Love And Contract

Love And Contract
Nasehat Olivia



Mata Devita berkaca - kaca, dia berusaha untuk tidak menangis. Dia menahan air matanya untuk berlinang membasahi pipinya.


"Devita, jika menangis membuat hatimu tenang, maka menangis lah. Itu akan membuat bebanmu lebih ringan." kata Olivia dengan suara lembut.


Devita tersenyum lirih, perlahan pertahanannya sudah tidak lagi sanggup. Air matanya mulai berlinang membasahi pipinya. "Aku tidak tahu, kenapa Brayen banyak mengatur hidupku. Tadi malam, aku sudah memintanya menjaga jarak dariku."


"Apa yang kau rasakan setelah gadis bernama Elena itu adalah kekasih Brayen?" tanya Olivia sambil menatap Devita. Dia membiarkan Devita menangis sepuasnya. Setidaknya dengan menangis akan mengurangi beban di hati Devita.


"Aku tidak tahu, tapi aku tidak bisa bohong. Hatiku sangat terluka. Aku mengingat Brayen menyebutkan nama Elena adalah kekasihnya. Hatiku hancur, aku berusaha untuk tidak terlihat sedih di depannya. Tapi kenyataannya hatiku benar - benar terluka," ujar Devita, dia kembali mengingat perkataan Brayen. Perkataan yang begitu menyakiti hatinya. Air matanya, terus membasahi pipinya, dengan cepat Devita menghapus air matanya. Dia benci menangis karena seorang pria. Padahal selama menunggu Angkasa, dia tidak pernah menangis.


Olivia menghela nafas dalam, dia sudah yakin jika Devita sudah menaruh perasaannya pada Brayen. Tapi permasalahannya adalah Brayen sudah mempunyai kekasih. Dia melihat dengan jelas, mata Devita penuh dengan kesedihan dan kekecewaan. Bahkan ini pertama kalinya Olivia melihat Devita menangis. Devita tidak pernah menangis karena pria. Angkasa saja pria yang di cintai oleh Devita, tapi tidak pernah Olivia melihat Devita menangisi kepergian Angkasa.


Olivia menatap serius Devita, lalu mengatakan dengan yakin, " Kau sudah menyukai Brayen,"


Devita menggeleng keras " Tidak boleh! Aku tidak boleh menyukainya! Aku hanya akan menunggu Angkasa kembali ke kota B. Aku yakin, Angkasa akan datang. Dia sudah berjanji padaku!" Tukas Devita dengan tegas. Dia memang tidak boleh menyukai Brayen, karena pernikahannya hanyalah sebatas kontrak perjanjian. Dia harus menepis perasaannya ini.


"Devita, aku juga sangat yakin sebenarnya Brayen juga sudah menyukaimu. Aku bisa melihat dengan jelas kemarin, dia begitu mengkhawatirkan mu," balas Olivia. Dia sangat yakin, jika Brayen juga menyukai Devita. Hanya saja, terhalang dengan Brayen yang ternyata sudah memiliki kekasih.


"Tidak Olivia. Aku dan Brayen tidak boleh saling menyukai. Brayen memiliki seorang kekasih yang dia cintai. Aku juga sudah berjanji pada Angkasa, untuk menunggu Angkasa kembali ke Indonesia!" Kata Devita dengan nada penuh penekanan.


"Aku sebenarnya pernah membaca artikel tentang Brayen. Saat itu, Brayen tinggal di Milan, di artikel itu memberitakan Brayen menjalin hubungan dengan Elena Davidson, artis asal Milan. Aku berpikir itu hanya pemberitaan media saja. Tapi ternyata setelah mendengar nama gadis yang bernama Elena, aku jadi mengingat aku pernah membaca artikel tentang Brayen dan gadis bernama Elena itu," ujar Olivia yang mengingat pernah membaca artikel mengenai Brayen dan juga Elena.


"Aku yakin dia pasti sangat cantik," jawab Devita.


"Kau juga pernah melihatnya, Devita," balas Olivia. " Apa kau masih ingat, aku pernah memperlihatkan artikel Brayen bersama dengan seorang artis cantik asal Milan?"


Seketika Devita berpikir sejenak, berusaha mengingat artikel yang Olivia maksud. Namun, tidak lama kemudian. Devita mengingat artikel itu. Olivia pernah menunjukkannya, sebelum Devita dan Brayen menikah.


"Ya, aku mengingatnya. Aku baru ingat, dia adalah gadis yang sangat cantik," tukas Devita dingin.


