
**Hay... hay! Kalian yang mau baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author menunggu komenan dari kalian loh😭
Happy reading semuanya....🤗**
"Sudah jangan berlebihan, bayi yang ada di kandunganmu adalah keponakanku, tentu aku akan menyayanginya," balas Devita.
Laretta kembali tersenyum, tidak salah Kakaknya memilih Devita sebagai istri. Devita memang wanita yang sangat baik. Kemudian dia berkata. "Aku selalu berdoa untukmu agar cepat memiliki anak. Aku juga sudah tidak sabar ingin memiliki keponakan,"
"Terima kasih Laretta, tapi sepertinya aku berharap aku hamil ketika aku lulus kuliah. Aku sedang mengejar semester pendek. Aku ingin segera lulus kuliah," ujar Devita dengan senyuman yang memperlihatkan gigi putihnya.
Laretta menautkan alisnya. " Memangnya kenapa? Lebih baik jangan menundanya. Aku yakin, Kakakku akan sangat bahagia, jika memiliki anak darimu."
"Aku tidak pernah menundanya, aku juga tidak pernah memakai pengaman. Aku hanya berharap bisa memiliki anak setelah lulus kuliah. Tapi jika aku hamil, tentu aku akan tetap senang," jawab Devita sembari menyesap tomato juice yang telah di buatkan oleh pelayan. " Laretta, aku harus berangkat ke kampus. Apa kau tidak apa aku tinggal sendiri?" tanyanya yang mencemaskan Laretta.
Laretta tersenyum. " Aku tidak apa - apa, tenanglah"
Devita mengangguk, lalu dia meletakkan gelas yang berisikan setengah tomato juice. "Kalau begitu aku pamit, kabari aku jika kau membutuhkan sesuatu,"
"Ya, hati - hati," Laretta kembali tersenyum ke arah Devita yang tengah berjalan meninggalkannya.
...***...
Olivia melirik arlojinya kini sudah pukul sepuluh pagi, tapi Devita masih belum datang ke kampus. Olivia sudah sejak tadi menunggu Devita. Dia sudah tidak sabar untuk mendengar apa yang ingin Devita ceritakan padanya. Olivia mengumpat, Devita benar - benar membuatnya menunggu. Bisa - bisanya Devita juga belum datang. Padahal satu jam lagi mereka memiliki jadwal kuliah.
Saat Olivia ingin berjalan menuju kelas langkah Olivia terhenti melihat Devita masuk ke dalam kampus. Dengan cepat Olivia langsung berlari ke arah Devita.
"Devita!" Suara teriakan Olivia yang kencang membuat langkah Devita terhenti.
"Devita, apa kau tahu aku sudah menunggumu sejak tadi! Kenapa kau ini lama sekali!" Gerutu Olivia dengan tatapan kesal pada Devita.
Devita mendengus, "Kau berisik sekali di pagi hari! Lebih baik kita ke cafe sekarang. Aku ingin hot chocolate," dia langsung menarik Olivia menuju ke kafe terdekat dengan kampusnya.
"Sekarang kau ceritakan padaku, kenapa kau bisa tahu Angkasa ada di kota B?" tanya Olivia yang sejak kemarin dia begitu penasaran. Mereka kini sudah tiba di cafe terdekat dengan kampus. Olivia memesan dua hot chocolate untuk mereka.
Devita mendesah pelan, " Aku bertemu dengan Angkasa kemarin,"
Olivia tergelak, dia melebarkan matanya, tidak percaya apa yang di katakan oleh sahabatnya ini. " Are you kidding me? Kau serius? Kau ingin di bunuh oleh suamimu?"
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Olivia. Angkasa akan menjadi Adik Iparku. Dia akan menikah dengan Laretta, adiknya Brayen." Devita mengambil gelas yang berisikan hot chocolate, lalu menyesapnya perlahan.
Olivia mendelik, dia terkejut mendengar ucapan Devita. " Kau jangan bercanda Devita! Ini sungguh tidak lucu!"
Devita berdecak pelan. "Aku tidak bercanda, wanita yang kau lihat di berita itu adalah Laretta. Angkasa dan Laretta mabuk, hingga lepas kendali. Dan sekarang Laretta hamil."
Olivia menggeleng tidak percaya. " This is really crazy! Bagaimana mungkin? Apakah Brayen sudah tahu Angkasa adalah pria yang pernah kau cintai?"
"Aku belum menceritakannya, aku mencari waktu yang tepat, Olivia. Aku belum siap menceritakannya pada Brayen." Devita menarik napas dalam, dan menghembuskan perlahan. Kemudian, dia meletakkan gelas yang berisikan hot chocolate di tangannya ke tempat semula.
