
William menggeleng pelan dan tersenyum "Kau sangat beruntung, boleh aku tahu siapa namamu?" tanya William.
"Oh maaf. Aku belum menyebutkan namaku. Namaku, Devita." jawab Devita dengan senyuman ramahnya.
"Senang berkenalan dengamu, Devita. kau kesini dengan siapa?" tanya William yang sudah sejak tadi dia sudah penasaran pada wanita yang berada di hadapannya itu.
"Aku dengan..."
"Devita!" Suara bariton memanggil Devita, mengalihkan pandangannya menatap Brayen yang kini melangakah mendekat ke arahnya.
"Brayen?" Devita meletakkan cheese cake di tangannya ke atas meja.
"Kau sudah selesai makan?" tanya Brayen.
Devita mengangguk. "Sudah, aku sudah selesai makan,"
"Brayen Adams Mahendra?" William menyapa dengan seringai di wajah.
Brayen mengalihkan pandangan, lalu ketika dia menatap pria yang menyapa dirinya. Kini Brayen menatap dingin pria itu. " William Dexon"
William menyesap wine yang berada di tangannya. " Long time no see, aku sangat terkejut melihatmu ada di sini. Apa kau mengenal wanita cantik yang ada di sampingmu, ini?"
Brayen melayangkan tatapan tajamnya ketika William melirik ke arah Devita. Hingga kemudian Brayen memeluk pinggang Devita dengan rapat. Merapatkan tubuhnya pada wanita itu. "Perkenalkan dia adalah Devita Smith, calon istriku!" Tukas Brayen penuh dengan penuh penekanan.
William menaikkan sebelah alisnya, kemudian berkata, " Ah, dia ternyata calon istrimu? Sayang sekali, baru saja aku tertarik dengan wanita cantik yang berada di sampingmu itu?"
"Well, aku rasa kau harus mencari wanita lain." jawab Brayen dingin. Dia langsung mengeratkan pelukkannya di pinggang Devita, lalu berjalan meninggalkan William tanpa mengatakan apapun. Devita menatap bingung dengan sikap Brayen malam ini.
"Brayen, tunggu." Devita menahan lengan Brayen, saat pria itu hendak masuk ke dalam mobil.
"Ada apa, Dev?" tanya Brayen datar.
"Kau mengenal William? Apa kau teman dari William?" tanya Devita ingin tahu.
"Lebih baik kau masuk ke dalam mobil, dan jangan banyak bertanya lagi!" Tukas Brayen.
Devita mendengus kesal, dia menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam mobil. Kali ini, Devita menutup kasar pintu mobil Brayen. Melihat Devita sudah masuk ke dalam mobil. Brayen langsung melajukkan mobilnya dan meninggalkan halaman parkir hotel.
...****...
Menjelang hari pernikahannya Brayen semakin sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan beberapa kali, Brayen bepergian keluar kota. Brayen memang tidak memperdulikan tentang pernikahan ini. Dengan bekerja membuat pikiran Brayen teralihkan dari rasa bersalahnya pada Elena.
Brayen duduk di kursi kebesarannya, dia baru saja menanda tangani dokumen yang di berikan oleh Albert. Jika biasanya Brayen selalu membaca dokumen yang di berikan oleh Albert, kali ini, ia mempercayakan Albert untuk memeriksa dokumen itu.
"Tuan," panggil Albert yang kini berada di hadapan Brayen.
"Ada apa?" tanya Brayen dingin.
"Maaf Tuan, apa Tuan berniat untuk pergi berbulan madu? Jika Tuan ingin berbulan madu, saya akan menunda jadwal Tuan dengan client kita" ujar Albert.
Brayen membuang napas kasar kemudian berkata, "Tidak. Aku tidak akan pergi berbulan madu!"
"Baik Tuan," jawab Albert.
Ceklek!
Suara pintu terbuka Brayen dan Albert mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Terlihat raut wajah kesal Brayen karena ada yang membuka pintu ruang kerjanya, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Seketika raut wajahnya berubah menjadi kesal dan marah. Dan wajah Brayen pun berubah saat menatap sosok yang berada di ambang pintu itu. Brayen membuang napas kasar saat melihat Mommynya melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Mom, untuk apa kesini?" tanya Brayen sambil menatap Mommynya yang sedang mendekat ke arah sini.
"Besok kau sudah mau menikah, tapi kau masih saja memikirkan pekerjaanmu, Brayen?!" Suara Rena berseru tersirat dengan penuh amarah. Tidak hanya itu, tetapi Rena juga melayangkan tatapan tajam pada putranya itu.
Albert yang melihat Rena datang, dia langsung menundukkan kepalanya dan pamit undur diri meninggalkan ruang kerja Brayen.
"Aku sibuk, Mom. Kita ada proyek pembangunan Apartemen di Paris dan Los Angeles," jawab Brayen datar.
