
"Gie...! Kenapa kau berkata seperti itu??" Ariel menggoyangkan tangan putrinya dan memandangnya dari atas.
Gienka tidak mempedulikan Ariel, dan malah berlari masuk ke dalam ruangan Aditya kemudian mendekati Maysa. "Apa aku boleh mengambilnya juga???" Tanyanya dengan suara polos dan wajahnya yang begitu menggemaskan membuat Maysa terenyuh dan tersenyum.
"Tentu saja, ambil saja jika kau mau" Ucap Maysa.
Gienka mengambil sepotong cheesecake yang ada di nampan. "Thank you" Gumamnya kemudian mencium pipi Maysa.
"My pleasure" Jawab Maysa sambil tersenyum lalu menyentuh pipi chubby Gienka dan dia pun berdiri mengucap permisi kemudian keluar dari ruangan itu.
Ariel menoleh ke arah Maysa yang kuar dari ruangan Aditya, kemudian dia tersadar dan masuk. Cahya dan Aditya hanya saling berpandangan, mereka berdua menjadi teringat akan apa yang pernah terjadi dulu antara Ariel dan Maysa.
"Lanjutkan saja makan siangmu Dit, aku akan menunggu" Ujar Ariel saat melihat tangan Aditya sedang memegang piring.
"Tadi kau kembali lebih dulu dari sekolah, kenapa baru sampai Iel???" Tanya Cahya.
"Gienka memintaku membelikannya es krim jadi kami mampir sebentar ke sebuah cafe"
Aditya menyuruh Ariel agar mengambil minuman sendiri yang ada di lemari pendingin, sementara dia akan menghabiskan makan siangnya lebih dulu. Sedangkan ketiga bocah itu tengah menikmati cheesecake yang dibawa Maysa sambil duduk di sofa dan menggerakkan kedua kaki mereka.
Ariel membuka lemari pendingin dan terdiam disana, entah kenapa perasaannya menjadi aneh saat berpapasan dengan Maysa tadi. Ada perasaan bersalah yang menggelayutinya, padahal sebelumnya dia tidak pernah merasa seperti ini. Sikapnya dulu begitu buruk saat mencampakkan perempuan itu, dan setelah itu dia tidak pernah sekalipun merasa bersalah, tetapi kali ini perasaan itu tiba-tiba muncul. Mungkin dia harus meminta maaf pada Maysa, karena apa yang dulu terjadi antara kedua orangtua mereka bukanlah kesalahan mereka.
Ariel terlonjak saat pundaknya disentuh oleh seseorang. Dia menoleh dan menemukan Cahya dibelakangnya. "Bukannya mengambil minuman kau malah melamun" Gumam Cahya.
Ariel hanya tersenyum dan mengambil sebotol air kemudian duduk bersama Aditya.
Setelah membereskan piring dan mencucinya, Cahya mengajak Kyra dan Kyros untuk pulang. Ketika mendengar bahwa Kyros dan Kyra akan pulang, wajah Gienka berubah menjadi sedih. Merasa kasihan, Cahya pun meminta ijin Ariel agar boleh membawa Gienka pulang bersama dengan Kyra dan Kyros. Ariel tidak tega melihat wajah putrinya kemudian mengijinkannya untuk pergi dan akan menjemputnya sore nanti.
Cahya kemudian mengajak 3 bocah itu untuk pulang. Ketika keluar dari ruangan Aditya, Gienka justru mendekati meja tempat dimana Maysa ada disana.
"Kuenya sangat lezat aku menyukainya, tante baik sekali, telima kasih, apa tante cantik mau menjadi temanku?" Gienka menekuk empat jarinya dan menyisahkan jari kelingkingnya lalu mengajak Maysa melakukan hal yang sama jika Maysa mau menjadi temannya.
Maysa diam memandang Gienka yang berjalan meninggalkannya. Gienka sangat manis dan begitu ceria, ini pertama kalinya Maysa melihatnya. Anak kecil itu begitu polos dan apa adanya. Seandainya dulu hubungannya dengan Ariel berhasil, mungkin dia akan merasa bahagia memiliki anak sambung yang begitu cantik dan menggemaskan seperti Gienka. Tetapi semua itu hanyalah masalalu yang sudah dia lupakan, Ariel bukanlah laki-laki yang diciptakan untuknya, bahkan saat ini dia juga kembali gagal dalam sebuah hubungannya. Takdirnya begitu buruk hingga terkadang dia menangis dalam hatinya karena semua kebahagiaan yang di impikannya tidak pernah terwujud. Bahkan kenyataan hidup yang dialaminya sekarang sangatlah menyakitkan, dan tidak akan mungkin ada laki-laki yang mau menjadikannya istri suatu saat nanti, karena dia bukanlah wanita yang sempurna seperti wanita lainnya. Mungkin setelah perceraiannya nanti dia tidak akan menikah lagi, daripada harus selalu mendapatkan penghinaan dari orang lain karena dia tidak bisa memberi keturunan pada suaminya.
