
"Ya kau benar. Aku juga masih tidak menyangka akan jatuh cinta dengan Brayen. Suamiku itu mampu membuatku mencintainya, melebihi perasaanku dulu pada Angkasa. Setidaknya, perasaan cintaku jauh lebih besar pada pria yang akan menemaniku seumur hidupku." balas Devita.
Olivia kembali tersenyum hangat mendengar ucapan Devita, kemudian Devita dan Olivia beranjak dari tempat duduknya. Mereka memutuskan untuk mengelilingi taman, yang kini telah tumbuh berbunga - bunga yang sangat indah dan cantik.
Devita memang sengaja menanam jenis banyak jenis bunga di taman rumahnya. Jika Devita merasakan bosan biasanya dia menikmati keindahan bunga yang ada di taman rumahnya yang selalu terawat itu.
...***...
Siang itu, Devita menemani Olivia ke Mall. Sesuai dengan keinginan dari Olivia, Devita menemani sahabatnya jalan - jalan di mall.
"Olivia, kau ingin membeli sesuatu?" tanya Devita sambil melihat ke arah Olivia yang berdiri di sampingnya.
"Aku ingin membeli beberapa dress untuk Ibuku." jawab Olivia.
"Kita kesana saja. Aku juga ingin membeli sesuatu untuk Ibuku dan juga mertuaku," tunjuk Devita pada salah satu toko yang lokasinya tidak jauh darinya.
"Oke kita langsung kesana?" Olivia langsung memeluk lengan Devita. Kini mereka menuju toko yang lokasinya tidak jauh dari mereka.
Saat di dalam toko, Devita memilih beberapa dress untuk Nadia dan juga Rena. Beruntung ukuran badan mereka sama. Meski Nadia dan juga Rena sudah tidak muda lagi, tapi mereka memiliki tubuh yang indah. Itu yang membuat Devita tidak sulit memilihkan dress untuk mereka.
Pilihan Devita jatuh pada gaun yang berwarna navy dan maroon. Devita menatap kedua gaun ini benar-benar sangat indah.
"Olivia, apa kau sudah selesai untuk memilih?" tanya Devita.
"Apa ini bagus?" Olivia menunjukkan sebuah gaun yang berwarna kuning yang sangat cantik.
Devita mengangguk. "Warnanya sangat cantik, pasti Bibi Caroline sangat cocok memakai gaun itu."
"Ya sudah, lebih baik kita bayar sekarang." kata Olivia. Devita mengangguk setuju.
Kemudian Olivia dan juga Devita berjalan menuju ke arah kasir. Mereka langsung menyelesaikan pembayaran atas barang belanjaan mereka. Setelah selesai, Devita dan Olivia langsung berjalan meninggalkan toko itu.
"Devita? Olivia?" suara seorang perempuan menyapa Devita dan Olivia. Langkah Devita dan Olivia terhenti ketika mendengar ada yang menyapanya.
Devita dan Olivia sama - sama menoleh ke arah sumber suara itu. Namun, seketika Devita terkejut melihat sosok wanita yang sangat dia kenali. "Bibi Citra?" sapa Devita.
"Ini sungguh Bibi Citra?" tanya Olivia yang sedikit tak percaya. Pasalnya, Olivia sudah lama tidak melihat Citra.
Wanita di hadapan Olivia dan juga Devita itu tersenyum ramah. "Iya sayang, ini Bibi Citra. Kalian apa kabar? Lama tidak bertemu. Kalian berdua tumbuh menjadi wanita yanga sangat cantik."
Devita tersenyum. "Kami berdua baik. Bibi juga terlihat sangat cantik. Benar kata Angkasa, Bibi tetap sangat cantik."
"Benar apa kata Devita, Bibi sangat cantik " sambung Olivia yang menyetujui ucapan Devita.
Terdengar suara dering ponsel milik Olivia, dengan cepat Olivia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas dan berpamitan pada Citra dan juga Devita untuk menjawab teleponnya.
"Devita, kau sedang berbelanja apa?" tanya Citra saat Olivia sudah pergi.
"Ah ini, aku membelikan baju untuk Mama Nadia dan Mom Rena," jawab Devita sambil melirik ke arah shopping bag yang ada di tangannya.
"Mom Rena? Apa yang kau maksud itu ibu mertuamu?" tanya Citra
"Benar Bibi, aku membeli gaun ini untuk ibuku dan juga Ibu mertuaku," jawab Devita
"Devita...." Olivia sedikit berlari ke arah Devita.
Devita menoleh menatap wajah Olivia yang terlihat cemas. "Ada apa Olivia?"
"Sepertinya aku harus pergi duluan. Tadi sepupuku yang baru saja pindah ke Indonesia, dia baru saja menabrak seseorang. Sekarang dia sedang berada di rumah sakit," jawab Olivia cemas.