"Lalu bagaimana jika Brayen tidak menyetujui hubungan Angkasa dan Laretta?" tanya Olivia dengan tatapan yang begitu serius pada Devita.
"Brayen harus menyetujui hubungan Angkasa dan Laretta. Lagi pula Angkasa adalah pria yang baik. Aku yakin dia akan membahagiakan Laretta," jawab Devita dengan yakin.
"Astaga, ini gila Devita! Pria yang pernah kau cintai, pria yang pernah kau tunggu kembali ke kota B akhirnya datang. Tapi memberikan kejutan dia akan menjadi adik iparmu?" seru Olivia yang masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Olivia mengerutkan dahinya, " Alasan? Alasan apa?"
"Ini semua karena Ayahku. Perusahaan Angkasa hampir bangkrut, dan Ayahku menawarkan dana besar pada Angkasa, asalkan Angkasa mau meninggalkanku," ujar Devita dengan tatapan yang menerawang ke depan. Dia masih tidak menyangka, Ayahnya terlibat dalam hal ini.
"Dan akhirnya Angkasa menerima tawaran Ayahmu? Begitu maksudmu?" Olivia menatap serius Devita, menuntut agar sahabatnya itu untuk kembali menjelaskan.
Devita menganguk. " Ya, kau benar. Angkasa menerima tawaran Ayahku. Dan dia juga sengaja berkencan dengan banyak wanita, dia tidak bisa mengucapkan kata perpisahan. Dia ingin membuatku berpikiran buruk tentangnya."
Olivia mendesah pelan, " Apa kau menyesalinya? Apa kau masih mencintainya?"
"Tidak, aku sudah tidak lagi mencintainya. Aku dan Angkasa hanya masa lalu. Tidak ada yang tersisa di antara aku dan dengannya. Aku hanya mencintai Brayen. Aku menganggap Angkasa adalah teman masa kecilku. Tidak lebih," jawab Devita menegaskan.
"Kalau begitu, kau harus menceritakan ini semua pada Brayen. Dengan kuasa yang di miliki oleh suamimu, dia pasti akan segera mengetahuinya. Menurutku kau harus segera menceritakannya," ujar Olivia yang memberi saran.
"Aku sangat takut Olivia. Aku takut jika Brayen akan salah paham. Aku takut Brayen berpikir aku masih mencintai Angkasa," balas Devita dengan wajah yang kini tampak cemas. Dia ingin sekali bercerita pada Brayen, hanya saja ketakutan di dirinya muncul membuatnya mengurungkan niatnya.
"Devita, kalau kamu masih belum menceritakannya aku takut Brayen akan mendengar dari orang lain. Lebih baik kau bercerita padanya. Apapun itu, yakinkan padanya sudah tidak ada lagi yang tersisa di antara kau dan juga Angkasa." Olivia menyentuh tangan Devita, dan menepuk pelan punggung sahabatnya itu.
Devita mengangguk pelan. " Aku akan memikirkannya, mungkin malam ini aku akan mengatakan yang sejujurnya pada Brayen."
Olivia tersenyum. " Lebih cepat , lebih baik. Ayo kita kelas sebentar lagi jam masuk kita."
"Ya," jawab Devita sembari mengeluarkan uang dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja kemudian dia dan Olivia berjalan meninggalkan caffe menuju kampusnya. Pikiran Devita kini memikirkan bagaimana caranya dia untuk mengatakan pada Brayen. Devita hanya takut jika Brayen akan salah paham, dia takut Brayen berpikir jika dirinya masih mencintai Angkasa.
Tapi jika Devita tidak menceritakannya pada Brayen, dia juga takut jika Brayen akan mendengarnya dari orang lain. Jika sampai itu terjadi Brayen pasti akan marah besar padanya. Bukan hanya pada Devita tapi juga tidak mungkin mengizinkan Angkasa untuk menikah dengan Laretta. Sifat Brayen yang keras membuat Devita sering mengurungkan niatnya.
"Aku harus menjelaskan pada Brayen malam ini. Aku harus meyakinkan tidak ada lagi yang tersisa antara aku dan Angkasa. Angkasa hanya teman masa kecilku, tidak lebih dari itu. Aku tidak ingin Laretta membesarkan anaknya seorang diri. Apapun caranya aku harus membuat Brayen menyetujui hubungan Laretta dengan Angkasa," batin Devita.
...***...
"Tuan Brayen," sapa Albert seraya menundukkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Brayen dingin.
"Saya sudah mendapatkan informasi tentang Angkasa Nakamura," jawab Albert.
"Kita bicara di dalam" Brayen melangkah menuju ke ruang kerjanya. Lalu menatap Albert yang sedang berdiri di hadapannya. "Katakan informasi apa yang kau dapatkan tentang pria sialan itu?"
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.