"Dia memang gadis yang sangat cantik, aku akui itu. Seingatku, dia berusia 27 tahun sama seperti Brayen," ujar Olivia. " Tapi, kau harus menyadari dirimu. Kau jauh berkali - kali lebih cantik darinya. Kau gadis yang cerdas, berprestasi, kau berasal dari keluarga baik - baik. Kau lembut. Itu kenapa orang tua Brayen lebih memilihmu dari pada Elena," lanjut Olivia yang berusaha meyakinkan Devita.


"Olivia, aku dengannya hanya akan berhubungan selama tiga tahun. Setelah itu, kami akan berpisah, aku akan kembali dengan Angkasa. Sedangkan dia, akan menikah dengan kekasihnya." kata Devita dengan nada tegas.


"Olivia membuang napas kasar, " Devita, wanita yang bernama Elena itu adalah kekasih Brayen. Secara hukum dan agama kau tahu dengan jelas, Istri jauh lebih berhak. Kau memiliki hak yang besar," jelas Olivia meyakinkan.


"Tapi...,"


"Tidak ada tapi, kalian hanya menutup perasaan kalian. Kalian tidak berani mengungkapkan perasaan kalian masing - masing di tambah ada penghalang, yaitu Elena kekasihnya Brayen. Dan kau masih menunggu Angkasa, yang bahkan pria itu tidak pernah menghubungimu. Apa kau akan menunggu Angkasa hingga kau tua? Tidak kan?" seru Olivia, dia sengaja agar Devita tidak melanjutkan ucapannya.


"Aku tidak tahu, Olivia. Aku tidak tahu harus apa, tapi aku tidak ingin menyukai Brayen. Tidak boleh Olivia, aku tidak mau terluka. Elena akan tinggal di kota B. Aku yakin Brayen akan sering menemui Elena. Dan aku tidak boleh menyukainya," balas Devita.


"Memangnya kenapa?" Tanya Devita sambil menatap bingung pada Olivia.


"Kau bisa dekat dengan pria lain. Dari situ, kau dan Brayen akan tahu bagaimana perasaan kalian masing-masing," ujar Olivia yang memberi nasihat ini.


"Maksudmu, aku harus dekat dengan pria lain?" tanya Devita memastikan.


Olivia menganguk yakin. " Brayen dekat dengan kekasihnya, tetapi kau sangat cantik Devita, banyak pria yang menyukaimu. Dengan cara ini, kalian bisa tahu bagaimana perasaan kalian masing - masing," ucap Olivia.


Devita menghela nafas dalam, " Cukup Olivia. Lebih baik kita keperusahaan. Aku tidak ingin membahas tentang Brayen. Aku tidak ingin memikirkannya,"


"Baiklah, kita kembali ke perusahaan sekarang," balas Olivia yang lebih memilih untuk mengalah.


...***...


Brayen duduk di kursi kebesarannya, dia baru saja selesai meeting. Pikirannya tidak berhenti memikirkan perkataan Devita tadi malam. Teringat dengan jelas perkataan Devita jika Devita akan menunggu Angkasa kembali padannya. Jika Brayen mengingat itu, dia langsung mengepalkan tangannya. Dia benci jika Devita masih memikirkan pria yang pergi tanpa kabar.


Hari ini Brayen harus menjemput Elena. Tapi dia sendiri tidak ingin menjemput Elena. Dulu biasanya, Brayen sangat senang jika harus menjemput kekasihnya. Tapi entah kenapa dia merasa enggan untuk menjemput kekasihnya itu. Elena memang gadis yang sangat cantik. Dia wanita dewasa yang umurnya sama dengan Brayen. Pekerjaan Elena sebagai seorang artis, membuat Daddy David, Ayah Brayen tidak pernah merestui Elena menjadi menantunya. David jauh lebih memilih Devita, karena Devita adalah gadis polos yang sangat cantik, lahir dari keluarga baik - baik. Itulah yang membuat Daddy David memilih Devita.


Terdengar suara ketukan pintu, membuat Brayen, kini melihat ke arah pintu, tidak menunggu lama, dia langsung menginterupsi untuk masuk.


" Tuan," sapa Alberlt saat masuk ke dalam ruang kerja Brayen.


"Ya, sekarang kau jemput Elena di bandara, katakan padanya hari ini aku sangat sibuk,". tukas Brayen dingin.


Alberlt menganguk patuh, " Baik Tuan"


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.