
Pagi harinya Cahya terbangun dan melihat dirinya sudah ada disofa pasti Aditya memindahkannya tetapi dimana dia, mata Cahya melirik kanan kiri dan menemukan Aditya masih tertidur di sofa sampingnya dengan posisi duduk. Melihat suaminya seperti itu sebenarnya dia kasihan tetapi jika mengingat kejadian Aditya memeluk Erica diruang ganti kamarnya itu membuat hatinya sakit. Cahya beranjak dan pergi ke kamar mandi karena harus segera ke kantor. Cahya keluar kamar mandi beberapa saat kemudian dan mendapati Aditya dan ibunya sudah bangun.
" Eh Ca, kamu udah selesai, maaf aku ga bisa ngantar kamu ke kantor, Adri dan Chika sedikit terlambat jadi aku harus menjaga ibu sambil menunggu kedatangan mereka, aku sudah memerintah pak Udin untuk mengantarmu, dia sedang menuju kesini, kau makanlah buah yang dibawa Elea semalam untuk mengisi perutmu sementara" Ucap Aditya sambil mengupas Apel untuknya, karena sedang ada ibunya Cahya tidak boleh memperlihatkan wajah bahwa dia sedang bermasalah dengan Aditya, dengan lembut dia menerima potongan apel dari suaminya.
Tak berapa lama suara ketukan pintu terdengar dan Pak Udin supir Aditya masuk untuk menjemput Cahya.
" Kenapa kau menyuruh paak Udin kesini, aku kan bisa jalan ke lobi atau parkiran"
" Aku tidak akan membiarkanmu sendirian, sudah cepat pergi nanti kau telat".
Aditya masih memikirkan penolakan ibu mertuanya dan harus segera mencari solusinya, ditengah lamunannya, Adri dan Chika datang, lalu dia berpamitan untuk mandi karena sudah ada yang menemani ibu. Setelah mandi, Aditya melihat Chika sedang menyuapi ibunya sedangkan Adri sedang duduk memainkan ponselnya.
" Adri! Aku ingin berbicara denganmu, kita keluar sebentar" Adri pun mengikuti kakaknya keluar ruangan.
" Adri, ibu menolak tinggal bersamaku, dia merasa tidak enak jika harus tinggal bersama Besannya, dia memintaku dan Cahya untuk mencarikan Rumah kontrakan, aku bingung memikirkannya, aku harus terus menjamin keselamatannya itulah sebabnya aku menyetujui ide Mama, karena pasti akan merasa nyaman karena tidak akan ada yang bisa mengusiknya jika tinggal bersama kami"
" Apa kita tidak bisa membujuknya kak?" Pertanyaan Adri mendapatkan gelengan kepala dari Aditya. Kedua saudara itu saling diam memikirkan sesuatu.
"Kakak! Kalau ibu tidak mau tinggal denganmu kenapa kita tidak membawanya ke rumahku saja, disana ada banyak orang yang bisa membantu dan menjaga ibu jika aku tidak ada dirumah, lagipula biar ada yang menempatinya" Celetuk Adri membuyarkan lamunan kakaknya.
" Ah benar, kenapa aku tidak terpikirkan itu"
" Sekarang kita hanya perlu membujuknya kak, lagipula rumah itu juga rumahmu, daripada dibiarkan kosong, jika ibu tinggal disana itu akan sangat baik, kalau aku dan Chika pulang ke Jakarta, aku akan tinggal denganmu saja supaya mereka atau Chika tidak merasa Canggung, dan ya Kak, kau bisa memperkerjakan Beno dan anak buahnya disana untuk menjaga ibu, pasti mereka juga lebih nyaman jika bekerja lebih dekat tanpa sembunyi-sembunyi toh ibu ataupun kak Cahya sudah tahu, aku yakin tidak akan ada yang bisa menjamah atau mengganggu ibu"
Aditya langsung menyutujui saran adiknya, dia menyuruh Adri untuk berbicara dengan Chika agar bisa membujuk ibunya untuk tinggal disana, dia juga akan berbicara dengan Cahya tentang masalah ini, dan Aditya tidak akan memberitahu Cahya kalau rumah itu sebenarnya adalah rumah yang dibangunnya untuk Erica, takut Cahya akan menolak, jadi lebih baik diam saja.
Kondisi ibu mertuanya semakin hari semakin membaik, hingga akhirnya setelah 4hari dirawat sudah diijinkan dokter untuk pulang. Aditya bersama Adri serta Chika menyiapkan kepulangan ibunya, sedangkan Cahya ditemani Nyonya Harry menyiapkan tempat yang akan ditempati ibunya serta adiknya.
