejadian dengan Maysa beberapa tahun yang lalu itu, jika tidak karena terpaksa dia tidak akan kesana. Bukan karena dia malu menghadapi Maysa tetapi lebih kepada ingatannya tentang Mama Maysa yang masih membekas dan melukai hatinya begitu dalam. Jika terpaksa dia harus menemui Aditya di kantornya, Ariel hanya melenggang dan langsung masuk ke ruangan Aditya tanpa harus melalui Maysa seperti dulu. Maysa masih tetap menjadi sekretaria Aditya hingga sekarang dan dia juga sudah menikah.
"Jam berapa kontraktornya akan sampai Iel??" Tanya Aditya.
"Sebentar lagi, dia sudah dalam perjalanan, jadi akan bagaimana nanti? Kau akan menyuruhku mencari apartemen atau rumah?"
"Sebenarnya aku sendiri ingin di apartemen saja tetapi Mama yang tidak mau, dia ingin tinggal di cluster yang aku miliki didekat rumahmu, tetapi itu terlalu kecil menurutku jika harus ditinggali oleh kami, kau tahu kan aku seperti apa..! Jika apartemen kan aku bisa menyewa dua sekaligus"
"Biarkan saja jika mereka ingin tinggal di cluster itu, kau bisa tinggal di apartemen bersama Cahya dan anak-anakmu, lagipula ada apartemen bagus di dekat sana jadi kau tidak perlu khawatir berjauhan dengan orangtuamu, jika kau mau aku bisa mengurusnya"
"Aku ingin yang luas Iel, dan pastinya nyaman"
"Aku akan menghubungimu nanti"
Cahya membawa nampan berisi biskuit, nugget serta 3 gelas susu cokelat untuk kedua anaknya dan Gienka yang ada disini. Mereka bertiga berada di halaman belakang sedang bermain. Mereka semua bersahabat dengan baik termasuk dengan Louis, sayangnya Louis tidak ada disini, karena jika mereka berempat berkumpul, rumah ini menjadi begitu ramai dan akan berantakan tetapi hal itu tidak menjadi masalah bagi Cahya, yang terpenting mereka semua bahagia.
Saat ini Chitra juga sedang hamil anak kedua, dan Gienka juga sudah memiliki seorang adik yang tidak kalah menggemaskannya. Bahkan wajah Friddie sangat mirip dengan Danist versi bayi, Gienka semakin kesini juga semakin mirip Elea. Cahya sebenarnya juga masih ingin memiliki seorang bayi lagi untuk menambah keceriaan di keluarga mereka, tetapi Aditya menolak keras keinginanya dengan alasan dia tidak ingin melihatnya menderita saat melahirkan. Bagi Cahya itu adalah pemikiran konyol dan ketakutan Aditya saja padahal dirinya tidak merasa susah sama sekali baik saat hamil ataupun melahirkan, tetapi mau tidak mau Cahya harus menyetujui keinginan suaminya itu.
"Berhenti bermain dan minum dulu susunya" Ujar Cahya.
Ketiga bocah itu lari menghampiri Cahya dan mengambil gelas berisi susu dan meminumnya.
"Thank you onty Cahya!" Gumam Gienka lalu mencium pipi Cahya.
"You'r welcome Gienka sayang, kenapa kau mencium pipi tante??? Siapa yang mengajarimu??? Apakah Mamamu???"
Gienka menggelengkan kepalanya kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke arah Kyros yang sedang mencomot nugget di piring. "Ky selalu melakukannya saat aku membantunya"
Cahya terekekeh dan mengusap rambut Gienka, kemudian duduk di gazebo dan mengawasi ketiganya bermain lagi.
*****
Setelah menjemput Kyra dan Kyros dari sekolah, Cahya mengajak mereka ke kantor Aditya untuk mengantarkan makan siang. Kedua bocah itu terlihat sangat senang akan menemui ayahnya. Cahya sering melakukan ini jika Aditya yang meminta dimasakkan sesuatu untuk makan siangnya. Dengan dikawal dua bodyguardnya, Cahya bersama Kyra dan Kyros memasuki lobi kantor Aditya, kemudian menuju lift. Maysa langsung menghentikan aktifitasnya dan berdiri menyapa Cahya dan si kembar.
Kyros dan Kyra juga tidak lupa menyapa Maysa. "Halo tante May!!!"
"Hai Ky ... Hai Kyra, mau ketemu Apap ya???"
"Tante May punya Cheesecake yang sangat lezat, apa kalian mau???"
"Mau...!!!" Jawab Kyra dan Kyros bersamaan.