"Tidak perlu, lukanya tidak terlalu parah. Aku hanya pusing, bagaimana cara menjelaskannya pada Paman dan Bibiku nanti. Aku harus pergi sekarang."
"Kau benar, tidak apa - apa jika sendiri?" tanya Devita memastikan.
"Benar, kau tenang saja. Jika terjadi sesuatu pasti aku akan memberikan kabar padamu."
"Baiklah, berikan kabar padaku jika kau membutuhkan sesuatu."
"Ya, aku pasti akan memberikan kabar kepadamu."
Pandangan Olivia kini menoleh ke arah Citra. "Bibi Citra maaf aku harus segera pergi. Senang bertemu lagi dengan Bibi.."
Citra juga ikut tersenyum. "Bibi juga senang bertemu lagi denganmu, Olivia. Hati - hati sayang, dan salamkan untuk sepupumu."
Olivia mengangguk, lalu berjalan meninggalkan Devita dan juga Citra.
"Devita, apa kau memiliki waktu? Bibi ingin mengajakmu minum teh bersama, jika kau tidak keberatan." kata Dahlia sambil menatap Devita yang berdiri di hadapannya.
"Aku pasti memiliki waktu untuk Bibi. Sudah lama sekali aku tidak memiliki waktu mengobrol dengan Bibi," Devita langsung memeluk lengan Citra. Berjalan meninggalkan toko itu. Ada sebuah kafe di sebrang toko. Kemudian Devita dan juga Olivia masuk kedalam toko itu.
Citra memesan teh hijau untuknya, sedangkan Devita memilih untuk memesan avocado juice. Citra juga memesan red velvet cake kesukaan Devita. Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan pesanan mereka.
"Bagaimana kabar Ibumu, Devita?" tanya Citra saat pelayan sudah pergi.
"Semua baik, Bibi. Bagaimana dengan Paman Varell?" tanya Devita balik sambil menyesap avocado juice.
"Ya, Paman Varell juga baik." Citra mengambil cangkir yang berisi teh, kemudian menyesapnya. "Kau tidak pergi bersama dengan suamimu?"
"Suamiku Brayen, sedang berada di Madrid. Dia sedang melakukan perjalanan dinas ke Madrid." jawab Devita.
Citra mengangguk, dia meletakkan kembali cangkir yang ada di tangannya itu ke tempat semula. "Bibi sering melihat suamimu berada di majalah bisnis. Dia begitu hebat, Devita. Di usianya yang masih muda suamimu berhasil meraih kesuksesan."
Devita tersenyum. "Terima kasih, Bibi. Tapi Angkasa juga sangat hebat. Belakangan ini, aku mendengar jika Nakamura Company akan membangun perusahaan cabangnya di Eropa."
"Ya, Angkasa sekarang ini sangat bekerja keras. Mungkin karena Angkasa memilki Laretta, Putri dari keluarga Mahendra. Itu yang membuat Angkasa semakin fokus dengan pekerjaannya." balas Citra. "Devita, sebenarnya jujur Bibi ingin sekali jika Angkasa menikah denganmu. Tapi takdir tidak mempersatukan kalian. Dan apa kau tahu? Jujur Bibi sangat terkejut, Angkasa menjalin hubungan dengan Laretta. Itu artinya Angkasa akan menjadi adik iparmu sendiri, Devita."
Devita terdiam sebentar, dia menatap lekat manik mata Citra. Devita sangat memahami, pasti Citra sangat terkejut dengan kenyataan ini. Namun, meski demikian Devita yakin bahwa Citra akan menyukai Laretta.
"Bibi, kita tidak pernah tahu takdir hidup kita. Dulu aku pun tidak pernah berpikir akan menikah dengan Brayen." ujar Devita. "Meski awalnya pernikahanku dengan Brayen karena sebuah perjodohan, tapi sekarang aku sangat mencintai Brayen. Dan sekarang aku juga sangat bahagia dengan Brayen, begitu pun dengan Angkasa yang telah menemukan kebahagiaannya bersama dengan Laretta. Percayalah Bibi, saat ini aku hanya menganggap Angkasa sebagai teman masa kecilku. Aku dan Angkasa telah memilih untuk menjadi sahabat. Dan aku lebih nyaman menjadi sahabat dari Angkasa."
"Apa kau sungguh - sungguh sudah melupakan Angkasa dari hatimu?" tanya Citra memastikan. Tatapannya terus menatap manik Devita.
"Bibi, aku masih menyayangi Angkasa. Hanya saja, perasaanku pada Angkasa hanya sebatas teman masa kecil. Sama seperti aku menyayangi Olivia," kata Devita meyakinkan.
...***********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.