SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 248



Ariel membuka matanya, rasanya sudah cukup berada disini, hari juga sudah mulai panas. Ariel harus segera beranjak dari bangku yang di dudukinya untuk kembali ke rumah dan mencari sarapan, sejak tadi dia belum memakan apapun. Ariel meraih botol minumnya, berdiri lalu meninggalkan tempat itu dan berjogging lagi untuk kembali pulang.


"Ahhh pria itu sudah pergi, ayo Ca kita kesana!!!" Seru Elea saat melihat lelaki yang duduk di bangku itu pergi.


Elea mengajak Cahya setengah berlari menuju bangku itu dan langsung duduk disana seraya menghela napasnya. Keduanya pun menyandarkan kepalanya sambil menikmati pemandangan di depan mereka.


Aditya dan Danist yang sedang asyik membicarakan pekerjaan tiba-tiba di kejutkan dengan tangisan Gienka yang begitu kerasnya. Danist berhenti dan langsung menggendong bayi itu lalu mencoba menenangkannya dengan memberikan susu, tetapi Gienka menolaknya dan terus menangis. "Ssstttt Gienka kenapa menangis, ssshhhh" Ucap Danist menenangkan.


"Dan lebih baik berikan Gienka pada Elea saja, cepat susul mereka"


Danist langsung membawa Gienka mendekati Elea dan Cahya yang sedang duduk. Tangisan Gienka begitu keras hingga Elea pun bisa mendengarnya. Dia menoleh dan menemukan Danist berlari ke arahnya. Elea langsung berdiri dan mengambil Gienka dari Danist seraya bertanya kenapa bayi itu menangis.


"Entahlah tiba-tiba dia menangis" Ucap Danist menjelaskan.


Elea menggendong dan berusaha menenangkan bayinya, tetapi Gienka tetap tidak mau diam dan malah mengeraskan suara tangisannya. Ariel yang baru berlari sekitar 10 meter meninggalkan tempatnya duduk pun menghentikan langkahnya saat mendengar suara tangisan seorang bayi, tangisan itu sepertinya dia merasa mengenalnya.


"Aku sepertinya mengenal suara tangisan itu, itu seperti suara tangisan Gienka?" Gumamnya dalam hati.


Ariel kemudian mencoba sedikit menoleh kebelakang dan menemukan punggung 2 orang wanita dengan rambut hitam sedangkan satu lagi memakai topi dengan rambut berwarna brown dikuncir kuda sekenanya dan juga seorang pria, salah satu seorang wanita itu sedang menggendong bayi tampak menggerakkan tubuhnya mencoba menenangkan bayi itu.


"Sepertinya itu memang bukan suara Gienka, ku rasa aku masih terbawa suasana tadi, suara bayi menangis pasti terdengar sama, tapi tampaknya mereka sedang kesusahan menenangkan bayi itu" Gumam Ariel lalu melanjutkan lagi joggingnya untuk pulang.


Aditya akhirnya sampai juga dibtempat dimana Cahya, Elea dan Danist. Tetapi kemudian pandangannya teralihkan kepada seorang pria berjaket hitam yang sedang berlari. Aditya mengernyit seperti tidak asing dengan postur tubuh pria itu dan bagaimana cara dia berlari, tetapi Aditya tidak tahu siapa itu. Mungkin saja itu adalah salah satu staffnya disini, pikir Aditya lalu mengabaikannya dan mengajak semuanya untuk kembali saja ke rumah daripada harus membiarkan Gienka terus menangis.


Ya, Gienka sepertinya bisa merasakan kehadiran Ariel di dekatnya hingga membuatnya menangis. Tetapi tentu saja semua tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi pada bayi kecil itu.


Masih mencoba menenangkan Gienka, akhirnya mereka berempat sepakat untuk kembali saja, mungkin karena Gienka masih belum bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru.


****


Akhirnya Gienka mau menghentikan tangisannya dan tidur di pundak Elea. Mereka juga sudah sampai di rumah Aditya. Cahya meminta agar lebih baik Gienka di biarkan tidur saja dirumahnya, nanti jika sudah bangun bisa bermain dengan Kyra dan Kyros. Hari juga masih pagi.


Elea membaringkan Gienka di kamar Cahya, sementara Cahya membuatkan minuman untuk Aditya dan Danist di dapur. Cahya lalu membawa jus untuk Danist dan Aditya ke ruang tamu.


"Sayang, Kyra sedikit rewel kurasa dia juga mengantuk" Ucap Aditya lalu memberikan Kyra pada Cahya.


"Bawa Kyros juga ke kamar tamu, aku akan menidurkan mereka disana, Gienka baru saja tidur aku tidak mau mengganggunya, sebentar ya Dan?" Gumam Cahya lalu mengajak Aditya ke kamar tamu.


Sampai di kamar tamu, Cahya mulai menyusui Kyra agar putrinya itu segera tidur, sedangkan Aditya membaringkan Kyros ditempat tidur dengan mainan di tangannya.


"Sayang, apa kau tadi melihat wajah pria yang memakai hoodie hitam?" Tanya Aditya. Dia masih dipenuhi rasa penasaran dengan pria itu.


"Pria yang mana???" Ucap Cahya ketus.


"Tadi waktu kita ada di danau, kau dan Elea kan berada disana, aku sempat melihat dari kejauhan pria itu duduk tetapi sepertinya dia pergi setelah kau dan Elea datang"


"Jadi kau pikir aku dan Elea mengusirnya? Dia pergi sendiri sebelum aku dan Elea tiba disana, memang nya kenapa kau menanyakan pria itu??? Apa kau mengenalnya?? Atau dia adalah temannya Cheryl, atau jangan-jangan dia tahu sesuatu tentang hubunganmu dan Cheryl waktu itu sehingga kau sekarang merasa ketakutan saat tadi aku di dekatnya??"


