
Alena tersentak "K- kau memperbolehkan Kakakku menikah dengan adikmu?" Alena menatap tak percaya. Rasanya ini tidak mungkin. Karena Alena mendengar Brayen melarang Kakaknya untuk mendekati Laretta.
"Aku sudah cukup menguji Kakakmu. Harus aku akui, dia tidak mudah menyerah. Seharusnya dia sejak awal takut ketika berhadapan denganku. Tapi dia tidak juga menyerah. Brayen tersenyum miring. "Dua hari lagi, minta keluargamu untuk datang menemui keluargaku."
"Terima kasih," Alena menatap penuh haru. Rasanya dia tidak menyangka akan mendengar ini. "Aku sungguh berterima kasih padamu. Aku akan segera memberitahu keluargaku."
Brayen tidak menjawab, dia menyesap kembali wine di tangannya. Brayen tidak pernah peduli dengan orang yang mengatakan terima kasih padanya. Bagi Brayen, tujuan dia adalah membuat Devita dan juga adiknya bahagia.
...***...
Devita mengetuk pelan dagunya dengan telunjuknya. Dia menatap masakannya yang baru saja di ajarkan oleh Chef Della. Hari ini, Devita sengaja belajar memasak membuat Italian Food. Menu yang Devita pilih adalah Lobster Ravioli. Ada rasa takut di dirinya, dia takut masakannya ini akan gagal dan tidak enak. Dulu, Devita sering membantu Nadia, ketika ibunya itu memasak. Tapi sejak menikah dengan Brayen, Devita selalu menggunakan pelayan. Ini semua karena suaminya yang begitu memanjakan dirinya.
"Devita, kenapa kau hanya melihat masakanmu?" tanya Laretta bingung. Pasalnya sejak tadi, Devita hanya menatap masakannya.
Devita mendesah pelan, dia menyeret kursi lalu duduk di hadapan Laretta. "Apa menurutmu Brayen akan menyukai masakanku?"
Raut wajah Devita menunjukkan, jika dia takut Brayen tidak menyukai masakannya. Laretta mengulum senyumannya, dia langsung mengambil sendok dan langsung mencoba masakan yang di buat oleh Devita. Saat Lobster Ravioli buatan Devita masuk kedalam mulutnya, dia menganggukan kepalanya. Lidahnya terasa begitu menikmati masakan buatan Kakak iparnya itu.
"Bagaimana? Tidak enak ya?" Devita menghela nafas berat. Tanpa Laretta menjawab, dia sudah lebih dulu menebaknya.
"Kenapa kau mengatakan tidak enak?" Laretta langsung kembali menyendok Lobster Ravioli buatan Devita dan langsung melahapnya. "Jika ini tidak enak, aku akan berhenti sejak tadi."
"Benarkah?" Devita tersenyum senang dan mata yang berbinar. "Kau tidak membohongiku hanya untuk membuatku bahagia, kan?"
Laretta terkekeh pelan. "Aku tidak akan melakukan itu. Kau tenang saja. Masakanmu memang sungguh sangat enak. Aku tidak berbohong. Aku yakin, Kakakku akan menyukainya."
"Kalau begitu, nanti malam aku akan membuatkan untuk Brayen." jawab Devita antusias. "Semoga Brayen menyukai masakanku."
Kemudian, Devita mengambil sendok dan mencoba masakannya sendiri. Ketika lobster yang di buat menyentuh lidahnya, Devita tersenyum. Apa yang di katakan Laretta benar. Rasanya cukup enak, paling tidak dia yakin Brayen akan menyukai masakannya itu.
"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Laretta dengan nada yang sengaja menggoda Devita.
Devita mengangguk. "Rasanya lumayan enak."
"Ini sangat enak Devita, percayalah Kakakkku itu tidak mungkin jika tidak menyukai masakanmu." Laretta mengambil gelas yang berisi air putih, lalu meneguknya hingga tandas. Kemudian meletakkan kembali gelas yang ada di tangannya ke tempat semula.
Devita mencebik. "Kau tidak tahu, terakhir saja aku memasak untuk Brayen dia tidak berkomentar. Dia hanya berkomentar ketika aku bertanya. Kakakmu itu sungguh menyebalkan."
Laretta mengulum senyumannya. "Aku sungguh iri padamu dan Kak Brayen. Kalian pasangan yang begitu romantis."
"Hanya terkadang saja Brayen romantis," Devita mendengus. "Selebihnya, dia itu lebih banyak menyebalkannya."
"Nyonya Devita... Nona Laretta... maaf saya menganggu." sapa seorang pelayan yang tiba-tiba masuk kedalam dapur.
"Ada apa?" tanya Devita menatap pelayan yang kini berdiri di hadapannya.
"Ada tamu untuk Nona Laretta." jawab pelayan itu.
"Tamu untukku?" Laretta menunjuk dirinya. "Siapa tamunya? Tidak biasanya ada tamu untukku."