Maysa tersenyum dan menjauhi mejanya untuk membuka pintu ruangan Aditya. Maysa mempersilahkan istri dan anak dari atasannya itu masuk ke ruangan Aditya.
Kyros dan Kyra berlarian memeluk Aditya lalu pergi ke sudut ruangan itu dan sibuk mengambil mainan mereka yang ada disana. Aditya memang memberi sedikit ruang untuk area bermain anaknya saat mereka datang menemuinya di kantor ini. Maysa menghadap Aditya dan teringat sesuatu yang harus dia sampaikan pada atasannya itu.
"Maaf pak Aditya, saya ingin meminta ijin bapak bahwa beberapa minggu kedepan setiap hari rabu saya hanya bisa datang ke kantor pagi sampai siang saja" Ucap Maysa.
"Kenapa memangnya May???"
"Ehhh saya harus menghadiri sidang perceraian saya pak, jadi saya meminta ijin bapak untuk bisa masuk setengah hari saja saat hari rabu!"
Seolah mengerti, Aditya pun mengijinkannya, Maysa mengucapkan terima kasih lalu pergi keluar ruangan itu, mengambilkan kue untuk Kyra dan Kyros yang sudah dia janjikan tadi.
"Apa aku tidak salah dengar tadi???" Tanya Cahya pada Aditya.
"Itu benar, beberapa waktu yang lalu aku mendengar dari staf lain bahwa keluarga suami Maysa mengajukan itu padanya, karena mereka menginginkan cucu sedangkan Maysa tidak bisa memberikannya karena dokter memvonisnya tidak bisa memiliki anak, aku sendiri tidak tahu bagaimana jelasnya, aku hanya mendengarnya dari staf lain"
"Kasihan sekali Maysa!" Gumam Cahya.
Sementara itu Kyra dan Kyros kembali memnghampiri Aditya kemudian berceloteh menceritakan kegiatannya saat disekolah tadi. Aditya mendengarkan dengan baik dan sesekali bertanya kepada kedua anaknya itu. Sementara Cahya menyiapkan makan siang Aditya di mini bar yang ada didalam ruangan suaminya itu. Setelah siap, Cahya memanggil suami dan kedua anaknya untuk makan siang bersama.
Aditya menikmati makan siang yang dibawa Cahya, sementara Cahya sedang menyuapi kedua anaknya. Aditya menghentikan kunyahannya dan teringat akan sesuatu yang sempat diceritakan oleh Ariel kemarin kepadanya.
Sambil tersenyum Aditya memanggil nama Kyros dengan lembut. "Ky....! Kemarin uncle Iel mengatakan sesuatu pada Apap tentang Gienka, apa benar kau sering menciumnya saat di sekolah??" Tanya Aditya.
"Ya" Jawab Kyros sambil mengunyah makanan yang disuapkan oleh Cahya.
"But why did you do it Ky???"
"Karena Apa selalu melakukannya pada Amam" Jawabnya polos, membuat Cahya langsung tersedak saat mendengar jawaban putranya itu.
Cahya meraih gelas berisi air yang ada didepannya dan meminumnya. "Aku sudah sering mengatakannya padamu jangan melakukan itu di dekat anak-anak, tapi kau tidak mendengarkanku" Gerutu Cahya.
Sebuah ketukan pintu mengalihkan mereka berempat yang sedang menikmati makan siang bersama. Dengan senyumnya Maysa membawa nampan berisi beberapa potongan cheesecake yang dia janjikan pada Kyra dan Kyros.
"Kyra, Kyros lihatlah apa yang tante May bawa! Cheesecake lezat untuk Kyra yang cantik dan Kyros yang tampan" Ujar Maysa. Dia sangat senang sekali setiap Kyra dan Kyros datang ke kantor ini, karena dia sangat menyukai anak kecil, tetapi sayangnya Tuhan tidak memberikannya kesempatan untuk memiliki buah hati, dan justru pernikahannya saat ini sedang diujung tanduk karena hal itu.
Kedua bocah itu turun dari sofa dan berlari menghampiri Maysa, lalu mengambil potongan cheesecake itu.
"Apakah aku juga boleh mendapatkan cheesecake dalimu? Aku juga mau sepelti Kyla dan Ky" Ucap Gienka dengan polosnya.
Gienka dan Ariel berdiri di tengah pintu, mereka baru saja datang untuk menemui Aditya. Kedatangan yang tidak di duga membuat Maysa, Cahya dan Aditya terkejut. Tetapi yang lebih mengejutkan adalah ekspresi Ariel ketika putrinya tiba-tiba berucap seperti itu pada Maysa.