"Brayen! Kau ini benar - benar!" Geram Rena. "Sekarang, kau jemput Devita. Tadi Mommy dengar Devita juga pergi ke kampusnya. Kalian berdua benar - benar membuat Mommy sakit kepala! Padahal besok kalian mau menikah, tapi kalian masih memikirkan dunia kalian sendiri!"
"Devita bukan anak kecil lagi, Mom. Dia juga kuliah, dan aku di sini bekerja," balas Brayen seolah tidak perduli.
Brayen mengumpat di dalam hati. Jika bukan karena Rena, Mommynya. Brayen pasti tidak akan pernah meninggalkan pekerjaannya hanya karena menjemput Devita. Dan dengan terpaksa akhirnya Brayen beranjak dari kursi kerjanya.Dia menyambar kunci mobil di atas meja. Lalu berjalan meninggalkan tempat kerjanya.
...****...
Devita berjalan keluar dari kelas, namun saat Devita hendak berjalan menuju taman belakang langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan Olivia.
"Devita? Kau datang ke kampus?" tanya Olivia yang terkejut karena melihat Devita kini berada di hadapannya.
"Ya, aku datang ke kampus. Kenapa kau begitu kaget melihatku berada di kampus, Vi?" tanya Devita mengerutkan keningnya menatap bingung Olivia.
"Astaga, Devita! Bukankah besok adalah hari pernikahanmu dengan Brayen!" Seru Olivia.
"Aku tahu, tidak mungkin aku melupakannya," Devita menjawab dengan santai.
Olivia berdecak kesal. " Kau ini! Kenapa kau datang ke kampus. Paling tidak kau harus mempersiapkan dirimu besok untuk pernikahanmu!"
"Aku tidak menginginkan pernikahan itu," balss Devita dingin. "Jadi, tidak perlu persiapan apa - apa, karena tanpa persiapan pun semuanya sudah di atur."
"Kau membuatku sakit kepala dengan sifatmu, Devita!" Keluh Olivia.
"Sudahlah, jangan berisik, Vi. Tujuanku datang kesini karena aku ingin mengambil surat permohonan magangku. Aku ingin melihat apakah aku di terima di Dixon's Group atau tidak," ujar Devita.
Olivia mendesah pelan, " Kita melihatnya bersama, karena aku juga penasaran. Apakah aku ini di terima atau di tolak.
"Memangnya kau magang dimana, Vi?" tanya Devita.
Olivia tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya dan berkata " Aku juga magang di Dixon's Group"
"Dixon's Group? Kau memilih perusahaan yang sama denganku," Devita tersentak, dia tidak menyangka, jika Olivia akan memilih perusahaan yang sama dengan dirinya.
Olivia berdecak pelan, "Ini semua karenamu! Jika bukan karena kamu memilih Dixon' s Group. Aku juga tidak akan memilih perusahaan itu!"
Devita terkekeh pelan, "Baiklah, let's go kita lihat." ucap Devita sambil memeluk lengan Olivia, mereka berdua berjalan menuju ke ruangan dosen. Terakhir, Devita sudah mendapatkan informasi, jika surat balasan dari Dixon's Group sudah berada di tangan dosennya.
Tiga puluh menit kemudian, Devita dan juga Olivia sudah mengambil surat itu dari tangan Mr. Gerald. Namun, baik Devita atau pun Olivia sama - sama belum membuka surat magang tersebut.
"Devita, kau bukalah duluan surat itu," kata Olivia yang lebih menyukai jika Devita membuka dulu suratnya.
Devita mendengus tak suka. " Kita buka bersama! Aku tidak mau, jika harus duluan yang membuka surat ini!"
Olivia mengerutkan bibirnya kesal. Kemudian Devita dan Olivia bersamaan membuka surat itu. Senyum di bibir Devita terukir ketika membaca surat itu.
"Olivia, aku di terima!" Seru Devita dengan senyum bahagia.
"Kau ini, kenapa senang sekali?" tanya Olivia, sambil menghela napas dalam.
"Kau di tolak atau di terima?" tanya Devita langsung ketika melihat raut wajah kesal Olivia.
"Di terima," jawab Olivia datar.
"Kau di terima? Tapi kenapa wajahmu terlihat kesal begitu?" Devita mengerutkan keningnya, menatap bingung Olivia.
"Karena aku lebih menginginkan untuk magang di perusahaan calon suamimu itu?!" Ucap Olivia ketus.
Devita menggeleng pelan. " Sudahlah, lebih baik kita makan. Aku akan mentraktirmu. Jangan lupa besok kau adalah bridesmaidku,"
"Iya, cerewet sekali kau!" Olivia mencibir kesal.
...***...
Episodenya udah Author buat panjang, sekarang bantu Author untuk VOTE dan jangan lupa sehabis baca langsung LIKE sertakan KOMENTAR positifnya juga ya, Author sangat berterima kasih dengan komentar - komentar kalian yang sudah buat Author bersemangat.
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.