Cahya merasa sangat takjub, rumah ini sangat indah, desainnya sangat luar biasa walau tidak sebesar rumah Aditya, memang sangat disayangkan tidak ada yang menempatinya dan Adri jika pulang ke Jakarta juga lebih sering menginap dirumah Aditya sepertinya rumah ini hanya untuk persinggahan Adri saja pikir Cahya.
" Cahya sayang, kenapa kau diam disini, apa yang kau pikirkan"
" Ah tidak Mama, aku hanya mengagumi interior dan design rumah ini, sungguh elegan" Cahya tidak berhenti tersenyum mengagumi rumah ini.
" Kau tahu sayang, rumah ini sebenarnya adalah rumah yang disiapkan oleh Adit untuk ditinggali bersama kekasihnya, dulu Adit memiliki seorang kekasih yang sudah dipacari nya selama bertahun-tahun, diam-diam mereka sudah merancang masa depannya termasuk rumah ini tetapi Adit tidak pernah membawanya untuk bertemu denganku atau papanya"
" Kenapa memangnya Ma??" Cahya penasaran, tetapi dia teringat akan sesuatu jangan-jangan rumah ini yang disebutkan Erica saat itu, tetapi lamunannya buyar ketika ibu mertuanya melanjutkan kisahnya sambil mengenang.
" hingga suatu hari aku memintanya untuk mempertemukan kami karena ku dengar mereka sudah mempersiapkan semuanya bahkan pernikahan juga, saat hari pertemuan itu tiba, aku bersama Papa Adit tidak berada dirumah karena pergi untuk menemui sahabat kami dan juga Adit tidak memberi tahu jika akan membawa kekasihnya, jadi kami datang terlambat pulang, pertemuan itu sangat singkat kami hanya makan malam dirumah tidak banyak yang dibicarakan, setelah pertemuan itu Adit menjadi lebih dingin dan sering menyendiri, Adri bercerita jika kakaknya sudah mengakhiri hubungannya dengan perempuan bernama Erica itu, Mama sempat bingung kenapa bisa putus tetapi sampai detik ini baik Adri maupun Adit tidak pernah menjelaskan kepadaku, sejak saat itu Adit ku hilang tidak seperti dulu, kehidupannya berubah, mengenai rumah ini yang sudah terlanjur dibangun dia tidak menghentikannya dan saat sudah siap dihuni, rumah ini dibiarkan kosong selama bertahun-tahun hingga tahun kemarin saat Adri ulang tahun, Aditya memberikannya pada adiknya sebagai hadiah"
" Kenapa diberikan pada Adri ma?? Kenapa tidak dia tinggali sendiri toh Adri juga masih kuliah"
" Awalnya Adri menolak, mengingat dia masih memiliki perjalanan yang panjang, sedangkan kakaknya itu sudah waktunya untuk membina rumah tangga lebih baik rumah ini dia tinggali saja dengan istrinya kelak, tetapi kau tau apa jawaban Adit?? Dia bilang bahwa dia tidak ingin hidup didalam tempat tinggal yang dulu dia rencanakan bersama wanita lain, dia tidak mau menjalani rumah tangganya didalam rumah yang mengingatkannya akan masalalu, dia memutuskan untuk tinggal bersama Mama dan Papanya dan menjaga kami berdua dengan alasan itu Adri akhirnya mau menerimanya karena tahu kakaknya sangat menyayanginya"
Mendengar cerita itu Cahya menyimpulkan bahwa Aditya sangat mencintai keluarganya, dan seolah ingin mengubur dalam-dalam masalalu nya dengan tidak mau tinggal dengan orang lain dirumah ini, tetapi dia penasaran kenapa Aditya mengakhiri hubungannya dengan Erica padahal rencana sudah sematang itu.
" Ahh biarkan saja, untuk aoa aku memikirkannya, mengingat Erica saja membuatnya pusing, tetapi aku sudah berprasangka buruk terhadapnya tentang rumah ini, ternyata rumah ini justru diberikan pada Adri, bukan Erica, iya dulu Chika pun pernah bercerita bahwa Adri diberikan rumah oleh kakaknya, ahh kenapa aku bisa lupa cerita itu dan tidak terpikirkan, aku harus meminta maaf pada Aditya nanti" Ucap Cahya dalam hati.