Cahya hanya mengangkat alisnya dan tidak memperdulikan kepergian Aditya. Dia masih sangat marah kepada suaminya itu, biarkan saja jika Aditya merasa kesal dengan ucapannya tadi.


*****


Setelah si kembar akhirnya tidur, Cahya membawa mereka satu per satu ke kamarnya, dan membaringkan mereka di tempat tidur bersama dengan Gienka. Elea tadi terlihat begitu panik melihat Gienka yang terus menangis dengan kerasnya tapi beruntungnya bayi itu mau berhenti menangis dan langsung tertidur.


"Apa dia sudah benar-benar tenang El??"


"Sudah Ca, aku benar-benar panik kenapa dia bisa seheboh itu saat menangis, ini baru terjadi pertama kalinya"


"Mungkin benar kata Adit, sepertinya Gienka masih belum terbiasa dengan suasana disini, butuh penyesuaian, maklumi saja" Gumam Cahya.


Aditya dan Danist masih sibuk membahas tentang persiapan pameran yang akan diadakan beberapa hari lagi. Aditya sangat senang dengan semua penjelasan dari Danist. Lelaki itu memang tahu betul apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Aditya berjanji jika Danist berhasil melakukan semua tugasnya dengan baik, dia akan memberikan jabatan yang lebih tinggi dari yang saat ini. Sudah banyak yang dilakukan Danist selama ini untuk kemajuan pabrik dan perkebunan teh milik Mamanya, tentu Aditya juga tidak akan main-main dalam memberikan bonus serta kenaikan jabatan untuk Danist.


Hingga akhirnya sore tiba, Elea dan Danist pun berpamitan pulang pada Aditya juga Cahya.


Dalam perjalanan pulang, Elea merasa senang sekali karena Gienka tidak rewel dan menangis seperti tadi pagi. Justru Gienka terlihat senang karena bersama Kyros dan Kyra, mereka bertiga seolah mengerti bahwa mereka adalah sahabat sama seperti apa yang dilakukannya dengan Cahya.


"Oh iya El, aku ingin bertanya sejak kemarin tapi lupa dan belum sempat!" Gumam Danist sambil berjalan menggendong Gienka.


"Bertanya?? Tentang apa??"


"Rambutmu hahaha, sejak kapan kau mengecatnya menjadi hitam lagi?"


"Oh ini, hahaha iya ya baru beberapa minggu yang lalu, Cahya waktu itu mengajakku ke salon karena dia juga ingin merapikan rambutnya, jadi aku ya ikut saja, tapi kenapa? Apa kau tidak menyukainya?"


"Tidak, kau selalu terlihat cantik dengan rambut warna apapun!"


"Benarkah? Hmmmm aku tidak pernah mendengar kau mengatakan aku cantik, atau kau mengucapkan itu karena kau menginginkan sesuatu dariku???" Goda Elea yang langsung membuat wajah Danist berubah, tetapi kemudian keduanya tertawa.


******


Keesokam harinya di tempat lain. Randy kembaki mendatangi kantor Ariel untuk sekali lagi menvari tahu kabar dari sahabatnya itu. Baginya ini sudah terlalu lama untuk Ariel yang hilang begitu saja tanpa kabar. Randy benar-benar dilanda kekhawatiran tentang sahabatnya itu.


Randy datang menemui sekretaris Ariel tetapi tidak menemukannya disana. Kursi itu terlihat kosong lalu seorang staff mengatakan jika sekretaris itu sedang sibuk untuk sebuah keperluan. Randy masih mencoba menanyakan tentang kabar Ariel kepada orang itu tetapi dia menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak mengetahui dimana bosnya itu berada saat ini.


Dengan kekesalan dan kekecewaan karena lagi-lagi tidak menemukan petunjuk apapun tentang Ariel. Dengan langkah gontai Randy pun memilih untuk meninggalkan kantor sahabatnya itu. Tetapi kemudian langkahnya terhenti tepat di depan lift dan Randy mendengar sesuatu di belakangnya.


"Tiwi....!!! Beritahu semua direksimu kita akan virtual meeting dengan pak Ariel yang saat ini ada di Swiss satu jam lagi, jangan terlambat atau pak Ariel akan marah" Ucap Sekretaris Ariel pada perempuan yang tadi berbicara dengan Randy.


"Itu suara sekretaris Ariel kan?" Gumam Randy lalu sedikit menoleh dan melihat perempuan yang tadi memberitahunya jika dia tidak mengetahui keberadaan Ariel.


"Sssstttt..... Ibu ini gimana? Itu masih ada pak Randy disini" Protes Tiwi dengan suara setengah berbisik kepada sekretaris Ariel, lalu menunjuk ke arah Randy yang masih berdiri di depan lift menunggu pintu lift itu terbuka.


Akhirnya pintu lift terbuka dan Randy langsung masuk ke dalamnya. "Swiss??? Jadi Ariel selama ini ada disana dan dia dengan sengaja menyuruh semua staffnya untuk berbohong dengan keberadaannya, sebenarnya ada masalah apa hingga dia harus menghilang seperti ini??? Shiiittt Ariel benar-benar keterlaluan kenapa harus menyembunyika hal ini, tetapi aku nanti harus memberitahu Aditya, dia kan ada disana"