Love And Contract

Love And Contract
Aku Menginginkanmu



"Brayen, aku tidak bisa bersama dengan pria egois seperti ini. Kau menginginkanku tapi kau masih tidak bisa meninggalkan kekasihmu. Maka lebih baik kita menyerah dengan pernikahan ini. Aku lelah Brayen. Lebih baik kita akhiri semua ini Brayen." tukas Devita, dia sungguh tidak mengerti dengan perkataan Brayen. Lebih baik bagi Devita untuk merelakan Brayen.


Devita membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah meninggalkan Brayen. Namun langkah Devita terhenti ketika Brayen memeluknya dari belakang. Pelukkan yang begitu erat. " Apa kau ini tidak mengerti Devita, aku sudah jatuh cinta padamu. Aku sudah menyukaimu. Kenapa kau mengambil keputusan untuk mengakhiri semua ini! Aku tidak bisa Devita! Aku tidak bisa melihatmu bersama dengan pria lain! Kau hanya akan menjadi milikku Devita!" Ucap Brayen dengan. suara lemah.


Devita terdiam mendengar Brayen mengatakan jatuh cinta padanya? Apa itu benar? Rasanya seperti mimpi Brayen mengatakan semua ini. Air mata Devita mulai membasahi pipinya.


Brayen mendengar suara Isak tangis Devita, dia langsung membalikkan tubuhnya menghadapnya. Jemari Brayen langsung menghapus air mata Devita. "Sst. Jangan menangis Devita. Maafkan aku Devita," bisik Brayen, dia mengecup mata Devita.


Brayen menarik dagu Devita, menatap manik mata Devita. " Apa kau merasakan apa yang aku rasakan padamu?"


Devita mengangguk, "Bahkan hatiku sesak melihatmu berciuman tadi. Aku ingin sekali membalas dengan berciuman dengan pria lain, tapi aku tidak bisa melakukan itu,"


"Maafkan aku, aku bersumpah setiap Elena menciumku yang ada di pikiranku adalah dirimu. Aku berusaha untuk menghindari perasaan ini. Tapi kenyataannya tidak bisa. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu Devita," ucap Brayen serak.


"Tapi aku tidak bisa bersamamu, jika kau masih dengan Elena!" Tukas Devita ketus.


"Aku akan meninggalkannya. Aku berjanji. Berikan aku sedikit waktu. Aku akan berbicara dengan Elena." balas Brayen.


"Kau sungguh akan meninggalkannya? Tidak bermain di belakangku?" Devita memicingkan matanya menatap penuh selidik.


"Tidak Devita, aku tidak mungkin seperti itu. Aku bahkan tidak bisa melihatmu dengan pria lain. Aku tidak mungkin bermain di belakangmu," Brayen mengelus lembut pipi Devita.


"Lalu bagaimana dengan perjanjian yang telah kita buat?" tanya Devita dengan suara parau.


"Lupakan perjanjian sialan itu!" Brayen menangkup kedua pipi Devita, dia langsung menyambar bibir Devita, mencium dan ******* dengan lembut bibir Devita. Brayen menekan dengan lembut bibir Devita agar Devita membalas ciumannya. Kemudian Devita mulai membuka mulutnya, membalas dan mengikuti setiap pagutan bibir Brayen. Mereka saling mencecapi, lidah mereka saling berpagutan. Untuk pertama kalinya Devita berciuman sangat panjang dengan Brayen.


"Aku sangat menginginkanmu, Devita," bisik Brayen di depan bibir Devita. Tangannya meremas gundukkan kembar di dada Devita hingga membuat Devita melenguh.


"T...Tapi Brayen," ucap Devita gugup. Jantung Devita berdegup dengan kencang, terlebih tangan Brayen terus bermain di dadanya. Devita tidak berani menatap Brayen.


"Aku akan melakukannya dengan sangat lembut Devita, please." bisik Brayen. Dia kembali memagut dengan lembut bibir Devita.