"Nona yang tadi datang, dia menyebut namanya Alena Nakamura. Dia bilang ingin menemui Nona Laretta," jawab pelayan itu yang sontak membuat Devita dan Laretta terkejut.
"Apa kau tidak salah mendengar?" tanya Devita memastikan. Rasanya tidak mungkin jika Alena datang.
"Tidak Nyonya. Saya sudah kembali memastikan namanya adalah Alena Nakamura." jawab pelayan itu.
"Devita, aku harus kedepan dulu." kata Laretta.
Laretta tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya, dia beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan meninggalkan Devita.
...***...
Pandangan Laretta jatuh pada sosok wanita cantik yang duduk di sofa. Laretta mengerutkan keningnya, dia memastikan apa yang di lihatnya ini benar. Hingga kemudian Laretta melangkah mendekat ke arah wanita itu.
"A- Alena?" sapa Laretta. Dia masih tidak percaya Alena berada di hadapannya.
Alena mengulas senyuman hangat di wajahnya. "Apa kabar Laretta? Apa aku menganggumu?"
"Tidak." Laretta menggelengkan kepalanya. Dia langsung duduk tepat di samping Alena. "Maaf, tapi bagaimana bisa kau ada di sini, Alena? Ketika pelayanku mengatakan kau ada di sini, aku sungguh tidak menyangka kau benar ada di sini, Alena."
"Semua karena Kakakmu Brayen." jawab Alena. "Kakakmu yang sudah membebaskanku. Jika bukan karena Kakakmu, mungkin aku akan terus berada di dalam penjara."
Laretta terdiam, dia tidak mampu berkata-kata. Rasanya tidak mungkin dengan apa yang dia dengar. Brayen? Laretta bahkan sangat yakin tidak mungkin Kakaknya itu mau membebaskan Alena.
"Kakakku?" tanya Laretta yang masih tidak percaya. "Bagaimana mungkin?"
"Sama sepertimu Laretta. Saat aku keluar dari penjara, aku juga merasa tidak mungkin Brayen akan membebaskanku." kata Alena dengan tatapan yang sendu.. "Berada di dalam penjara membuatku tersadar, apa yang telah aku lakukan sungguh memalukan. Aku datang kesini, khusus untuk meminta maaf langsung padamu. Aku tidak ingin lagi menunda untuk meminta maaf padamu."
"Kau pasti begitu terluka dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku sungguh sangat menyesal Laretta. Dulu aku begitu menginginkan Devita menjadi Kakak Iparku. Karena aku berpikir, tidak ada wanita lain sebaik Devita. Tapi ternyata aku salah. Kau sangat baik Laretta. Aku sungguh minta maaf padamu. Aku tidak akan menuntut agar kau mau memaafkanku. Aku sadar, kesalahanku terlalu besar padamu."
Suara Alena terdengar begitu parau. Dia menundukkan kepalanya, air matanya berlinang membasahi pipinya.
Laretta menyentuh tangan Alena, dan menatap lembut Alena. "Tanpa kau meminta maaf padaku, aku sudah memaafkanmu Alena. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Aku tetap menyayangimu Alena. Lupakan semuanya. Dan jangan lagi membahas tentang kesalahanmu. Aku sungguh sudah melupakan semuanya."
Alena mengangkat wajahnya, dia tersenyum lirih. "Kenapa kau begitu baik? Apa kau tidak berniat membalas dendam padaku? Aku sudah sangat jahat padamu Laretta. Harusnya kau itu membenciku dan tidak memaafkanku. Denganmu yang begitu baik, membuat diriku sungguh sangat malu dengan apa yang telah aku lakukan padamu."
"Jangan pernah berkata seperti itu, Alena." jawab Laretta. "Aku sungguh sudah memaafkanmu. Bahkan aku juga sudah melupakannya. Semua orang pernah melakukan salah, Alena. Dan semua orang berhak mendapatkan kesempatan yang kedua."
"Aku tahu sekarang, kenapa Kakakku itu begitu mencintaimu." dengan tatapan yang lembut ke arah Laretta. "Kau wanita yang sangat baik. Kakakku itu sungguh sangat beruntung memiliki wanita yang sepertimu."
Laretta mengulas senyuman yang hangat di wajahnya. "Jangan memujiku Alena. Aku itu tidak sebaik itu. Aku yang beruntung memilki Kakakmu."
"Kau tahu? Aku dulu berpikir akan menghabiskan hidupku di dalam penjara." Alena membalas senyuman hangat Laretta. "Aku sungguh tidak menyangka, Kakakmu itu mau memaafkanku. Brayen mau membebaskanku dari dalam penjara.Ternyata apa yang di katakan orang di luar tentang Brayen Adams Mahendra, tidak semuanya benar."
"Alena, aku sendiri masih tidak percaya, kalau Kakakku melakukan ini padamu," balas Laretta. "Aku merasa tidak mungkin, Kakakku akan dengan mudahnya membebaskanmu. Tapi, jika kenyataannya seperti itu, aku sungguh akan berterima kasih padanya. Maafkan aku, karena diriku kau pernah merasakan penjara."
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.