*****
Setelah dari kantor, Danist dan Elea tidak langsung pulang, siang tadi dia mendaoat sebuah panggilan dari salah seorang yang mengaku pengawal dari pak Andi. Dimana dia mengatakan bahwa pak Andi ingin sekali bertemu dengan mereka dan meminta mereka agar datang ke rumah sakit untuk menemuinya karena sedang sakit. Saat itu juga Elea menyadari bahwa mungkin karena sakit, mertuanya itu tidak pernah lagi datang ke rumahnya untuk menemui Gienka ataupun Friddie yang sebelumnya sering dilakukannya.
Karena dorongan dari Mamanya, Danist pun selama ini berusaha menjaga hubungannya dengan Ayahnya, walaupun hatinya terkadang sakit saat mengingat semua perlakuan buruk Ayahnya itu pada Mamana dulu. Danist bersikap baik dan sopan walaupun tidak sedekat seperti hubungan Ayah dan Anak pada umumnya. Mamanya selalu mengatakan bahwa bagaiamanapun Pak Andi adalah Ayahnya jadi Danist harus tetap menghormatinya dan tidak menjadi anak yang durhaka. Masalalu yang buruk itu memang tidak mudah dilupakan akan tetapi masa depan harus diperbaiki agar tidak menjadi keburukan seperti yang pernah terjadi di masalalu. Jadi itulah prinsip yang dijalani Danist sekarang.
Mengenai hubungan dengan Ariel, dia pun tidak pernah terlalu memikirkannya, juga enggan membahas atau memberitahu Ariel tentang apa yang sebenarnya terjadi karena menghormati orang yang sudah meninggal, tidak baik jika keburukannya dibicarakan. Danist juga takut hubungannya dengan Ariel akan semakin memburuk yang bisa menimbulkan pertanyaa dari Gienka tentang hubungan mereka berdua. Perihal perkembangan Gienka, Ariel dan Elea sudah memiliki kesepakatannya sendiri, Danist tidak ingin terlalu ikut campur meskipun Elea tetap menghormatinya sebagai suaminya dan selalu mendiskusikan semua itu dengannya.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan bertanya dimana ruangan rawat inap pak Andi. Setelah mendapatkan informasi itu, Danist dan Elea bergegas kesana.
Saat masuk, Danist dan Elea melihat pak Andi terbaring begitu lemah dengan memakai alat bantu pernapasan di hidungnya kemudian tersenyum kepada mereka.
"Bagaimana kondisi Ayah???" Tanya Elea.
"Ayah baik, maafkan ayah tidak bisa datang menemui cucu-cucu Ayah, bagaimana keadaan mereka berdua???" Tanya pak Andi dengan suara yang serak dan terdengar pelan.
"Gienka sangat baik begitu juga dengan Friddie, maafkan kami baru mengetahui jika Ayah ada disini"
Dengan suara lirih dan kondisi yang lemah, pak Andi memanggil Danist, dan menggenggam jemari putra itu. Pak Andi menitihkan airmatanya dan mencium tangan Danist seraya meminta maaf atas apa yang dulu sudah dia lakukan pada Danist. Dia tidak ada niat melakukannya karena dia tidak tahu jika saat meninggalkan Sari, ternyata Sari sedang mengandungnya. Pak Andi juga menanyakan pada Danist kenapa tidak mengatakan semuanya pada Ariel selama ini tentang apa yang sebenarnya terjadi agar Ariel tidak selalu berprasangka buruk terhadapnya juga Mamanya, karena pak Andi sendiri sudah lama ingin mengatakan semuanya pada Ariel sayangnya Ariel tidak pernah memberinya kesempatan sama sekali untuk berbicara. Semua cara sudah dia coba tetapi Ariel selalu saja punya cara untuk menghindarinya, membuatnya lama-lama menyerah.
Danist menjawab pertanyaan ayahnya itu dengan tetap berpegang teguh pada prinsipnya bahwa dia tidak mau membuka aib orang yang sudah meninggal, juga karena Mamanya tidak mengijinkannya untuk melakukannya. Lagipula Ariel selama ini juga tidak pernah lagi mengatakan hal buruk tentangnya ataupun Mamanya, mungkin Ariel juga menyadari bahwa hal itu tidak baik untuk dilakukan mengingat komitmen mereka untuk memberikan kenyamanan Gienka agar bocah kecil itu tidak merasa bahwa hubungan orangtuanya tidak baik.
"Bisakah kalian memberitahu Ariel agar dia mau menemui Ayah disini, sekali saja setelah itu Ayah tidak menginginkan apapun lagi dan jika Ayah pergi hati Ayah menjadi tenang tanpa rasa bersalah dan anak-anak ayah bisa bersatu, kalian bisa kan membawa Ariel kesini???"
Elea dan Danist saling berpandangan, mereka sendiri tidak bisa berjanji begitu saja karena bukan hal yang mudah untuk bisa membujuk Ariel, apalagi tentang hal sensitif seperti ini. Sifat keras kepala Ariel membuat mereka meragu apa bisa melakukannya atau tidak.