Ciuman Brayen mulai turun ke leher jenjang Devita, meninggalkan jejak kemerahan di sana. Devita mendesah mendapatkan sentuhan itu. Entah kenapa tubuh Devita tidak bisa menolak setiap sentuhan Brayen. Sentuhan ini seperti candu bagi Devita, seakan tubuh Devita seolah hanya untuk Brayen. Devita benar -benar tidak bisa menolak setiap sentuhan dari Brayen.


Brayen mendekatkan bibirnya ke telinga Devita, dan menggigit kecil telinga istrinya itu.


"Biarkan aku memilikimu Devita, please,"


"Ya Brayen, lakukanlah," jawab Devita dengan menatap lekat manik Brayen.


Brayen tersenyum puas, mendapatkan izin dari Devita. Tangannya mulai membuka resleting dress seksi berwarna silver yang di pakai Devita. Perlahan dress Devita jatuh ke lantai. Brayen menatap tubuh Devita yang hanya memakai bra dan panties berwarna merah berenda. Sangat mengagumkan itulah yang di pikirkan Brayen. Istrinya memiliki tubuh yang sangat indah dan kulit putih yang mulus.


Brayen menatap lekat manik mata Devita. Kini mereka saling bertatapan. Tangan Devita menutupi dadanya, namun Brayen langsung menyingkirkan tangan Devita. " Jangan di tutupi aku ingin melihatnya," ucap Brayen serak.


Tubuh Devita bergetar, dia menggigit bibir bawahnya. Jantung Devita berdegup dengan kencang malam ini. Bahkan, bukan hanya Devita tapi Brayen juga demikian. " Don't bite your lips," bisik Brayen.


"Kau sangat cantik Devita," Brayen sudah tidak bisa menahan untuk tidak mengatakannya. Devita memang sangat cantik, " Kau memiliki mata yang sangat indah," ucapan Brayen benar - benar membuat pipi Devita merona. Devita mencoba memalingkan wajahnya, namun Brayen menarik dagu Devita. Brayen Kembali ******* bibir Devita, tangannya meremas gundukan kembar di dada Devita, jarinya memilin dan mencubit puncak dada Devita, hingga membuat Devita mengerjap.


Ciuman Brayen mulai turun ke gundukan kembar di dada Devita. Brayen mengulum puncak dada Devita hingga membuat Devita mendesah, Devita menggigit bibir bawahnya


agar tidak mengeluarkan suara. Devita memejamkan matanya mendapatkan sentuhan dari Brayen untuk pertama kalinya. Kepala Devita mulai pusing, tatapannya berganti dengan kabut gairah. Devita meremas rambut Brayen, tanpa sadar Devita menekan kepala Brayen seakan dia meminta lebih. Brayen mengulum puncak dada Devita hingga membuat Devita menggelinjang.


Brayen bangun, dia kini berdiri tegak di depan Devita. Brayen membuka kancing kemejanya. Tatapannya tidak berhenti menatap tubuh polos Devita yang sangat indah. Hanya sehelai benang yang menutupi bagian tubuh Devita yaitu panties dengan motif berenda yang seksi belum terlepas.


Devita menelan salivanya, saat melihat Brayen melempar kemejanya bahkan Devita tidak berani menatap Brayen yang kini melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya, dada bidang dan otot perut Brayen yang mengagumkan, membuat Devita sulit bernafas. Brayen memang memiliki tubuh yang sangat menggoda.


Brayen mencium bibir Devita kembali, " Tatap aku Devita," ucap Brayen serak. " Tangan Brayen terus meremas gundukkan kembar di dada Devita. " Kau sangat indah Devita," Brayen mulai melepaskan helaian benang terakhir di tubuh Devita, panties berenda berwarna merah itu kini sudah di lempar Brayen ke lantai.


Perlahan tangan Brayen mulai turun dan jarinya mulai turun ke pusat tubuh Devita. Devita. Devita menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara.


"Keluarkan suaramu Devita, aku menyukai suaramu," bisik Brayen. Dia kembali mengulum puncak dada Devita hingga Devita mengeluarkan ******* dan erangan.


Brayen kini menatap lekat manik mata Devita, " Do you trust me? I will not hurt you Devita" ucap Brayen serak.


" Ya Brayen,"


"Are you ready? I need to be inside of you now," bisik Brayen. Devita mengangguk pasrah.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.